GUS IDOLA

GUS IDOLA
Menyesal


__ADS_3

GUS IDOLA


Part 17


"Indriiiiiiiiiiii....!!!!!!!!" Pekikku memanggil nama sahabatku diujung telepon. Andai saja dia ada disampingku, aku pasti aka memeluknya sampai dia tidak bisa bernapas.


"Kamu ini kenapa sih, Hil. Bisa budeg nih, kupingku!" Gerutunya.


"Hehe. Ada kabar yang saaaangaaat gembira. Mau tau gak?" Ujarku antusias.


"Apa?"


"Besok aku lamaran ndri."


"Hah?"


"Sekalian ijab siri." Ucapku setengah berbisik.


"What!! Sama siapa Hil? Gus Abdillah?"


"He em," jawabku sambil manggut-manggut.


"Oh Em Je..!! Eh, masyaallah..!! Kamu serius kan Hil? Gak lagi nge prank aku kan?"


"Serius Indri, semalam keluarga ndalem datang kesini untuk 'nembung' aku. Dan lusa adalah acara lamarannya sekalian gus Abdi ngajak nikah siri."


"Alhamdulillah.. cie-cie... langsung gass poll nih ye.."


Aku tersenyum tersipu malu.


"Terus resepsinya kapan?


"Insyaallah dua minggu setelah lamaran. Kamu gak pengen kesini ndri besok?"


"Pengen sih, tapi rumahmu jauuhhh banget. Butuh 3 jam perjalanan Hil. Nanti deh, kalau pas acara resepsinya aja insyaallah aku nginep tiga hari sebelum acara."


"Hemm.. ya wes kalau gitu. Tapi beneran ya datangnya tiga hari sebelum acara. Aku pengen kamu yang antar aku ke pelaminan nantinya"


"Pasti... insyallah. Biar aku cepet ketularan juga. Hehe."


"Hil, berarti kamu udah gak balik lagi ke pondok dong?"


"Iya, tapi aku belum sowan pamitan boyong ke ndalem ndri. Aku juga gak nyangka bakal nikah secepat ini."


"Yaaah, kita bakalan pisah dong."


"Ya, mau gimana lagi ndri. Memang sudah saatnya kan. Makanya kamu juga cepet nyusul nikah."


"Nanti aja lah kalau sudah ada calonnya pastinya. Haha."


"Yo mesti lah nikah emang kudu ada calonnya. Emangnya kamu mau duduk sendirian di pelaminan. Haha."


"Ya gak gitu kalee."


"Ya wes ngunu ae. Aku cuma mau ngabarin kamu aja. Bye bye. Assalamu'alaikum."


Tuutt..! Panggilan berakhir.


Lanjut aku membuka pesan masuk dari gus Abdi, calon suamiku. Kini nama kontaknya sudah kuganti dengan nama "Habiby lovely".


[Calon istriku lagi apa sekarang?]


Membaca pesan darinya saja sudah membuat aku senyum-senyum sendiri. Apalagi jika langsung bertatap muka dengannya.


[Ini lagi istirahat dikamar gus. Habis pulang silaturahmi dari rumah saudara.]


Triing ! Satu lagi pesan WA masuk, dan itu adalah nomor..


"Mas Reza?" Dahiku mengernyit.


[Selamat Hilya atas perjodohanmu.]


[iya, terimakasih mas. Maaf ya, mas karena sudah membuat sampean kecewa.]


[Bisakah kita bertemu sekarang? Aku ingin bicara empat mata. Aku mohon.]


[Maaf mas. Tapi untuk apa? Kita bisa bicara lewat telfon saja kan.]


Sebuah foto dikirim oleh mas Reza.


Didalam foto tersebut menampakkan sebuah lokasi jembatan yang tidak jauh dari rumahku.


[Temui aku disini, untuk yang terahir.]


Untuk yang terahir? seketika aku menjadi khawatir dengannya, jangan-jangan mas Reza hendak nekad bunuh diri di jembatan. Tapi apakah mungkin dia se-nekad itu?


Aku mencoba menelponnya tapi tak kunjung diangkat olehnya. Segera kusambar jilbabku dan mengenakannya dengan tergesa-gesa.


Aku mencari mas Azam untuk memintanya agar menemaniku namun dia tidak kutemukan disetiap sudut dirumah, entah kemana kakakku itu. Abah dan ibu juga sedang ada tamu, tidak mungkin aku mengganggu mereka, merasa tidak enak dengan tamunya.


Tanpa pikir panjang lagi, aku segera keluar rumah lewat pintu belakang. Kekhawatiran membuatku tak bisa berpikir apa-apa lagi selain menemui mas Reza sebelum hal yang tidak-tidak akan terjadi padanya. Semoga saja ini hanyalah prasangkaku.


Kupercepat langkahku yang setengah berlari agar cepat sampai di jembatan.


Saat tiba disana, kulihat mas Reza berada diatas jembatan, ia sedang duduk merenung bersandar pada pagar tepian jembatan sambil memandangi sebuah benda ditangannya.

__ADS_1


Dia mendongakkan kepalanya saat aku sudah berdiri disampingnya. Lalu seulas senyum terlukis di sudut bibirnya.


"Ada apa mas?"


Dia menyodorkan sebuah bingkisan padaku.


"Ini sudah kubeli untukmu jauh-jauh hari sebelum aku datang kerumahmu bersama orangtuaku. Terimalah daripada mubazir, anggap saja sebagai kenang-kenangan."


Aku menyambut bingkisan berbalut tas kado berwarna biru muda tersebut.


"Apa ini?"


"Hanya hadiah kecil. Aku tidak tau barang kesukaan wanita. Jadi aku belikan saja benda itu."


"Terimakasih, tapi maaf aku tidak bisa menerimanya mas." Aku mengulurkannya kembali.


Aku hanya khawatir jika aku menerima hadiah darinya nanti dia malah beranggapan bahwa aku juga mempunyai perasaan padanya. Aku tidak mau memberikan harapan palsu padanya.


"Kalau sampean gak mau buang aja ke sungai itu."


Aku mendekap bingkisan itu kembali, membuangnya didepan mas Reza sama saja dengan menyinggung perasaannya.


"Baiklah, aku terima. Matursuwun."


"Hil, apakah pria yang akan sampea nikahi itu adalah pria yang sampean cintai?" Ia mendongak lagi, barangkali ingin mendengar dan melihat aku menjawabnya langsung.


Aku mengangguk.


"Kami saling mencintai."


"Baguslah. Gak seperti cintaku, bertepuk sebelah tangan." Ia menyeringai sambil membuang muka.


"Sejak kapan?"


Aku masih saja berdiri di sampingnya, dan mas Reza masih duduk dibawah.


"Sejak kita remaja. Apa kamu sama sekali tidak menyadarinya Hilya?"


Aku menggeleng.


"Maaf mas. Aku sama sekali tidak tau." Ucapku penuh penyesalan.


"Andaikan sampean tau sejak dulu, apakah mungkin sampean akan membalas perasaanku Hil?"


Aku bergeming. Mas Reza menatapku tajam.


"Baiklah. Aku sadar aku memang bukan pria sebaik calon suamimu itu, anak seorang Kyai. Bahkan aku sama sekali tidak pernah mengenyam pendidikan pesantren sama sekali. Bodohnya aku, mana mungkin sampean mau denganku."


"Bukannya begitu mas. Aku menganggap sampean sudah seperti kakakku sendiri. Kita sudah bersahabat sejak kecil kan?!"


Tiba-tiba tanganku ditarik olehnya sehingga badanku hampir terjatuh dan ia menyambutnya dengan mengecup bibirku saat itu juga.


Aku sangat terkejut, spontan kutarik mundur wajahku dan ia terlihat tersenyum puas.


Seketika air mataku berlinang, karena sudah merasa dilecehkan meski hanya sebuah kecupan. Aku merasa harga diriku sudah diinjak-injak olehnya.


"Tega sampean mas!" Aku mengusap kasar bibirku. Tak kusangka ia akan berlaku kurang ajar seperti ini padaku.


"Aku ini sudah jadi calon istri orang. Besok aku lamaran mas. Bahkan calon suamiku saja belum pernah menyentuhku walau seujung kuku sekalipun. Tapi kamu..!! Kamu sudah bertindak lancang mas..!!" Aku memakinya dengan air mata yang terus berderai.


Wajah mas Reza sama sekali tak menunjukkan guratan penyesalan, detik ini juga aku sangat membencinya.


Aku melempar benda pemberiannya tadi ke dalam derasnya arus sungai dan segera melangkah pergi meninggalkannya.


Aku terisak disepanjang jalan mengingat saat tadi mas Reza menciumku dengan paksa. Tak kusangka pria yang selama ini kuanggap kakak telah menghancurkan harga diriku saat ini juga. Bahkan saat statusku sudah menjadi calon istri orang lain.


Aku mengutuk diriku sendiri, seharusnya aku tidak datang menemuinya.


Notifikasi pesan WA masuk dari gus Abdi. Sejenak aku mengabaikannya, bukan karena apa. Pikiranku sekarang sedang kalut.


Bagaimana jika gus Abdi mengetahui ini nanti? Apakah dia akan marah, kecewa?


Tidak, aku akan menyimpan semua ini sendiri.


***


Hari ini beberapa saudara dari pihak ibuku datang kerumah untuk menghadiri acara lamaranku. Sedangkan saudara dari pihak abah akan datang saat resepsi nanti karena rumah mereka semuanya jauh. Ya, abahku bukan berasal dari kota ini. Butuh waktu seharian perjalanan ke kota kelahiran abahku itu.


Aku menyiapkan penampilanku sebaik mungkin. Dengan memakai gamis warna ungu muda dan juga khimar yang warnanya juga senada. Gus Abdi bilang ia suka aku memakai warna itu, jadi aku memakainya dihari istimewa ini.


Aku teringat saat-saat pertama kali kami saling mengenal. Bagaimana polosnya gus Abdi waktu itu saat mengajakku berkenalan lewat inbox. Dan juga saat pertama kali kami bertemu di pesantrennya waktu itu, kesan pertama yag justru membuatku kesal dan membencinya karena saat itu aku belum tau kalau dia adalah pria yang selama ini kuidamkan untuk segera bertemu.


Masih terngiang jelas dalam memoryku saat pertama kali aku merasakan debaran yang luar biasa saat didekatnya. Yaitu saat dia mengantarkan payung untukku dan kami berjalan dibawah payung yang sama, ditengah lebatnya hujan kala sore itu.


Saat kami pertamakali telfonan dan dia diam-diam melihatku dari balik jendela ndalemnya. Menghabiskan malam yang indah dengan saling mengobrol diselingi canda tawa sampai-sampai telingaku menghangat karena ponselku suhunya menjadi panas. Namun Aku bahagia.


Dan juga saat ia memberikanku kado istimewa, sebuah Al-Qur'an yang didalamnya terdapat cincin yang mengait di pembatas halaman Al-Qur'an serta secarik kertas kecil bertuliskan "maukah engkau membantuku untuk menyempurnakan sebagian imanku."


Itulah saat-saat paling manis yang tak akan pernah kulupakan sampai akhir hayat nanti.


Namun, tiba-tiba dadaku terasa sesak saat mengingat kejadian kemaren sore. Kejadian yang membuatku merasa berdosa pada calon suamiku sendiri. Ciuman pertama yang seharusnya milik calon suamiku kini sudah direnggut oleh pria tak berakhlaq itu.


Padahal selama ini aku mati-matian menjaga harga diri dan kesucianku agar aku bisa mempersembahkannya untuk suamiku kelak. Namun mas Reza sudah menghancurkannya, meski itu hanyalah sebuah kecupan belaka namun itu sangatlah tidak pantas. Apalagi dalam kondisi statusku sekarang yang menjadi calon istri gus Abdi.


Aku benar-benar tidak habis pikir kenapa mas Reza berbuat setega itu padaku. Apa salahku padanya? Apa hanya karena aku tidak menerima pinangannya lalu dia berbuat kurang ajar kepadaku. Sungguh aku tidak akan memaafkan pria itu.

__ADS_1


Gus, maafkan aku karena tak sanggup menjaga apa yang seharusnya menjadi hakmu kelak. Maafkan aku juga karena harus menyembunyikan hal ini darimu. Aku takut kalau engkau nantinya akan marah dan kecewa padaku.


Suara decitan pintu kamar yang terbuka membuatku gelagapan dan segera menghapus air mataku.


"Tamunya sudah datang nduk, ayo keluar."


"Nggeh buk."


Aku bangkit dari bibir ranjang lalu melangkah keluar kamar dengan didampingi oleh ibu.


***


Prosesi acara demi acara dilangsungkan secara sederhana. Hanya anggota keluarga saja yang hadir dalam acara ini.


Acara lamaran yang dilanjut dengan ijab siri berlangsung dengan lancar tanpa halangan suatu apapun. Aku dinikahkan oleh abahku sendiri sebagai wali dan juga para saurada yang menjadi saksi.


"SAAAHHH..!!" Seruan serempak dari semua orang yang hadir menggema dilanjut dengan lantunan sholawat badar membuat air mataku berlinang tak kuasa menahan haru kebahagiaan.


Kami berdua dibimbing untuk melakukan prosesi sungkeman antara suami dan istri.


Saat tanganku baru saja menyambut telapak tangan gus Abdi, tiba-tiba pria itu menarik lagi tangannya.


Aku hanya menatapnya kebingungan.


"Loh, kenapa?" Pertanyaan terlontar dari ibuku yang berdiri disampingku.


"Anggit kulo wau kesetrum tangan kulo buk." (Saya kira tadi kesetrum tangan saya buk).


Jawaban polos gus Abdi sontak membuat semua orang tertawa.


"Ndredek kui jenenge." (Grogi itu namanya).


Celetuk salah seorang yang tidak kuhafal suara siapa.


"Gak po-po wes halal iki. Gek ndang disalami bojone." Ujar Kyai Dzul seraya membimbing tangan gus Abdi untuk menyalamiku kembali. Dapat kurasakan dinginnya tangannya saat kugenggam jemarinya dengan kedu tanganku.


Kucium tangan kanannya dengan khidmat, sedangkan tangan kirinya menyentuh ubun-ubunku seraya merapalkan do'a lalu diakhiri dengan kecupan di ubun-ubunku yang terbungkus khimar.


Muhammad abdillah ibnu ma'sum, kini pria tampan berstatus 'Gus' itu telah resmi menyandang gelar sebagai suamiku meski masih dalam status pernikahan siri.


Tak bisa kulukiskan betapa bahagianya aku saat ini.


Setelah prosesi akad, para tamu dipersilahkan untuk menyantap hidangan yang sudah disiapkan. Aku dan gus Abdi memilih untuk menyisih ke ruang belakang dekat dapur. Kami berdua duduk di sofa samping kulkas.


"Kulo ambilkan makanan nggih gus." Aku melangkah ke dapur untuk mengambilkan makanan untuk suamiku. Sejurus kemudian aku berbalik arah lagi.


"Kerso ndamel lawuh nopo? Rawon, sate, bakso, nopo lintune?"


(Mau pakai lauk apa? Rawon, sate, bakso, apa yang lainnya?)


"Bakso mawon. Tadi sebelum berangkat sudah makan nasi."


Aku melangkah kedapur dan kembali lagi dengan membawa semangkuk bakso serta saos kecap dalam wadah botol.


"Sampean gak makan?"


"Nanti saja, masih kenyang." Kilahku, padahal yang sebenarnya aku malu jika harus makan didepannya.


Setelah ia menyuapkan sesendok bola bakso kedalam mulutnya, lantas ia menyendok kembali lalu menyuapkannya untukku.


"Mboten usah gus, malu kalau ada yang lihat nanti. Dari tadi masih ada yang wira-wiri ke dapur."


"Kenapa harus malu, kita kan sudah jadi suami istri dek." Ucapnya sembari menyimpulkan senyuman manisnya.


Akupun membuka mulutku menyambut sesendok bola bakso yang disuapkan olehnya.


"Nanti jenengan kurang kenyang. Kulo ambilkan lagi nggeh."


"Gak perlu. Makan dari sendok bekasnya sampean saja sudah bikin kenyang." Ucapnya sembari tersenyum lebar menunjukkan deretan gigi gingsulnya.


Mendengarnya aku langsung memalingkan muka guna meyembunyikan rasa maluku.


"Ternyata bisa nge-gombal juga nggeh." Kataku sambil tertunduk dan meliriknya.


"Ayo makan lagi." Dia menyuapiku lagi.


Setelah selesai, aku mengembalikan mangkuk kotor ke dapur dan kembali lagi dengan membawa segelas air putih untuk gus Abdi.


"Sampean dulu yang minum, setelah itu aku yang minum." Ujarnya seraya menyodorkan gelas yang kuberikan.


"Tapi-"


"Gak apa-apa. Sunnah."


Aku pun meneguk separuh airnya lalu memberikannya pada suamiku. Iapun meneguknya sampai habis.


"Tadi kok bisa kesetrum bagaiman gus?" Godaku pada gus Abdi, mengingat kejadian tadi membuatku ingin tertawa saja.


"Namanya juga grogi dek. Baru pertamakali pegang perempuan, terlebih tangan itu milik orang yang aku cintai." Ucapnya tersipu malu.


"Duduk dekat dengan sampean


seperti sekarang ini saja rasanya sudah bikin jantung mau copot. Dari tadi disko terus gak berhenti." Imbuhnya lagi.


Akupun hanya bisa tertawa mendengar ucapannha. Benar-benar polos sekali suamiku ini. Aku sempat berpikir apakah aku adalah wanita pertama yang ia cintai? Jika benar, maka aku adalah wanita paling beruntung di dunia ini.

__ADS_1


💕💕💕


__ADS_2