
GUS IDOLA
"Assalamuu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
"Wis ndisik i ngelencer iki?" Canda abah yang diiringi tawa renyah semua orang.
"Monggo-monggo." Ibu mempersilahkan mereka duduk.
"Gimana kabarnya bro? Lama gak jumpa." Mas Azam menyalami mas Reza lalu merangkulnya.
Mereka berdua adalah teman sepermainan hanya saja mas Reza lebih muda dari kakakku. Aku yang lebih muda bisa berteman dekat dengan mas Reza karena dulu sewaktu kecil hampir setiap hari mas Reza datang kerumah untuk main dengan mas Azam.
"Hilya, apa kabar?"
"Alhamdulillah sehat mas. Sampean?"
"Alhamdulillah sehat juga."
Tanpa diminta, aku beranjak ke dapur untuk membuatkan beberapa gelas kopi. Lalu menyuguhkannya kepada mereka.
"Tamunya tadi siapa mbak, kayaknya tamu jauh?" Tanya bik Sarah, ibunya mas Reza.
"Temen sewaktu di pondok dulu mbak," jawab ibu sambil menyuguhkan kopi yang kubawa diatas baki.
"Kyai ya?"
"Iya bik. Bulan puasa ini Hilya ngajinya kesana." Ibu kembali duduk.
"Pantesan, keliatan dari auranya."
Setelah sedikit berbasa-basi, pak Mustafa nampak seperti akan berbicara serius.
"Nuwun sewu pak Umar, mbak Rum. Niatan kami datang kemari malam ini adalah yang pertama untuk silaturahim, dan yang kedua adalah untuk 'nembung' anaknya jenengan Hilya, apakah bersedia jika dijadikan istri oleh anak kami Reza?" Pak Mustafa berbicara. Persis dengan apa yang diungkapkan Kyai Dzul beberapa saat lalu.
Bagai petir menyambar disiang bolong, aku terperanjat mendengar apa yang diungkapkan oleh pak Mustafa.
Begitupun dengan abah, ibu dan juga mas Azam. Mereka tak kalah terkejutnya denganku.
Kami saling memandang satu sama lain dengan ekspresi wajah yang sama tegangnya. Bagaimana bisa, dalam semalam dua pria datang untuk mengkhitbahku. Yang membuatku sulit untuk percaya adalah pria itu mas Reza. Sejak kapan dia menaruh hati padaku? Kenapa tidak pernah terbaca olehku selama ini?
Selama ini mas Reza memang begitu baik padaku dan juga perhatian. Setiap aku pulang dari pesantren saat liburan, dia seringkali datang mengunjungiku. Sesekali mentraktirku makan bakso di warung mbak Erna yang tak jauh dari rumah kami.
Aku hanya menganggap perlakuannya padaku itu hanya sebatas sahabat sekaligus tetangga saja, bahkan aku sudah menganggapnya seperti kakakku sendiri. Sama sekali tak terlintas dibenakku bahwa ia akan mengkhitbahku dikemudian hari, seperti sekarang ini.
"Sepuntene pak, baruu..saja Hilya sudah dilamar sama orang lain." Abah berbicara dengan nada penyesalan.
"Tamu yang tadi itu?" Tanya pak Mustafa.
"Iya pak. Maaf nggeh. Bukan maksud hati untuk menolak niat baik dari bapak sekeluarga, tapi kami sudah terlanjur menerima pinangan dari keluarga lain."
Seketika raut wajah ketiga tamuku menjadi redup, mas Reza menatapku dengan sorot mata yang sulit ku artikan.
Mas Azam yang duduk disebelahnya mengusap pundak sahabat kecilnya itu.
Maaf mas Reza, bukan maksud hati untuk menyakitimu. Bukan juga bermaksud untuk tak menghargai perasaanmu. Namun karena hati ini memang sudah ada yang memiliki.
Jika saja aku tau perhatian yang kamu berikan selama ini punya maksud lain, maka aku tidak akan membiarkanmu memberikan itu semua untukku.
"Wah, rupanya kita telat pak." Ujar bik Sarah kecewa.
Pak Mustafa menghembuskan napas kasar "Yah, gak apa-apa buk, mungkin memang bukan jodohnya. Gak apa-apa kan Za?" Pak Mustafa mengintip wajah anaknya yang terlihat murung. Tak sepatah katapun keluar dari mulut lelaki yang sudah ku anggap seperti kakakku sendiri itu. Aku tau pasti rasa kecewa telah menyelimuti hati mas Reza saat ini.
Merekapun berpamitan pulang serta membawa lagi harapan yang tadinya mereka bawa kesini.
Abah dan ibu nampak tidak enak hati kepada tetangga kami itu, namun mau bagaimana lagi. Meskipun andai saja saat ini aku belum di khitbah oleh gus Abdi, aku juga akan berfikir dua kali untuk menerima pinangan mas Reza. Karena aku sama sekali tidak mempunyai perasaan istimewa untuknya.
"Sebenarnya mas sudah tau gelagat si Reza sejak dulu, tapi mas memilih untuk diam Hil." Ucap mas Azam sembari menyesap kopinya.
"Kenapa mas gak bilang?."
"Kalau mas bilang ntar kamu kepedean lagi. Haha. Ya kalau benar, kalau salah? Mas juga gak berani nanya macem-macem langsung ke Reza. Mas juga khawatir kalau persahabatan kita malah jadi canggung." Aku hanya manggut-manggut mendengar penuturan mas Azam.
"Kasihan juga dia ya." Imbuhnya lagi.
"Ibuk juga jadi sungkan sama bik Sarah. Setelah ini nanti sikapnya bagaimana ya ke keluarga kita? Tetangga deket lagi." Ibu menghela napas kasar. Aku memeluknya.
"Wes gak apa-apa. Nanti juga lama kelamaan juga berlalu. Namanya juga belum jodoh."
"'BUKAN' jodoh abaah, jangan bilang 'BELUM' jodoh. Hilya kan sudah jadi jodohnya gus Abdi." Protesku.
"Iya..iya.. yang mau jadi mantunya Kyai.." Mas Azam mengacak-acak kepalaku sampai-sampai jilbabku jadi berantakan.
"Beeeehhh..!!" Aku hendak membalas tapi mas Azam malah lari melesat secepat kilat.
"Lagek ketemu sedino ae wes perang." Gerutu abah.
(Baru ketemu sehari saja sudah perang).
----
Malam ini aku membantu ibu membersihkan rumah untuk persiapan Hari Raya esok.
Es buah sisa buka puasa tadi masih tersisa banyak. Ibu memintaku untuk mengantarkannya ke musholla serta beberapa camilan agar dimakan warga yang sedang berkumpul untuk menyemarakkan malam takbir.
Gema takbir diiringi oleh suara musik yang berasal dari timba dan kentongan yang dimainkan oleh anak-anak seumuran Ubed, menambah keseruan dimalam kemenangan ini.
Pukul sebelas malam barulah selesai kegiataku bersih-bersih. Kurasakan mataku sudah mulai berat dan lelah sekali karena siang tadi juga bantu ibu masak banyak dan malamnya kedatangan dua tamu berturut-turut dilanjut bersih-bersih. Badan rasanya ingin segera direbahkan diatas kasur yang empuk.
__ADS_1
Kucari ponselku guna mengecek barangkali ada pesan atau panggilan, kurebahkan tubuhku sambil menyalakan ponsel.
10 panggilan tak terjawab terpampang dilayar kunci.
"Siapa?" Lantas aku membukanya. Ternyata nomor gus Abdi.
"Astaghfirullah, ada apa kok misscall sebanyak ini?"
Ku tekan tombol dial untuk menelpon kembali gus Abdi.
Dua kali kutelepon barulah diangkat olehnya.
"Assalamu'alaikum wonten nopo gus? Kok tadi misscall nya banyak banget?"
"Wa'alaikumsalam. Sampean darimana saja dek, kok baru jawab?" Nada bicaranya terdengar agak ketus.
"Bantu ibuk bersih-bersih rumah gus. Baru selesai. Maaf."
"Tadi siapa tamunya?"
"Tamu? Owh niku.. tetangga gus." Jawabku sedikit gelagapan.
"Kenapa bertamu malam-malam? Kulihat tadi tamunya seorang pemuda, dan dua yang lainnya itu pasti orangtuanya kan?."
Mati aku, harus kujawab apa?!
"Emh, nganu.. namanya juga tetangga masa tidak boleh bertamu ke rumah teangga sendiri." Jawabku berusaha setenang mungkin.
"Apa ada maksud lain selain hanya berkunjung?"
Haduh, gus. Kenapa aku merasa seperti penjahat yang sedang di interogasi sih?!
"Dek?"
"Eh, dalem gus. Pripun?"
Aku rasa gus Abdi curiga kalau tadi mas Reza dan keluarganya kesini karena ada maksud tertentu.
"Pasti ada maksud tertentu kan?"
Duh, gus ini.. apa dia bisa baca pikiranku sih..?!.
Aku masih terdiam karena memikirkan jawaban apa yang harus aku berikan pada todongan pertanyaan dari laki-laki yang sudah mengkhitbahku itu.
"Mereka mau melamar ya?" Sergahnya.
"eng..enggeh.. g-gus.." jawabku gugup.
"Nanti, saat acara lamaran kita tiga hari lagi, kulo pengen kita langsung nikah siri."
Tuutt...tuuut...!!! Panggilan terputus.
"Gus? Halo..?! Halo..?!"
Percuma, panggilan sudah terputus. Aku mencoba menelponnya kembali tapi tidak diangkat, kucoba lagi di reject, tak menyerah kucoba lagi nomornya sudah tidak aktif.
"Jenengan marah to gus?" Aku mengeluh pada ponsel yang ku pegang.
Apa yang dikatakannya tadi, nikah siri? Kenapa harus harus nikah siri? Lagipula jarak antara acara lamaran dan pernikahan juga tidak lama, hanya selang dua minggu saja. Kenapa harus ijab siri, apakah karena dia sedang diliputi perasaan cemburu, ataukah ia takut aku akan berpaling darinya? Tidak akan gus.
Kutulis sebuah pesan singkat untuknya.
"Uhibbuka fillah abadan gus sayang."
Semoga setelah membaca ini hatinya akan luluh dan menyingkirkan rasa kecemburuannya.
Kuletakkan kembali ponsel diatas nakas dan mulai memejamkan mata.
***
Pukul enam pagi, seluruh warga berbondong-bondong pergi ke masjid untuk menunaikan sholat ied. Binar bahagia nampak dari raut wajah polos anak-anak karena hari ini adalah hari yang dinantikan untuk dapat memakai baju mereka, setelah hari-hari sebelumnya bolak-balik dicoba kemudian dimasukkannya kembali kedalam lemari.
(Othor lagi nostalgia nih, kayaknya. Haha)
Saat lebaran merupakan hari yang paling membahagiakan bagi anak-anak. Selain akan makan banyak makanan enak dan camilan, mereka juga akan mendapat banyak uang saku yang dikumpulkannya dari beberapa rumah yang mereka singgahi.
Yang lebih muda akan lebih dulu sungkeman kepada yang lebih tua, saling mengucap maaf dan memberi maaf atas kesalahan-kesalahan yang telah lalu.
"Sing enom akeh lupute, sing tuek akeh pangapurane".
----
"Assalamu'alaikum, minal aidin wal faizin nggeh dek." Suara gus Abdi dari ujung telepon.
"Wa'alaikumsalam warahmatullah. Minal aidin wal faizin juga gus."
"Sampaikan salam juga untuk seluruh keluarga sampean dek."
"Nggeh. Sampaikan salam juga untuk Abah Kyai dan ibu Nyai."
"Nggeh insyaallah."
"Emm, gus soal tadi malam-"
"Kulo sampun bicara sama abah dan ibuk. Mereka juga setuju dek." Ucapnya memotong pembicaraanku.
"Tapi abah sama ibu kulo kan dereng tentu setuju."
Terdengar suami ibu Nyai sedang berbicara yang kemudian di iyakan oleh gus Abdi.)
__ADS_1
"Pripun wau dek?"
"Abah kalih ibu kulo dereng tentu setuju gus."
"Mereka setuju kok."
"Apa?!"
"Kalau tidak percaya, coba smean tanya ibu smean sekarang."
Secepat kilat aku keluar kamar dan mencari ibu dengan masih memegang ponsel yang masih terhubung panggilannya.
Kudapati ibu sedang duduk di ruang tamu bersama abah. sepertinya habis menelpon seseorang,
karena saat aku tiba ibu mengucap salam dan mematikan panggilannya.
"Buk," panggilku. Ibu menoleh.
"Eh, Hil. Kebetulan, ibu mau bicara." Ibu memberi kode agar aku duduk disampingnya.
"Besok lusa saat acara lamaran kamu langsung nikah siri aja ya. Ini permintaan dari calon mertuamu."
"Ibuk sama abah setuju?" Tanyaku tak percaya.
"Tadi siapa yang telpon?" Tanyaku lagi.
"Ibunya gus Abdi. Beliau meminta agar nanti kalian langsung nikah siri aja. Gak apa-apa ya."
Ternyata gus Abdi sudah selangkah didepanku. Mereka sudah membujuk kedua orangtuaku.
"Iya nduk, malah lebih aman kan kalau kalian nikah siri dulu. Mau jalan berdua juga sudah halal. Kalau kangen tinggal ketemu." Bujuk abah.
Aku sebagai anak tidak bisa lagi membantah saran dari kedua orangtuaku. Yang dikatakan mereka memang benar. Tidak ada salahnya kalau kami langsung melakukan nikah siri nanti.
"Nggeh pun buk, bah. Kulo manut mawon."
Mereka pun tersenyum lega, ibu memelukku lalu mengecup pipiku.
Ketengok layar ponsel, aku terhenyak karena baru sadar kalau telepon gus Abdi masih tersambung.
Aku segera beranjak kembali lagi ke kamar.
"Mau kemana? Kamu gak ikut silaturahmi ke tetangga?"
"Ikut buk, tunggu sebentar."
Jawabku sambil masuk ke dalam kamar.
"Halo?" Aku mengecek apakah gus Abdi masih ujung sana.
"Iya, kulo masih disini sayang."
Sayang? Mendengarnya seketika badanku terasa gemetar.
"Sudah berani panggil sayang nggeh sekarang." Protesku.
"Kan, sampean yang ngajarin."
"Kulo? Kapan?"
"Tadi malam. Masa lupa?"
Astaghfirullah, aku baru ingat kalau tadi malam aku mengirim pesan yang diakhiri dengan kata 'sayang'. Jatuh sudah harga diriku sekarang sebagai predikat wanita polos dan lugu.
"Tadi malam itu khilaf gus. Habisnya jenengan sepertinya sedang marah. Telepon tiba-tiba putus gak pakek salam. Tak telepon balik malah dimatiin." Aku mendengkus kesal.
"Iya, maaf sayang. Kulo niku cemburu begitu tau sampean dilamar laki-laki lain. Makanya kita besok nikah siri ya, biar gak yang deketin sampean lagi."
Aku tersenyum bangga mendengar pengakuan kecemburuannya kepadaku. Ditambah lagi panggilan 'sayang'nya itu yang membuatku semakin klepek-klepek.
"Siapa namanya?"
"Siapa gus?"
"Laki-laki itu."
"Owh.. namanya mas Reza. Dia temen kecilku dan mas Azam gus, sekaligus tetangga dekat. Kulo nggeh mboten menyangka kalau mas Reza bakalan ngelamar kulo tadi malam."
"Sampean gak punya perasaan kan sama dia?"
"Mboten gus. Kulo namung gadah perasaan teng jenengan." Jawabku malu-malu.
(Tidak gus. Saya cuma punya perasaan ke kamu).
"Yakin?"
"Wallahi yakin gus. Demi Allah demi Rasulullah." Ucapku meyakinkan. Takut kalau-kalau ia akan cemburu lagi. Bisa-bisa bukan lagi mendadak ijab siri, tapi langsung ijab sah.
"Ya, sudah. Kulo percaya sepenuhnya ke sampean dek.
Sudah dulu nggeh, sepertinya sedang banyak tamu didepan."
"Nggeh gus. Kulo juga mau silaturahmi ke rumah para tetangga. Sampun ditunggu sama ibuk."
"Assalamu'alaikum." Aku mengucap salam.
"Wa'alaikum sayang. Eeh..!! Wa'alaikumsalam warahmatullah."
Kami tertawa di akhir telepon.
__ADS_1
❤❤❤