
GUS IDOLA
(Part 13)
Setelah selesai kegiatan mengaji malam ini, aku standby memegang ponselku menantikan telpon dari gus Abdi. Sambil menunggu, aku main ke kamar sebelah dan duduk diantara mbak-mbak yang sedang asyik mengobrol sambil menyetel musik sholawat.
Aku ditawari berbagai macam makan dan gorengan yang sedang mereka nikmati, nampaknya ada yang baru saja mendapat kiriman.
Belum lama aku nimbrung ponselku bergetar, sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor yang belum kusimpan namanya, namun aku hafal siapa pemilik nomor itu.
[Dek.] Sebuah pesan singkat darinya.
[Dalem.] Kujawab tak kalah singkat pula.
Lalu ponselku bergetar lagi, begitu juga dengan hatiku ikut bergetar. Sebuah panggilan masuk dari nomornya.
Aku segera beranjak dari tempatku dan segera mencari tempat yang sepi.
Di ujung timur taman depan asrama ada mbak Shima sedang telponan, di pojok barat ada mbak izza dan mbak milka sedang ngobrol.
Mataku tertuju ke arah musholla, disana tak ada siapa-siapa. Aku mempercepat langkahku agar dapat segera mengangkat telpon sebelum panggilan berahir.
Segera kugeser tombol dial hijau dan kutempelkan ponsel ditelinga sembari masih berjalan.
Aku duduk dipojok depan utara teras musholla, tepatnya duduk di anak tangga.
"Assalamu'alaikum." Terdengar suara bariton dari ujung telpon.
Aku mengatur nafas sambil mengecek detak jantungku.
"Wa'alaikumsalam". Jawabku lirih menahan grogi.
Hening, taka ada suara. Aku mengecek layar ponsel apakah sambungannya terputus, tapi ternyata tidak.
"Halo?" Ucapku mengecek apakah dia masih ada disana.
"H-halo." Jawabnya. Ternyata masih ada, aku lega.
"Nembe nopo, dek?" (Lagi ngapain dek?)
"Telfonan." Jawabku polos. Terdengar suara tawa kecil darinya. Memangnya ada yang salah dari ucapakku? Bukankah memang benar aku sedang telfonan dengannya?
"Posisi dimana?"
"Teng emperan musholla gus."
"Sendiri?"
"Ya, iyalah. Mana mungkin terima tepon dari sampean ngajak mbak-mbak disini." Kataku dalam hati.
"Nggeh." Jawabku singkat.
Sejenak tak ada suara, lalu..
"Sampean cantik pakai jilbab niku, jilbab ungu."
"Ha?" Aku celingak celinguk keseluruh penjuru arah, mana mungkin dia bisa tau warna jilbabku.
"Nyariin kulo to?"
"Jenengan kok semerep?" Tanyaku bingung. (Kamu kok bisa tau?)
"Kulo teng atine sampean mosok mboten semerep?" (Aku dihatimu masa tidak lihat?)
Ya Allah, serangan apa lagi ini? Pipiku mendadak jadi hangat.
Mataku tertuju ke arah ndalem, kulihat jendela depan sedikit terbuka, tapi lampu didalamnya terlihat padam.
"Pasti dia ada disana." Batinku.
"Awas nanti digigit nyamuk." Katanya lagi.
"Mboten nopo-nopo. Kan ada lotion anti nyamuk dari jenengan niko."
Sejak tadi tak henti-hentinya aku mengulum senyum sendiri, untung saja tidak ada siapa-siapa disini.
Aku melihat indri seperti berjalan kearahku, namun setelah ia semakin dekat dan menatapku, ia memutar jalannya kembali lagi ke asrama. Indri memang sabahatku yang paling mengerti aku.
Berbicara langsung dengannya membuatku jadi kikuk, bingung harus ngomong apa dan jawab bagaimana. Kurasa gus Abdi pun sama halnya denganku, karena dari tadi ia terdengar seperti ragu-ragu saat melontarkan kata-katanya.
Sejenak diam, lalu bicara, diam lagi lalu bicara lagi.
"Ehm.. gus."
"Ehem?"
"Kenapa saat pertama kali kulo ketemu jenengan pas jenengan nabrak kulo kok malah jenengan bablas dan cuek. Bahkan minta maaf pun tidak." Aku memanyunkan bibirku, agak kesal juga mengingat kejadian waktu itu.
"Oh, niku. Nganu," ucapnya ragu-ragu.
"Kenapa? Padahal jenengan pun semerep lak niku kulo."
(Kenapa? Padahal kamu sudah tau bahwa itu aku)
"Grogi dek, takut ketahuan."
Aku terkekeh mendengar jawabannya, jadi itu sebabnya dia langsung kabur saat melihatku.
"Cilok kulo kan tumpah jadinya gara-gara jenengan tabrak. Mubazir kan, Padahal lagi pengen banget makan cilok." Gerutuku.
"mbesok tak ijoli, sak bakul-bakule." Kelakarnya.
__ADS_1
(nanti saya ganti, sekalian sama penjualnya.)
Aku tertawa terpingkal-pingkal.
"Mengko lak bunder koyok cilok piye lho dek," imbuhnya lagi. (Nanti kalau bulat kayak cilok gimana lho dek.)
"Pripun maleh, trahe remen kok." (Mau bagaimana lagi, memang suka kok)
"Alhamdulillah."
"Kok alhamdulillah?"
"Tirose remen kaleh kulo?" (Katanya suka sama saya?)
"Cilok gus, cilok!" Jawabku gemas. Diapun terkekeh.
Suasana yang tadinya beku, kini sudah mencair. Tak kusangka gus Abdi ternyata orangnya cukup humoris.
Berbincang dengannya membuatku merasa nyaman dan hangat.
Malam semakin larut, suasana terasa semakin sepi, kutengok lampu-lampu asrama sudah dipadamkan, kulirik jam yang tertera dilayar ponsel sudah menunjukkan pukul 23.45, tak terasa satu setengah jam lebih aku berbincang dengannya. Akupun mulai menguap.
"Sudah ngantuk dek?"
"hhem." Gumamku.
"Nggeh pun, sana tidur."
"Nggeh." Meski sebenarnya ingin rasanya ku ulur waktu agar berlalu lebih lama.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam warahmatullah."
Tut! Panggilanpun berahir. Aku beranjak melangkah pulang menuju asrama. Seketika itu kulihat jendela ndalem pun perlahan menutup.
Setelah beberapa hari lalu, baru aku bisa tidur dengan nyenyak lagi.
***
Sekitar jam sepuluh pagi, aku dan indri meminta izin untuk pergi ke pasar setelah kegiatan mengaji. Aku ingin berbelanja sambil jalan-jalan melihat-lihat lingkungan sekitar sini.
Lokasi pasar tidaklah jauh dari pesantren Al-Kautsar ini, kamipun menempuhnya hanya dengan berjalan kaki. Suasana di desa ini sangatlah sejuk, masih banyak pepohonan yang berjejer menghiasai sepanjang jalanan desa. Hampir tiap rumah dihiasai tanaman bunga-bunga yang indah, tak sedikit juga yang menanam bunga matahari dipinggir jalan depan rumah mereka.
Ditengah perjalanan tiba-tiba aku teringat semalam saat sungkem dengan ibu Nyai, tangan beliau membelai lembut kepalaku yang terbungkus mukena.
"Ndri, menurutmu gus Abdi cerita ke Ibu Nyai nggak ya soal aku? Soal kami yang sudah lama kenalan lewat medsos." Indri mengangkat kedua bahunya pertanda tidak tahu menahu. Tangannya masih sibuk dengan kamera ponselnya memotret bunga matahari yang kami lewati.
"Eh, tapi kalau dilihat dari sikap ibu Nyai sama kamu semalam, bisa jadi beliau sudah tau Hil," ucap indri menduga-duga.
"Duh, piye yo ndri." Mendadak aku merasa cemas.
"Sungkan plus malu kalau ibu Nyai sampai tau ndri, apa kata beliau nantinya?"
Aku tersenyum memikirkan perkataan indri, berharap semua itu menjadi kenyataan.
Meski semuanya belum jelas, begitupun dengan gus Abdillah, aku belum tau dia menganggapku sebagai apa. Teman biasa ataukah kekasih hati.
Aku memang bukan wanita istimewa dengan berbagai kelebihan, aku hanya gadis biasa yang berstatus santri sejak 5 tahun lalu saat baru memasuki jenjang sekolah Madrasah Aliyah. Dulu sekolahku tidak berada dalam satu pesantren, hanya saja letaknya tidak jauh dari sana.
Setelah lulus aku memutuskan untuk tetap tinggal di pesantren meski diminta orangtuaku untuk melanjutkan kuliah. Yang ada didalam benakku adalah ilmu dari pesantren sudahlah cukup untuk bekalku berumah tangga nanti serta menjadi madrasah bagi anak-anakku kelak.
Setibanya dipasar aku dan indri langsung menuju deretan penjual baju-baju. Entah beli atau tidak yang penting kami mau lihat-lihat dulu. Hampir 5 kios kami kunjungi namun tak ada satupun baju yang ingin kami beli.
"Hil," indri menepuk pundakku dan tangannya menunjuk ke arah kios penjual jilbab.
Indri menarik lenganku melangkah menuju kios penjual jilbab tersebut.
Sesampainya didepan kios indri langsung memilih-milih jilbab yang tertata rapi digantungan. Ada juga yang dibiarkan menumpuk tanpa dilipat. Mulai dari jilbab pasmina, syar'i, segi empat, bergo, jilbab instant, semuanya tersedia.
"ini yang lagi ngetren sekarang mbak, paling laris." Ibu-ibu penjual itu menunjukkan jilbab bergo yang terpasang di boneka manekin.
"Beli yuk, Hil. Kita kan belum punya jilbab yang model seperti ini." Bujuk indri sambil memegangi jilbab bergo tersebut.
"Iya wes, terserah."
"Ambil yang warna apa?"
"Itu yang marun." Aku menunjuk jilbab bergo warna marun. Indri mengambil jilbab warna pink.
Saat si ibu penjual akan membungkus pesanan kami tiba-tiba mataku tertuju pada jilbab segi empat rempel warna ungu dengan motif bunga dipinggirannya. Aku teringat ucapan gus Abdi semalam kalau aku terlihat cantik memakai jilbab ungu.
"Bu, yang itu juga dibungkus ya." Aku menunjuk jilbab yang kumaksud.
Setelah dari kios jilbab kamipun berkeliling pasar untuk melihat-lihat lagi, barangkali ada yang mau dibeli lagi.
Setelah puas berkeliling, aku dan indri pulang dengan dengan membawa beberapa kantong kresek ditangan kanan dan kiri. Berbelanja merupakan suatu hiburan bagi kami kaum perempuan.
Saat kami melintas sebuah warung bakso, tercium bau harum yang menyeruak kedalam hidung. Sekilas warung bakso tersebut seperti tutup namun sebenarnya pintu nya terbuka dengan tirai yang menutup setengah pintunya.
Jika saja hari ini bukan bulan puasa, maka kami akan mampir ke warung tersebut. Untung saja kami masih punya iman.
Perintah menjalankan ibadah puasa memang hanya untuk orang-orang yang beriman. Sesuai dengan ayat dalam surah Al-baqarah yang berbunyi,
"Ya ayyuhalladzina amanu kutiba 'alaikumussiyam kama kutiba 'alalladzina min qoblikum la'allakum tattaquun."
(Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa).
Jadi sudah jelas bukan, dilihat dari kata 'ya ayyuhalladzina amanu' yang berarti wahai orang-orang yang beriman. Yang tidak beriman berarti tidak 'hai'. Hehe.
***
__ADS_1
Seperti biasa, saat tarhim berkumandang aku pergi ke dapur ndalem untuk mengambil menu berbuka puasa untukku. Biasanya ibu Nyai sudah menatanya dan aku tinggal angkat saja.
Namun kali ini ada yang berbeda. Ada sebuah bungkusan kantong kresek yang teronggok disamping makananku yang sudah tersaji.
Saat kubuka ternyata isinya dua bungkus cilok yang masih panas. Terselip sebuah kertas kecil yang sepertinya ada tulisan didalamnya.
"Cilok mawon nggeh dek, soale bakule mboten purun ditumbas." Aku tersenyum geli membaca tulisan tersebut.
(Ciloknya saja ya dek, soalnya Penjualnya gak mau dibeli).
Sesampainya di pondok, aku membagi cilok yang satu bungkus untuk indri. Saat ditanya darimana aku bilang beli didepan toko waktu dulu.
Aku tidak berbohong, karena gus Abdi pasti belinya disana karena cuma ada satu penjual di perempatan jalan sini.
.
Beberapa saat setelah berbuka puasa, ponselku berdering saat kulihat ternyata telpon ibuku.
Aku beringsut keluar asrama.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam warahmatullah. Ada apa buk, kok tumben telpon?"
"Nelpon anakknya masa gak boleh."
"Geh angsal, kok tumben gitu lho."
"Ehm, nduk ibuk mau bicara penting."
"Nopo?"
"Sampean sudah punya gandengan apa belum?"
"Maksudnya?" Tanyaku tak mengerti.
"Pacar."
"Mboten buk, tirose mboten pareng pacaran." (Nggak buk, katanya gak boleh pacaran).
"Iya, ibuk maunya kamu langsung nikah gak usah pacar-pacaran. Nambah-nambahin dosa aja."
"Ehm, nganu nduk.." kata-kata ibu seperti mengambang.
"Nopo to kok ngona nganu?"
"Misale sampean dijodohin mau nggak?"
Aku terdiam mendengar pertanyaan ibu. Perjodohan adalah salah satu hal yang paling aku khawatirkan, apalagi kalau dijodohkan dengan orang yang sama sekali tidak kucintai.
Para orang tua selalu berpendapat 'witing trisno jalaran songko kulino' cinta bisa hadir karena terbiasa, namun bukankah kita akan lebih bahagia jika kita bersama dengan orang yang kita cinta? Ditambah lagi sekarang aku sedang menaruh hati pada gus Abdillah.
"Nduk?" Suara ibu membuyarkan lamunanku.
"Tergantung buk."
"Tergantung piye?"
"Tergantung kulo remen nopo mboten." (Tergantung saya suka apa nggak).
"Memangnya ada yang datang melamar ya buk?" Tanyaku lagi.
"Ya.. ada yang nanyain. Belum ngelamar."
"Terus ibuk jawab apa?" Tanyaku agak cemas.
"Ibuk iyakan saja."
"Aa...ibuuukk." rengekku memelas.
"Hehe.. ora-ora, ibuk becanda. Ibuk jawab kalau ibuk terserah kamu nya saja. Ibuk gak mau maksain anak ibuk untuk dijodoh-jodohkan."
Seketika perasaanku menjadi lega, untunglah ibuku tidak seperti para orangtua zaman dulu yang suka menjodoh-jodohkan anaknya.
"Ya, wes. Sudah dulu telponnya. Sebentar lagi tarawih. Kamu yang rajin ibadahnya ya nduk, biar nanti dapat jodoh yang sholeh dan mampu membimbing kamu ke jalan yang lurus."
"Aamiin."
"Tahajud, hajad, dhuha diistiqomahne. Ingat, hati kita butuh asupan yang namanya iman."
"Nggeh."
"Sholat sunnah rowatib juga jangan ditinggalin, ibarat pengantin, sholat fardlu iku mantene sedangkan sholat rowatib iku koyok pengarihe nduk."
"Nggeh."
"Istighfar, sholawat setiap habis sholat jangan sampai lupa."
"Nggeh."
"Nggah nggeh nggah nggeh ngko gak kepanggeh."
"Lha pripun, mosok dijawab 'mboten'." (Lha bagaimana, masa dijawab 'tidak'."
Jawabanku memang selalu seperti itu saat aku mendapat nasehat dari ibu. Memang serba salah kalau jadi anak. Dijawab 'iya' salah, dijawab 'tidak' juga tambah salah.
"Ya, wes. Ngunu ae selak tarawih. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam warahmatullah."
Aku melangkah kembali kedalam kamar, kuraih charger yang tergeletak di atas bantal dan mencolokkannya ke lubang charger ponsel. Aku mencari colokan listrik untuk mencharger ponselku tapi ternyata penuh semua padahal batreiku sudah lowbat. Sedikit kecewa karena nanti malam bisa jadi aku tidak bisa memainkan ponselku. Padahal aku berharap nanti malam gus Abdi menelponku lagi. Tak bisa dipungkiri, kini aku selalu merindukannya, setiap jam, menit, detik, setiap hembusan nafas dan detakan jantungku.
__ADS_1
To be continued.