GUS IDOLA

GUS IDOLA
Pertemuan


__ADS_3

GUS IDOLA


Part 23


Tanpa terduga masa lalu datang menyapa dikala hati dan jiwa ini sudah menjadi milik masa depanku.


Suamiku, maafkan aku karena tanpa sengaja mengingat masa-masa indahku saat dulu bersama seseorang yang bukan dirimu. Namun jangan kau risaukan hal itu, karena saat ini hatiku sudah terpaut pada jiwamu.


_______________________________________________________________________


"Tadi abah suruh mereka mampir ke rumah. Mereka tamu dari jauh, gak enak juga kan, kalau nggak diampirne," terang Abah.


"Mampir bah?!" tanya Ibu Nyai yang tampak terkejut. Aku sedikit melonjak karena sama terkejutnya dengan ibu mertuaku itu.


Mati aku! Bagaimana kalau nanti aku bertemu dengan kak Khalid? Sikap yang bagaimanakah yang harus aku tunjukkan nantinya.


"Ah, bisa saja Kak Khalid sudah melupakanku." Gumamku dalam hati mencoba berfikir positif dan tetap tenang.


Hampir lima tahun tidak bertemu kemungkinan besar dia sudah melupakan tentang rasa itu. Atau jangan-jangan wanita cantik tadi itu adalah istrinya.


Aku merasa ibu Nyai sepertinya keberatan jika mereka berkunjung ke rumah. Tapi kenapa? Bukankah di acara pernikahan tadi Ibu Nyai terlihat akrab dengannya, lalu mengapa beliau merasa keberatan jika mereka bertamu ke rumah.


Kulirik gus Abdi yang duduk disampingku, ia hanya menunduk dan menghadapkan pandangannya keluar jendela. Entah apa yang dipikirkannya.


"Wes to, ndak apa-apa. Ya kan gus?" Ujar Abah Kyai yang melemparkan pendapatnya pada gus Abdi.


"Em?! Nggeh mboten nopo-nopo." Ucapnya ragu-ragu.


Perasaanku menjadi tidak enak, seperti ada yang mengganjal dalam hati. Kupegang jemari suami sembari menatapnya penuh tanda tanya.


"Nanti kulo ceritani kalau sudah sampai rumah." Bisiknya di telingaku. Dibalasnya genggaman jemariku. Sejenak perasaanku menjadi lega, setidaknya gus Abdi akan menjawab semua pertanyaanku yang mengganjal sejak tadi.


*


"Sinten niku wau gus? Yang dimaksud Abah suruh mampir kesini?" Tanyaku pada gus Abdi saat kami baru masuk kedalam kamar.


Terlihat ia mengusap tengkuknya sebelum menjawab pertanyaanku.


"Gus Khalid dek."


"Yang perempuan? Tadi kulo ketemu pas didalam rumah mbak Qonita. Sepertinya ibuk sudah mengenalnya dengan baik." Ucapku sembari melepas khimarku dan merebahkan diri diatas kasur melepas penat.


Gus Abdi melepas jas almamaternya lalu duduk disampingku.


"Itu adiknya, namanya Wafiq. Keluarganya masih ada hubungan saudara dengan kami tapi masih dari jalur agak jauh. Namun hubungan silaturahmi antara keluarga kami sangat dekat, akupun mengenalnya sejak kecil."


Ooh jadi adiknya, bukan istrinya.


"Apakah dulu mondok disini juga mas, kok kenal dengan mbak Qonita?" Tanyaku lagi.


"Iya, mereka itu sahabat dekat. Kemana-mana selalu bersama. Lama juga dia mondok disini sekitar sepuluh tahunan. Dua tahun lalu tiba-tiba ia memutuskan untuk boyong dari sini."


"Kenapa?"


"Emm, kalau tak kasih tau sampean cemburu apa ndak dek?"


"Cemburu?" Otakku langsung berprasangka bahwa wanita itu tadi adalah mantan dari suamiku. Lalu kenapa gus Abdi mengaku kalau aku adalah cinta pertamanya?


Aku mengerutkan keningku. Segera aku bangkit dan duduk sejajar gus Abdi, bersiap mendengar penjelasan darinya.


"Memangnya kenapa mas?"


"Begini, dua tahun lalu aku disuruh boyong dari pesantren, kata Abah dan ibuk aku mau dijodohkan dengan dia. Tapi aku menolaknya. Aku tetap tinggal di pesantren dan tidak mau pulang. Mungkin dia kecewa jadi ia memutuskan untuk boyong dari sini."


"Kenapa jenengan menolak? Dia kan cantik gus." Tanyaku yang sudah mulai diliputi rasa cemburu.


"Cantik hanya sebatas fisik sayang." Ucapnya yang mengucek pucuk rambutku.


"Cantik kalau gak cinta masa ya harus dipaksa? Aku ini tipe orang yang tidak mau dipaksa kehendaknya dek. Apapun yang tidak sesuai dengan kata hatiku, maka aku akan menyangkalnya," sambungnya lagi.


"Tadi kulo dicuekin mas, sama dia. Mungkin dia cemburu nggih mas, begitu tau kulo istrinya jenengan." Kumanyunkan bibirku kesal mengingat sikap wanita bernama Wafiq itu tadi.


"Iya kah?"


"Enggeh, padahal kulo sampun pasang wajah senyum tapi dia cuek mas. Aku kan dadine klejingan." gerutuku.


"Ya sudah, jangan cemberut gitu to. Cantiknya hilang lo nanti," ucap gus Abdi sembari mencubit pelan kedua pipiku.


"Terahe mboten cantik kok. Cantikan juga Ning Wafiq kae." ucapku yang sambil berlalu menuju kamar mandi.


"Cemburu dek?"


Aku tak menyahutnya lagi. Kubasuh kedua telapak tanganku dan mulai berwudlu.


*


Tokk..tokk..tokk!!!


"Gus," suara ibu Nyai dari luar pintu.


Aku segera membukakan pintu dengan masih memakai mukena. Baru saja aku dan suamiku selesai menunaikan sholat dzuhur.


"Ada tamu nduk," ucap Ibu Nyai saat aku membuka pintu.


"Oh, njeh." Aku mengangguk dan berbalik arah melepas mukenaku dan mengajak suamiku untuk menemui tamu bersama.


Mendadak aku menjadi gugup karena tamu yang dimaksud pastilah Kak Khalid dan adiknya itu tadi. Harus apakah aku nanti. Apakah lebih baik jika aku pura-pura lupa padanya saja ya.


Aku juga tidak berani mengatakannya pada suamiku, takutnya nanti saat bertemu malah dibahas olehnya tentang aku yang pernah naksir Kak Khalid. Malu nanti aku jadinya.


"Awas lho ya, kalau nanti jenengan lirik-lirikan kalih mantan." ancamku saat kami berjalan menuju ruang tamu.


"Mantan nopo to dek, bukan mantan itu namanya."


ucapnya sembari merangkul pundakku. Aku melepasnya dan berjalan dua langkah didepannya.

__ADS_1


"Loh, dek ruang tamunya bukan disana." Seru gus Abdi ketika aku berbelok arah.


"Ndamelne wedang riyen mas."


(Buatin minuman dulu mas.)


Beberapa menit kemudian aku berjalan menuju ruang tamu dengan membawa lima gelas teh hangat di atas baki.


"Seharusnya tadi kuminta gus Abdi menungguku dulu," sesalku dalam hati.


Sesampainya di ruang tamu, Ibu Nyai menyuguhkan gelas -gelas yang kubawa. Aku menundukkan kepalaku tidak berani menatap kedua tamu kami, terutama Kak Khalid.


"Ini istrinya Abdi," ucap Abah Kyai.


Aku mendekat ke arah Ning Wafiq duduk dan menyalaminya. Kepada Kak Khalid kutelangkupkan kedua tangannku di depan dada mengisyaratkan memberi salam padanya.


Kusunggingkan senyuman yang terasa canggung kepada kedua tamuku itu.


Dapat kulihat Kak Khalid termangu saat melihatku, segera kutundukkan kepalaku dan segera beralih mengambil tempat duduk disisi suamiku.


"Pripun kabare dek Hilya?"


Tanya Kak Khalid, spontan semua mata tertuju padanya.


Jantungku berpacu dengan kencangnya. Kenapa gak pura-pura gak kenal saja sih, kak?


"Loh, kenal sampean gus?" Tanya Abah Kyai pada Kak Khalid.


Kini suamiku sedang menatapku dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Kenal to dek?" Tanyanya padaku.


"Dek Hilya niki dulu adik kelas kulo teng Madrasah Aliyah, kami juga satu pondok." ucap Kak Khalid menjelaskan.


"Oalah.. kok ya bisa kebetulan ya. Tapi bukannya sampen mondok di Jogja to gus Khalid?" Ibu Nyai berbicara.


"Njeh.. setelah lulus Aliyah kulo pindah teng Jogja sambil meneruskan kuliah buk," jawab gus Khalid.


Dapat kulihat raut wajah Ning Wafiq nampak bermasam muka. Ada apa sebenarnya dengannya. Dia seoalah menunjukkan sikap ketidak sukaannya padaku. Aku mengerti bahwa ia pasti kecewa karena gus Abdi tidak mau menerima perjodohan mereka. Tapi itu sudah berlalu sejak dua tahun yang lalu bukan? Apakah dia masih menyukai gus Abdi?


"Owh, kalau begitu kenapa sampean diam saja nduk, kalau kenal dengan gus Khalid ini?"


Degg !!!


Aku merasa gugup untuk menjawab. Lagipula jawaban apa yang harus ku lontarkan.


Akhirnya aku hanya bisa mesam mesem saja menanggapi pertanyaan mereka.


"Ditangkleti kok gur mesam mesem to dek?" Bisik gus Abdi.


(Ditanya kok cuma senyam senyum to dek).


"Mboten nopo-nopo. Mungkin dek Hilya sudah lupa kalih kulo." Sahut gus Khalid.


Kulirik gus Khalid, ternyata ia juga sedang menatapku dengan tatapan penuh arti. Segera kualihkan pandanganku agar tidak bersitatap dengannya.


Seketika pipiku terasa hangat.


Entah kenapa gus Abdi tiba-tiba menggenggam jemariku dengan erat tanpa sungkan. Aku sendiri merasa malu memperlihatkan kemesraan kami didepan mertua sekaligus tamu kami. Gus Khalid yang tadinya menatapku, kini ia mengalihkan pandangannya setelah melihat gus Abdi menggenggam tanganku.


Anehnya aku merasa tidak enak hati pada gus Khalid karena tingkah suamiku ini.


"Sampun sholat dzuhur gus?" Tanya suamiku pada gus Khalid.


"Belum Mas gus, tadi niatnya mampir kesini selain silaturahim juga ingin menumpang sholat dzuhur."


Jawab gus Khalid.


"Baiklah, mari kulo antar ke masjid."


"Ndak perlu Mas gus, lhawong cuma ke masjid saja mosok ya diantar. Lagipula kulo sudah hafal letak-letak pondok sini."


"Wes to, ndak apa-apa biar kulo antar. Mosok tamunya dibiarkan sendirian. Ayo tak antar!" Ujar gus Abdi sembari ia bangkit dari duduknya.


Akhirnya gus Khalid pun menerima tawaran gus Abdi dan mereka melangkah keluar bersama.


"Ning Wafiq sholat disini saja nggih." Tanya Ibu Nyai.


Wanita cantik itu sedari tadi hanya diam saja tanpa ikut berbicara dengan kami.


"Nggeh buk," jawabnya seraya berdiri dan melangkah mengikuti Ibu Nyai.


Aku diminta Ibu Nyai untuk membantunya menyiapkan makan siang untuk para tamu kami. Meskipun Ibu Nyai tau bahwa tamu kami ini baru saja pulang dari kondangan, namun tetap saja beliau menyiapkan sajian makanan untuk sekedar menghormati tamu. Rasulullah saw. pun menganjurkan kita sebagai umatnya agar menjamu tamu dengan sebaik mungkin.


Kunyalakan kompor untuk memanaskan sayur yang kumasak bersama Ibu Nyai tadi pagi. Aku mengambil beberapa piring dan sendok dari rak piring dan menumpuknya di atas meja makan. Lauk pun juga masih ada banyak jadi aku tidak perlu repot-repot memasak dadakan.


Ibu Nyai menuangkan sirup ke dalam ceret yang sudah diisi air matang, lalu beliau mengambil es batu dari dalam kulkas yang memang sengaja dibungkus plasti agak kecil agar tidak perlu memecahkannya saat akan digunakan untuk membuat es.


Ning Wafiq keluar dari kamar mandi, aku menawarkan diri untuk mengantarnya ke tempat sholat meski rasanya agak sedikit canggung. Namun tak ku sangka ia menolak tawaranku secara halus.


"Mboten usah mbak. Kulo sendiri saja. Sampun hafal kok tempatnya."


Ia pun melanggang pergi.


Ya, sudahlah. Malah bagus aku gak perlu repot-repot mengantarnya.


Lama kami menunggu gus Khalid dan gus Abdi kembali dari masjid. Padahal Ning Wafiq saja sudah selesai sejak tadi. Entah apa yang dilakukan mereka berdua.


Hingga akhirnya mereka berdua datang, tapi ada yang berbeda dari raut wajah gus Abdi. Ia mendadak diam seribu bahasa.


***


"Jadi, Khalid orangnya?" Tanya gus Abdi tiba-tiba saat aku baru saja masuk ke kamar sepulang dari sholat magrib berjama'ah di musholla pondok putri.


"Hem? M-maksude p-pripun?"

__ADS_1


Aku terkejut mendengar pertanyaan suamiku.


"Cinta pertamanya sampean." Ia bertanya padaku tapi kedua matanya tertuju pada buku yang ia pegang.


"Tirose sinten?"


(Kata siapa)


"Orangnya sudah cerita sendiri tadi." Katanya lagi sambil membuka lembaran buku yang ia pegang.


"Cerita nopo mawon gus, eh, mas?" Tanyaku panik.


"Semuanya."


"Semuanya?" Mataku membelalak.


Aku menghembuskan nafas dalam-dalam dan berkata, "Sampun masa lalu mas, ndak penting juga kan."


Aku berjalan mendekati gus Abdi yang sedang duduk di kursi sebelah meja tempat yang biasa ia gunakan untuk membaca.


Kupeluk ia dari belakang, kedua tanganku melingkar dari belakang lehernya dengan posisiku yang setengah membungkuk. Kusandarkan daguku pada pundak kanannya.


"Jenengan mboten cemburu kan, mas?"


(Kamu tidak cemburu kan, mas)


Ia hanya menjawab dengan gumaman.


"Saestu kulo sampun mboten gadahi perasaan teng Kak Khalid."


(Serius saya sudah tidak mempunyai perasaan kepada Kak Khalid).


"Sekarang sudah ada jenengan mas." Imbuhku lagi.


"Jika sampean tau bahwa Khalid masih mencintaimu apakah kamu akan menyesal karena sudah terlanjur menikah denganku?" Ucapnya dengan mata yang melirikku.


"Hmm?!" Aku tertegun mendengarnya.


"Kenapa harus menyesal, kulo sudah bahagia bersama pria yang kucintai sekarang ini." Kueratkan pelukanku hingga pipi kami saling menempel.


Sekilas dapat kulihat seulas senyuman terukir disudut bibirnya. Diletakkannya buku dalam genggamannya di atas meja.


"Tapi dia masih mencintaimu Hilya." Ucapnya lirih.


Sejenak aku tecenung, tak menyangka dengan apa yang baru saja dikatakan gus Abdi.


Dulu terputusnya hubungan kontak antara aku dan Kak Khalid memang terjadi begitu saja. Tiba-tiba ia sama sekali tidak menghubungiku bahkan akun sosial medianya selalu non aktif. Pikirku waktu itu dia memang mau memulai hidupnya yang baru di tempatnya yang baru.


Ah, kenapa aku jadi mengingat-ingatnya. Jelas-jelas sekarang didepanku sudah ada pria yang berstatus sebagai suamiku yang juga mencintaiku. Sungguh sangat berdosa aku jika masih saja memikirkan pria lain.


"Dek."


"Hmm?"


"Ngelamun to? Mikirin Khalid?"


"Mboten." Kilahku.


"Jujur mawon.."


"Jujur kacang ijo?" Aku tertawa.


"Malah bercanda."


"Hehe.. Kak.. eh, gus Khalid itu cuma masa lalu mas. Ndak perlu dibahas laah.."


Aku beralih duduk diatas tempat tidur.


"Terus kenapa tadi sampean pura-pura nggak kenal?"


"Ya.. karena..kenapa ya?"


"Malah balik nanya, pripun to dek.. dek.. bilang aja kalau sampean grogi ketemu sama mantan. Ya, kan?"


"Mbooten kok, jenengan sama saja tadi juga didatangin mantan kan." Protesku.


"Beda lah, dek. Aku kan ndak pernah cinta sama Wafiq. Sedangkan sampean, Khalid malah cinta pertama bagi sampean. Biasanya cinta pertama itu sulit dilupakan dan akan terkenang selamanya."


"Meskipun terkenang selamanya, bukan berarti cinta itu tetap bertahta didalam sana kan gus. Sampun lah, gus. Mbonten usah dibahas lagi."


Gus Abdi terdiam. Diambilnya lagi buku yang dibacanya tadi.


Aku melangkah menghampirinya lagi, berlutut tepat didepannya dan Kupandangi wajahnya dari bawah. Ia melirik namun kembali menatap bukunya yang berjudul "Membangkitkan Energi Qalbu" karya Imam Al-Ghazali.


Kuraih buku yang ia pegang.


"Jangan ngambek to mas," pintaku memelas.


"Ada syaratnya."


"Nopo?"


"Sun dulu." Ia menunjuk pipinya.


"Maunya!"


Ku kecup juga pipi mulusnya itu, berharap dapat menghangatkan kembali hatinya yang sedari tadi membeku.


Lalu ia membalas dengan mengecup keningku dengan lembut.


"Ambil wudlu sana." Perintahnya.


"Kenapa?" Aku mengernyitkan dahi.


"Kita tadarus bareng-bareng. Kulo yang baca sampean yang menyimakkan. Pahalanya sama kan?!" Ia tersenyum diakhir kalimatnya.

__ADS_1


Aku mengangguk lalu bangkit dan melepas mukenaku yang sedari tadi masih menempel di badanku. Aku melangkah menuju kamar mandi untuk mengambil air wudlu.


💘💘💘


__ADS_2