GUS IDOLA

GUS IDOLA
Masa Lalu yang Kembali Menyapa


__ADS_3

GUS IDOLA


Part 22


Kami melangkahkan kaki memasuki tenda bernuansa putih ungu dengan disambut oleh beberapa wanita berkebaya ungu muda dengan riasan wajah yang membuat mereka terlihat lebih cantik.


Aku dan ibu mertuaku dibimbing untuk langsung masuk kedalam rumah. Sedangkan gus Abdi, Abah Kyai dan kang Badrun mereka dibimbing untuk memasuki area tamu putra.


Para wanita yang melihat kedatangan kami berduyun-duyun menghampiri kami saling bergantian sungkeman kepada ibu Nyai Maryam dan serta menyalamiku. Kami dipersilahkan untuk duduk diruang tamu yang sudah digelari karpet merah memenuhi ruangan. Seseorang mengambil alih bingkisan yang kubawa dan membawanya kebelakang. Ditengah ruangan tertata sebuah meja kecil yang sepertinya akan digunakan untuk akad nikah yang sebentar lagi akan digelar.


Tak lama setelah kami duduk, mbak Qonita datang dengan memakai gaun kebaya pengantin berwarna putih, dengan riasan bunga melati tersemat pada jilbabnya yang lebar menutup dada. ia terlihat sangat cantik dan anggun. Disampingnya seorang wanita paruh baya berpostur tubuh mirip dengan mbak Qonita, aku yakin itu adalah ibunya.


Dan disusul dua orang gadis dibelakang mereka, mbak Rana dan mbak Shima.


Mereka secara bergantian menyalami kami lalu ikut duduk serta. Ibunya mbak Qanita menemani Ibu Nyai berbincang-bincang, sedangkan mbak Qonita, mbak Rana dan mbak Shima mereka duduk berderet disampingku. Mereka tersenyim ramah menyapaku. Tersirat rona kebahagiaan diwajah mbak Qonita yang menyembul dibalik senyumannya itu. Sudah tentu, ini adalah hari paling bahagia baginya.


"Mbak Hilya, bagaimana kabarnya?"


"Alhamdulillah baik mbak, sampean mbak?"


"Alhamdulillah seperti yang sampean lihat sekarang ini," ucapnya dengan senyum yang merekah.


"Selamat ya mbak." Ucapku dengan senyum.


"Selamat juga untuk sampean mbak. Gak nyangka kalau sampean bakal jadi mantunya Ibu Nyai. Aku sudah denger ceritanya dari mbak-mbak lainnya. Pada heboh di grub WA mbak." Ucap mbak Qonita antusias sembari menggenggam jemariku.


Aku tersenyum lebar mendengarnya.


"Alhamdulillah mbak."


"Katanya sudah ijab siri juga to mbak? Waah.. senengnya."


"Nggeh mbak. Sebenarnya aku belum siap mbak kalau langsung dinikahkan, tapi gus Abdi mintanya gitu," jawabku.


"Ya ndak apa-apa to mbak. Malah bagusnya gitu kan, nggak perlu ngempet kalo pengen ketemuan. Hihihi," ucapnya cekikikan.


Aku menepuk pelan lengannya sembari mengulum senyum karena tersipu malu.


"Mbak-mbak satu pondok jadi patah hati berjamaah mbak." Ucap mbak Shima diiringi tawa renyah kami berempat.


"Yang lain mana mbak? Kok cuma berdua?" Tanyaku pada mbak Rana dan mbak Shima.


"Mbak-mbak yang lainnya nyusul nanti malam mbak, sekalian ngisi acara tiba'yah al-berzanji," sahut mbak Rana.


Aku membulatkan mulutku.


Menit kemudian terdengar alunan musik gending kebo giro yang dimainkan oleh operator soundsystem. Pertanda rombongan pengantin putra sudah tiba.


Mbak Qonita disuruh untuk masuk lagi kedalam kamar, menunggu sampai terlaksananya akad nikah. Aku dan Ibu Nyai tetap berada ditempat.


Terlihat Kang Haikal dengan setelan jas warna putih memasuki ruangan disusul abah Kyai dan juga suamiku gus Abdi serta beberapa pria lainnya. Satu persatu para rombongan pengiring pengantin masuk memenuhi ruangan akad nikah.


Kyai Dzul lah yang akan menikahkan kang Haikal dan mbak Qonita nantinya.

__ADS_1


*


Prosesi akad nikah berjalan dengan mulus, disusul dengan acara walimatul 'ursy yang dipimpin oleh Abah Kyai sebagai pengisi Mauidloh hasanah.


Pukul 11 siang acarapun selesai dengan dikhiri jamuan makan siang bagi para tamu undangan dan para pengiring kemanten.


Aku dan ibu Nyai Maryam masih berada didalam rumah mbak Qonita sampai acara selesai dengan ditemani beberapa ibu-ibu yang tidak aku kenal, tapi mereka terlihat akrab dengan ibu mertuaku. Mereka juga bertanya-tanya tentang pernikahanku dengan gus Abdi.


Setelah kami selesai makan, datanglah mbak Rana bersama seorang wanita berpostur tubuh semampai mengenakan gamis berwarna dusty pink dengan khimar yang warnanya senada. Cantik, itulah kesan pertama saat aku melihatnya.


Wanita itu menghampiri kami, ia mencium tangan Ibu Nyai dengan ta'dzim lalu menyalamiku.


Aku tersenyum padanya tapi ia tak membalas senyumku, melainkan langsung mengalihkan pandangannya dariku. Lalu ia kembali menyapa ibu mertuaku, menanyakan kabar dan sedikit berbasa-basi.


Kulirik mbak Rana yang duduk disamping wanita tersebut. Raut wajahnya terlihat seperti sedang tidak nyaman, sebentar-sebentar melirik kearahku lalu kearah wanita itu.


Dapat kudengar ibu Nyai memanggil wanita tersebut dengan panggilan "Nduk".


Aku hanya menggumam dalam hati, "siapa dia? Kenapa mereka terlihat sudah akrab?"


"Gus Abdi pripun kabarnya buk?" Tanya wanita itu. Spontan aku menoleh kepadanya.


"Alhamdulillah kabarnya baik nduk, wes nikah. 2 minggu lagi acara resepsinya. Ini istrinya." Ibu Nyai menepuk pelan pahaku.


Kutarik ujung bibirku supaya tersenyum.


Wanita itu masih menatapku datar.


"Bagaimana kabar Umi dan Abimu, lama ndak ketemu."


"Alhamdulillah sae buk. Sekarang mereka sedang ada di Jogja, mudik lebaran."


"Sampean kok ndak ikut?"


"Mboten, mbah ibuk sampun sepuh. Harus ada yang jagain dirumah."


(Mbah ibuk adalah sebutan untuk nenek).


"Terus kesini diantar siapa?"


"Diantar kalih mas Khalid."


"Owh.. ya sudah, sampaikan salamku pada Abi dan Umimu ya."


"Njih."


Sejak tadi aku hanya diam, merasa tidak diajak bicara kualihkan saja perhatianku pada kue-kue yang tersaji di atas piring di depanku, tanpa terasa kue-kue yang tadinya penuh tinggal menyisakan tiga potong pisang goreng saja.


Tak lama kemudian wanita itupun pergi bersama dengan mbak Rana juga. Inginku bertanya pada Ibu Nyai siapa wanita itu, tapi rasanya sungkan untuk kulakukan. Sepeninggal wanita itu pun Ibu Nyai tidak membahasnya denganku bahkan hanya sekedar memberitahu namanya saja tidak.


Hari sudah semakin siang, aku diminta Ibu Nyai menelpon gus Abdi untuk mengajaknya pulang sekarang juga. Setelah menelpon kami berpamitan kepada tuan rumah, kami juga menghampiri mbak Qonita yang sedang sibuk pemotretan bersama suaminya di atas kuade (pelaminan). Disana juga ada mbak Rana, mbak Shima dan wanita tadi. Sepertinya mereka juga tengah asyik mengambil foto bersama penganten dengan kamera ponsel. Sebelum pergi, aku dan Ibu Nyai juga diminta untuk berfoto bersama dengan pengantinnya.


Dari sini aku mengambil kesimpulan bahwa wanita itu pasti alumni pesantren Al-Kautsar, dilihat dari kedekatannya dengan mbak-mbak pondok yang ada disini.

__ADS_1


*


Aku dan Ibu Nyai sudah berada di dalam mobil, sedangkan kang Badrun masih menunggu diluar karena Abah Kyai dan suamiku belum juga datang. Sesaat kemudian dapat kulihat dari kaca dalam mobil, Abah Kyai dan gus Abdi berjalan menuju mobil kami, ada seorang laki-laki yang juga datang bersama mereka sembari berbincang-bincang.


Aku menyipitkan mataku memastikan penglihatanku ini benar atau salah.


Semakin mereka mendekat semakin jelas pula pandanganku, aku terkesiap melihat laki-laki yang berjalan bersama suami dan mertuaku itu.


Laki-laki yang dulu pernah kucintai dan juga cinta pertamaku. Jantungku mendadak berdebar, aku seakan tak percaya dengan apa yang kulihat sekarang.


Bagaimana bisa mereka saling kenal? Dan kenapa dia bisa ada di pernikahannya mbak Qonita, setahuku rumahnya bukan di daerah sini.


Jantungku semakin berdebar saat mereka sudah berdiri disamping mobil. Mereka saling berjabat tangan sesaat sebelum Abah Kyai dan gus Abdi masuk ke dalam mobil.


Aku menundukkan kepalaku saat suamiku membuka pintu jok belakang, khawatir kalau pria itu dapat melihatku disini. Mereka saling mengucap salam sebelum akhirnya pintu mobil ditutup.


"Gus Khalid buk," ucap Abah saat sudah duduk didalam mobil.


"Nggeh bah, tadi kulo juga sudah ketemu sama.. Wafiq." Sahut Ibu Nyai, beliau melirihkan suaranya saat menyebut nama 'Wafiq'.


"Mungkinkah yang dimaksud ibuk adalah wanita tadi? Lalu apa hubungannya dengan Kak Khalid?" Batinku.


Satu pertanyaan belum terjawab namun sudah muncul lagi pertanyaan baru yang membuatku semakin bingung.


Kak Khalid, dia adalah kakak kelasku dulu saat aku duduk di bangku Madrasah Aliyah. Dia duduk di kelas X11 dan aku kelas X. Dia merupakan ketua OSIS masa itu.


Pertama kali kami bertemu adalah saat aku menjalankan masa orientasi siswa. Saat itu aku berdiri di barisan paling depan saat absen dibacakan. Dan yang membacakannya adalah Kak Khalid.


Mata kami saling beradu saat ia memanggil namaku, dia melemparkan senyum manisnya padaku saat itu.


Aku yang sering telat datang karena lamanya mengantri kamar mandi di pesantren, membuatku hampir setiap hari mendapat hukuman. Yang membuatku heran adalah selalu saja kak Khalid yang memberi hukuman padaku, ia akan terus menungguiku sampai hukumanku selesai.


Menyapu, scot jump, lari, apapun hukumannya dia yang memutuskan. Sebenarnya aku jengkel waktu itu karena selalu saja dia yang memberi hukuman, namun ketika masa orientasi berakhir aku merindukannya saat aku tak lagi mendapat hukuman darinya.


Diam-diam aku mengorek informasi tentangnya. Ternyata dia juga merupakan santri tempat dimana aku mondok. Namun baru kuketahui sekarang ini kalau dia adalah seorang 'Gus' sebagaimana yang disebutkan Abah Kyai tadi.


Tempatku sekolah berada diluar naungan pesantren, dengan kata lain sekolahku merupakan sekolah Negeri. Jadi siswa siswinya bercampur baur menjadi satu, tidak terpisah antara laki-laki dan perempuan.


Meski kami berbeda tingkatan kelas, namun aku sering berjumpa dengannya karena aku mengikuti kegiatan ekstra Pramuka yang dimana Kak Khalid juga ada didalamnya.


Jika awal pertemuan kami saat masa ospek dia sangat menjengkelkan, ia berubah drastis selama aku mengikuti kegiatan pramuka. Ia kerap membantuku saat aku kesulitan menjalankan tugas dari kakak pembina dan hanya memberiku hukuman kecil saat aku terlambat.


Hingga suatu ketika ada seseakun FB yang meminta konfirmasi pertemanan.


Khalid Abdul Ghofur, hatiku berbunga segera ku pencet tombol konfirmasi. Sejak saat itulah kami saling berbalas pesan meski hanya seminggu sekali karena di pesantren hanya diijinkan mengaktifkan ponsel pada hari jum'at saja.


Meski kami terbilang dekat, namun tak ada ikatan apapun diantara kami.


Saat ia mengatakan perasaannya padaku, dengan berat hati aku menolaknya dengan halus karena aku terlalu tunduk pada nasehat ibuku bahwa aku tidak boleh pacaran selama masih menempuh jenjang pendidikan. Meski tak dapat kupungkiri bahwa saat itu aku juga menyukainya.


Namun semua itu sudah berlalu, kami sudah tidak pernah lagi berhubungan sejak ia lulus sekolah dan pindah pesantren. Dan kini aku sudah memiliku gus Abdi, suamiku yang sangat aku cintai.


💘💘💘

__ADS_1


__ADS_2