GUS IDOLA

GUS IDOLA
Dilamar Gus Idola


__ADS_3

GUS IDOLA


part 15


"Buk, tamunya datang." Panggil Ubed yang langkahnya semakin mendekat ke dapur.


"Iya!" Sahut ibu.


"Kamu beresin dulu ya nduk, ibu kedepan sebentar. Ayo Zam!"


Aku mengangguk, segera kubereskan pekerjaanku dan bergegas kedepan. Penasaran juga siapa gerangan tamu yang datang sampai-sampai ibu mempersiapkan segala sesuatu sedemikian rupa.


Saat aku berjalan menulusuri koridor yang terhubung antara ruang tv dan ruang tamu, terdengar mereka sudah berbincang-bincang sembari tertawa kecil.


Langkahku seketika terhenti saat melihat siapa tamunya, Kyai Dzulqurnain, ibu Nyai Maryam dan juga.. Gus Abdi?.


Ingin rasanya kuputar arah dan kembali lagi ke belakang, tapi kok ya sudah terlanjur mereka melihatku.


Seketika aku menjadi gugup, mengingat cincin pemberian gus Abdi kemaren lusa, apakah mungkin mereka kesini untuk..?


"Nduk, kok malah ngelamun. Ada tamu agung ini lho." Ibu menghampiriku dan mengiringiku untuk mendekat. Aku menjabat tangan ibu Nyai Maryam dengan khidmat, dan kutelangkupkan kedua tangannku didepan dada menyapa dengan salam kepada Kyai Dzul dan juga Gus Abdi.


Aku duduk disamping ibu yang mana berada sejajar lurus dengan gus Abdi. Kutundukkan kepalaku tak berani menatapnya. Tanganku memainkan ujung jari-jari untuk menghilangkan rasa gugupku. Aku menyenggol lengan ibu karena kesal padanya tapi tetap saja ibu tidak menghiraukanku. kenapa ibu tidak bilang kalau mereka akan kesini?!.


"Wilujeng nduk Hilya?" Sapa ibu Nyai Maryam kepadaku.


"Alhamdulillah pangestu bu, sak wangsulipun?"


"Alhamdulillah tambah pangestu wilujeng."


Kugeser pandanganku ke arah gus Abdi, ternyata ia juga sedang melihat kearahku. Spontan kutundukkan kepalaku lagi.


"Es nya tadi sudah siap Hil? Ayo ditata sebentar lagi magrib." Bisik ibu padaku.


Aku mengangguk.


Ibu pun berpamitan kepada para tamu untuk kebelakang sebentar dan mengajakku ikut serta. Kami berduapun beranjak ke dapur.


"Kok ibuk gak bilang sih kalau tamunya mereka?" Tanyaku kesal.


"Ibu kan mau kasih kejutan buat kamu." Jawab ibu sambil tertawa kecil. Ia mengambil gelas-gelas berukuran besar dari dalam lemari kaca yang memang digunakan untuk menyimpan perabot.


"Untuk apa mereka kesini buk?"


"Kamu ini gimana sih, orang bertamu ya pasti silaturahmi to nduk."


"Ambilin nampan di rak piring Hil."


Aku melangkah menuju rak piring dan meraih benda yang diminta ibu.


"Es nya langsung disajikan dalam gelas aja biar enak."


Titah ibu.


"Buk.."


"Hem..?" Jawab ibu yang masih sibuk mengelap gelas.


"Beneran cuma silaturahmi."


"Iya, memangnya kamu berharap mereka mau ngapain?"


"Nggak kok, siapa juga yang ngarep."


"Wes, gek ndang digowo mengarep." (Sudah, cepat dibawa kedepan.)


Aku mengangkat napan berisi gelas yang sudah terisi es buah dan membawanya ke ruang tv dimana hidangan lainnya juga sudah tertata rapi disana.


Adzan magrib t'lah berkumandang, kami semua beranjak dari ruang tamu menuju ruang tv yang sudah disediakan untuk tempat berbuka puasa bersama.


Aku memilih untuk membatalkan puasa di dapur. Untung saja masih ada es buah yang tersisa banyak di dapur.


Selesai menyantap es buah satu gelas berukuran sedang aku segera mengambil wudlu dan melaksanakan sholat magrib. Kami semua melaksanakan sholat magrib berjama'ah di musholla yang letaknya di depan rumahku.


Ada juga beberapa tengga dekat yang ikut berjama'ah di musholla kami.


Kuambil mukena dikamarku lalu aku memakainya sekalian dan bergegas menuju musholla. Sementara ibuku dan Ibu Nyai Maryam sedang bergantian berwudlu dikamar mandi.


Sedangkan para lelaki mungkin mengambil wudlu ditempat wudlu yang disediakan musholla.


Saat langkah kakiku sampai diruang tamu aku terhenti ketika ada seseorang memanggilku.


"Dek!"


Aku menoleh padanya, gus Abdi ternyata masih duduk diruang tamu sendirian.


Ia berdiri dan langkahnya mendekat ke arah dimana aku


sedang berdiri mematung. Kini ia berada tiga langkah didepanku.


"Emh.. hadiah kemaren sudah sampean buka?"


Aku hanya mengangguk sambil menunduk serta mengulum senyum.


"Pripun? Diterima nopo mboten?"


Saat aku hendak menjawab pertanyaannya terdengar suara pintu tertutup, aku menoleh ternyata itu mas Azam yang baru saja keluar dari kamar karena memang letak kamarnya bersebelahan dengan ruang tamu.

__ADS_1


Aku segera melangkah keluar rumah sebelum mas Azam melihatku berbicara dengan gus Abdi.


"Tamunya siapa Hil?" Tanya bik Yah tetangga depan rumah.


"Ibu Nyai kulo bik," kataku sembari membentangkan sajadah.


"Owh.." jawabnya singkat. Untung saja ia tidak bertanya macam-macam.


Dari balik tirai terdengar suara abahku yang mempersilahkan Kyai Dzul untuk memimpin sholat.


Dalam sholat pikiranku sama sekali tidak fokus, pikiranku melayang pada gus Abdi yang tadi menanyakan tentang jawabanku mengenai suratnya itu. Aku mulai menerka-nerka jangan-jangan mereka datang kesini ada hubungannya dengan cincin beserta surat singkat yang diberikan gus Abdi kemaren.


Seusai sholat kami kembali lagi untuk makan bersama. Sebenarnya aku ingin makan didapur saja. Tapi ibu memaksaku untuk makan bersama dengan para tamu.


"Gak baik ada tamu malah dicuekin."


Aku pun terpaksa menuruti perintah ibu walau sebenarnya aku sangat gugup.


"Habis beresin piring cepet balik lagi kedepan ya Hil." Ucap ibu setelah kami semua selesai makan.


Aku pun membereskan piring-piring kotor yang juga dibantu oleh ibu dan ubed. Setelah beres kami kembali lagi ke ruang tamu setelah sebelumnya aku masuk kamar terlebih dahulu untuk mematut diri dicermin sambil membetulkan jilbabku yang sebenarnya masih rapi.


Beberapa saat setelah kami kami duduk dan berbasa-basi, terlihat Kyai Dzul seperti akan berbicara serius.


"Kang Umar, mbak Rum, tujuan kami sekeluarga datang kesini yang pertama adalah untuk silaturahmi dan yang kedua adalah hendak menanyakan putrinya panjenengan, apakah sudah punya calon suami?"


Deg!


Pandanganku langsung tertuju pada Kyai Dzul lalu bergeser ke arah gus Abdi. Gus Abdi menundukkan kepalanya setelah Abahnya angkat bicara.


Abah dan ibuku serta kakak dan adikku serempak menoleh padaku lalu mereka tersenyum.


"Piye nduk? Sudah ada apa belum?" Tanya abah padaku. Kurasakan tangan ibuku menggenggang jemariku.


"Ha? Ehm.. ehm.." kulempar pandanganku ke gus Abdi, raut wajahnya sama tegangnya sepertiku.


"De..reng.." (belum).


"Alhamdulillah." Ucap ketiga tamuku bersamaan.


"Begini, putra semata wayang kami ini sepertinya menyukai putri kalian, apakah boleh kami melamar putri kalian untuk dijadikan menantu di keluarga kami?"


"Bagaimana buk?" Abah bertanya pada ibuku.


"Terserah bagaimana anaknya saja bah. Kalau saya sendiri setuju-setuju saja."


Kini semua mata tertuju ke arahku.


"Piye nduk?"


Aku masih menunduk malu-malu. Ingin kujawab tapi lidahku rasanya kelu. Kurasakan telapak tanganku menjadi dingin. Mendadak ingin pipis.


Ya Allah.. kenapa jadi gugup begini.


Saat keluar dari kamar mandi aku terkejut karena ibuku sudah berada didepan kamar mandi juga.


"Kebelet juga buk?"


"Nggak. Ehm, kata abahmu kamu dan gus Abdi suruh duduk berdua dulu sambil ngobrol, ta'aruf gitu. Jadi kalau kalian cocok bisa.. bisa lanjut ke pernikahan."


"Ngobrol berdua buk? Tapi kan, Hilya malu buk. Nggak usah deh.." ucapku memelas.


"Ta'aruf atau melihat dan mengenal pasangan satu sama lain itu penting Hilya, biar gak ada keraguan atau kekecewaan kalau memang jadi nikah." Ibuku tetap membujuk.


"Kan tadi udah dilihat."


"Maksudnya biar saling kenal satu sama lain Hilya. Masa kamu gak pengen mengenal lebih dekat calon imammu?"


"Hilya udah kenal lama buk, tapi lewat Hape." Kataku dalam hati.


"Tapi ibu sarankan kamu jangan nolak ya Hil, gus Abdi itu wes ganteng, pinter, seorang Hafidz, putra Kyai pula. Eman Hil, kalau ditolak."


"Iih.. ibuk mah." Kataku sok jaim. Padahal sejak tadi dalam hatiku girang sekali, ingin rasanya aku melompat-lompat untuk mengekspresikannya tapi itu tidak mungkin kan, aku lakukan. Wanita mana coba yang akan menolak pinangan seorang lelaki se-sempurna gus Abdillah. Bahkan aku mendengar kabar bahwa banyak sekali lamaran yang datang untuk gus Abdi, tapi ditolak olehnya.


Sedangkan aku? Bahkan dia sendiri yang datang untuk melamarku setelah sebelumnya dia memberikan cincin padaku.


Aku merasa seperti wanita paling beruntung didunia.


Tiba-tiba aku kepikiran apakah ibu sudah tau niatan mereka datang kesini mengingat ibu tidak memberitahuku sebelumnya tentang kedatang tamu istimewa seperti mereka.


"Ibuk sudah tau sejak awal ya, kalau mereka kesini mau 'nembung' Hilya?" Selidikku.


Bukannya menjawab ibu malah senyum-senyum lalu menarik lenganku.


"Ayo!" Ibu menggiringku masuk kembali ke dalam rumah.


Ibu menghentikan langkah tepat diruang tv, disana sudah ada gus Abdi yang duduk di sofa. Ibu memberi kode padaku untuk segera duduk lalu pergi meninggalkanku berdua dengan gus Abdi di ruangan ini. Sementara yang lain masih berada di ruang tamu. Letak ruang tv dan ruang tamu hanya terpisah oleh koridor.


Gema takbir mulai terdengar dari musholla-musholla dan masjid-masjid di desa ini. Diiringi oleh suara ledakan kembang api yang menghiasi langit yang menghitam. Terdengar suara Ubed yang meminta izin untuk keluar rumah, pasti dia ingin bermain kembang api bersama teman-temannya diluar sana.


"Duduk dek," suara gus Abdi semakin membuat kakiku gemetar.


Aku duduk di ujung sofa sebelah kanan dan gus Abdi duduk di ujung sofa sebelah kiri. Meski kami sudah biasa saling telfonan tapi rasanya berbeda sekali ketika langsung berhadapan dengannya. Gugup bercampur gelisah.


"Kok jauh banget sih, duduknya?" Godanya padaku.


"Dereng Halal mboten pareng deket-deket gus," jawabku refleks.

__ADS_1


(Belum halal gak boleh deket-deket gus.)


"Lha nopo dihalalke sakniki mawon, kersane saget deket?"


(Apa mau dihalalkan sekarang juga biar bisa dekat?)


Spontan aku menoleh padanya dengan raut wajah yang terperangah. Dia malah terkekeh melihat responku.


"Hadiah dariku kemaren sudah sampean buka kan?"


"Sampun gus."


"Suratnya sudah dibaca kan?"


"Sudah."


"Terus pripun jawabannya sampean?"


Aku tertunduk malu, rasa gugupku sudah tidak terkontrol lagi. Ujung jemariku memainkan kursi sofa membentuk ukiran-ukiran yang tak terlihat oleh mata.


"Ojo dingkluk wae to dek, aku gak iso nyawang wajah ayune sampean niku lho." Godanya lagi yang membuat hatiku semakin melayang.


(Jangan menunduk aja to dek, aku kan jadi gak bisa memandang wajah cantikmu itu).


"Lha lek malah tambah ndingkluk." Imbunya lagi, membuatku tak tahan menahan senyum.


"Deeekk... madepo mriki too.." pintanya memelas.


(Deek, hadap kesini dong)


Aku pun mengangkat wajahku dan melempar senyum padanya.


"Masyaallah, gitu kan cantik dek." Pujinya sambil memangku wajah pada kedua telapak tangannya, sorot matanya membuatku seperti sedang terjebak tak bisa kemana-mana.


"Jenengan niku, katanya dulu pas awal ketemu gugup, malu kalau ketemu langsung. Sekarang kok malah makin berani?" Ucapku sesekali menunduk.


"Dulu belum terbiasa. sekarang harus berani dong, masa mau ngajak nikah masih gak berani."


"Tapi kok gak berani mengatakannya langsung? Malah lewat surat."


"Owh, itu." Jawabnya sambil menggaruk kening.


Aku masih menatapnya menanti jawaban dari pertanyaanku, tapi yang ada dia hanya menunduk dan membuang muka.


"Ehem..! Dek."


Aku meliriknya. Dia menggeser tubuhnya ke arah jam dua, pandangannya lurus menghadapku.


"Madepo mriki, kulo pingin bicara serius."


Sedikit ragu, aku menempatkan posisi sama seperti gus Abdi. Kini kami saling bertatap muka.


Sesekali gus Abdi mengusap wajahnya, juga menempelkan telapak tangannya ke dada.


"Kulo pingin sampean menjadi bagian dari penyempurna imanku. Jadilah istriku dek."


Kupandangi lekat-lekat kedua manik hitamnya, sorot matanya menunjukkan keseriusan, bukan bercanda atau main-main.


Aku mengangguk, "insyaallah kulo purun gus." Senyumku mengembang dihiasi dengan rona merah di kedua pipiku karena kurasa pipiku mulai menghangat. Entah bagaimana aku bisa begitu yakin mengucapkannya.


"Alhmdulillah," ucapnya sembari menengadahkan kedua telapak tangan lalu mengusapkannya ke wajah.


Malam takbir kali ini terasa berlipat-lipat kebahagiaannya. Malam menyambut kemenangan dan juga menyambut jodoh dari Yang Maha Kuasa. Aku sangat bersyukur karena dijodohkan dengan lelaki sebaik gus Abdillah. Ternyata ketakutakanku akan restu kedua orangtuanya hanyalah bayang-bayang belaka. Mereka justru terlihat sangat bahagia saat memintaku untuk menjadi menantunya.


"Cincinnya belum dipakai dek?"


Aku menggeleng, "takut kalau ditanya macam-macam sama ibuk."


"Emh, sebenarnya kedua orangtua kita sudah merencanakan hal ini sejak dulu." Ucapnya sambil mengusap tengkuk.


"Apa?" Dahiku mengernyit, sedikit bingung dengan maksud dari ucapannya.


"I..iya..ng..nganu.. ss..sebenarnya..kulo sudah pernah melihat sampean sebelumnya sewaktu sampean sekeluarga datang kerumah. Tepatnya lebaran tahun lalu. Terus.. kulo.. tanya ke ibuk, ternyata.. beliau malah maunya langsung melamar sampean. Tapi kulo larang, takutnya sampean malah takut dan menghindar. Jadi.. kulo inisiatif untuk mengenal sampean dengan sendirinya agar tidak ada keterpaksaan diantara kita."


Aku terkesiap, berarti gus Abdi sudah tau tentang aku jauh sebelum aku mengenalnya lewat media sosial?


"Tapi kenapa tidak bilang sejak awal?"


"Takut sampean malah menghindar dek, jangan-jangan sampean takut kalau dideketin sama anak Kyai."


Aku terkekeh mendengar penuturannya. Bukan takut tapi malah seneng gus, kalau tau yang deketin itu sampean.


Gus idola kaum hawa.


Jika awal tadi kami saling menundukkan pandangan karena malu, maka sekarang kami sudah mulai berani baradu pandang agak lama. Saling melempar senyum dan menatap lekat penuh cinta. Saumpama mawar, kini aku sedang mekar-mekarnya.


"Jadi.. sudah diterima ya ini lamaran kulo?" Aku mengangguk.


Kami berdua pun kembali lagi ke ruang depan berkumpul dengan yang lainnya dan mengatakan kalau kami sudah sepakat untuk menikah.


Seluruh anggota keluarga pun terlihat sangat bahagia. Rencana acara lamaran dan pernikahan pun telah ditetapkan. Acara lamaran akan dilaksanakan tiga hari lagi sedangkan hari pernikahan dilaksanakan dua minggu kemudian. Terkesan tergesa-gesa namun ini adalah atas usul dari Kyai Dzul. Kata beliau lebih cepat lebih baik.


Setelah selesai membuat rencana, gus Abdi dan keluarganya pun berpamitan. Baru saja ketiga tamu kami sampai diteras, kami sudah akan kedatangan tamu lagi.


Mas Reza teman kecilku datang bertamu bersama kedua orangtuanya. Rumahnya tidak jauh dari rumahku. Hanya berjarak lima rumah saja.


Biasanya Mas Reza memang bertandang ke rumah untuk menemuiku saat ia tau aku pulang dari pesantren. Sedari kecil sampai remaja kami memang sudah biasa main bersama, hingga aku memutuskan untuk mondok, ia akan datang berkunjung begitu tau kalau aku pulang meski kami hanya sekedar mengobrol di ruang tamu. Atau mampir sebentar saat melihatku sedang menyapu halaman.

__ADS_1


Biasanya ia akan datang sendiri, tapi kenapa kali ini bersama kedua orangtuanya? Baju yang mereka kenakan pun terlihat sangat rapi.


Next.


__ADS_2