
GUS IDOLA
Part 18
_______________________
Aku berpamitan pada gus Abdi hendak ikut serta membantu yang lainnya mengangkat piring-piring kotor untuk dibawa ke belakang.
Piring kotor yang baru saja ku angkut tiba-tiba diambil alih oleh budhe.
"Sudah biarkan. Dah banyak yang bantuin. Temani saja suamimu. Masa ditinggal duduk sendirian." Kata budhe seraya menggerakkan kepalanya menunjuk ke arah suamiku.
"Nggeh budhe." Akupun kembali lagi menemani gus Abdi.
"Kok cepet?"
"Nggak dibolehin sama budhe."
Aku duduk kembali disisinya.
"Gus, kalau mau nginep disini sekarang juga boleh. Ndak usah ikut pulang." Ucap abah yang berjalan mendekati kami. Ada binar bahagia tersirat pada wajah lelaki berusia setengah abad lebih tersebut.
Bukannya menjawab, gus Abdi malah menoleh dan menatapku seoalah ia sedang bertanya padaku 'boleh apa tidak'.
"Asalkan dek Hilya mengizinkan, kulo purun nginep bah." Kata gus Abdi sembari melirikku.
"Boleh kan, nduk?" Tanya abah padaku.
Mendadak aku menjadi bingung harus menjawab apa. Disisi lain aku senang jika terus berada didekat gus Abdi, namun disisi lain ada sedikit rasa takut dalam hatiku, karena status kami yang pengantin baru dan yang pasti nanti kami akan disuruh tinggal dalam satu kamar. Aku belum siap.
"Halaah.. boleh ya nduk. Wong sudah jadi suami istri masa gak boleh nginep." Sergah abah.
"Nanti biar abah yang bilang sama Kyai Dzul." Imbuhnya lagi.
"Tapi kan, kami masih ijab siri bah." Aku berusaha mencari alasan.
"Apa masalahnya kalau ijab siri. Wong sudah sah secara agama kok. Wes to gak apa-apa biar suamimu tinggal disini dulu." Abah melenggang pergi tanpa mendengar pendapatku lagi. Sedangkan gus Abdi, dia tersenyum seperti sedang mengejekku.
"Jangan takut dek, aku gak gigit kok." Dia berkata sambil berlalu pergi menyusul abah.
Seketika aku menjadi gugup dan membayangkan hal-hal yang 'menakutkan' saat malam pertama. Belum lama aku bertemu dengannya tapi tiba-tiba sekarang kami harus tidur dibawah satu atap. Ya Allah, bahkan duduk bersanding dengannya saja baru kulakukan beberapa menit yang lalu.
Akupun menyusul gus Abdi ke depan karena sepertinya para tamu akan berpamitan.
________________________
Malam kian merangkak naik, para tamu dari pihak keluarga gus Abdi sudah pulang sejak tadi. Begitu juga dengan semua saudara-saudaraku. Mereka pulang setelah membantu kami beberes dan bercengkrama sebentar karena hanya saat moment seperti inilah seluruh keluarga dapat berkumpul.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Abah dan ibuku sudah beristirahat di kamar mereka. Mas Azam tadi pamit keluar rumah untuk menemui teman-temanya. Sedangkan Ubed pasti dia sedang khusyuk plus tuma'ninah main game dikamarnya dan tidak mau diganggu oleh siapapun.
Gus Abdi pun nampaknya juga seperti sudah sangat lelah. Aku mempersilahkannya untuk beristirahat dikamarku. Namun ia tak mau masuk sendiri karena katanya rumahku ini masih terasa asing baginya, jadi ia merasa segan untuk kesana kemari tanpa dibimbing.
"Jenengan mlebet mawon gus, istirahatlah didalam." Kataku seraya membuka pintu kamar.
"Sampean duluan dek," ucapnya yang masih berdiri dibelakangku.
Akupun melangkah masuk kamar dengan perasaan agak canggung. Debar jantungku sudah mulai tak beraturan lagi, keringat dingin mulai membasahi keningku.
Aku merapikan sprei dan juga menata beberapa bantal, lalu mempersilahkan gus Abdi untuk segera beristirahat. Saat aku akan beranjak keluar kamar, tiba-tiba tanganku digenggang olehnya guna menahan langkahku yang baru saja selangkah menjauh darinya.
__ADS_1
"Sampean sudah sholat isya' apa belum?" Tanyanya padaku yang masih menghadap ke depan membelakanginya.
Akupun menoleh.
"Oh, iya. Tadi belum sholat isya' nggeh."
"Sholat jama'ah yuk."
"Di musholla apa disini saja gus?"
"Disini saja."
Aku mengangguk dan segera beranjak ke kamar mandi yang terletak di dalam kamar untuk mengambil air wudlu. Aku tetep memakai khimarku saat masuk dan keluar kamar mandi karena masih sungkan jika memperlihatkan rambut kepalaku pada suami yang baru saja menikahiku itu.
Aku menata dua sajadah disamping tempat tidur untuk tempat kami sholat. Untuk pertama kalinya kami melaksanakan sholat jama'ah berdua.
Ada rasa haru bahagia saat aku berada dibelakangnya menjadi makmumnya. Aku bersyukur pada Allah swt. Karena telah menghadirkan pria sesempurna gus Abdillah untukku, pria tampan nan sholeh yang diidam-idamkan oleh seluruh mbak pondok di pesantrennya. Bahkan murid-muridnya di sekolah pun juga demikian.
Aku berharap ia akan menjadi sosok imam yang terbaik untukku yang mampu menuntunku ke jalan lurus-Nya dan membimbingku menjadi istri yang sholehah serta mencintaiku sepenuh hatinya. Aku juga berjanji pada diriku sendiri akan mencintanya sepenuh jiwa dan ragaku.
Mulai detik ini juga, dimana aku berdiri dibelakang sebagai makmumnya maka mulai detik inilah aku akan selalu patuh kepada pria yang telah menjadi imamku itu. Aku akan melayaninya sebagaimana sayyidah Fatimah ra. melayani sayyidina Ali bin Abi Thalib ra. Berusaha untuk qona'ah atas segala pemberiannya tanpa mengeluh dan menutupi segala kekurangannya, karena istri diibaratkan pakaian bagi suaminya.
Aku akan berbakti padanya agar mendapat ridlonya dan ridlo Rabb-ku.
Gus Abdi mengulurkan tangannya setelah selesai salam. Aku menyambutnya dengan tetap membungkus tangan dengan mukena agar wudlu kami tidak batal. Lalu kutempelkan punggung tangannya di atas ubun-ubunku. Kulihat mulutnya komat kamit merapal do'a lalu mencium ubun-ubunku. Aku tersenyum bahagia melihat sikapnya yang manis seperti ini. Ternyata menikah itu indah ya.
Mata kami saling beradu. Kuselami manik-manik hitam didalam matanya. Seakan-akan mata itu telah menghipnotisku saat ini hingga aku hanyut dalam sorot matanya.
ÞMulut kami membisu, seakan mata kami yang tengah berbicara saat ini. Ia mendekatkan wajahnya ke wajahku, dapat kucium aroma wangi tubuhnya yang harum dan menangkan hati.
Kini matanya sudah tepat berada dua centi didepan mataku. Jantungku berdegup sangat kencang hingga dapat kurasakan denyutnya didadaku. Aku tersadar dari buaianku lalu seketika kumundurkan wajahku dari hadapannya.
Dia tersenyum dan mengangguk pelan. Aku segera melepas mukenaku dan melipatnya lalu meletakkannya diatas tempat tidur. Aku pergi keluar kamar dengan perasaan yang tidak karuan, dadaku berdesir saat mengingat saat-saat tadi. Masih kurasakan tangan dinginku yang gemetar dan kupegangi kedua pipiku yang terasa hangat.
Sepertinya tadi ia akan menciumku, tidak tau kenapa aku malah menghindarinya, mungkin karena aku terlalu grogi ataukah takut. Entahlah, yang jelas aku sangat deg-deg an saat berada dihadapannya dengan jarak sedekat itu.
Padahal setelah ijab qobul tadi katanya dia grogi saat memegang tanganku, tapi sekarang dia sudah berani ingin menciumku. Dasar laki-laki.
Aku berjalan menuju dapur dengan senyum-senyum sendiri, aku menjadi salah tingkat dibuatnya.
Kutuangkan air dalam gelas lalu meneguknya. Sekarang apa yang harus aku lakukan, apakah aku harus kembali ke kamarku lagi? Kira-kira apa yang akan terjadi jika aku kembali lagi ke kamar. Berdua dengannya didalam satu kamar membuat ku memikirkan hal-hal yang 'menakutkan'.
Bermenit-menit kemudian aku masih saja berada di dapur. Kadang duduk kadang berdiri dan mondar mandir tidak jelas.
"Sebaiknya aku menunggunya disini sampai dia tertidur." Pikirku.
"Dek."
Aku menoleh ke arah suara berasal. Kini pria bermata sipit itu tengah berdiri tak jauh dariku.
"Kukira sampean ketiduran di dapur. Kok lama?"
"Ee.. tadi beres-beres sebentar, lihat dapur masih agak berantakan jadi pengen beresin dulu." Bohongku.
"Owh."
"Jenengan tidur duluan mawon, kulo sepertinya lapar tadi cuma makan bakso, sekarang lapar lagi." Kilahku berusaha mencari alasan agar tetap berlama-lama didapur.
"Em, iya wes. Sampean makan dulu."
__ADS_1
"Jenengan mboten ikut makan gus?"
"Mboten, masih kenyang." Ia pun berlalu meninggalkan dapur. Aku menghela napas lega. Maaf gus aku terpaksa berbohong. Padahal baru saja aku berdo'a agar dijadikan istri yang sholehah tapi sekarang aku sudah berbuat dosa padanya.
Berkali-kali aku menguap, mataku sudah sangat berat ingin segera dipejamkan. Hampir satu jam aku duduk didapur sendirian. Aku melangkah kembali ke kamar dengan langkah mengendap-ngendap. Kubuka pintu kamar dengan sangat hati-hati agar tidak mengeluarkan bunyi.
Kusembulkan sebagian kepalaku guna mengintip apakah gus Abdi sudah tidur. Aku bernapas lega karena kulihat gus Abdi sudah berbaring diatas kasur tanpa pergerakan apapun pertanda ia sudah tertidur.
Aku masuk kedalam dengan mengendap-ngendap agar tidak membangunkan gus Abdi. Aku membuka lemari untuk mengambil selimutku yang satunya lagi. Aku memilih tidur dibawah saja beralaskan karpet bulu yang lumayan hangat untuk melindungiku dari hawa dingin malam ini.
Gus Abdi menggerakkan tubuhnya beralih posisi miring sehingga aku dapat melihat wajah tampannya dari bawah sini.
Kupandangi wajahnya sampai aku tak sadar jam berapa aku terlelap.
***
Lamat-lamat aku mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Kubuka mataku dan tidak kudapati gus Abdi diatas tempat tidur seperti semalam. Kulihat jam di dinding menunjukkan hampir pukul setengah empat. Sekitar 45 menit lagi adzan subuh berkumandang. Barangkali gus Abdi hendak melaksanakan sholat sunnah terlebih dahulu sebelum tiba waktu subuh.
Aku bangkit dari tidur dan melipat selimutku. Bersamaan dengan itu terdengar suara pintu kamar mandi dibuka.
"Dek, sudah bangun? Mau sholat sunnah juga?" Pria itu berjalan mendekat.
Aku mengangguk.
"Kenapa tidur dibawah?"
Aku mengusap tengkukku, tidak tau harus menjawab apa.
"Takut kalau diapa-apain sama suamimu ini?" Dia pun terkekeh.
Aku merenges salah tingkah.
Dia melangkah mendekat dan berjongkok tepat dihadapanku.
"Gak apa-apa kalau sampean belum siap. Kulo mboten maksa kok. Tapi ya jangan tidur dibawah. Kulo kan jadinya malah gak enak."
"Nggeh gus." Jawabku tersipu malu.
"Ya, sudah sana ambil wudlu. Lama-lama didekat sampean bisa-bisa batal lagi wudluku nanti." Ucapnya sembari berdiri. Akupun terkekeh mendengarnya.
Aku beranjak ke kamar mandi untuk berwudlu lalu menyusul gus Abdi untuk melaksanakan sholat sunnah tahajud dan hajat.
"Dek, minta tolong boleh?"
"Nopo gus?"
"Kulo tak nderes sampean semakne nggeh."
(Saya mau tadarus sampean yang menyimakkan ya.)
"Nggeh." Aku mengangguk lalu mengambil mushaf diatas rak kecil samping meja rias.
"Biasanya minta disemakkan kang pondok sehabis sholat dimasjid. Tapi sekarang sudah ada sampean." Dia tersenyum manis. Aku membalasnya dengan tersenyum pula.
"Sampean buka juz 26 surah Az-zariyat."
Gus Abdi mulai membaca ta'awudz dan melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an dengan suara merdunya. Aku menyimaknya dengan khusyuk, ia membacanya dengan tartil dan fasih tanpa ada sedikitpun kesalahan. Sekali lagi, aku dibuat kagum olehnya. Menjadi istri seorang Hafidz merupakan suatu anugerah bagiku. Al-Qur'an saja dijaga, apalagi aku. Ea..ea..!!!
💘💘💘
__ADS_1