
GUS IDOLA
Part 20
Menjelang malam kegelisahanku datang kembali. Apalagi kalau bukan soal tidur satu kamar dengan gus Abdi.
Akad yang dilaksanakan mendadak membuatku belum siap 100 persen menjalankan kewajibanku sebagai istri, meski ku tahu bahwa sikapku ini sangatlah tidak dibenarkan.
Jarum jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Suasana ndalem sudah mulai sepi dari kunjungan para tamu yang tiada habisnya sejak tadi pagi. Maklum saja, ini masih di hari raya yang ke empat hari. Sudah menjadi adatnya ndalem akan ramai tamu sampai hari raya ke tujuh hari yang kebanyakan tamunya adalah dari para alumni. Baik yang jauh maupun yang dekat.
Pesantren Al-Kautsar ini adalah pesantren yang berdiri sejak 70 tahun yang lalu oleh perjuangan kakeknya gus Abdi, Ayahanda dari Kyai Dzulqurnain. Kyai Dzul adalah putra bungsu dari tiga bersaudara yang mana kedua saudara yang lainnya juga menjadi pengasuh pesantren di daerah lain.
Meski pesantren ini adalah pesantren salaf akan tetapi pesantren ini masih bertahan dimana pesantren-pesantren lain sudah berlomba-lomba mendirikan sekolah dalam yayasan.
***
"Dek, besok kita belanja keperluan untuk seserahan akad nikah nanti ya." Ucap gus Abdi yang sedang membuka kancing baju kokonya. Kini ia hanya memakai kaos putih dan sarung.
"Enggeh." Aku yang duduk di tepi ranjang sesekali meliriknya dan kembali menatap layar ponsel melihati story WA teman.
"Cincin yang waktu itu kok belum sampean pakai dek?"
Tanyanya sembari duduk di tepian ranjang bersebrangan denganku.
Aku tersenyum dan berkata, "cincinya masih mengikat di pembatas halaman Al-Qur'annya gus, akan lebih baik kalau yang memakaikan adalah orang yang meberikannya bukan?" Ucapku malu-malu.
Gus Abdi terkekeh mendengar penuturanku.
"Baiklah, sekarang dimana cincinya?"
Aku beranjak mengambil ranselku yang menggantung disisi lemari dan mengambil Al-Qur'an pemberian gus Abdi.
"Niki gus." Kuulurkan Al-Qur'an tersebut pada suamiku dan ia menyambutnya.
Dibukanya tali yang mengikat cincin itu.
"Gus!"
Aku yang berdiri dihadapannya agak terkejut dan mundur satu langkah saat ia tiba-tiba berlutut dihadapanku.
Ia meraih jemariku dan memasangkan cincin pada jari manisku.
"Kegedean dek." Ucapnya sambil melepas cincin dan memasangkannya lagi pada jari tengah.
Aku terenyuh dengan sikap manisnya meskipun cincin yang diberikannya agak kebesaran namun pas pada jari tengahku.
"Sampun gus. Sampean berdiri." Pintaku.
Ia pun berdiri, kami saling melempar senyuman.
"Maaf nggih sayang, cincinnya kegedean.
"Mboten nopo-nopo gus. Yang penting ketulusan hati jenengan." Ucapku tersipu.
(Gak apa-apa gus. Yang penting ketulusan hatimu).
"Dipanggil sayang kok gak bales to?"
"Mangke lak mpun mboten isin." Ucapku sembari menutup mulut menahan tawa.
(Nanti kalau sudah tidak malu).
"Malu sama siapa, kan disini cuma berdua." Gus Abdi mendekatkan tubuhnya dan memegang kedua bahuku.
"Malu kalih jenengan to." Ucapku seketika melarikan diri ke kamar mandi.
"Loh, dek!"
"Cuci muka gus!" Teriakku dari dalam kamar mandi.
Sengaja aku berlama-lama didalam kamar mandi, takut kalau aku keluar nanti diterkam oleh macan berwujud manusia tampan itu. Aku benar-benar takut bercampur grogi.
Lama berdiri di kamar mandi membuat kakiku pegal juga. Diluar sepertinya seperti tak ada suara sedikitpun. Kubuka pintu perlahan dan kusembulkan kepalaku, mataku beredar mencari keberadaan macan tampan itu, tapi tak kutemukan ia disetiap sudut ruangan.
__ADS_1
"Keluar kemana dia?" Gumamku.
Aku beranjak naik ke tempat tidur dan meringkuk didalam selimut agar tubuhku tertutup rapat lalu segera memejamkan mata sebelum gus Abdi kembali masuk kedalam kamar.
Entah jam berapa ia kembali, setauku saat aku terbangun mendengar adzan subuh dia sudah rapi dan wangi memakai baju taqwa serta sarung.
"Dek, sampun bangun?"
Aku menyingkap selimut dan duduk.
"Kulo jama'ah teng masjid nggih. Sampean jama'ah teng pondok putri mawon sareng ibuk kalih mbak-mbak yang jaga piket."
"Nggeh." Aku melangkah ke kamar mandi dengan sesekali menguap.
____________________________
Pukul sembilan pagi aku dan suamiku pergi ke mall untuk berbelanja keperluan seserahan saat akad nanti.
Entah sejak kapan kami sudah tidak malu untuk berjalan dengan bergandengan tangan.
Kami melangkahkan kaki menuju gerai toko perhiasan
"Kan sampun ada cincinya gus?"
"Beda dek. Ini khusus untuk cincin kawin. Kita cari yang pas di jari sampean. Yang semalam dipakai kan kegedean."
Aku menurut saja. Kami mulai melihat-lihat deretan cincin emas yang tertata di dalam etalase.
Aku meminta kepada sang penjaga toko untuk dicarikan cincin yang polos saja atau yang hanya berhias satu permata ditengahnya.
Setelah dari toko perhiasan, kami berjalan menuju toko yang melayani untuk pemesanan parcel seserahan untuk pernikahan. Selain seperangkat alat sholat, Gus Abdi juga memesan hiasan uang palsu berbentuk bunga dalam figura serta tulisan nama kami dan tanggal pernikahan dibawahnya. sengaja tidak memakai uang asli karena katanya tidak baik kalau uang asli dibuat seperti itu. Lebih baik dipakai untuk beli bakso daripada hanya sekedar untuk pajangan.
"Dzolim dek, kalau uang asli dibuat mainan. Mending buat beli bakso lebih bermanfaat."
Kami diminta untuk datang dua hari lagi untuk mengambil pesanan.
Setelah itu kami lanjut berkeliling di gerai toko-toko lainnya untuk membeli barang-barang lain termasuk baju baru untuk kami berdua.
Dengan menenteng beberapa ฤทantong belanjaan, kami pun mampir ke restaurant yang ada didalam mall ini juga untuk melepas penat dan mengisi perut yang mulai keroncongan.
Aku mengajak suamiku untuk duduk didekat dinding kaca sehingga dapat melihat para pengunjung yang lalu lalang di dalam mall ini.
Kami memesan dua porsi mie nyonyor dan dua gelas lemon ice.
"Kulo tinggal ke kamar mandi sebentar ndak apa-apa dek?"
"Nggeh gus, ndak apa-apa."
Gus Abdi pun berlalu pergi. Kukeluarkan ponsel dari dalam tas slempangku dan memainkannya sambil menunggu suamiku dan pesanan makanan kami datang.
Sekitar lima menit makanan pesanan kami datang, namun suamiku belum juga datang.
Pikirku mungkin toiletnya agak jauh jadi butuh waktu lama.
Sesekali aku menyeruput minumanku dan kembali lagi terpaku pada layar ponsel.
Beberapa saat kemudian datanglah seseorang yang langsung duduk didepanku, kukira suamiku ternyata aku salah.
"Loh, mas Reza?!" Aku tersentak melihat pria yang sedang duduk didepanku saat ini.
"Hai..!" Ucapnya sembari menyilangkan kedua tangannya di atas meja.
Mendadak aku menjadi gugup. Kuedarkan pandanganku disekitar mencari keberadaan suamiku. Jangan sampai ia melihat laki-laki ini disini.
Darimana juga asalnya laki-laki ini. Kenapa dia tiba-tiba bisa muncul dihadapanku.
"Sama siapa kesini? suamimu? Mana dia?" Tanyanya santai.
Aku masih bergeming.
"Hilya!"
"Iya..! Sama suamiku!" Jawabku ketus.
__ADS_1
"Kok judes gitu to jawabnya. Dulu gak kayak gini deh, perasaan."
"Pergi mas! Kalau suamiku lihat sampean duduk disini nanti dia bisa mikir macem-macem!" Usirku padanya.
"Memangnya kenapa. Kita kan, sahabat sejak kecil. Dia gak akan mikir macam-macam."
Aku melengos enggan menatapnya lama-lama.
"Lagipula aku yang lebih dulu kenal sama kamu, apa haknya dia ngelarang-larang aku ketemu sama kamu."
"Tentu dia punya hak, karena dia suamiku!" Jawabku dengan mata melotot.
"Aah..iya. Aku lupa. Maaf." Dia berdecak.
"Pergi mas!"
"Nanti dulu, aku pengen ketemu suamimu. Cuma pegen lihat seperti apa rupa-rupanya." Jawabnya santai.
Aku mendengkus kesal.
"Kenapa sih, kamu kok berubah jadi judes sama aku Hil? WA ku pun gak kamu balas. Malah nomorku diblokir." Ucapnya dengan nada kesal.
"Masih belum sadar juga apa kesalahan sampean sampai aku bersikap seperti ini?!"
"Apa? Yang di jembatan waktu itu? Halah, cuma dicium dikit aja kok."
Sungguh, dia benar-benar pria yang menyebalkan.
Aku melengos, kurasa wajahku memerah karena menahan amarah yang bergemuruh didalam dada. Bisa-bisanya dia menganggap remeh hal yang sangat memalukan itu.
"Hilya."
"Hil."
"Hilya!"
Aku bergeming meski ia memanggilku berkali-kali.
"Iya wes, aku minta maaf. Waktu itu aku khilaf Hil." Ucapnya dengan nada penyesalan. Entah murni atau dibuat-buat.
"Khilaf kenapa?"
Aku terhenyak mendengar suara gus Abdi dari belakangku. Saat kutoleh benar saja, suamiku tengah berdiri dibelakangku dengan sorot matanya yang tajam memandang ke arahku dan mas Reza secara bergantian.
"G-gus..?" Ucapku gelagapan. Sekilas kulihat mas Reza, nampaknya dia juga sama terkejutnya sepertiku.
"Khilaf kenapa? Memangnya apa yang pria ini lakukan?"
Pertanyaannya yang beruntun membuatku bingung hendak menjawab apa.
Aku berdiri dari tempat dudukku dan memdekati gus Abdi.
"Wangsul mawon nggih gus. Nanti kulo jelasin dirumah. Gak enak kalau membicarakan ini ditempat umum."
Aku mengambil kantong-kantong belanjaanku dan menarik lengan suamiku agar segera menghindar dari mas Reza. Kuhampiri seorang pelayan restaurant yang sedang berdiri tak jauh dari kami lalu memberikan uang untuk membayar makanan yang belum kami sentuh itu.
Kutengok mas Reza dia nampak terpaku ditempat duduknya melihatku dan gus Abdi berlalu meninggalkannya di restaurant ini.
Ya Allah, kenapa aku harus dipertemukan dengan mas Reza saat aku sedang bersama suamiku yang pecemburu ini. Aku hanya bisa berdo'a semoga gus Abdi tidak marah dan tidak salah sangka padaku setelah aku menjelaskan semuanya nanti.
***
Gus Abdi memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tatapannya lurus kedepan tanpa bicara sedikitpun. Ekspresi wajahnya terlihat datar dan penuh kebisuan. Aku tak bisa menebak apa yang ia rasakan saat ini, apakah marah atau hanya cemburu. Aku benar-benar takut dengan sisi lain suamiku saat ini. Ingin rasanya aku menangis tapi tetap tertahan karena ketakutanku.
Rasa penyesalan menyelinap dalam hatiku saat ini. Andai saja aku menceritakannya sejak awal mungkinkah keadaannya tidak akan seperti ini? Atau gus Abdi akan tetap murka karena sifatnya yang pecemburu, mengingat waktu itu ia langsung memutuskan untuk dilaksanakannya ijab siri karena tau kalau malam itu aku dilamar oleh pria lain.
Gus Abdi membelokkan mobil lewat gerbang pondok putri. Kami turun dari mobil dengan masih sama-sama membisu. Gus Abdi menenteng semua kantong belanjaan kami tadi. Aku mengekorinya berjalan masuk kedalam rumah melalui pintu dapur belakang yang memang letaknya tak jauh dari gerbang putri.
Beruntung saat kami masuk rumah tidak berpapasan dengan ibu Nyai maupun abah Kyai. Atau kalau tidak maka kedua mertuaku itu akan melihat sikap kami yang acuh.
Setibanya kami di dalam kamar, gus Abdi menutup pintu bahkan menguncinya dari dalam. Jantungku semakin berdegub kencang tak bisa menebak apa yang akan terjadi setelah ini melihat perilakunya yang tidak bisa kutebak.
๐๐๐
__ADS_1