GUS IDOLA

GUS IDOLA
Sikapnya yang berubah


__ADS_3

GUS IDOLA


(Part 11)


PoV Gus Abdi


Awan yang menjadi satu membuatnya berubah warna menjadi kelabu, lalu meneteskan air langit yang perlahan menghujam bumi. Tetesan airnya t'lah dirindukan oleh rerumputan di tiap-tiap belahan bumi ini.


Tanah yang gersang perlahan menumbuhkan rerumputan yang dinantikan oleh domba-domba sang pengembala.


Sungai-sungai yang mulai kering kini telah mengalir kembali, memberikan harapan kehidupan bagi penghuninya. Hujan adalah Rahmat dari Yang Maha Kuasa bagi seluruh alam semesta.


Begitupun denganku, hujan di sore itu telah membuat diriku dan dirinya berada dalam naungan satu payung yang sama.


Berjalan berdampingan dengannya seakan menjadi sebuah mimpi yang tlah lama kusimpan dalam angan.


Namun sore itu, mimpi itu benar-benar nyata adanya.


Meski hanya sesaat, namun itu sudah cukup membuatku tidak bisa tidur semalaman. Andai aku bisa berjalan berdampingan dengannya selamanya, akan kugenggam erat tangannya dan tak akan pernah kulepaskan meski takdir memaksa.


"Gus, berikan payung ini pada mbak Hilya. Kasihan dia terjebak hujan digerbang sana." Ibu menyodorkan sebuah payung padaku. Awalnya aku menolak tapi ibu tetap memaksa. Disisi lain aku juga merasa kasihan melihat dirinya berdiri sendirian di pintu gerbang.


"Payungnya hanya satu ini bu?" Aku meraih payung dari tangan ibu.


"Iya, yang satunya lagi kemaren dipinjam kang pondok belum balik."


Aku mengatur nafas sebelum melangkah keluar pintu menuju pintu gerbang dimana tempat Hilya berdiri sendirian. Kalau saja aku bisa mengontrol detak jantungku, maka aku akan menyuruhnya untuk berdetak pelan-pelan saja agar nanti ia tidak mendengarnya.


Kami berjalan beriringan dibawah payung yang sama. Andai tak ada suara gemuruh hujan, mungkin saat ini ia dapat mendengar suara detak jantungku yang sedang berdebar hebat.


Aku hanya berani melirik wajahnya dari arah samping. Bulu mata yang lentik dan hidung yang bangir, sungguh aku ingin menghalalkan pandanganku ini padanya.


Uhibbuki kaifama kunti.


**


Malamnya kami berbuka puasa bersama dengan kelurga Hilya. Hari ini kedua orangtuanya bertandang di kediamanku.


Meski hanya bisa mencuri-curi pandang aku sudah merasa sangat bahagia. Namun tak kusangka abah malah mengatakan suatu hal yang membuatku tersentak hingga membuatku tersedak karena sedang meneguk segelas air.


Mereka sedang membahas tentang Hilya yang nanti akan membantu memasak ibu setiap harinya, namun tiba-tiba abah menimpali, "iya, anggep wae latihan biar mbesok terbiasa." (Iya, anggap saja latihan biar nanti terbiasa).


Aku terkejut bukan kepalang, hampir saja abah membocorkan rahasiaku.


**


Aku sedikit kecewa ketika Hilya mengira bahwa aku adalah kang Haikal. Aku putuskan untuk segera mengungkap jati diriku padanya. Aku akan pergi ke kantor putri dan memberikan ciri-ciri dengan baju yang kupakai nantinya. Namun Allah ternyata belum mengizinkan dia mengetahui segalanya, Orangtuanya datang menjenguk sampai malam dan berada di ndalem sehingga dia tidak sempat melihat siapa diriku yang sebenarnya.


***


Entah mengapa tiba-tiba dia tidak membalas pesan-pesanku meski aku mengirimnya berkali-kali. Aku menjadi sangat risau karena tidak biasanya ia bersikap seperti itu. Aku menelponnya berkali-kali, namun tidak diangkat juga.

__ADS_1


Apakah aku telah melakukan kesalahan? Atau dia sudah bosan kepadaku sehingga dia menghindar dariku? pikiranku benar-benar kacau. Tidak mendapat balasan pesan darinya membuat selera makanku hilang, tidurpun tak nyenyak. Aku merindukannya.


Siang itu aku melihat dirinya sedang duduk termenung diantar bunga-bunga yang bermekaran di depan asramanya, aku dapat melihatnya dari dalam rumah. Kupandangi dirinya dari balik jendela kaca hitam.


Aku masih menghujaminya dengan pesan-pesan singkat, berharap ia akan segera membalasnya.


Triing !


Akhirnya ia membalas pesanku, segera kubuka pesan darinya penuh harap.


["jenengan sampun punya tunangan, lebih baik jenengan fokus ke calon istri saja."]


Deg!


Aku terkesiap membaca pesan darinya, tunangan siapa? Pasti dia sudah salah mengira bahwa aku ini kang Haikal. Kang Haikal memang sudah memiliki tunangan yaitu mbak pondok disini juga, mbak Qonita.


Aku menelpon langsung dirinya, namun masih tidak diangkat juga. Kucoba lagi dan lagi, dan akhirnya ia menjawab telponku.


"Assalamu'alaikum." Aku mengucap salam. Apakah saat ini dia sudah mengenali suaraku?.


"Wa-wa'alaikumsalam." Terdengar suaranya yang seperti terbata-bata diujung telpon.


Bismillah, aku akan menemuinya sekarang juga. Agar tidak ada kesalah pahaman lagi diantara kami. Aku membuka pintu dan melangkah keluar rumah.


"Kulo pengen bicara," ucapku serius.


Namun saat aku turun dari teras, dia malah masuk kedalam asrama.


"Halo! Halo!" Aku tak mendengar suaranya.


Pasti dia sudah tau siapa aku, tapi kenapa malah menghindar. Padahal aku ingin menemuinya.


Baiklah, mungkin dia memang sudah tau bahwa pria yang selama ini mendekatinya adalah aku. Dia pasti sudah hafal dengan suaraku.


Aku masih diam berdiri menunggunya keluar, aku ingin mengajaknya bicara empat mata agar semuanya jelas, agar ia tak mengabaikan pesan-pesanku lagi.


Namun sepertinya dia memang tidak mau menemuiku. Aku melangkah masuk lagi kedalam rumah dengan perasaan kecewa.


**


"Ibu lihat dari kemaren sampean kok murung turus, ada apa?" Tanya ibu padaku yang sedang duduk sendiri diatas sofa ruang tamu sembari menatap nanar ke layar ponsel. Aku masih terus saja menghubungi nomornya tapi dia tetap tidak menanggapinya.


"Mboten enten buk." (gak ada apa-apa buk.)


Ibu duduk disampingku, lalu kurebahkan kepalaku dipangkuannya. Tangan halus ibu membelai lembut rambutku.


"Mikirne mbak kae to?" (Mikirin mbak itu ya?)


Aku tersenyum tipis mendengar sebutan yang ditujukan untuk Hilya.


"Kok diam? ndang diajak kenalan biar gak kepikiran terus." Ibu menundukkan kepala guna mengintip ekspresi wajahku.

__ADS_1


"Andai ibu tau, aku sudah lama berkenalan dengannya bu." aku membisik dalam hati.


Aku sengaja tidak bercerita pada abah dan ibu mengenai aku yang sudah PDKT dengannya lewat jejaring sosial. Yang mereka tau bahwa kami belum saling mengenal, padahal sebenarnya aku merasa sudah sangat dekat dengannya. Aku berharap Hilya merasakan apa yang aku rasakan padanya.


"Sepertinya mbak Hilya itu tidak menyukaiku bu," ucapku lirih, ada rasa kecewa dalam dadaku.


"Mosok gantenge koyok ngene mbak Hilya gak seneng?" (Masa ganteng gini mbak Hilya gak suka).


Ibu terkekeh sambil mencubit hidungku. Aku meringis kesakitan.


"Tak tembungne yo le," (saya lamarkan ya nak).


Aku terdiam memikirkan ucapan ibuku.


"Kalau ditolak bagaimana?" Ucapku penuh keraguan. Aku kehilangan kepercayaan diri setelah melihat sikapnya padaku meski ia sudah tau bahwa akulah pria yang selama ini mendekatinya.


"Lha terus maumu bagaimana gus?"


Aku bangun dan duduk, kutatap wajah ibu yang telah melahirkanku itu.


"Kulo minta izin ta'aruf kaleh mbak Hilya angsal?" (Saya minta izin ta'aruf dengan mbak Hilya boleh).


Ibu terseyum. "Kan, ibu sudah menyuruhmu dari dulu gus. Asalkan kalian bisa jaga jarak


dan tidak saling bersentuhan sebelum dia halal bagimu. Sebab syetan itu sangat pandai menggoda."


Aku mengangguk sembari mengulas senyum. Aku mencium tangan ibu dan meminta restu darinya.


**


Sore itu aku tak sengaja berpapasan dengannya saat di dapur. Kami hampir saja saling bertabrakan.


Sejenak mata kami saling beradu, kutatap matanya yang bulat berhias celak. Lalu ia segera menunduk dan mundur.


"Dek." Aku memanggilnya.


Hening tak ada sahutan.


Aku sengaja tetap berdiri diambang pintu agar dia tidak buru-buru keluar.


"Dek, Aku-"


"Nuwun sewu saya mau lewat. Sebentar lagi adzan, nanti ketinggalan jama'ah."


Aku pun menggeser posisiku, membiarkannya pergi dari hadapanku.


"Kenapa dek? Kenapa sikapmu menjadi dingin seperti ini?" Aku mengeluh dalam hati, menatap punggungnya yang kian menjauh dariku.


Apa yang harus aku lakukan sekarang agar aku bisa mengutarakan niatku untuk mengkhitbahnya. Dia bahkan selalu menghindar dariku. Padahal sebelumnya sikapnya sangatlah manis. Dia juga kan, yang menginginkan pertemuan ini.


Apa aku bukan kriterianya. Apakah aku kurang tampan untuknya. Tapi kurasa aku tidak terlalu jelek. Mbak pondok disini saja banyak yang mengidolakanku. Bukannya aku sombong, tapi aku mendengar ini dari kang Haikal.

__ADS_1


Aku harus memikirkan cara agar bisa berbicara denganya.


To be continued


__ADS_2