GUS IDOLA

GUS IDOLA
Tentang Gus Abdi


__ADS_3

["Apakah njenengan kang Haikal?"] Aku mengetik dengan jari agak gemetar.


Jantungku mendadak berdegub kencang.


["Nanti ba'da magrib kulo ke pondok putri lagi, nanti kulo pakek baju batik biru, siap-siap ngintip nggeh dek, hehe"]


Hmm... lagi-lagi aku harus menunggu. Baiklah tunggu nanti ba'da magrib.


Aku mengirim balasan emoticon wajah kecewa.


["Orang sabar disayang Allah, apalagi kulo, tambah poll sayange. Eh,"] kalimatnya diakhiri emoticon tertawa lebar.


["Dereng pernah ketemu kok berani sayang-sayangan kang, kalo berani nggeh nembung teng Abahe kulo"]


Entah apa yang merasukiku hingga aku berani mengatakan hal itu.


["Guyon lho kang, jangan dianggap serius. Hehee"] segera kususul balasan lagi, agar dia tidak salah faham.


["Wah, padahal kulo berharap niku wau serius lho dek, kecewa deh"].


Bodohnya aku, kenapa aku sampai bahas nembung nembung segala. Jangan-jangan nanti dia beranggapan kalau aku ini wanita agresif.


["Njenengan mboten tidur? Kulo ngantuk, sampun riyen nggeh"] aku mencoba mengalihkan pembicaraan dan memang sudah ngantuk sekali rasanya, tadi malam tidurku kurang.


["Nggeh pun. Selamat beristirahat. Semoga kelak kita dipertemukan dalam ridlo-Nya. assalamu'alaikum."].


Kami pun mengakhiri chating dan aku segera beranjak tidur, keburu waktu dzuhur tiba.


***


Saat aku hendak masuk kamar usai jadwal ngesahi kitab ba'da dzuhur, tiba-tiba aku dipanggil oleh mbk Rana. Katanya aku dipanggil Ibu Nyai untuk pergi ke dapur ndalem.


Setelah aku menaruh kitabku didalam lemari kecil disamping ranjangku, aku pamit pada indri dan bergegas pergi ke dapur ndalem. Sedangkan indri ia akan bersiap-siap untuk memasak persiapan berbuka puasa nanti bersama santri lainnya.


Aku langsung melangkah kearah samping barat ndalem yang mana langsung menuju pintu dapur yang memang terletak diluar. Setibanya aku disana Ibu Nyai tengah menyiangi sayur-sayuran.


"Assalamualaikum." Aku mengucap salam.


"Wa'alaikumsalam, monggo mbak mlebet." Sambutnya ramah.


Aku mencopot sendalku lalu masuk kedalam. Lalu aku duduk bersimpuh dihadapan Ibu Nyai yang sedang duduk diatas Amben (tempat duduk lebar yang terbuat dari bambu) yang dipenuhi dengan beberapa jenis sayuran dan bahan-bahan mentah yang akan diolah nantinya.

__ADS_1


"Duduk diatas sini aja mbak, jangan disitu." Ibu Nyai memberiku arahan agar duduk sejajar dengannya diatas amben.


Aku menuruti apa yang diperintahkannya.


"Hari ini tolong bantuin saya masak nggeh mbak, soalnya nanti bakal ada tamu. Tadi pas saya telpon ibunya sampean katanya Abah sama ibu sampean mau kesini."


"Nggeh, dekwingi kulo nyuwun dikirim baju ganti bu, kemarin pas berangkat teng mriki namung mbeto baju sekedik." Aku meraih seikat kangkung dan meletakkannya dipangkuanku lalu kusiangi satu per-satu.


Aku kemarin memang menelpon ibuku agar dibawakan baju ganti karena waktu berangkat kesini aku hanya membawa baju sedikit. Waktu itu bajuku banyak yang masih dijemur belum kering dirumah karena dua hari hujan berturut-turut.


Aku merasa agak sungkan pada Ibu Nyai karena harus repot-repot menyambut kedatangan orangtuaku.


"Ibumu itu dulu konco nggendokku bareng neng pondok mbak, kami sudah seperti saudara. Begitupun Abahnya sampean dan Abahnya Gus Abdi, mereka teman sak kamar lan sak gendok an." Gendok (masak).


Aku tersenyum mendengar penuturan Ibu Nyai Maryam, ibuku dulu juga pernah berkisah demikian padaku tentang kehidupan dipondoknya di Kediri, mereka berdua adalah sahabat karib kemana-mana selalu bersama. Jika salah satu diantara mereka ada yang telat kiriman uangnya maka salah satu dari mereka akan berbagi.


Sebenarnya ada satu lagi sahabat dekat mereka, namanya Bu Marwiyah. Namun beliau mendapat suami yang asalnya dari sumatera, jadi sekarang mereka sudah terpisah jarak.


"Biasanya Abdi yang bantu-bantu didapur kalau pas nganggur, tapi hari ini dia sibuk ngurus murid-murid sekolahnya."


What? Gus Abdi masak?.


"Saya kan, nggak punya anak perempuan mbak. Abdi anak satu-satunya, sangking sayangnya dia sama ibunya dia rela terjun ke dapur." Ujar Ibu Nyai sembari tertawa renyah.


Kata mbak Shima teman satu kamarku, Ibu Nyai memang tidak pernah meminta bantuan kepada mbak pondok untuk memasak setiap harinya, kecuali pas ada acara atau tamu yang mengharuskan untuk masak banyak. Karena anggota keluarganya hanya tiga orang saja jadi beliau tidak memerlukan bantuan kalau hanya untuk memasak sehari-hari.


Untuk bersih-bersih rumah biasanya diadakan piket setiap harinya untuk mbak pondok. Ndalem Ibu Nyai terbilang cukup luas jadi perlu dua orang untuk membersihkannya.


Tiba-tiba aku kepikiran, kenapa aku tidak pernah membantu beliau masak. Padahal setiap hari aku diberi jaminam makanan. Ah, bodohnya aku.


"Nuwun sewu bu, pripun lak kulo mbendinten mriki mbantu panjenengan masak?". Aku memberanikan diri mengutarakan keinginanku.


"Apa nggak ganggu ngajinya sampean mbak?" Tanya beliau.


"Insyaallah mboten, yahmenten niki kan sampun mandap pengaosane."


"Ya, sudah. Kalau itu kemauan sampean monggo, tapi saya nggak nyuruh lho ya," Bu Nyai tersenyum.


"Nggeh".


Sayuran sudah selesai disiangi, lalu kubawa ke tempat cucian piring dan mencucinya. Air rebusan dipanci yang sudah nangkring diatas kompor sepertinya sudah menunjukkan tanda-tanda akan mendidih.

__ADS_1


"Sayurnya direbus dipanci niku nggeh mbak." Ibu Nyai memberiku arahan.


"Nggeh." aku mengangguk pelan. Sepertinya sayuran ini akan diolah jadi urap-urap.


Setelah memasukkan sayuran kedalam air yang mendidih, aku beralih mengambil kelapa dan parutan. Aku mengambil posisi diatas amben tadi. Sedangkan Ibu Nyai membersihkan daging ayam lalu membuat bumbunya.


"Nanti buka puasanya disini saja nggeh mbak, sareng-sareng Abah ibunya sampean."


"Nggeh". jawabku takdzim.


Ibu Nyai Maryam orangnya sangatlah ramah, selama didapur beliau selalu mengajakku berbincang-bincang. Beliau juga membicarakan tentang Gus Abdi, bagaimana masa kecilnya hingga dewasa.


Gus Abdi sudah dipondokkan di Jombanng sejak lulus sekolah madrsah ibtidaiyah atau sekitar umur 12 tahunan. Ia mondok sambil melanjutkan pendidikan sekolah hingga lulus kuliah. Ia menjadi sarjana pendidikan Agama islam tiga tahun yang lalu.


Sekarang ini Gus Abdi menjadi guru bahasa arab di yayasan pendidikan dekat pesantren ini.


Gus Abdi belum lama ini ia pulang kerumah, kurang lebih dua bulanan ia boyong dari pesantrennya. Abah Kyai Dzulqurnain memintanya untuk pulang agar Gus Abdi membantu mengurus pesantren. Khususnya pesantren putri, Gus Abdi diberi amanah untuk menghandle semua kegiatan santri putri. Karena Gus Abdi putra satu-satunya, maka tidak ada orang lain lagi yang bisa diandalkan selain dia.


Waktu sudah hampir sore, sebentar lagi adzan ashar akan berkumandang. Pekerjaanpun hampir selesai, tinggal menunggu ayam kecapnya matang dan memotong-motong buah untuk dijadikan es buah sebagai takjil buka puasa nanti.


Menu hari ini ada Ayam kecap, urap-urap, sambal terasi, Lele goreng, sayur lodeh, sayur bening dan tahu tempe goreng. Ayam kecap adalah menu kesukaan Gus Abdi, sedangkan Abah Kyai hanya akan menyantap sayur bening dan tahu tempe serta sambal sedikit, beliau menghindari kolesterol.


Di usianya yang sudah tidak muda lagi membuatnya mengeluh nyeri sendi dan pegal-pegal jika makan makanan yang berkolesterol.


Akhirnya pekerjaan pun selesai, aku berpamitan pada Ibu Nyai. Tapi aku juga meminta idzin untuk pergi ke toko yang ada didepan gerbang putri sebentar untuk membeli pulpen Hi-tech, karena pulpenku tadi terjatuh dan tintanya macet nggak bisa digunakan lagi.


Langit menjadi kelabu, gerimis telah menyentuh bumi. Aku bergegas pergi ke toko sebelum gerimis menjadi hujan deras.


Kupanggil-panggil pemilik toko namung tak kunjung ada sahutan, karena jengkel aku hendak kembali saja. Namun saat baru saja membalikkan badan, sang pemilik toko datang dan memanggilku kembali.


Baru saja keluar dari toko tiba-tiba hujan deras menghujam bumi, aku segera berlari menuju gerbang. Untunglah Gerbang ini diberi genteng diatasnya jadi aku bisa berteduh disini sebentar sambil menunggu hujan agak reda.


Bukannya reda hujan malah tambah deras, ingin nekat saja tapi takut terkena flu nantinya. Baiklah akan aku tunggu sebentar lagi.


Tiba-tiba dari arah dapur ndalem ada seorang pria memakai payung dengan menyingsingkan sarungnya setinggi betis menuju kearahku. Posisi dapur memang tidak jauh dari gerbang, letak pintu dapur dapat terlihat dari gerbang ini.


Karena terhalang hujan yang deras aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas.


Pria itu terus berjalan menghampiriku dan kini ia berada tepat didepanku.


Gus Abdi ???

__ADS_1


To be continued 💚


__ADS_2