GUS IDOLA

GUS IDOLA
Bukan saya pelakunya


__ADS_3

Setelah mendapatkan rekaman cctv yang ia dapat dari kampus Ning Wafiq yang ia simpan kedalam ponselnya, Gus Khalid segera berpamitan kepada petugas operator setelah mengucapkan rasa terimakasihnya.


Di dalam mobil Gus Khalid segera memutar ulang rekaman cctv yang ada di ponselnya. Diperbesarnya gambar yang menampilkan nomor plat mobil yang dimasuki oleh Ning Wafiq tersebut, lalu Ia mencatatnya pada secarik kertas.


"Ya Allah, semoga ini bisa menjadi pentunjuk untuk hamba menemukan pelaku itu." Batinnya berdo'a.


Gus Khalid memutar otak, bagaimana caranya agar ia dapat melacak pemilik plat mobil tersebut.


Sesaat kemudian ia teringat akan sesuatu. Ya, ada sebuah aplikasi yang berguna untuk melacak tentang identitas pemilik plat nomor yang dicari.


Tanpa pikir panjang Gus Khalid segera mendownload aplikasi tersebut.


"Dapat!!" Gumamnya setelah ia mengantongi informasi pemilik plat nomor mobil yang ia cari beserta alamatnya juga.


Saat akan men-starter mobilnya, tiba-tiba saja ponsel Gus Khalid berdering. Diliriknya layar ponselnya yang berkedip-kedip itu, dan ternyata nama Abinya tertera disana.


Gus Khalid lantas meraih ponsel dan menjawab panggilan dari Abinya.


"Assalamu'alaikum, ya Abi?"


"Wa'alaikumsalam. Bagaimana Le? Ini Gus Abdi katanya mau ikut bantu kamu." Suara Kyai Hanafi di seberang telepon.


"Mas Abdi?" Gus Khalid sejenak berpikir, ada baiknya jika Ia pergi mencari alamat si pemilik mobil taksi dengan membawa teman, barangkali nanti dia bertemu dengan pelakunya, tentu saja ia butuh tenaga tambahan untuk menangkpa pelakunya.


"Iya Abi, saya akan pulang dulu sekarang buat nyusul Gus Abdi," ucap Gus Khalid kemudian.


"Ya, sudah. Hati-hati di jalan."


"Njeh."


Setelah menutup telepon, Gus Khalid segera melajukan mobilnya menuju rumahnya lagi. Mendengar nama Gus Abdi, tiba-tiba saja terbesit bayangan Hilya yang muncul dalam benaknya.


"Astaghfirullah!" Gus Khalid menggeleng pelan, mencoba sekeras mungkin menghilangkan bayangan Hilya dalam ingatannya. Seharusnya ia sudah menghilangkan perasaannya itu terhadap Hilya ketika wanita itu sudah menjadi istri orang lain.


Tak mudah memang, melupakan cinta yang telah tertanam dengan subur dalam hati seseorang selama bertahun-tahun.


Melupakan cinta tak semudah jatuh cinta.


🌷🌷🌷


"Eling nduk.. eling!!" Umi Salma meratapi anaknya yang mematung dengan tatapan kosong, sesekali air mata menetes dari pelupuk matanya. Betapa kejamnya penjahat itu sehingga membuat Ning Wafiq sampai trauma berat seperti ini.


"Katakan sesuatu nduk, jangan takut. Biar penjahat itu cepat tertangkap dan diberi hukuman yang setimpal." Kali ini Ibu Nyai Maryam yang berusaha membujuk.


Namun lagi-lagi, hanya isak tangis Ning Wafiq yang menjadi jawaban.


"Apa sebaiknya kita panggil saja psikiater untuk mengobati Ning Wafiq?" Ujar Hilya tiba-tiba. Umi Salma seketika menoleh dan menatap Hilya. Sontak Hilya merunduk, takut salah bicara. Ia sendiri masih tidak enak hati dengan keluarga Ning Wafiq karena ia merasa menjadi perebut jodoh putri mereka.


"Apa kamu anggap anak saya gila?" Ucap Umi Salma menanggapi.


"Bukan seperti itu Umi, jangan salah faham dulu." Sergah Hilya mencoba menjelaskan. Niatnya ingin memberi solusi malah dituduh yang bukan-bukan.


"Jangan salah faham dulu Dik, mungkin maksud Hilya itu baik. Orang yang berurusan dengan psikiater belum tentu orang gila." Ibu Nyai Maryam mencoba menengahi.

__ADS_1


"Benar, dokter psikiater juga bisa membantu menyembuhkan trauma seperti yang dialami Ning Wafiq saat ini," jelas Hilya lagi.


"Benar seperti itu? Baiklah kalau begitu, nanti biar dicarikan dokter psikiater untuk menyembuhkan Wafiq. Apapun caranya, yang terpenting Wafiq bisa kembali seperti sedia kala." Umi Salma mencoba berdamai, mungkin benar apa yang dikatakan oleh Hilya. Tidak ada salahnya ia menerima saran dari Hilya.


Sesaat kemudian Gus Abdi masuk. Gus tampan itu berjalan mendekati Hilya dan membisikkan sesuatu, lalu setelah itu Hilya bangkit dari duduknya dan berjalan mengikuti langkah Gus Abdi keluar dari kamar Ning Wafiq.


"Dek, nanti kamu pulang duluan saja sama Abah juga Ibuk ya. Aku mau ikut bantu Khalid dulu, kasihan kalau dia bertindak sendirian," ucap Gus Abdi setelah sampai di luar kamar.


"Njeh Mas. Hati-hati ya. Jangan lupa kasih kabar, aku takut kalau sampai terjadi sesuatu dengan Mas. Jangan-jangan penjahat itu benar orang yang sangat kejam. Kalian harus hati-hati. Oh, atau Mas bawa saja pisau atau apalah gitu buat senjata, bisa saja kan, penjahat itu berbuat nekad untuk membela diri." Cerocos Hilya tanpa henti.


"Tenang, suamimu ini dulu di pondok juga penah belajar ilmu bela diri. Jadi kamu ndak usah khawatir yang berlebihan. Cukup do'akan saja agar semuanya berjalan dengan lancar, ya!"


Hilya mengangguk faham, namun raut kekhawatiran masih tergambar di wajahnya.


Gus Abdi yang mengerti akan kerisauan hati Hilya, dikecupnya pucuk kepala sang istri untuk menenangkannya.


Tiba-tiba saja mereka berdua dikejutkan oleh suara benda jatuh yang tak jauh dari tempat mereka berdiri. Saat ditoleh, didapatinya Gus Khalid yang sedang berjongkok mengambil kunci mobil yang tergeletak diatas lantai.


Sontak Gus Abdi dan Hilya merenggangkan posisi mereka dengan perasaan canggung sambil saling melempar senyum.


"Emm, Mas Gus, kata Abi sampean mau ikut saya ya?" Tanya Gus Khalid yang sudah dalam posisi berdiri.


"Iya. Sekarang?"


Gus Khalid mengangguk, lalu berjalan dan memutar badan. Ia sendiri berusaha menghindari bersitatap dengan Hilya, apalagi setelah tadi tak sengaja melihat adegan romantis antara suami dan istri itu, yang membuatnya terkejut sehingga tak sengaja menjatuhkan kunci mobilnya tadi.


"Aku pamit ya!" Gus Abdi mengulurkan tangannya yang kemudian disambut oleh sang istri.


"Wa'alaikumsalam."


🌷🌷🌷


"Apa sudah dapat pentunjuknya?" Tanya Gus Abdi setelah mobil yang mereka tumpangi melaju keluar dari gerbang pesantren Nurul Islam.


"Alhamdulillah sudah Mas. Aku sudah dapat alamatnya beserta nama pemilik mobil taksi online yang ditumpangi Wafiq semalam. Tapi masih belum tau apakah pemilik mobil ini pelaku yang sebenarnya atau bukan."


"Berarti ini kita langsung menuju ke alamat yang kamu maksud itu?"


"Iya." Gus Khalid mengangguk.


Setengah jam kemudian, mobil yang mereka tumpangi berhenti pada sebuah rumah bercat hijau, mata Gus Khalid  langsung tertuju pada sebuah mobil yang terparkir di garasi disebelah sisi kanan rumah tersebut. Jika dilihat dari warna mobilnya jelas sama dengan mobil yang ia lihat dalam rekaman cctv.


Bergegas Gus Khalid dan Gus Abdi keluar dari mobil dan berjalan memasuki halaman rumah tanpa pagar tersebut.


Mata Gus Khalid terfokuskan pada nomor plat mobil tersebut, benar saja, nomornya sama.


Gus Khalid mempercepat langkahnya menuju pintu rumah tersebut yang masih tertutup rapat.


"Assalamu'alaikum." Gus Khalid menggedor pintu dengan tak sabar.


Setelah salam kedua, pintu rumah terbuka dan muncul seseorang dari balik pintu tersebut.


Seorang pria setengah baya yang sudah berpenampilan rapih.

__ADS_1


"Siapa ya?" Tanya pria tersebut.


"Apa benar mobil ini milik bapak Ikhsan?" Tanya Gus Khalid.


"Benar, saya sendiri orangnya."


"Berarti bapak adalah orang yang membawa adik saya semalam dari Universitas Diponegoro?" Gus Khalid sedikit menaikkan nada bicaranya, ia berprasangka mungkin saja jika pria yang ada didepannya itu adalah pelakunya.


Pria yang bernama pak Ikhsan itupun mulai merasa tegang dan bingung dengan dua tamu yang tiba-tiba datang kerumahnya, apalagi dengan raut wajah Gus Khalid yang seperti menahan gejolak amarah.


"Iya, memang semalam saya menjemput penumpang dari kampus itu," jawab pak Ikhsan setelah mengingat-ingat.


"Memangnya ada apa?" Lanjutnya lagi dengan ekspresi tegang bercampur bingung.


"Tenang dulu Gus, tanya saja dulu baik-baik, belum tentu bapak ini pelakunya." Gus Abdi mencoba meredam amarah Gus Khalid yang seperti hendak meluap.


"Ada apa ini sebenarnya? Pelaku apa?" Pak Ikhsan pun makin tak mengerti.


"Begini pak, semalam gadis yang naik kedalam mobil bapak itu mengalami pemek*saan, apakah bapak tau sesuatu?"


Tanya Gus Abdi mencoba tenang, ia sendiri menduga kalau pria yang ada dihadapannya itu bukanlah pelakunya, karena tidak ada kepanikan dalam raut wajah pria tersebut.


"Astaghfirullahal'adzim!! Yang bener mas? Sumpah bukan saya pelakunya. Semalam ban mobil saya mendadak bocor, karena saya gak bawa ban serep jadi saya telepon anak saya buat anter ban ke tempat semalam. Karena gak sabar nunggu, mbak itu tadi jalan duluan katanya mau nyegat taksi lain atau ojek barangkali ada. Setelah itu saya gak tau apa-apa lagi Mas." tutur Pak Ikhsan menjelaskan.


"Benar bapak tidak bohong?!" Tanya Gus Khalid yang masih belum yakin.


"Sumpah demi Allah saya tidak bohong Mas!" Pria itu berucap dengan tegasnya.


Gus Abdi berdecak kesal, dipukulnya tembok yang ada disampingnya. Kecewa karena tak lagi mendapat petunjuk apa-apa.


Gus Abdi pun turut kecewa dengan apa yang mereka dapat hari ini. Sia-sia belaka. Petunjukpun juga tidak jelas.


"Ya, sudah kalau begitu kami permisi dulu Pak, terimakasih atas informasinya." Pamit Gus Abdi undur diri.


Dengan perasaan kecewa mereka pun meninggalkan rumah supir taksi online tersebut.


"Kita lacak saja keberadaan Hapenya Wafiq!" Usul Gus Abdi di tengah perjalanan mereka menuju pesantren Nurul Islam kembali.


"Benar juga ya, Mas."


Gus Khalid seketika menepi dan memberhentikan mobilnya. Dia mengambil ponsel dari dalam saku lalu mengutak-atiknya.


"GPS-nya ndak terdeteksi Mas. Ck!" Gus Khalid berdecak kesal. Tangannya mememukul ringan setir mobil.


Kedua lelaki itu pun terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Memikirkan bagaimana caranya agar mereka dapat petunjuk lagi.


Gus Khalid memandang ke sisi jendela, menatap kosong jalanan dimana banyak kendaraan berlalu lalang.


"Oh, iya Mas. Semalam kalian menemukan Wafiq dimana?" Sebuah pertanyaan yang baru saja muncul dalam otaknya, seketika itu ia lontarkan.


"Di daerah Durenan, sepertinya di jalan Pemuda," jawab Gus Abdi.


Tanpa berkata lagi, Gus Khalid langsung menyalakan mesin mobil dan tancap gas.

__ADS_1


__ADS_2