
"Disini Gus," ucap Gus Abdi ketika ia dan Gus Khalid sampai pada sebuah tempat persis dimana semalam ia menemukan Ning Wafiq.
Gus Khalid menepikan mobil dan kedua lelaki itupun keluar dari dalamnya.
Mereka berdua saling mengedarkan pandangan menelisik area sekitar. Jalanan yang tidak terlalu ramai dan perumahan pun terlihat jarang, hanya ada warung-warung makanan yang letaknya pun saling berjauhan.
Di sepanjang tepian jalan berjejer pohon-pohon besar tinggi menjulang yang kalau siang hari nampak sejuk, tapi jika di nalam hari tentulah tempat ini terlihat sepi dan gelap.
"Apa yang kita cari disini Gus?" Gus Abdi bertanya.
"Siapa tau tas Wafiq ketinggal di sekitar sini Mas," jawab Gus Khalid yang masih mengedarkan pandangannya.
"Kita berpencar saja, aku kesana, kamu kesana," ucap Gus Abdi mengintruksi.
"Baiklah." Gus Khalid langsung melangkahkan kakinya."
"Oh, iya. Tasnya Wafiq seperti apa?" Tanya Gus Abdi yang membuat Gus Khalid kembali menoleh.
"Warnanya coklat," jawab Gus Khalid setelah mengingat-ingat.
Merekapun menelusuri jalanan dan memeriksa semak-semak di sekitar berharap menemukan apa yang mereka cari.
Gus Khalid masih mencoba menghubungi nomor ponsel Ning Wafiq meski ia tahu tadi nomornya tidak aktif.
*
"Gimana Mas?" Tanya Gus Khalid pada Gus Abdi setelah mereka berdua kembali ke mobil.
"Tadi aku tanya ke penjaga warung yang disebelah sana itu." Gus Abdi menunjuk sebuah warung bambu yang letaknya sekitar 50 meter dari mereka berdiri.
"Katanya semalam lihat seorang gadis yang diturunkan dari mobil, sendirian. Bisa jadi yang dia maksud itu Wafiq Gus."
"Terus mobil itu?" Tanya Gus Khalid dengan perasaan tegang.
"Katanya mobil itu pergi begitu saja setelah menurunkan gadis itu," papar Gus Abdi.
Gus Khalid menekan kuat pelipisnya, ia bersecak kesal.
"Ya Allah..!!" Desisnya.
"Mungkin sebaiknya kita lapor polisi saja Gus," usul Gus Abdi, ditatapnya pemuda yang nampak resah di depannya itu.
Gus Khalid tak menjawab, ia sendiri merasa dilema antara dua pilihan, haruskah ia melaporkan hal ini ke polisi dan mengesampingkan nama baik pesantren?
Gus Khalid meletakkan kedua tangan diatas pinggang sambil mendongak ke langit.
"Aku tau ini tidak mudah, sebaiknya kamu rembukkan dulu hal ini bersama keluargamu," ucap Gus Abdi hati-hati.
Gus Khalid menghela nafas kasar lalu perlahan menurunkan tangannya.
"Baiklah," ucapnya kemudian.
__ADS_1
Kedua pemuda itupun masuk ke dalam mobil dan memilih untuk pulang.
***
Langit telah menjadi gelap, masa pencarian Gus Khalid dan Gus Abdi mulai dari pagi sampai petang tidak membuahkan hasil, malah semakin buntu.
Mereka pun memutuskan untuk pulang saja.
"Mas!"
Hilya buru-buru menghampiri suaminya saat melihatnya baru saja masuk kedalam kamar.
"Indri.." ucapan Hilya terhenti, ia baru ingat kalau Gus Abdi baru saja pulang dari pencarian pelaku pemerk*sa Ning Wafiq.
"Oh, iya.. bagaimana Mas? Apa sudah ketemu pelakunya?" Tanya Hilya.
Gus Abdi menggeleng pelan, raut wajahnya tampak begitu letih.
"Lha terus?" Tanya Hilya lagi.
"Ndak tau dek, tadi Mas bilang ke Khalid supaya lapor polisi saja." Gus Abdi meletakkan kopiahnya diatas nakas lalu melepas kancing bajunya.
"Semoga segera terselesaikan ya Mas, masalah ini. Kasihan juga Ning Wafiq, malang sekali nasibnya."
"Oh, ya. Sepertinya tadi kamu bilang Indri. Kenapa dia?" Ucap Gus Abdi yang kini merebahkan tubuhnya yang berbalut kaos dalam putih di atas tempat tidur. Rasanya terlalu letih untuk segera pergi mandi, sejenak ia melepas penatnya terlebih dahulu.
"Indri mau nikah Mas."
Hilya tak langsung menjawab, ia mengambil surat undangan yang ia letakkan di dalam laci lalu memperlihatkannya kepada sang suami.
Gus Abdi lantas bangkit dan duduk lalu meraih kertas undangan dari tangan Hilya.
Raut wajahnya yang tadi nampak kuyu karena letih kini berubah drastis karena keterkejutannya.
"Lho, kok?"
"Dia dijodihin Mas."
"Kirain Indri sama Mas Azam saling suka."
"Ini salah Mas Azam, akibat terlalu lama nganggurin Indri, jadi keburu dilamar orang lain deh." Hilya melipat kedua tangannya di depan dada sambil memasang wajah kecewanya.
"Mungkin memang bukan jodohnya dek, jangan disesali."
"Tapi kan.."
"Menyesali takdir Allah itu tidak baik lho," ucap Gus Abdi mengingatkan.
"Astaghfirullahaladzim," gumam Hilya.
"Untung saja dulu aku ndak kalah cepat dari Khalid. Telat sedikit saja pasti kamu bakalan nikah sama si Khalid itu." Gus Abdi tersenyum mengingat kembali masa-masa dulu ketika ia datang ke rumah Hilya untuk melamar.
__ADS_1
"Ah, ndak juga. Aku kan cintanya sama Gus Abdi, bukan Gus Khalid," ujar Hilya sambil mengedip-ngedipkan matanya.
"Gombal..!" Pipi Gus Abdi terlihat bersemu, nampaknya ia tersanjung dengan pernyataan cinta dari sang istri.
"Seriuss...!!" Ucap Hilya meyakinkan.
"Kelihatannya calon suami Indri itu anak Kyai." Gus Abdi kembali merebahkan tubuhnya, dilipatkan kedua tangannya sebagai bantalan kepala.
"Iya. Gus Fanani, putra Kyai Hambali, Kyainya Mas Azam."
Gus Abdi kembali terkejut mendengar ucapan Hilya, sontak ia mengangkat kepalanya dan beralih posisi miring dengan tangan menyangga kepala menghadap Hilya yang duduk di sampingnya.
"Serius dek? Kok bisa kebetulan begitu?"
"Iya Mas. Makanya aku khawatir sama Mas Azam, bayangin gimana perasaannya jika harus berada dalam satu lingkungan dengan Indri yang sudah bersuami nantinya."
"Cariin calon istri buat Masmu itu, biar dia cepet move on." Ujar Gus Abdi asal-asalan.
"Ndak semudah itu Mas."
"Lha terus mau gimana lagi to yang..!!" Gus Abdi tiba-tiba bangkit merengkuh tubuh Hilya hingga mereka sama-sama terbaring diatas kasur.
"Aaa...!!! Bauu...!!! Mandi dulu sana..!!" Pekik Hilya berusaha meregangkan tangan Gus Abdi yang memeluk erat tubuhnya.
Bukannya melepaskan Gus Abdi malah semakin mempererat pelukannya sambil tertawa.
Tak kehabisan akal, Hilya pun menggigit lengan Gus Abdi dengan geramnya sehingga Gus Abdi meringis kesakitan dan melepaskan tangannya.
"Sakit Dek!" Gus Abdi mengusap-usap bekas gigitan Hilya meninggalkan bekas deretan giginya.
"Makanya jangan nakal. Lagian suasana tegang seperti ini sempet-sempetnya Mas malah ngajak bercanda," sungut Hilya.
"Biar nggak tegang Dek," balas Gus Abdi dengan entengnya. Ia pun beranjak mengambil handuk dan pergi mandi meninggalkan Hilya yang masih bermasam muka.
Tak lama kemudian terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi.
Hilya beralih membereskan baju kotor suaminya lalu membersihkan tempat tidur kemudian merebahkan diri diatasnya. Hilya mulai menguap, diliriknya jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Ia pun mulai memejamkan matanya.
Baru saja akan terlelap, tiba-tiba Hilya sedikit menjingkat kaget lantaran sebuah tangan melingkar di perutnya.
Bau harum sabun menguar dari tubuh pria yang bergelar suaminya itu.
Hilya pun tersenyum tipis dan kembali memejamkan matanya.
"Kapan ini ada isinya Dek?" Ucap Gus Abdi yang mengusap-usap perut rata istrinya.
Sebuah ungkapan penuh damba. Tentu saja ia telah merindukan hadirnya buah hati dalam pernikahan mereka. Hampir satu tahun sudah usia pernikahan mereka, namun Allah tak kunjun juga memberikan mereka amanah itu.
"Berdo'a saja Mas, semoga disegerakan," ucap Hilya lirih. Ada sedikit rasa nyeri dalam ulu hatinya mendengar pertanyaan dari suaminya itu. Ada perasaan kecewa bercampur rasa bersalah karena ia tak kunjung juga memberikan apa yang diimpikan oleh suami dan seluruh keluarganya. Ya, tentu saja seluruh keluarganya juga telah menanti saat-saat itu, saat-saat dimana ada suara tangisan bayi dalam rumah mereka.
"Aamiin!! Berdo'a juga harus dibarengi ikhtiar dong." Gus Abdi menarik selimut dan menutupi seluruh tubuh mereka berdua. Hilya hanya mencubit manja lengan suaminya itu.
__ADS_1