GUS IDOLA

GUS IDOLA
Terungkapnya sebuah fakta


__ADS_3

Aku memilih mengabaikan telpon darinya meski sudah dua kali ponselku berdering.


Namun tiba-tiba aku terperanjat karena mengingat suatu hal.


"Kucing?"


Aku baru ingat kalau kucing itu adalah milik gus Abdi, kucing kesayangnnya yang kata mbak Nisa gus Abdi tidak bisa tidur tanpa kucingnya itu.


"Ya Allah..!" Aku menyeru dengan spontan.


Ponselku masih terus berdering, kupandangi deratan nomor yang tertera dilayar ponsel. Aku menggeser tombol hijau,


"Assalamu'alaikum."


Degg !


Terdengar suara lelaki yang tak asing dari ujung telpon. Suara yang sama dengan lelaki yang setiap sore mengisi sema'an Al-Qur'an dimusholla. Tentu aku sangat hafal dengan suaranya.


"Wa..wa'alaikumsalam" mendadak lidahku menjadi kelu, tanganku meremas ujung jilbabku.


Aku yang duduk ditaman depan asrama, terpaku melihat gus Abdi membuka pintu depan ndalem, nampak ia berdiri menatap lurus kearahku. Posisi ndalem dan asrama tempat aku tinggal memang saling berhadapan, hanya berjarak 20 meter-an


Pasti dia sudah melihatku disini sejak tadi lewat jendela kaca itu.


"Kulo pengen bicara," ucapnya serius. Ia melangkah kedepan dan turun dari teras.


Aku menurunkan ponselku lalu berdiri melangkah kedalam asrama dengan tergesa-gesa.


Dadaku naik turun, pipiku terasa hangat, dan telapak tanganku menjadi dingin.


Suasana asrama sangatlah sepi, mungkin santri putri lainnya sudah terlelap karena sekarang ini memang waktunya qilolah atau tidur siang.


Aku mengintip dari balik jendela kaca hitam, gus Abdi masih berdiri disana dengan ponsel yang masih menempel ditelinga.


Aku melirik kearah layar ponsel, panggilan masih terhubung.


"Halo.. halo.." lirih terdengar suara dari ponselku.


Kutekan tombol merah, panggilan terputus sudah. Jantung masih berdegup kencang tak berirama, aku bingung apa yang harus aku lakukan. Aku benar-benar tidak menyangka bahwa pria misterius yang aku cintai itu adalah Gus Abdillah, putra Kyai di tempat aku menimba ilmu dibulan ramadlan ini.


Ponselku kembali berdering, gus Abdi menelpon lagi. Aku mereject panggilannya. Aku benar-benar belum siap.


Triing !


Sebuah pesan masuk, aku membukanya.

__ADS_1


["Sampean pasti sudah salah faham, kulo dereng gadahi tunangan dek,"]


Aku memang sudah salah faham gus, karena aku mengira pria itu adalah kang Haikal. Maafkan aku mbak Qonita, aku sudah salah cemburu denganmu. Ternyata aku sudah salah orang.


Gus Abdi masuk kembali kedalam rumah. Aku mencari indri tapi ternyata dia sedang tidur. Aku duduk ditepi ranjang, menatap nanar ke layar ponsel yang masih menyala. Aku baru memahami arti dari nama akun 'Kawulo Gusti' yaitu yang dalam bahasa arab berarti Abdullah atau Abdillah.


Aku berfikir apa yang akan terjadi setelah ini dan apa yang harus aku perbuat jika nanti bertemu dengannya.


***


Pagi ini adalah hari terahir bagi para siswi dari yayasan Ummul Quro melaksanakan kegiatan pondok romadlon, mereka akan dijemput oleh orang tua masing-masing. Aku melihat gus Abdi dan beberapa guru lainnya terlihat sibuk mengurus murid-muridnya itu. Ya, gus Abdi merupakan salah seorang guru dari yayasan tersebut. Aku mendengar ini dari Ibu Nyai Maryam waktu itu.


Aku sering memperhatikan para siswi remaja itu kerap sekali membicarakan gus Abdi dan jika gus Abdi datang mereka seolah-olah berlomba-lomba mencari perhatiannya.


Ternyata bukan hanya di pesantren, di sekolahnya pun ia juga menjadi idola kaum hawa.


Aku masih mengabaikan pesan maupun telpon darinya, perasaan malu begitu menguasai diriku saat ini. Pantaskah aku?


"Nah, kan bener apa kataku, kamu sih ngeyel masih nggak percaya." Ujar Indri setelah mendengar penuturanku.


"Ya, gak nyangka aja ndri kalau dia orangnya. Kamu ingat kan, saat kita pertama bertemu dengannya. Sikapnya sungguh menyebalkan." Aku memanyunkan bibirku.


"Iya juga ya Hil, kenapa bisa begitu ya?" Indri tampak berpikir serius. Aku mengangkat kedua bahuku.


"Jangan-jangan dia punya kepribadian ganda. Kadang-kadang baik kadang-kadang nyebelin." Ucap indri asal-asalan.


Indri merenges.


"Kok kamu malah menghindar? Bukannya kemaren-kemaren kamu ngotot pengen cepet ketemu?" Protes indri padaku.


"Isin ndri, nggak PeDe rasanya. Dia langit aku bumi, selalu ada jarak diantara kami." Ucapku lirih, aku menundukkan kepalaku menahan bulir bening yang hendak jatuh.


"Jangan sedih dong Hil, aku jadi ikutan sedih nih." Indri mengusap punggungku.


"Tapi cobalah untuk berbicara padanya terlebih dahulu Hil, kasihan juga kan gus Abdi." Imbuhnya lagi.


Aku terdiam memikirkan ucapan indri, pikiranku menerawang jauh. Andaikan aku dan gus Abdi saling menyukai lalu apakah Abah Kyai dan Ibu Nyai akan merestui? Jika mereka tidak merestui tentu akan sangat membuat malu kedua orangtuaku. Kedua orangtua kami memang bersahabat tapi itu bukan berarti mereka akan menjodohkan putranya dengan gadis biasa sepertiku.


Aku bukanlah anak seorang Kyai. Abah dan ibuku hanyalah seorang guru ngaji bagi anak-anak disekitar rumah kami. Hanya bertempatkan musholla peninggalan orangtua ibuku, mereka dengan ikhlas membagi ilmu tanpa imbalan apapun.


Untuk sementara aku lebih memilih untuk menghindar terlebih dahulu, siapa tau nanti lambat laun ia akan melupakanku.


***


"Nduk, tahunya jangan garing-garing yo. Abdi sukanya setengah mateng." Titah Ibu Nyai Maryam padaku yang sedang menggoreng tahu.

__ADS_1


"Nggeh." Aku mengambil serok lalu mengangkat tahu yang kelihatannya sudah setengah matang.


"Ndak apa-apa kan, kalau saya panggil sampean 'nduk'?" Ibu Nyai meletakkan piring lebar didekatku untuk menaruh tahu goreng yang sudah matang.


"Mboten nopo-nopo bu, kulo malah remen." Aku menoleh padanya dan tersenyum.


"Ibumu belum pengen ngunduh mantu nduk?" Tanya ibu Nyai yang sedang mencuci beras di wastafel.


"Dereng, Mase kulo tasek mondok bu."


"Lha sampean sudah siap apa belum?"


Pertanyaan beliau membuatku sedikit tertegun, sampai aku menjadi salah tingkah. Tahu matang yang sudah kutaruh dipiring malah kumasukkan lagi kedalam wajan. Untung saja Ibu Nyai tidak melihatnya.


"Dereng." aku menjawab ragu-ragu.


"Umurnya sampean opo ra nggeh sampun wancine nikah to nduk," ibu Nyai melangkah mendekatiku. Ia mematikan kompor disamping aku menggoreng karena air yang direbus sudah mendidih. Lalu diangkatnya panci itu dan menuangkan airnya kedalam magicom berisi beras.


"Dereng enten calone." Aku menjawab asal-asalan. Entah salah atau tidak ucapanku tadi. Ibu Nyai tertawa renyah mendengar penuturanku.


"Yo dienteni wae nduk, sebentar lagi. Kalau sudah saatnya pasti datang."


"Nggeh." Jawabku singkat. Malu sekali rasanya mendapat pertanyaan tentang menikah. Apalagi mengingat tentang perasaanku pada putranya. Aku merasa seperti berdosa karena telah berani mencintai pria yang berstatus 'Gus' itu.


Aku sudah selesai menggoreng tahu, masakan yang lainnya pun juga sudah matang semua. Ibu Nyai sudah beranjak dari dapur dan sepertinya beliau pergi untuk mandi karena sebentar lagi adzan ashar. Aku meletakkan tahu yang kugoreng tadi dimeja makan berjajar dengan menu lainnya, lalu menutupnya dengan tudung saji.


Saat aku hendak keluar dari dapur, ditengah pintu aku hampir bertabrakan dengan gus Abdi. Wajah kami saling berhadapan, aku segera mundur dan menundukkan pandanganku.


"Dek," panggilnya lirih.


Ya Allah, jantungku rasanya seperti mau lepas mendengar suaranya memanggilku.


Aku tetap menunduk tidak berani menatap wajahnya. Ingin rasanya aku segera kabur tapi dia tetap berdiri diambang pintu menutupi jalanku.


"Dek, aku.."


"Nuwun sewu saya mau lewat." Ucapku memotong pembicaraannya.


Dia masih diam ditempatnya.


"Sekedap maleh adzan mangke ketinggalan jama'ah." Ucapku lagi yang masih tetap menunduk.


Dia pun bergeser dari ambang pintu, aku langsung melangkah keluar dengan perasaan yang tidak karuan.


"Maaf gus." Ucapku dalam hati. Langkah kakiku serasa berat, ingin rasanya aku kembali lagi dan menemuinya. Aku menyeka bulir bening yang berlinang dipipiku.

__ADS_1


Berhari-hari aku mengabaikan telpon dan pesan-pesan darinya. Indri juga tak henti-hentinya membujukku agar mau membalas pesan atau mengangkat telponnya namun aku tak peduli. Nyaliku belum siap.


To be Continued 💚


__ADS_2