
#PoV Gus Abdi
Seumur hidup aku belum pernah merasakan apa itu cinta. Selama ini aku memang selalu menutup diri dari wanita meski usiaku sudah hampir kepala tiga. Tapi bukan berarti aku tidak memiliki ketertarikan terhadap wanita, sungguh bukan seperti itu.
Entahlah, mungkin karena memang belum ada yang pas dihati. Ibu tak bosan-bosannya membujukku agar segera menikah mengingat usiaku sudah cukup matang.
"Sakjane anakku ki gak elek-elek banget tapi kok yo gak laku-laku to." Begitulah kata beliau saat ia mengeluh karena aku tak kunjung membawa calon menantu untuknya. Mungkin ibuku kesepian karena aku adalah anak satu-satunya dikeluarga ini.
Sejak remaja aku tumbuh dalam lingkungan penjara suci. Jangankan kekasih, teman wanita saja aku tidak punya. Karena sekolah pun berada dalam lingkungan pesantren.p Sewaktu masih remaja aku sangatlah bandel. Seringkali aku bolos sekolah maupun kegiatan pesantren. Karena saking seringnya aku bolos sekolah aku sempat tidak lulus ujian sehingga aku harus tinggal kelas.
Rupa-rupanya kebiasaanku suka berbolos itu masih belum sembuh sampai aku duduk dibangku Madrasah Aliyah. Kesalahan yang sama terulang kembali, aku tidak lulus ujian kenaikan kelas XI. Abah dan ibuku tentu marah besar karena kelakuan anak semata wayangnya ini yang tentunya membuat mereka malu.
Hingga suatu hari Abahku jatuh sakit, beliau dengan mengiba meminta padaku agar berubah menjadi anak yang lebih baik dan bisa diandalkan.
"Nek uduk sampean, terus sopo maneh seng nerusne perjuangane Abah ndek pesantren iki gus." Kata-kata beliau inilah yang membuat hatiku bergetar. Aku tidak tega melihat abahku yang saat itu lemah tak berdaya.
Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia, sifat kenakalankupun mulai berkurang. Aku sadar akan besarnya tanggung jawab yang harus kuemban suatu saat nanti.
Semasa menimba ilmu di pesantren nyambi kuliah, aku tak memperdulikan soal asmara. Aku hanya tidak mau waktu belajarku tersita hanya untuk cinta-cintaan yang terkadang membuat sesorang menjadi budak cinta, istilahnya jaman sekarang bucin. Yang menjadi prioritasku saat itu adalah mengaji dan mengaji.
Hingga aku tak sadar bahwa umurku sekarang sudah mendekati kepala tiga.
"Ndang nikah gus, biar ada yang bantu ibuk ngurus santri putri." Bujuk ibuku ketika aku pulang ke rumah.
"Kulo tasek pengen ngaos teng pondok riyen buk." Alasan yang selalu kulontarkan jika Ibu sudah merengek minta dibawakan calon menantu.
Aku memang sulit membuka hati pada wanita, meski sudah dikenalkan beberapa kali baik dari teman maupun saudara, namun masih belum ada yang mampu memikat hatiku.
Hingga suatu ketika saat hari raya Idul fitri, aku melihat seorang gadis manis sedang berada didapur rumahku. Ia sedang berjongkok dan bermain dengan kucingku saat itu. Aku yang hendak masuk dari pintu belakang menghentikan langkah karena melihat pemandangan indah didepan mataku. Gadis manis berjilbab ungu muda dengan senyum yang mengembang dibibirnya. Ia begitu asyik bermain dengan kucingku, sepertinya ia tidak menyadari kehadiranku disana.
Aku merasa jantungku berhenti berdetak, angin serasa berhenti bertiup, waktupun seolah berhenti berjalan. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama.
Saat ia hendak berdiri, aku segera mundur dan keluar lagi dari dapur. Ada perasaan aneh yang menjalar dalam dadaku, perasaan yang belum pernah aku rasakan selama ini.
Malamnya aku bertanya pada ibuku mengenai gadis itu. Aku menyebutkan ciri-cirinya agar ibu tidak bingung karena siang tadi banyak sekali tamu yang datang.
"Seingat ibu yang tadi pamit pergi ke kamar mandi ya anaknya mbak Rumana, teman ibuk sewaktu mondok duluq." Jelas ibuku.
"Kenapa?" Imbunya lagi.
"Mboten, namung tangklet mawon."
"Asmane sinten buk?" Aku bertanya sedikit gugup.
__ADS_1
"Hemm.. naksir to sampean gus?" Ibu tersenyum menggodaku.
"Mboten kok. Namung tangklet mosok mboten angsal." Kilahku.
"Namanya Hilya, lengkapnya ibu nggak tahu."
"Hilya." Aku mengulang perkataan ibu.
"Kalau mau tak tembungne gus. Enggeh to bah, mumpung anak kita naksir cewek niki lo," ibu melirik ke arah abah.
"Nopo to buk, dereng kenal kok sampun ajenge nembung, Ngisin-ngisini kulo mawon." Protesku.
"Kersane kenal riyen buk, mengko lak wes kenal baru digatukne." Usul abahku. Aku merasa didukung.
"Piye arep kenal kalau ketemu aja nggak pernah, mbak Hilya itu masih mondok. Sampean juga masih mondok." Ujar ibu.
"Kulo niku namung tangklet nama tok, tapi ibuk bahasnya sudah kemana-mana." Gerutuku.
"Ibuk ki selak kepengen punya mantu, biar ada temennya dirumah. Tiap hari abah sibuk, Abdi sibuk, ibuk kesepian."
"Lha mpun direncangi Jamil mosok tasek kesepian." Jamil adalah nama kucing jantan kami. Aku tertawa diiringi tawa Abah.
****
Aku mengetik nama "Hilya" dikolom pencarian aplikasi warna biru. Ada beberapa akun yang memakai nama "Hilya" dengan berbagai macam nama belakang.
Hingga suatu hari saat aku berselancar di salah satu grub komunitas santri, aku melihat seseakun yang memiliki foto profil gadis itu. Dalam foto tersebut ia memakai kerudung yang sama saat aku pertama kali melihatnya. Nama profilnya adalah "Hilya Assyafa'ah." Mataku berbinar, sepertinya ada secuil harapan didepanku saat ini.
Aku membuka profil akun Hilya Assyafa'ah, dan sepertinya memang benar, itu adalah dirinya. Aku mengucap syukur tiada henti. Seperti kemarau yang merindukan hujan, aku merindu dengan gadis pemilik senyum termanis itu.
Aku menyapanya lewat pesan messenger dengan tanpa memperkenalkan diriku yang sebenarnya. Aku takut kalau dia tau siapa aku nanti dia malah sungkan atau menjauh dariku.
Biarlah nanti akan kuberi tahu jika sudah tiba waktu yang tepat.
Aku tidak pernah melewatkan satu hari pun tanpa chating dengannya. Entah itu hanya sapaan atau hanya bualan belaka. Aku tidak bisa melewatkan hari tanpa mengobrol dengannya meski hany lewat pesan-pesan singkat.
Dari panggilan "mbak" aku mulai berani memanggilnya dengan sebutan "Dek". Aku hanya ingin dia tau bahwa aku sudah mulai menyayanginya.
Hingga suatu ketika aku sangat terkejut melihat dirinya sedang berada dipesantrenku yang juga merupakan rumahku ini.
Saat itu aku tak sengaja menabraknya karena aku sedang berjalan sambil melihat ponsel. Saat aku hendak meminta maaf aku melihat wajahnya, wajah ayu nan berseri yang selama ini kurindukan.
Spontan aku memalingkan wajahku dan bergegas pergi meninggalkannya yang masih bersimpuh ditanah. Aku hanya khawatir dia mengenaliku, meski sebenarnya hal itu tidak mungkin karena dalam akun jejaring sosialku aku tak pernah memajang fotoku.
__ADS_1
Entahlah, mungkin karena terkejut bercampur grogi aku meninggalkannya begitu saja.
"Buk, anak temannya jenengan apa sekarang mondok disini?" Tanyaku pada ibu yang sedang memasak di dapur. Aku membantunya memarut kelapa.
Aku memang sudah biasa membantu ibu di dapur saat pulang dari pesantren. Di pesantren aku sudah terbiasa memasak bersama kawan-kawanku.
"Yang mana gus?" Ibuku kembali bertanya.
"Niku lho, sing asmane mbak Hilya." Tuturku menjelaskan.
"Ooh... iyo. Ibuk sing mbujuk ibuke mbak Hilya bene ngongkon anake posoan ndek kene."
Aku terkesiap mendengar jawaban ibu.
"Tengnopo kok ibuk sing ngengken?" Tanyaku heran.
Ibu hanya mesam mesem membuat aku semakin bingung.
"Buk?" Aku menghentikan tanganku yang sedang mengayunkan kelapa ke parutan.
"Wes to, diam saja dan terima beres. Biar ibu yang atur." Ibu masih senyum-senyum tidak jelas. Membuat aku semakin khawatir.
"Nopo jenengan sudah bilang ke orangtuanya mbak niku?" Aku semakin khawatir kalau ibuku mengatakan hal yang bukan-bukan kepada orangtua gadis itu.
Lagi-lagi ibu hanya menanggapi pertanyaanku dengan senyam senyum sembari terus mengulek bumbu.
"Buk.." kali ini aku merengek seperti anak kecil.
"Kui ndang diparut kelopone selak dimasak iki lho."
Aku melanjutkan aktifitasku memarut kelapa yang tinggal sedikit lagi. Aku masih belum puas menginterogasi ibuku.
"Jangan khawatir, anaknya belum tau kok. Ibuk sudah bilang jangan dikasih tau dulu."
Ibu mengambil kelapa yang sudah kuparut lalu membawanya ke wastafel untuk diperas.
"Ibunya mbak Hilya juga bilang kalau ia tidak ingin memaksa anaknya untuk dijodohkan." Ibuku menjelaskan sambil terus memeras kelapa. Aku menjadi sedikit lega. Aku juga tidak ingin kalau dia nanti mau menikah denganku karena terpaksa.
"Ibuk sengaja meminta ibunya mbak Hilya supaya ia dikirim kesini selama bulan ramadlan ini, supaya kalian bisa saling bertemu dan saling kenal sendiri gus." Imbunya lagi. Mendengar penjelasan ibu, aku jadi senyum-senyum sendiri. Aku bahagia karena ibu telah mendukungku untuk hal ini.
"Matursuwun buk," aku mengucap dalam hati.
Seringkali ibu seperti sengaja mempertemukan aku dengan Hilya. Saat jam-jamnya Hilya akan ke dapur untuk mengambil makanan, ibu sengaja menyuruhku untuk ke dapur juga dengan bermacam alasan.
__ADS_1
Aku sering menghindar bertatap muka dengannya, rasanya tak kuat menahan perasaan grogi yang bercampur aduk. Ternyata seperti inilah rasanya jatuh cinta, baru kali ini aku merasakannya. Sungguh sangatlah indah dirasa.
To be continued 💚