
GUS IDOLA
Part 26
PoV Gus Abdi
"Kenal Hilya darimana Mas?" Tanya Khalid saat kami duduk santai di teras masjid pesantren, ia baru saja selesai menunaikan sholat dzuhur.
Dia adalah putra Kyai Hanafi, saudara jauh dari pihak Ibuku. Karena urutan nasab aku memanggilnya dengan sebutan 'Khalid' saja, usianya juga lebih muda dariku.
"Disini." Jawabku singkat sembari tersenyum.
"Disini?"
"Iya. Pertama kali aku melihatnya satu tahun yang lalu, saat ia datang bersama keluarganya kesini untuk bersilatutahmi. Lalu ramadhan kemarin dia juga ngaji disini." Terangku. Khalid terlihat manggut-manggut.
"Sejauh apa sampean kenal sama Hilya?." Tanyaku padanya. Sejak tadi aku memang merasa penasaran dengan mereka berdua di masalalu mengingat sikap Hilya tadi yang terlihat seperti canggung saat bertemu Khalid.
"Mantan mas." Ucapnya dengan percaya diri.
"Mantan?" Aku tertegun mendengar jawaban Khalid.
Apakah mungkin yang dimaksud Hilya cinta pertamanya adalah Khalid?
"Iya. Dulu kami pernah dekat sewaktu sekolah. Sampai aku lulus dan pindah pesantren, kami sudah tidak saling menghubungi lagi. Pikirku dulu mempunyai kekasih jarak jauh tidak akan mudah Mas, jadi aku memutuskan untuk tidak menghubunginya dulu sampai aku kembali. Lagipula kami sama-sama hidup di pesantren, penggunaan ponsel pun terbatas."
Mendengar ia menyebut kata "kekasih" dada ini tiba-tiba terasa sesak, karena kata itu ditujukan olehnya kepada istriku, Hilya.
"Sekarang kalian sudah bertemu kembali kan," ucapku basa basi.
"Tapi sayangnya sekarang Hilya sudah jadi istrimu Mas." Khalid menyeringai.
Apa maksud dari perkataannya? Apa dia masih mencintai Hilya sehingga dia terlihat kecewa saat mengetahui faktanya kalau Aku dan Hilya sudah menikah.
"Selamat nggih Mas, sampean mempunyai istri yang cantik dan juga sholihah seperti Hilya. Dia juga gadis yang cerdas dan sikapnya pun manis. Dia tipe anak yang patuh kepada orangtuanya. Dulu saat aku nembak dia, jawabannya dia gak diizinkan pacaran dulu sama orangtuanya. Jadi dulu hubungan kami tanpa status."
Ucapnya dengan senyum yang terukir di kedua sudut bibirnya. Pasti dia sekarang sedang flashback masa-masa mereka berdua dulu.
"Berarti bukan mantan pacar yo?!"
"Mantan teman dekat Mas, dulu istilahnya TTM," ucapnya membela diri.
"Meski dia gak dibolehin pacaran tapi kayaknya dia tetep gak bisa menjauhiku. Hehe," sambungnya lagi.
Aku membuang muka, merasa tidak nyaman dengan penuturannya itu. Apa dia memang sengaja membuatku merasa cemburu. Dia bercerita seolah-olah dia yang paling mengenal Hilya. Ck, apa dia lupa kalau sekarang aku ini suaminya?!.
"Qodarullah, kalian bisa bertemu lagi disini. Untung saja aku sudah menikahinya," kataku dengan nada candaan, namun sebenarnya tujuanku hanya ingin mengaskan padanya bahwa Hilya bukan lagi TTM nya, tapi dia adalah istriku.
Kami berdua tersenyum satire.
"Apa sampean masih mencintainya?" Tanyaku padanya, walau sudah terlihat dari gelagatnya namun aku ingin memastikannya kembali.
"Menurut sampean?" Tanyanya kembali dengan alis yang terangkat.
"Jika dilihat sepertinya sampean masih cinta dengan istriku." Sengaja aku menyebut kata istri agar ia segera sadar bahwa cintanya itu sekarang sudah menjadi haram baginya.
Khalid tak menjawab, ia hanya tersenyim satire.
"Kenapa sampean menolak dijodohkan dengan adikku Mas?"
"Perasaan tidak bisa dipaksakan Lid, aku tidak mau Wafiq menjalani kehidupan rumah tangga dengan laki-laki yang tidak mencintainya."
"Tapi cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu kan Mas gus? Witing trisno jalan songko kulino."
"Semboyan itu tidak berlaku untukku gus. Aku lebih memilih menikah dengan wanita yang aku kehendaki, agar akupun dapat ikhlas menjalani rumah tanggaku nanti. Bukankah lebih indah jika kita menikah dengan orang yang kita cintai dan juga mencintai kita?"
"Iya, sampean memang benar mas," ucap Khalid.
"Tapi semenjak sampean menolak perjodohan itu, Wafiq berubah menjadi pendiam dan cuek, padahal awalnya dia adalah gadis periang." Sambungnya lagi.
"Itu karena hatinya belum ikhlas menerima takdir Allah. Coba kamu nasehati adikmu agar lebih legowo dan nerimo dengan segala sesuatu yang sudah ditakdirkan oleh Allah swt. Ibarat lakon wayang, manusia hanyalah sebagai wayang-Nya. Seharusnya dia tau ilmu itu mengingat ia yang sudah bertahun-tahun belajar di pesantren."
"Itu karena dia terlalu mencinta sampean Mas. Dia suka dengan sampean sudah sejak kecil."
"Tapi aku tidak mencintainya gus. Apakah aku harus mengorbankan perasaanku?"
Ucapku tak terima.
"Sebelumnya aku minta maaf Mas, tapi aku mohon nikahilah adikku. Kasihanilah dia. Sudah banyak lelaki yang datang melamar tapi tak ada satupun yang ia terima. Aku hanya khawatir kalau dia tidak akan pernah mau menikah kecuali dengan sampean Mas." Khalid memohon.
"Apa sampean sudah tidak waras? Aku sudah menikah Lid. Bagaimana bisa aku menikahi adikmu. Apa kamu juga rela kalau adikmu aku nikahi karena belas kasihan?"
"Tidak masalah Mas, aku percaya cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu. Wafiq juga bersedia dimadu katanya, asalkan dia dapat bersama dengan sampean Mas."
Bagai petir menyambar di siang bolong, aku terhenyak dengan penuturan Khalid.
__ADS_1
"Sejak pertama kami mendengar kabar kalau sampean sudah mendapat jodoh dan nikah siri, saat itu Wafiq mengurung diri dan menangis di kamar seharian. Dia juga mengiba kepada Abi dan Umi agar mengantarkan lamaran lagi ke keluarga sampean, ia rela dijadikan istri kedua."
"Nggak! Nggak bisa! Tidak pernah sedikitpun terbesit dalam pikiranku untuk mempunyai niatan berpoligami. Aku juga tidak ingin menyakiti hati istri yang baru saja kunikahi Gus, bahkan kami pun belum meresmikan pernikahan, bagaimana mungkin aku sudah berpikiran untuk berpoligami!" Sulutku.
Khalid terdiam, dia tidak menjawab lagi kata-kataku barusan.
"Ya, sudah. Ayo kembali ke rumah. Semua orang pasti sudah menunggu." Ajakku seraya beranjak dari dudukku dan pergi meninggalkan masjid tanpa menghiraukan Khalid lagi.
Aku benar-benar tidak bisa menerima permintaan Khalid itu, selain itu Hilya pasti juga tidak akan bisa menerimanya. Aku tidak ingin menyianyiakan gadis yang selama ini kuidam-idamkan. Sekarang aku sudah bersamanya, aku tidak akan membiarkan siapapun memisahkan kami kecuali Allah sendiri yang menghendakinya. Walau bagaimanapun manusia tidak akan bisa lari dari takdir Yang Maha Kuasa. Sekeras apapun mencoba, sekuat apapun berusaha, jika sudah Kun fayakun maka terjadilah.
*
Dalam hatiku terbesit pikiran apakah Hilya juga masih mencintai mantannya itu? Jika dilihat dari perkataan Khalid tadi sepertinya dulu mereka sangatlah dekat.
Sebagian orang mengatakan bahwa cinta pertama akan membekas selamanya walau cinta pertama itu bukanlah cinta sejatinya.
Salah satu alasannya yaitu, sensasi intens emosi yang timbul saat jatuh cinta pertama kali, membentuk apa yang disebut “flashbulb memories" alias “kenangan lampu kilat" dalam dunia psikologi, kata ahli psikologi Jay Dixit di Psychology Today. Istilah ini digunakan untuk mengambarkan kenangan-kenangan pertama kita sebagai manusia.
"Meskipun terkenang selamanya, bukan berarti cinta itu tetap bertahta didalam sana kan gus. Sampun lah, gus. Mbonten usah dibahas lagi." Kata Hilya saat kulayangkan pertanyaan apakah dia masih mempunyai perasaan terhadap Khalid.
Meski aku belum percaya seratus persen, tapi aku tetap berusaha berhusnudlon kepadanya.
*
Aku turut mengantar Hilya pergi ke pesantrennya untuk berpamitan kepada Kyainya.
Namun hal itu justru membuatku menyesalinya, seharusnya aku tidak ikut saja jika bakal mengetahui fakta yang membuat dadaku semakin sesak.
"Alhamdulillah pak, jenengan datang kesini. Kebetulan ada hal penting yang ingin saya sampaikan." Kata Kyai Yahya saat kami baru saja dipersilahkan untuk duduk.
"Enten nopo Yi?" Tanya Abah Hilya.
"Begini, ada yang ingin melamar putri jenengan pak, insyaallah anaknya sholeh, alim, cerdas dan ganteng. Dia juga putra Kyai. Namanya gus Khalid, alumni sini juga." Kata Kyai Yahya yang membuat jantungku seperti ingin melompat keluar.
"Pangamputene Kyai. Hilya sampun wonten jodhone," jawab Abah Hilya.
(Maaf Kyai, Hilya sudah ada jodohnya).
"Oalah, sampun wonten. Sayang sekali padahal ini anaknya sangat baik pak. Saya sudah mengenalnya dengan baik saat dia mondok disini. Prestasinya juga baik, sebentar lagi dia akan menempuh pendidikan ke Mesir, tapi sebelumnya katanya dia mau menikah dulu sebelum berangkat."
"Lha tapi katanya mereka berdua sudah saling suka, tinggal menunggu restu jenengan saja begitu." Sambung Kyai Yahya lagi.
"Nopo nggeh Yi? Hilya tidak pernah cerita kalau dia sudah punya pandangan, dia manut-manut saja saat saya jodohkan. Lha ini suaminya," ucap Abah Hilya yang menunjukku dengan isyarat ibu jarinya.
Apakah ini artinya Hilya menerima pinanganku hanya dengan setengah hatinya?
"Suami?" Ujar Kyai Yahya yang nampak terkejut.
"Njeh, mereka sudah nikah siri Yi, tinggal meresmikan saja sebentar lagi," jawab Abah Hilya.
"Masyaallah, sepuntene nggeh kang, kulo tidak tau kalau sampean ini suaminya mbak Hilya. Jenengan tidak bilang dari tadi pak Umar, jadi sungkan kulo kalih mase niki. Pikirku masnya ini kakaknya mbak Hilya. " ujar Kyai Yahya, sepertinya beliau merasa tidak enak hati karena membahas perjodohan Hilya dan Khalid didepanku yang statusku adalah suami dari Hilya.
"Mboten nopo-nopo Yai," jawabku singkat.
"Jadi begini Yai, maksud kedatangan kami kesini yaitu untuk 'mamitne' Hilya Yi. Hilya mau saya ambil lagi pulang ke rumah karena dia akan segera menikah. Terimakasih sudah mau saya titipkan anak saya dan telah membimbingnya dengan baik selama Hilya berada disini." Ujar Abah Hilya.
"Nggeh sami-sami. Insyallah putri jenengan sudah menjadi wanita yang sholihah, semoga dia juga dapat menjadi istri yang sholihah untuk suaminya."
"Aamiin ya robbal 'alamin." Sahutku dan Abah Hilya.
***
Hilya pasti juga sudah mendengar kabar tentang gus Khalid yang ingin menikahinya saat dia datang ke ndalem Ibu Nyainya.
Pikiranku menduga-duga apakah Hilya telah menyesal karena terlambat mengetahuinya dan menyesal karena sudah terlanjur menikah denganku?
Aku teringat akan permintaan gus Khalid kemarin, ia memintaku untuk menikahi adiknya juga walau dia tau aku sudah menikahi Hilya. Apa mungkin maksud tujuannya agar aku dan Hilya berpisah sehingga dia dapat bersama Hilya? Meski aku tetap berhusnudlon tapi prasangka buruk itu tetap memenuhi otakku saat ini.
Aku memendam kecemburuanku dalam kediamanku, dan nampaknya Hilya mengetahui akan hal itu.
"Jangan cemburuan to, Mas!" Protesnya saat aku mengacuhkannya.
Sebenarnya aku tidak marah padanya, aku hanya merasa cemburu dan berprasangka kalau dia juga masih mempunyai perasaan terhadap Khalid.
Aku meluapkan uneg-unegku padanya, menuduhnya kalau dia juga masih mencintai Khalid. Mungkin karena aku terlalu emosional meluapkan kecemburuanku sehingga membuat Hilya menangis tersedu.
Aku menyesal karena telah membuat air matanya jatuh berderai. Hatiku semakin sakit saat melihatnya menangis dihadapanku.
"Sampean masih cinta dengan dia?" Ucapku dengan nada yang bergetar.
Hilya menggeleng pelan, direngkuhnya tubuhku dan ia menangis dalam pelukan.
Bahasa tubuhnya menunjukkan bahwa ia masih ingin bersamaku, walau dari sorot matanya terlihat bahwa masih ada sisa kerinduan untuk Khalid.
"Aku benar-benar tulus mencintaimu Hilya." Kukecup ujung kepalanya dengan penuh kasih.
__ADS_1
Aku sungguh sangat mencintai Hilya, dia adalah cinta pertamaku dan akan menjadi cinta sejatiku, akan kupastikan itu, 'kan ku perjuangkan cintaku ini. Khalid tidak boleh merebutnya dariku begitu saja. Enak saja, aku duluan yang mendapatkan Hilya, dia juga sudah menjadi istriku sekarang.
Aku berniat menikung cintanya di sepertiga malam nanti, agar istriku tidak berpaling dariku, agar cintanya sepenuhnya hanya untukku saja atas izin Allah.
Malam ini aku bangun lebih awal di sepertiga malam. Kutengok istriku yang masih terlelap dalam buaian mimpinya. Kupandangi wajahnya yang ayu nan teduh itu, lalu kecup lembut keningnya, terselip perasaan bersalah karena telah membuatnya menangis sore tadi. Aku sengaja tidak membangunkannya malam ini.
Aku beranjak mengambil air wudlu lalu menunaikan sholat malam. Setelah itu aku duduk bersila menghadap barat sembari memutar tasbih dan membaca wirid seperti biasa yang kubaca.
Namun malam ini aku menambahkan wirid lain yang bertujuan untuk memikat hati istriku, yaitu wirid mahabbah cinta. Salah satunya yaitu surah Yusuf ayat 4.
“Idz qola Yusufu li abihi ya abati inni roaitu ahada ‘asyaro kaukabaw wasy-syamsa wal qomaro roaituhum li HILYA ASSYAFA'AH sajidin."
Kusebut nama Hilya lalu berdo'a kepada Allah swt. agar istriku semakin mencintaiku dan tidak akan berpaling dariku. Kutiup ubun-ubun istriku tanpa menyentuhnya agar wudluku tetap terjaga. Setelah itu aku kembali duduk bersila dan bermunajat kembali.
Perlu digaris bawahi bahwa ilmu mahabbah cinta ini sangat berbeda dengan ilmu pelet. Jangan disamakan keduanya karena sudah jelas sangat berbeda.
Mahabbah cinta ini mendorong kita untuk lebih dekat dengan Allah swt. Bahwa Allah lah satu-satunya tempat kita memohon pertolongan. Karena sesunggunya Allah maha membolak balikkan hati manusia.
Yang kulakukan ini tidaklah salah. Aku memikat hati istriku sendiri demi keutuhan rumah tangga kami. Aku sendiri ingin memperjuangkan cintaku lillahi ta'ala karena ibadah kepada-Nya. Karena aku sendiri yakin bahwa Hilya adalah jodohku.
Keyakinanku semakin kuat saat aku bermimpi melihat bulan yang indah sebelum meminangnya waktu itu.
*
Paginya aku berpamitan kepada istriku pergi ke sekolah karena hari ini ada acara halal bi halal. Aku meninggalkan istriku di rumah orangtuanya karena kupikir setelah acara nanti aku langsung pulang ke rumah mertuaku namun ternyata nanti malam kepala sekolah mengadakan acara makan malam bersama dan mengundang semua dewan guru.
Aku menelpon Hilya untuk memberitahunya bahwa hari ini kemungkinan aku pulang malam.
Sebenarnya ia menyuruhku untuk menginap dirumah orangtuaku saja, namun aku tidak ingin. Mana bisa aku berlama-lam jauh darinya. Beberapa jam berpisah saja sudah membuatku terbayang-bayang akan senyum manisnya.
Ba'da magrib ketika aku hendak berangkat ke acara, kami kedatangan tamu yang tak diundang. Keluarga Khalid.
Kyai Hanafi, Umi Salma, Khalid dan juga Wafiq.
Aku yang akan berangkat ditahan oleh Abah untuk tetap dirumah saja menghormati tamu yang juga masih saudara kami itu. Seketika itu hatiku menjadi khawatir, sempat menduga-duga maksud kedatangan mereka kesini.
*
"Maaf tapi kulo mboten saget," ucapku ketika Kyai Hanafi mengutarakan maksudnya untuk meminta aku menikahi putrinya, meski harus dijadikan istri kedua.
Kulihat Wafiq tertunduk menangis, disandarkan kepalanya dalam dekapan ibunya. Sedangkan tangan ibunya mengusap-usap bahu putrinya itu.
Sebenarnya hati ini tidak tega melihat wanita yang sudah ku anggap sebagai adikku itu menangis seperti itu. Namun mau bagaimana lagi, perasaan tidak bisa dipaksakan.
"Tidak apa-apa kalau sampean belum mencintainya gus, yang terpenting sampean masih bisa menghormatinya sebagai istri nanti," bujuk Umi Salma.
"Pangampuntene Abi, Umi, terutama Wafiq. Kulo mboten tego kalih istri kulo Hilya. Sepuntene."
(Mohon maaf Abi, Umi, terutama Wafiq. Saya tidak tega dengan istri saya Hilya. Maaf).
"Jika istrimu mengizinkan, apakah sampean akan berubah pikiran?" Tanya Kyai Hanafi.
"Sepuntene," jawabku singkat. Aku benar-benar tidak bisa dipaksa.
"Begini saja, bagaimana kalau saya carikan jodoh untuk nduk Wafiq. Saya akan carikan calon suami yang terbaik untuknya." Usul Abahku menengahi.
Wafiq terlihat menggeleng, ia masih menundukkan kepalanya.
"Sebelumnya terimakasih, tapi itu tidak perlu. Tanpa dicari, sudah ada banyak pria baik-baik yang datang melamar Wafiq, namun dia masih berat terhadap gus Abdi." Tutur Kyai Hanafi, membuatku semakin merasa bersalah.
"Sebesar itukah rasa cintamu kepada istrimu Mas Gus?" Khalid angkat bicara.
"Tentu saja. Kami sama-sama saling mencintai dan tidak akan ada yang bisa memisahkan kami kecuali Allah swt," tegasku padanya dengan maksud sedikit menyindir Khalid.
Khalid pun terdiam tak menjawab.
Kyai Hanafi terdengar menghembuskan Nafas kasar lalu berkata, "Ya sudah, kalau tidak mau jangan dipaksa. Wafiq itu anak perempuan, tidak sepantasnya ia mengejar laki-laki." Kyai Hanafi berbicara kepada istrinya.
Umi Salma mengusap pipi anaknya yang basah, mencoba menegarkannya kembali.
"Maaf ya dek, aku sudah menganggapnu sebagai adikku sendiri. Perasaan sayangku hanya sebatas kakak dan adik, tidak lebih. Menikahlah dengan laki-laki lain, aku yakin masih banyak laki-laki yang lebih baik dariku yang bersedia mencintaimu setulus hatinya. Ikhlaskan hatimu," ucapku dengan penuh penyesalan.
"Mereka berdua ini sama-sama keras. Suami istri kalau sifatnya sama-sama keras, kehidupan rumahtangganya tidak akan bisa harmonis, karena salah satu dari mereka tidak ada yang bersedia mengalah," tutur Ibuku, membuatku merasa seperti didukung.
Memang benar, Wafiq memang tipe wanita yang keras kepala begitupun juga denganku. Jika kami disatukan dalam biduk rumahtangga bisa jadi kami tidak akan bisa sejalan.
Berbanding terbalik dengan Hilya, dia istri yang sangat penurut. Saat aku sedang marah, selalu saja dia bisa meluluhkan hatiku. Dia selalu menuruti apapun yang aku minta tanpa membantah sedikitpun.
"Ya, sudah. Kalau memang gus Abdi tidak bisa menerima Wafiq sebagai istrinya. Kami meminta maaf yang sebesar-besarnya karena telah bersikap egois. Mau bagaimana lagi, Wafiq terus saja ngeyel." Ujar Kyai Hanafi sebelum akhirnya mereka berpamitan pulang.
Abah dan Ibu juga meminta maaf kepada mereka atas ketidaksediaanku untuk menerima pinangan mereka.
Hal yang sama terulang kembali, dua tahun lalu ketika aku menolak perjodohanku dengan Wafiq. Bedanya dulu aku tidak langsung didudukkan didepan keluarga Wafiq seperti sekarang ini.
💝💝💝
__ADS_1