GUS IDOLA

GUS IDOLA
Season 2 (Babak Baru)


__ADS_3

"Mas, saya minta supaya Mas Abdi menikahi Ning Wafiq secepatnya."


"Sudah berapa kali aku bilang kalau aku tidak mau menikahinya. Apa kamu sudah kehilangan akal sehat sehingga meminta suamimu ini untuk menikahi wanita lain?!"


Gus Abdi memalingkan muka, dadanya naik turun menahan emosi. Entah sudah berapa kali Hilya, istrinya sendiri memintanya untuk menikah lagi. Sedangkan dirinya sama sekali tidak menghendaki hal itu terjadi, karena Gus Abdi sendiri sudah berjanji bahwa hanya Hilya lah yang akan menjadi istri satu-satunya sampai akhir hayatnya nanti.


"Kasihanilah Ning Wafiq Mas, juga keluarganya. Jangan sampai aib ini mengotori nama baik pesantren Nurul Islam. Apa kata orang nanti jika putri seorang Kyai pemilik pesantren ternama ternyata hamil tanpa suami. Bukankah itu akan menjadi penilaian buruk bagi ulama seperti Kyai Hanafi? Jangan sampai masyarakat berpikir bahwa seorang alim ulama memberikan contoh yang buruk bagi umatnya. Pikirkan itu Mas, pikirkan!"


Hilya menekan suara pada kalimat terahirnya. Meski berkali-kali mendapat penolakan dari Gus Abdi namun Hilya tak gentar untuk terus membujuk Gus Abdi. Meski sebenarnya hatinya merasa berat, namun disisi lain nurani kemanusiaannya mendorongnya untuk melakukan hal ini.


Ya, Hilya melakukan ini semata-mata karena rasa ibanya terhadap Ning Wafiq yang kini tengah hamil tanpa suami. Bukan karena pergaulan bebas, melainkan Ning Wafiqlah yang menjadi korban.


"Orang lain yang berbuat mengapa aku yang harus bertanggung jawab?!"


Gus Abdi tetap keukeuh dengan pendiriannya.


"Orang lain belum tentu mau menikahi Ning Wafiq dengan keadaan mentalnya yang seperti sekarang ini. Lagipula jika meminta bantuan orang luar itu sama saja kita mengumbar aib Mas. Bisa saja orang yang dimintai pertolongan menolak lalu malah menyebar luaskan masalah ini."


Gus Abdi terdiam, Ia memilih untuk tidak menghiraukan ucapan wanita yang kini tengah merengek di depannya.


"Mas... saya mohon.." ucap Hilya memelas. Dipegangnya kedua telapak tangan suaminya itu.


"Nggak!!" Gus Abdi melepas genggaman tangan Hilya lalu bangkit dan melangkah keluar dari kamar.


Sangat sulit bagi Hilya untuk merobohkan dinding dalam hati suaminya itu. Memang begitulah watak Gus Abdi, keras dan sulit dipaksakan.


Jika lelaki diluaran sana merasa senang jika beristrikan lebih dari satu, bahkan ada yang diam-diam menikah lagi, maka lain halnya dengan Gus Abdi yang memanglah tipe lelaki yang setia. Sungguh, Hilya sangat beruntung bersuamikan Gus Abdi. Cinta suaminya hanya utuh untuk dirinya saja.


___________________


Tiga bulan yang lalu.


"Innalillahi...!!"


Pekik Gus Abdi setelah ia menginjak pedal rem mobilnya secara mendadak. Hilya yang duduk disamping kursi pun tak kalah terkejutnya. Bagaimana tidak, mendadak seseorang menyebrang jalanan ketika mobil mereka tengah melaju. Untung saja Gus Abdi bergegas menginjak rem sehingga tidak sampai menabrak orang tersebut.


Bergegas Gus Abdi dan Hilya turun dari mobil dan menghampiri orang tersebut. Didapatinya seorang wanita yang merunduk dengan penampilan yang memprihatinkan. Rambutnya yang berantakan serta lengan bajunya yang sobek. Wajah wanita itu tidak terlihat karena posisinya yang merunduk dan rambut panjangnya yang tergerai menutupi wajah, ditambah lagi dengan pencahayaan yang seadanya karena kondisi sedang malam hari.


"Mbak?" Hilya berangsur mendekat dan berjongkok demi melihat kondisi wanita yang hampir ia tabrak. Khawatir jika memang ada yang luka karena terserempet.


Wanita itu masih merunduk, tangannya terlihat gemetar.


"Mbak gak apa-apa kan?" Tanya Hilya sekali lagi.


Merasa tak ada respon Hilya menoleh kepada Gus Abdi dengan ekspresi wajah kebingunannya.


"Mungkin orang tidak waras dek. Lihat saja penampilannya."

__ADS_1


Sekali lagi Hilya memperhatikan penampilan wanita tersebut. Dia memakai gamis yang masih terlihat bagus meski sobek dibagian lengan kirinya, sedang tangannya memegang sebuah kain, sepertinya itu jilbab terlihat dari warnanya yang senada dengan gamis yang ia pakai.


Apakah mungkin orang tidak waras memakai baju sebagus ini? Pikir Hilya dalam hati.


"Mbak?" Penasaran, Hilya memegang kedua bahu wanita tersebut dan mengangkatnya demi melihat wajahnya.


Sungguh sangat terkejut Hilya ketika melihat wajah wanita tersebut yang ternyata adalah Ning Wafiq. Dan parahnya lagi resleting depan bajunya terbuka. Ekspresi wajahnya juga seperti orang ketakutan.


"Mas!!" Hilya menutup resleting baju Wafiq lalu menoleh dan mendongak kearah suaminya yang sedari tadi berdiri di belakangnya.


Gus Abdi menatap lekat-lekat wanita tersebut dan alangkah terkejutnya dia sama seperti Hilya.


"Astaghfirullah...Wafiq?!!"


"Bawa ke rumah sakit saja dulu mas. Sepertinya dia tidak sedang baik-baik saja." Usul Hilya.


"Baiklah, ayo!"


Hilya meraih jilbab dari genggaman Ning Wafiq dan memakaikannya lalu menganggkat tubuhnya dan membopongnya untuk masuk kedalam mobil.


Mobil mereka melaju mencari rumah sakit yang terdekat.


*


"Bagaimana Dok? Apa yang terjadi pada teman saya?"


"Kalian bertemu dengannya dimana?" Ekspresi wajah sang dokterpun terlihat tegang.


"Tadi kami menemukannya dijalan."


Sahut Hilya.


"Emm, sepertinya teman kalian habis diperk*sa dan mengalami kekerasan fisik. Itulah yang membuat dia shock seperti sekarang ini."


Spontan bibir Hilya membulat lebar, tangannya spontan mengatup didepan bibirnya. Betapa terejutnya ia mendengar penjelasan sang dokter.


Sama dengan Hilya, Gus Abdi juga terkejut mendengar kabar buruk ini.


"Dokter tidak salah? Diperk*sa?" Gus Abdi mengulang pernyataan dokter itu.


"Iya." Dokter itu mengangguk dengan raut wajah yang ikut prihatin.


"Sebaiknya biarkan dia menginap disini dulu, besok kalau keadaannya sudah membaik kalian boleh membawanya pulang." Jelas sang dokter.


Dokter itupun berlalu meninggalkan ruangan tempat dimana Ning Wafiq dibaringkan. Matanya terpejam, nampaknya dokter telah memberikannya obat tidur.


"Bagaimana ini mas? Apa sebaiknya kita mengabari orangtuanya? Takutnya mereka mencari-cari Ning Wafiq karena tidak pulang." Hilya berucap dengan resah.

__ADS_1


"Baiklah, Aku akan telepon Khalid saja ya." Gus Abdi melangkah keluar ruangan sambil merogoh ponsel di saku kemejanya dan mulai menggeser layar. Diangkatnya benda pipih tersebut dan menempelkannya di telinga. Sedangkan Hilya duduk di samping brankar tempat Ning Wafiq berbaring. Ditatapnya gadis beralis tebal itu dengan tatapan keprihatinan.


"Siapa yang tega melakukan ini padanya?" Batin Hilya.


Sekitar satu jam kemudian datanglah keluarga dari Ning Wafiq termasuk Khalid memasuki ruangan dimana Ning Wafiq dirawat. Ibunda dari Ning Wafiq yang biasa disebut Umi Salma, menghambur memeluk putrinya, diusapnya kepala Ning Wafiq lalu mencium keningnya.


"Bagaimana ini bisa terjadi Nduk?" Umi Salma tersedu menatap wajah putrinya dengan sendu.


"Kami juga tidak tau Umi, kami menemukannya dijalan saat hampir tertabrak mobil saya." Gus Abdi memberi penjelasan.


Kyai Hanafi dan Gus Khalid pun juga menampakkan raut wajah kekhawatirannya, berkali-kali Kyai Hanafi mengucap istrighfar dan menyebut nama Allah.


Mendadak ruang melati nomor 03 itu dipenuhi dengan suara isak tangis.


"Mas, sudah kasih kabar ke Abah sama Ibu apa belum?" Bisik Hilya tepat disamping telinga Gus Abdi.


"Belum dek, nanti saja kalau kita sudah sampai di rumah. Takutnya mereka ikut khawatir. Kasihan Abah sama Ibuk kalau sampai mereka bela-belain jauh-jauh kesini, ini kan sudah malam."


Hilya mengangguk pelan.


"Kalian kok bisa sampai bertemu dengan Wafiq, dimana kalian menemukannya?" Tanya Gus Khalid.


"Kami baru pulang kondangan dari Kalianyar, sewaktu sampai di daerah Durenan kami bertemu dengan Wafiq. Konsisinya sudah memprihatinkan." Terang Gus Abdi.


"Lalu bagaimana kalian tau kalau Wafiq baru saja diperk*sa?" Tanya Gus Khalid lagi.


"Dokter yang mengatakannya."


"Astaghfirullah, Wafiq...!!" Gus Khalid beristighfar sembari mengusap wajahnya kasar. Dibalikkan badannya lalu melangkah mendekat dimana adiknya masih terbaring dengan mata yang terpejam.


"Tadi dia pamit kemana Mi?" Tanya Kyai Hanafi kepada istrinya.


"Habis dhuhur tadi dia berangkat kuliah, nggak tau juga kenapa sampai malam belum pulang. Umi telponin juga ndak diangkat." Jawab Umi Salma dengan nada bergetar karena masih terisak.


"Ya Allah.. ini salah Abah juga sebagai orangtua. Tidak seharusnya Abah membiarkan putri kita pergi sendiri tanpa mahramnya. Kamu sendiri juga kenapa sih, Nduk.. selalu tidak mau kalau diantar jemput kemana-mana. Kalau sudah begini siapa yang mau disalahkan?" Kyai Hanafi merutuki dirinya sendiri, beliau merasa gagal menjaga putrinya yang diharapkan bakal menjadi jembatan syurga baginya nanti. Tak sanggup rasanya jika di yaumul qiyamah nanti beliau dimintai pertanggung jawaban atas titipan anak yang diberikan kepadanya itu.


"Allahu robbii.. kenapa cobaan-Mu seberat ini?" Keluh Kyai Hanafi disisi istrinya yang sedari tadi tak hentinya berderaian air mata.


"Maaf Bah, ini salah saya juga sebagai kakak laki-lakinya tidak mampu menjaga adik saya dengan baik. Seharusnya saya juga ikut memantau aktifitas Wafiq di luaran sana." Gus Khalid berbicara dengan nada penyesalan.


Musibah yang menimpa Ning Wafiq bagaikan badai yang menerpa habis keluarga mereka. Tak ada lagi yang bisa diperbaiki, ini merupakan bencana besar bagi mereka.


Dengan status mereka sebagai keluarga Kyai, maka keadaan Wafiq saat ini sudah merupakan aib bagi keluarga mereka. Merekapun sepakat agar hal ini hanya diketahui oleh dua keluarga, yaitu keluarga Kyai Hanafi dan keluarga Kyai Dzulqurnain, ayahanda Gus Abdi. Karena Gus Abdi sendiri tidak mungkin menyembunyikan hal ini dari kedua orangtuanya.


"Saya berjanji bahwa hal ini hanya diketahui oleh kita yang ada disini juga Abah dan Ibuk saja," ucap Gus Abdi meyakinkan.


Gus Abdi sendiripun maklum dengan apa yang mereka khawatirkan.

__ADS_1


🌴🌴🌴


__ADS_2