GUS IDOLA

GUS IDOLA
Konflik Batin


__ADS_3

GUS IDOLA


PART 25


"Aku tau, pasti sampean juga merindukannya bukan?


Entah benar atau tidak tuduhannya itu, namun hatiku tak bisa menyangkalnya.


"Apalagi setelah mengetahui bahwa Kyai sampean juga telah merestui perjodohan kalian, apa mungkin sekarang hati sampean goyah?!"


Aku hanya bisa menangis tak mampu menjawab pertanyaan dari suamiku, lidahku terasa kelu.


"Jawab dek!" Ucapnya dengan memegang kedua bahuku.


"Sampean masih cinta dengan dia?" Ucapnya lagi dengan nada yang bergetar.


Aku menggeleng pelan, kurengkuh tubuh suamiku dan menangis dalam pelukan.


"Aku tidak ingin melepasmu gus." Batinku berkata.


"Aku benar-benar tulus mencintaimu Hilya." Dikecupnya ujung kepalaku.


Kami larut dalam kesedihan masing-masing hingga terdengar suara Ubed mengumandangkan adzan dari musholla kami.


"Sana mandi, sudah ashar." Titah gus Abdi.


Aku merenggangkan tubuhku dari dekapannya, ia mengusap pipiku yang basah. Akupun demikian, kuusap sudut matanya yang masih terlihat basah.


*


"Hil, tolong bikinin kopi tiga." Pinta mas Azam saat aku tengah mengiris kubis di dapur.


"Ada tamu to?"


"Iya temen pondokku."


"Nyapo kui, mari nanges?" Ucapnya lagi.


(Kenapa itu, habis nangis?)


Aku spontan menundukkan kepalaku menyembunyikan mataku yang sembab walau sudah ketahuan oleh kakakku itu.


"Nggak kok." Bohongku.


"Sudah sana, tak buatin kopinya tapi nanti ambil sendiri ya, aku gak mau nganter kalau tamunya laki-laki." Kataku.


"Iya-iya. Suamimu suka kopi nggak, dia juga di depan njagongi tamuku." Ujar mas Azam sambil berlalu meninggalkan dapur.


"He.em."


Aku meninggalkan aktifitasku mengiris kubis dan beralih meraih panci khusus untuk merebus air.


Setelah selesai membuatnya aku tak mengantarnya ke depan, biar nanti mas Azam sendiri yang mengambilnya karena aku tidak terbiasa menyambut tamu laki-laki apalagi yang tidak kukenal.


Menit kemudian mas Azam datang lagi ke dapur dan mengambil nampan yang berisi gelas-gelas kopi.


Setelah itu datanglah ibuku, beliau segera membantuku memasak sore ini. Sembari berbincang tangan kami sibuk mengerjakan segala sesuatunya.


"Piye Hil? Wes omong-omongan karo bojomu?" tanya Ibu.


(Gimana Hil, sudah bicara sama suamimu)


"Sampun buk," jawabku.


"Piye?"


"Gus Abdi mengira kalau aku masih suka sama gus Khalid."


"Gek piye terusan? Dia marah?"


Aku mengangguk.


"Lha kamu sendiri gimana?"


"Kulo geh tetep milih gus Abdi to buk, lhawong kami sudah terlanjur menikah. Masa iya kulo milih laki-laki lain, bisa-bisa nanti kulo di cap sebagai perempuan gak bener lagi."


"Lha sebenarnya sampean getun opo gak to Hil, nikah sama gus Abdi?"


"Mboten," jawabku dengan sedikit ragu-ragu.


Ah, aku benci dengan situasi seperti ini. Berada dalam situasi dilema yang membuatku terombang-ambing dalam keraguan yang seolah ingin menyesatkanku.


Semenjak pertemuanku kembali dengan gus Khalid, jujur saja aku masih terbayang akan masa-masa indah kami dulu. Meski berkali-kali aku menepisnya namun bayangan itu seolah memaksaku untuk kembali padanya.


Apalagi setelah mengetahui bahwa ia berniat mengkhitbahku lewat Kyaiku, Abi Yahya Nur Salim. Yang pastinya ia sudah mendapat restu dari Kyai kami itu.


Mengapa juga aku harus dihadapkan pada dua pilihan yang membuat hatiku gundah seperti ini. Mungkinkah ini yang dinamakan ujian menjelang pernikahan?


Gus Abdi, pria tampan itu sangatlah tulus hatinya. Ia juga baik dan juga penyayang. Hatinya tak mudah goyah oleh godaan sembarang wanita.


Ning Wafiq yang secantik itupun dapat ia tolak, padahal jika pria lainnya pasti langsung setuju jika dijodohkan dengannya meski tanpa ditanya.


Dari sini aku mengambil kesimpulan bahwa gus Abdi adalah tipe lelaki yang setia. Jika hatinya sudah terpaut pada satu wanita, maka ia tak akan mudah berpaling darinya. Semua wanita pasti menginginkan suami yang setia hingga akhir hayatnya, tak terkecuali aku sendiri.


***


Sayup-sayup aku mendengar suara suamiku sedang mengaji. Perlahan kubuka mataku dan melirik jam weker di atas nakas sisi tempat tidur yang menunjukkan pukul 03.25.


Hatiku bertanya, mengapa ia tidak membangunkanku padahal biasanya ia selalu membangunkanku sebelum ia beranjak ke kamar mandi dengan cara menciumi pipiku bertubi-tubi sampai aku membuka mata. Setelah itu kami menunaikan sholat malan bersama dilanjut dengan nderes Al-Qur'an, gus Abdi yang membaca aku yang menyimakkannya.


Apa aku yang tidurnya terlalu pulas sehingga tak merasa saat dibangunkan, atau memang sengaja ia tidak membangunkanku? Tapi memang dari semalam sikapnya agak dingin, meski kami tetap berbicara satu sama lain. Namun tak sehangat seperti biasanya.


Aku segera bangkit dan beranjak ke kamar mandi dan kutunaikan sholat malam dibelakang suamiku yang sedang mengaji. Selesai sholat aku mengambil mushaf pemberian gus Abdi dan mencari surah yang sedang ia baca. Aku hendak bertanya padanya sampai mana bacaannya namun kuurungkan niatku itu karena merasa tidak enak hati.


Terahir yang kuingat kemarin bacaannya sampai pada juz 14 akhir. Aku mengamati bacaannya, ternyata ia sampai pada surah Al-kahfi, kebetulan aku sedikit hafal dengan sebagian ayat dari surah itu karena setiap jum'at subuh aku pun membacanya. Lantas kubuka surah tersebut dan mencari ayat yang sedang ia baca.


Sampai suara tarhim terdengar, gus Abdi pun menghentikan tadarusnya.


Gus Abdi membalikkan badan dan kini kami duduk berhadapan.


"Maafkan mas nggih dek, sempat membuatmu menangis kemarin." ucapnya dengan tatapan sendu.


"Jangan meminta maaf mas, jenengan mboten salah kok."


Kutatap lekat wajahnya, ada gurat penyesalan disana.


Inilah yang membuatku jatuh hati padanya, sikapnya yang lembut dan lebih mudah meminta maaf jika melakukan kesalahan serta jika ia sedang marah maka tak akan bertahan lama amarahnya itu. Mungkin karena barokahnya yang seorang Hafidz, ia mampu mengalahkan nafsu amarahnya dengan bacaan-bacaan ayat suci Al-Qur'an yang senantiasa ia jadikan dzikir sewaktu-waktu, karena sejatinya jika kita membaca ayat suci Al-Qur'an dengan meresapi maknanya, maka jiwa kita akan merasa damai dan tentram.


"Melihatmu menangis membuatku semakin terluka dek, sepuntene."


"Tapi jika sampean ingin mempertimbangkan pernikahan kita kembali gak apa-apa. Aku ikhlas jika sampean lebih mencintai Khalid. Aku hanya tidak ingin sampean menikah denganku hanya dengan separuh hati saja."


"Jangan bicara seperti itu mas," ucapku dengan mulut bergetar, tenggorokanku terasa tercekat.


Aku mendekatkan diriku padanya dan kurangkul suamiku dari samping, kusandarkan kepalaku pada lengannya.


"Kulo sungguh-sungguh cinta teng jenengan gus," ucapku lagi.


Ia hanya terdiam, hanya suara detak jantungnya yang dapat kudengar.


***


"Ajenge teng pundi mas?" (Mau kemana mas).


Tanyaku pada gus Abdi yang sudah terlihat rapi dan wangi. Baru saja aku akan menawarinya untuk sarapan.


"Teng sekolahan dek, hari ini ada acara Halal bi halal. Tapi nanti pulang ke rumah dulu ganti baju seragam."

__ADS_1


"Ooh.." jawabku singkat.


"Sampean disini saja nggeh, nanti insyaallah pulang kesini lagi kok. Sekalian juga nanti mampir ke mall buat ambil pesanan seserahannya kita."


"Nggeh. Ayo sarapan dulu." Aku meraih tangannya dan mengajaknya pergi ke dapur.


"Monggo sarapan mas," tawar gus Abdi pada mas Azam yang tengah duduk di depan tv dengan segelas kopi di depannya.


"Nggeh duluan saja gus." Jawab mas Azam sembari tersenyum pada gus Abdi.


"Mas Azam mboten terbiasa sarapan sepagi ini mas. Biasanya lewat jam 9. Kebiasaan di pondok katanya."


"Emm.."


Menu hari ini adalah ketupat, sesuai tradisi lebaran kami di hari ke-7 akan diadakan 'Kupatan' yaitu semua warga akan membuat ketupat serta sayur lodeh atau opor ayam yang nantinya akan dibawa ke musholla terdekat untuk membaca do'a bersama dan juga memakannya bersama disana. Setelah itu pulangnya setiap orang akan membawa sayur yang berbeda dengan yang dibawanya dari rumah, dengan kata lain kami saling bertukar masakan.


Karena kami sekeluarga tidak ada yang bisa mengayam ketupat, maka ibu biasanya membelinya di pasar, jadi kami tinggal mengisinya dengan beras lalu memasaknya.


"Kenduman mawong nggih dek," pintanya.


(barengan aja ya dek).


Aku tersenyum dan mengangguk, lantas mengambil piring yang agak lebar lalu mengiris tiga buah ketupat diatasnya dan kusiramkan kuah sayur lodeh diatasnya.


Kami pun makan bersama sepiring berdua.


Selesai makan gus Abdi langsung pun berangkat dan berpamitan pada Abah, ibu dan juga mas Azam.


*


"Secepatnya daftarkan pernikahan kalian ke KUA nduk, ini waktunya sudah mepet." Ucap ibu saat kami bersantai di teras. Aku menyirami bunga-bunga yang ditanam oleh ibu.


"Nggeh, buk. Insyaallah besok. Sekarang kan, gus Abdi masih ada acara halal bi halal di sekolahnya. Kemarin-kemarin juga masih suasana lebaran."


"Nanti biar diantar sama Abahmu."


"Nggeh."


"Suamimu sudah gak marah lagi Hil? Kelihatannya tadi sudah biasa-biasa saja?"


"Mpun mboten buk. Gus Abdi niku kalau marah gak pernah lama-lama."


"Alhamdulillah lek ngunu."


"Kalau gitu ba'da dzuhur nanti kita ke tempat wedding organizer yo, mumpung ada waktu. Kalau gak pesen jauh-jauh hari takutnya di pesen orang pas tanggal nikahanmu nanti."


"Enggeh buk."


Selesai menyiram tanaman aku kembali lagi ke kamar untuk mandi dan menunaikan sholat dhuha.


Kubuka ponselku, ada sebuah panggilan tak terjawab dari nomor yang tidak ku kenal. Merasa penasaran dan khawatir kalau penting, kukirim pesan singkat menanyakan siapakah pemilik nomor itu.


Kuletakkan ponselku kembali di atas nakas lalu lekas mandi dan sholat dhuha.


Selesai aku sholat, ponselku berdering lagi. Sebuah panggilan dari nomor yang tidak dikenal tadi. Kugeser tombol dial hijau.


"Assalamu'alaikum. Sinten nggeh?"


Hening.


Kulirik kembali layar ponsel guna melihat panggilannya masih tersambung atau tidak.


"Halo, Assalamu'alaikum!" Ucapku lagi.


"Wa'alaikumsalam." Terderngar suara laki-laki dari ujung telepon.


Sepertinya suara itu tidak asing bagiku, tetapi aku lupa suara siapa itu.


"Sinten nggeh?" Tanyaku.


(siapa ya?)


"Sinten?"


"Lupa dengan suaraku Dindha?"


Deg!!!


Dindha? Hanya satu orang yang memanggilku dengan sebutan itu.


"Kak Khalid?!" Ucapku spontan.


"Alhamdulillah kalau sampean masih ingat. Terimakasih karena sudah tidak melupakanku ndha."


Dapat kurasa kakiku bergetar, segera aku duduk di tepi ranjang.


"Dapat nomorku darimana?" Tanyaku penasaran.


"Dari Furqon."


"Furqon siapa?"


"Kakaknya Arum."


Arum? Apakah Arum teman satu kelasku dulu?


Oh, iya. Aku baru ingat, Arum punya kakak laki-laki bernama kak Furqon yang juga satu kelas kak Khalid.


Jantungku semakin berdebar, untuk apa kak Khalid mencari nomorku dan menelponku?


"Ndha, aku kuaangen."


Kini nafasku mulai sesak.


"Aku tau menelponmu adalah tindakan yang tidak dibenarkan, tapi aku ingin bicara langsung dengan sampean."


"Sampean sudah mau tak lamar tapi ternyata sudah keduluan mas Abdi."


Aku masih mendengarnya berbicara meski aku hanya bisa membisu, nuraniku ingin menutup teleponya, tapi dari sisi lain aku tetap ingin mendengarnya berbicara.


"Maafkan aku yang dulu tidak pernah memberi kabar kepada sampean, sampai-sampai sampean berpaling dariku dan menikah dengan orang lain. Tapi sudahkah sampean lupa akan janji yang pernah sampean berikan?"


Janji? Aku tertegun mengingat akan janji itu. Aku bahkan sudah melupakannya semenjak aku mengenal gus Abdi.


"Sampean pernah berjanji padaku untuk bersedia menungguku, tapi saat aku ingin menjemputmu sampean sudah berstatus istri orang lain." Ucapnya dengan suaranya yang terdengar parau.


Aku pikir dia tidak akan menganggapnya serius dan sudah melupakannya mengingat ia yang tak pernah memberi kabar selama bertahun-tahun.


"Sampean tidak pernah memberi kabar kak, aku pikir sampean sudah lupa." Aku memaksa mulutku untuk terbuka dan memberanikan diri berbicara pada gus Khalid.


"Maaf ndha, dulu aku memang tidak terlalu fokus bermain ponsel, apalagi sosial media. Aku terlalu sibuk dengan pesantren dan kampusku. Aku terobsesi agar mendapat beasiswa S2 di Mesir."


"Sekarang aku sudah lulus S1 dan berhasil mendapatkan beasiswa itu. Tapi sebelum aku berangkat aku ingin mengikatmu terlebih dahulu ndha."


Mataku mulai menghangat, menjatuhkan bulir bening dari sudutnya.


"Aku juga sudah meminta restu kepada Abi Yahya dan Umi Dewi, guru kita. Bukankah mendapatkan ridlho dari guru merupakan bekal yang cukup baik untuk mengarungi bahtera rumah tangga?!"


"Iya, kemarin aku juga baru saja dari ndalem. Umi juga sudah mengatakan segalanya," kataku.


"Ndha," panggilnya. Ah, kenapa ia masih saja memanggilku dengan sebutan itu.


"Seandainya saat ini sampean belum menikah dengan mas Abdi, apakah sampean mau kembali padaku?"


Glekk!!


Kenapa ia harus menanyakan itu?!.

__ADS_1


Bahkan aku sendiri saja tidak tau jawaban dari pertanyaannya itu.


"Ndha?"


Entah benci atau suka, aku merasa haru mendengar panggilan itu. Namun disisi lain aku juga merasa tidak nyaman mengingat statusku sekarang ini yang sudah menjadi istri gus Abdi.


"Kak, tolong jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi."


"Oh, maaf. Aku sudah terbiasa mamanggilmu dengan sebutan itu."


"Tolong sampean ikhlaskan aku menikah dengan gus Abdi, jangan usik kami lagi. Aku sudah menjadi istrinya sekarang, sangat berdosa bagiku jika aku tetap berhubungan dengan sampean."


"Maaf, sekali lagi maaf. Bukan bermaksud aku ingin mengusik kalian. Aku hanya ingin memastikan saja, sampean masih mengharapkanku atau tidak? Mumpung pernikahan kalian belum diresmikan. Aku bersedia kok, menerima sampean kembali statusmu bukan gadis lagi."


"Maaf gus, tapi hubungan kita telah lama berlalu, biarkan itu menjadi kenangan saja. Sampean cari saja wanita lain yang lebih baik lagi dariku. Aku yakin masih banyak wanita sholihah lainnya yang menginginkan sampean menjadi pendamping hidup."


"Hilya, tidakkah sampean ingat masa-masa indah kita dulu, saat kita pulang sekolah kita berjalan bersama meski bersebrangan jalan dan tak beriringan namun itu sudah membuatku tak bisa tidur nyenyak semalaman. Saat kegiatan pramuka aku yang selalu antusias menghukummu hanya karena aku ingin berada didekatmu, saat kita dipertemukan dalam satu kelas disaat semester, meski hanya seminggu namun aku puas karena bisa memandangmu sepanjang hari. Meski dulu hubungan kita tanpa status yang jelas, namun perasaan cintaku sungguh besar untukmu Hilya."


Aku menitikkan air mata mendengar kata-kata gus Khalid. Membuat ingatanku kembali pada masa-masa dulu yang memang terlalu manis untuk dilupakan.


Aku benar-benar sedang dilema dalam dua pilihan. Mana mungkin aku mencinta dua lelaki sekaligus.


Mungkin istikhoroh adalah satu-satunya solusiku saat ini.


"Tolong gus Khalid, jangan membuatku terjebak dalam masa lalu yang tidak akan pernah disukai suamiku nantinya. Maaf, aku tidak bisa berlama-lama berbicara dengan sampean. Aku juga harus memikirkan tentang perasaan lelaki yang sudah menjadi suamiku saat ini. Assalamu'alaikum."


Tuutt !!


Kumatikan sambungan telpon dan kulempar ponselku diatas tempat tidur. Aku menangkupkan kedua telapak tangan menutupi wajah sembari menangis tersedu.


Ponselku berdering kembali, kusangka gus Khalid yang menelpon kembali ternyata bukan. Terpampang nama Habiby Lovely dilayar ponsel, itu gus Abdi suamiku. Segera kuangkat panggilannya.


"Kenapa dari tadi teleponnya sibuk, memangnya siapa yang menelpon?" Cecar gus Abdi saat aku baru saja mengangkat panggilannya.


"Assalamu'alaikum mas."


"Wa'alaikumsalam, siapa dek?" Tanyanya lagi tidak sabaran. Aku sudah seperti maling yang tertangkap basah.


"Tadi.. yang telepon.. anu, itu.." aku berusaha berbohong tapi lidahku terasa berat dan otakku mendadak buntu mencari alasan.


"Hem?!"


"Kulo telfunan kalih indri." Jawabku.


Aku tidak sedang berbohong, indri memang menelponku pagi-pagi tadi.


"Owh, kirain. Kulo cuma mau bilang mungkin nanti pulangnya agak malam soalnya ada acara ramah tamah dirumah Kepala sekolah, semua guru diundang."


"Kalau kemalaman pulang ke pesantren mawon mas, daripada kemalaman dijalan."


"Ndak apa-apa. Daripada nanti malam tidur sendirian kedinginan, hehe."


"Hmm, dasar." Aku pun tertawa, sejenak aku lupa akan kesedihanku tadi.


"Baru beberapa jam pisah saja sampean sudah bikin kangen dek," ucap gus Abdi yang membuatku tersipu.


"Mulai deh..!"


"Haha.. saestu dek. Makanya jangan tinggalkan kulo nggih," ucapnya serius.


"Nggih.. sayang.."


"Masyaallah.. nah, gitu. Manggil sayang kan tambah kelihatan manisnya ."


"Ciye.. ciye.. pak guru pacaran..!!" Terdengar suara riuh dibalik telepon. Sepertinya suara murid-murid gus Abdi.


"Sudah dulu nggih, dek. Assalamu'alaikum!" Ucapnya panik.


"Wa'alaikumsalam." Jawabku sembari tertawa, membayangkan betapa malunya suamiku saat ini yang kepergok murid-muridnya.


"Oh, iya. Lupa belum minta izin," gumamku setelah mengingat kalau nanti ba'da dzuhur aku akan pergi dengan ibu ke tempat wedding organizer.


Segera kuketik pesan singkat kepada suamiku untuk meminta izin padanya.


Kulihat ada sebuah panggilan tak terjawab dari nomor yang tidak dikenal, setelah aku cek ternyata nomor gus Khalid tadi. Dia menelpon lagi saat aku sedang telponan dengan gus Abdi. Dia juga mengirimkan sebuah pesan singkat.


"Uhibbuki Hilya."


Segera aku menghapus pesan tersebut dengan perasaan yang bercampur aduk.


Tiba-tiba aku teringat indri, aku belum menceritakan padanya tentang gus Khalid yang melamarku kepada Abi. Aku hanya bercerita kalau kami tak sengaja bertemu di rumah gus Abdi dan juga tentang ning Wafiq.


Segera aku menelpon sahabatku itu barangkali ia mempunyai solusi dari masalahku ini.


"Wa'alaikumsalam manten anyar!" Ucap Indri setelah aku mengucap salam.


"Lagi sibuk nggak, ndri?"


"Nggak kok, lagi rebahan aja di kamar."


Akupun mulai bercerita pada indri dimulai dari gus Khalid yang datang melamarku langsung ke Abi Yahya dan menelponku tadi untuk mengajakku kembali padanya.


"Lha emangnya kamu masih cinta Hil?" Tanya indri.


Aku terdiam, ragu akan jawabanku sendiri.


"Saranku, lupakan kak Khalid. Kamu itu sudah jadi istrinya gus Abdi Hil, meski belum secara resmi."


"Iya, aku tau tapi bayang-bayang kak Khalid masih mengganggu pikiranku indri. Padahal sebelum kami bertemu aku sudah ingin melupakannya. Namun setelah pertemuan kami dan dia yang ingin melamar, hatiku menjadi goyah ndri," ucapku dengan suara yang mulai serak.


" Ujian ini Hil, jangan biarkan syetan berhasil menggodamu yang berupaya menggagalkan pernikahamu. Nih ya, aku pernah nemu artikel di FB tentang ujian-ujian menjelang pernikahan. Diantara, mantan yang tiba-tiba datang kembali, keraguan terhadap pasangan, adanya hasutan dari orang-orang, dan lain-lainnya yang membuat hati calon pengantin menjadi goyah. Kamu harus kuat Hilya, menurutku gus Abdi itu sudah tulus sama kamu. Jangan sia-sia kan pria sempurna seperti gus Abdi."


"Tapi dia gampang cemburuan ndri,"


"Cemburu dengan pasangan itu wajar Hil, namanya juga cinta, takut kalau kehilangan orang yang dicintainya. Berarti gus Abdi memang sangat mencintaimu Hil," ucap indri meyakinkan.


"Apa aku istikhoroh saja ya ndri?"


"Gak usah Hil. Ya kalau petunjuk yang kamu dapat itu datangnya dari Allah, kalau datangnya dari syetan gimana? Syetan itu paling pandai memperdaya manusia dengan cara apapun. Lagian kamu itu sudah menikah dengan gus Abdi, apa kamu punya niatan untuk pisah dengannya?"


"Na'udzubillah, nggak ndri."


"Lhayo!! Makanya saranku abaikan kak Khalid itu. Anggap saja kedatangannya yang tiba-tiba merupakan ujian pernikahanmu."


"Lagian kamu kepikiran gak sih, Hil. Kalau kak Khalid itu orangnya agak egois. Udah tau kalau kamu itu sudah punya ikatan pernikahan dengan gus Abdi tapi masih saja dia ngejar kamu demi mementingkan perasaannya sendiri. Apa dia gak mikirin kalau tindakannya itu bisa menyakiti perasaan orang lain. Beda lagi ceritanya kalau statusmu dan gus Abdi belum terikat pernikahan."


Aku berusaha mencerna ucapan Indri, mungkin benar adanya apa yang dikatakan oleh sahabatku itu. Bisa jadi ini hanyalah ujian pernikahanku yang harus aku lewati.


"Iya wes, ndri. Aku akan coba lupain kak Khalid dan setia sama gus Abdi." Ucapku mantab.


"Ingat Hil, gak usah istikhoroh ya. Percaya sama aku."


"Percaya sama kamu sama jadi Musyrik dong aku," candaku.


"Embuhlah," rajuknya.


"Haha.. iya..iya. Ngunu ae nesu ndri..ndri."


"Oraa!!"


Aku melirik jam dinding yang menunjukkan hampir pukul 11.00 siang.


"Yo wes. Wayahe qilolah, tidur siang. Makasih ya indriku sayang. Muah..muah..!!" Aku menciumi ponselku. Terdengar suara gelak tawa indri.


"Assalamualaikum!"


Tuut!!

__ADS_1


Sambungan telepon terputus. Aku merebahkan diri diatas kasur sambil berselancar di dunia maya sampai aku tertidur dan terbangun lagi setelah mendengar suara Ubed mengumandangkan adzan dzuhur.


💓💓💓


__ADS_2