GUS IDOLA

GUS IDOLA
Buka bersama di ndalem


__ADS_3

Gus Abdi,


Kini pria bermata sipit itu telah berdiri dihadapanku.


"Sampean pakek payungnya mbak". Dia menyodorkan payung yang ia pakai untukku. Gemuruh hujan yang lebat membuat ia meninggikan suaranya.


"Lha njenengan pripun?" Akupun berbicara setengah berteriak. Sejenak ia terdiam lalu berkata,


"Antar kulo sampai dapur, terus payungnya sampean bawa ke pondok."


Aku mengangguk, kami pun berjalan beriringan dibawah payung yang sama. Malu juga sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi. Hujan sangatlah deras dan hari sudah sore.


Sesampainya didepan pintu dapur Gus Abdi menyerahkan payungnya kepadaku, ia pun masuk kedalam dan aku terus berjalan menuju asramaku.


Gus Abdi memang sudah tidak ada disampingku, namun bau harumnya masing melekat dihidungku. Bahkan di gagang payung yang kini kupegang masih tercium bau wangi miliknya.


"Astaghfirullah. Kenapa aku jadi begini" batinku berkata. Awalnya aku selalu merasa terganggu dengan bau harum ini setiap kali Gus Abdi mengajar dipondok putri. Tapi mengapa sekarang aku menjadi terpesona olehnya.


Sesampainya di asrama aku menaruh payung itu diteras dengan keadaan tetap terbuka lalu aku masuk kedalam. Saat aku masuk aku terkejut karena semua penghuni asrama tengah berdiri bergerumbul dibalik jendela kaca hitam sebelah pintu yang kumasuki.


Kulihat sebagian dari mereka ada yang berbisik-bisik lalu melenggang pergi masuk kedalam kamar. Namun ada juga beberapa dari mereka yang menyorakiku,


"Ciyeee....!!!" Sahut mereka bersamaan.


"Ada apa to mbak?" Aku pun bingung.


"Tadi Gus Abdi ya Hil?" Indri bersuara mewakili lainnya.


Pasti mereka tadi mengintipku, mengingat letak asramaku berada lurus sejajar dengan ndalem.


"Cuma minjemin payung doang."


"Gimana mbak rasanya jalan bareng gitu sama Guse?" Ika bertanya dengan mata yang berbinar, dia adalah santri paling muda diantara kami.


"Biasa wae." Aku melangkah menuju kamarku.


Mereka mengikutiku dan memberondongiku dengan berbagai pertanyaan yang membuatku merasa tidak ingin menjawabnya.


Aku membuka lemari pakaianku dan mengambil satu stel baju.


"Andai saja tadi aku yang ada diposisi sampean mbk." Mbk Nurma menerawang keatas langit-langit kamar. Mungkin ia sedang membayangkan sedang hujan-hujanan bersama Gus Abdi sambil menyanyikan lagu india.


Tiba-tiba aku merasa tidak enak hati dengan mbak-mbak tadi yang berbisik-bisik lalu pergi begitu saja saat aku baru datang.


Maklum saja Gus Abdillah adalah Gus idola mereka, pasti mereka merasa cemburu atau iri denganku.


Setelah mengambil baju dari lemari aku lekas pergi ke kamar mandi agar segera terhindar dari mbak-mbak yang sedang kepo dikamarku ini.


Hujan reda saat aku selesai bertadarus selepas sholat ashar. Ia masih meninggalkan gerimis kecil dari langit yang kelabu.


Hujan yang singkat namun juga menorehkan kenangan singkat yang mengganggu pikiranku saat ini.

__ADS_1


Lonceng berbunyi, meski telat 20 menit karena terhalang hujan tadi tapi sema'an yang diisi oleh Gus Abdi sore ini tetap dilaksanakan.


"Guse telpon katanya tetap ngaji, nggak libur." Kata mbak Qanita, ia merupakan lurah pondok putri disini.


***


["Nduk, ibu sama Abah wis ndek ndalem, Kamu langsung kesini saja ya."] Aku membaca pesan singkat dari ibuku.


Suara tarhim terdengar dari toa masjid pondok putra. Aku mengambil payung yang tadi dipinjamkan Gus Abdi lalu pergi ke ndalem.


Kulihat mobil sederhana milik orangtuaku sudah terparkir disisi gerbang. Aku pergi ke dapur terlebih dahulu lewat pintu belakang karena hendak menaruh payung terlebih dahulu, setelah itu aku kembali lagi kedepan karna kulihat pintu depan ndalem terbuka, pasti orangtuaku sedang berada diruang tamu sekarang ini.


"Assalamu'alaikum" aku mengucap salam lalu masuk kedalam rumah. Diruang tamu sudah ada ibuku dan Ibu Nyai Maryam yang sedang berbincang-bincang.


"Wa'alaikumsalam warahmatullah." Kedua wanita itu bersamaan menjawab salamku.


Aku berjalan menunduk mengahampiri Ibu Nyai Maryam lalu menyalaminya, lalu aku beralih duduk disamping ibuku dan menyalaminya juga.


"Abahe dimana buk?" Aku bertanya pada ibuku.


"Diruang tamu putra" jawab ibuku.


"Baju-bajumu masih dimobil, diambil nanti aja ya." Imbuhnya lagi. Aku mengangguk.


"Nanti buka puasa bersama disini lho ya mbak Rum, sama putrinya sekalian" ujar bu Nyai Maryam.


"Wah, malah jadi ngerepotin njenengan bu," jawab ibuku.


"Bisa masak juga to Hil?" Ibuku menoleh padaku.


"Nggeh saget to buk, teng pondok sudah biasa masak kok" aku memanyunkan bibirku, Mereka tertawa bersama.


Kami dipersilahkan menuju ruang makan karena waktu berbuka puasa segera tiba.


Aku membantu Bu Nyai menyiapkan makanan yang kami masak tadi. Aku menuangkan es Buah kedalam gelas-gelas yang sudah disiapkan Bu Nyai sebelumnya.


Kyai Dzulqurnain dan Abahku datang, lalu disusul oleh Gus Abdillah. Mereka mengambil tempat masing-masing.


Bedug telah ditabuh, adzan magrib dikumandangkan. Kami memulai buka puasa dengan es buah segar yang isinya ada semangka, melon, nanas dan kolang kaling. Setelah menyegarkan tenggokan, kami menunaikan sholat magrib terlebih dahulu sebelum menyantap makanan berat. Kami lebih memilih berjama'ah didalam rumah, tempat sholatnya pun cukup luas.


Selesai sholat, aku dan Gus Abdi keluar dari tempat sholat paling terahir. Saat aku masih melipat mukena, Gus Abdi yang hendak keluar ruangan melintas disampingku.


"Gus," aku memanggilnya. Ia menghentikan langkahnya tanpa menoleh padaku.


"Matursuwun, payunge sampun kulo wangsulke teng dapur."


"Nggeh, sami-sami." Ia menjawab masih tanpa menoleh padaku lalu pergi.


Setelah selesai makan aku membantu membereskan piring-piring kotor dan membawanya ke tempat cuci piring.


"Mbk Rum, anaknya sampean katanya mau bantuin saya masak setiap harinya, tapi bukan aku lho yang nyuruh, Mbk Hilya nya sendiri yang menawarkan diri." Kata Bu Nyai Maryam. Ia meletakkan gelasnya setelah menghabiskan es buahnya. Lalu dikumpulkan juga gelas-gelas yang lainnya.

__ADS_1


"Ndak apa-apa Bu, lagipula kan jenengan sudah berbaik hati memberi makanan untuk Hilya berbuka puasa dan sahur, memang sudah seharusnya kalau Hilya bantu njenengan." Jelas ibuku.


"Iya, anggep wae latihan biar mbesok terbiasa". Ujar Kyai Dzul menimpali. Aku mendengarnya terkejut sampai-sampai piring yang kupegang hendak merosot, untung saja tidak sampai jatuh. Sedangkan Gus Abdi tersedak saat tengah meneguk air putih.


Bu Nyai Maryam menyenggol lengan suaminya,


"Abah niku.. grogi niku lho larene."


Aku dan Gus Abdi hanya menunduk, sedangkan yang lainnya tertawa. Pipiku sepertinya memerah karena memahan malu. Aku tidak mengerti kenapa mereka mengatakan hal itu.


Selesai makan aku hendak berpamitan untuk kembali ke kamarku, namun Ibuku melarangku, katanya masih kangen denganku.


Aku berinisiatif mengajak ibuku ke Asramaku namun Ibu Nyai melarangnya. Kami disuruh untuk tetap di ndalem saja menemaninya sambil bercengkrama. Sedangkan Abahku, ia kembali ke ruang tamu putra bersama Kyai Dzul. Dan Gus Abdi, aku sudah tidak memperhatikannya lagi.


Menjelang isya' aku teringat sesuatu. Seketika aku menjadi cemas. Seharusnya setelah buka puasa tadi aku standbye menanti kedatangan kang Kawulo Gusti yang katanya akan datang ke kantor putri.


Sudah hampir isya' dan aku masih terjebak disini.


Kenapa ya Allah, Engkau tak kunjung juga menjawab segala pertanyaanku. Apa mungkin memang belum saatnya, lalu kapan?.


"Kok murung, kenapa?" Suara ibu membuyarkan lamunanku.


"Oh, ndak kenapa-kenapa buk, cuma kekenyangan." Jawabku setengah berbisik karena sungkan kepada Ibu Nyai Maryam.


Ibuku tertawa mendengar penuturanku.


"Kalau buka puasa ya mbok kira-kira makannya, nanti nggak kuat sholat tarawihnya". Tukas ibuku.


"Balas dendam ceritanya," sahut ibu Nyai Maryam sembari tertawa kecil.


Aku mengulum senyum menahan malu.


Sebelum pulang aku mengajak ibuku untuk sholat tarawih dipondok saja bersama santri putri lainnya. Sholat tarawih dipimpin langsung oleh Ibu Nyai Maryam.


Suara beliau begitu merdu dengan lantunan ayat-ayat suci yang dilafadzkan dengan tajwid yang sangat jelas.


Dan yang menjadi bilalnya mbak Nurma karena suaranya sangat lantang dan cekatan.


Jika mbak Nurma sedang berhalangan, maka akan digantikan oleh mbak Alya atau mbak Shima.


Menurutku dengan adanya seorang bilal, apalagi jika suaranya lantang maka sholat tarawih menjadi lebih bersemangat dan terhindar dari rasa kantuk.


"Al-kholifatul ula sayyidina Abu Bakar Asshidiq..." suara bilal menggema memenuhi musholla.


"Rodliyallahu 'anh..." sahut jamaah lainnya tak kalah lantangnya.


Lalu diikuti kalimat sholawat mengiringi sang imam sholat berdiri.


Ini adalah salah satu moment yang selalu aku rindukan ketika bulan suci ramadhan. Apalagi jika dilaksanakan di pesantren, suasana ramadhan lebih terasa nikmat.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2