
"Assalamu'alaikum, Zakia?"
"Wa'alaikumsalam. Iya?"
"Ini saya kakaknya Wafiq. Apa kamu tau semalam Wafiq pergi kemana dan sama siapa?"
"Semalam? Bukannya habis dari kampus dia langsung pulang Mas? Kemarin kami memang ada kerja kelompok setelah jam kuliah, kami pulangnya sampai jam 8 malam."
"Ouh, begitu ya. Terus Wafiq pulangnya sama siapa?"
"Sendiri, naik taksi online. Memangnya kenapa Mas? Apa terjadi sesuatu dengan Wafiq?"
Deg!! Khalid bingung harus menjawab apa, rasanya tidak mungkin kalau dia harus mengatakan sejujurnya.
"Ee.. anu, tas sama hapenya Wafiq hilang. Wafiq ditanya juga bingung sendiri dianya," kilah Gus Khalid memberi alasan.
"Hilang? Memangnya hilangnya dimana Mas?"
"Ndak tau, makanya ini nanya-nanya kamu siapa tau kamu tau sesuatu."
"Loh, memangnya Wafiq tidak ingat hilangnya dimana?" Tanya Zakia menyelidik, ia pun merasa ada yang janggal dengan perkataan kakak dari sahabatnya itu.
"Emm, tidak ingat katanya."
"Sekarang Wafiqnya dimana Mas? Kenapa bukan dia yang langsung berbicara?"
"Wafiq?" Khalid gelagapan lagi, otaknya berputar mencari alasan dari pertanyaan Zakia.
"Ee.. dia lagi demam tinggi makanya dia suruh saya untuk menelfon kamu." Bohong Gus Khalid lagi.
"Demam? Padahal kemarin dia kelihatan baik-baik saja Mas."
"Iya, semalam tiba-tiba saja dia demam tinggi."
"Apa perlu saya menjenguknya Mas?"
"Eeh.. tidak perlu repot-repot, cuma demam biasa saja kok. Tidak perlu khawatir," ucap Gus Khalid setengah panik. Jangan sampai Zakia datang menjenguk dan melihat keadaan Wafiq yang memprihatinkan seperti sekarang ini.
"Baiklah, kalau begitu sampaikan salan saya untuk Wafiq."
"Iya, insyaallah nanti saya sampaikan. Ya, sudah terimakasih untuk informasinya ya. Assalamu'alaikum." Gus Khalid menutup sambungan teleponnya.
"Taksi online," gumam Gus Khalid sambil berpikir keras mencari jawaban.
"Bagaimana Gus? Apa kata Zakia," tanya Umi Salma.
"Katanya semalam Wafiq pulang naik taksi online Mi."
"Apa mungkin Wafiq dirampok lalu diperk*sa oleh supir taksi online itu?" Celetuk Umi Salma menerka-nerka.
"Apa sebaiknya kita lapor polisi saja agar pelakunya cepat ditemukan?" Kyai Hanafi berujar.
"Polisi?" Sahut Gus Khalid yang tampak sedikit ragu.
"Kalau kita melibatkan polisi, apa itu ndak akan memberi dampak buruk bagi pesantren Bi?" Kata Gus Khalid lagi.
Kyai Hanafi terdiam memikirkan apa yang dikatakan oleh putranya itu.
"Lalu solusi lainnya apa Gus kalau ndak lapor polisi?" Protes Umi Salma. Ia sendiri merasa jika pelaku pemerk*sa itu harus dimasukkan ke penjara agar mendapat hukuman yang seberat-beratnya.
"Adikmu ini juga butuh keadilan Le," lanjut Kyai Hanafi yang sepemikiran dengan Umi Salma.
Kali ini Gus Khalid yang terdiam, ia berpikir keras mencari solusi terbaik untuk masalah yang menimpa keluarganya saat ini.
"Begini saja Abi, Ummi. Biar saya cari sendiri saja dulu pelakunya, nanti jika memang pelakunya sudah ketemu, langsung kita bawa saja ke kantor polisi, beres sudah. Jadi masalah ini tidak perlu melebar kemana-mana," ucap Gus Khalid meyakinkan.
"Memangnya kamu bisa menyelidikinya sendiri Gus?" Tanya Umi Salma meragukan ucapan Gus Khalid.
"Insyaallah Umi, do'akan saja, habis pulang dari sini saya akan pergi ke kampusnya Wafiq untuk mencari rekaman cctvnya, siapa tau ada petunjuk disana," ucap Gus Khalid mantab.
Gus Khalid menatap wajah adiknya yang seperti tak ada sinar disana. Mendung.
__ADS_1
Ia benar-benar tak menyangka jika adiknya akan mengalami hal seburuk ini. Mungkinkah ini murni perampokan atau memang ada yang sengaja mengincar Wafiq?
"Gus, urus dulu administrasinya, habis ini kita bawa Wafiq pulang," titah Kyai Hanafi.
"Baik Bi." Gus Khalid mengangguk dan segera beranjak meninggalkan ruangan pasien.
Setelah selesai mengurus segalanya, mereka membawa Ning Wafiq pulang dengan keadaan yang masih sama, diam dan tatapannya kosong. Matanya hanya berkedip, sesekali mengeluarkan air mata tanpa isakan.
π·π·π·
Sesaat setelah keluarga Ning Wafiq sampai dirumah, Gus Abdi berta istri dan kedua orangtuanya pun telah sampai juga.
Ibu Nyai Maryam langsung menghambur melihat keadaan Ning Wafiq yang mematung, sadar apa yang terjadi Ibu Nyai Maryam langsung memeluk Umi Salma yang seketika membuat Umi Salma berair mata lagi.
"Sabar ya Dik, ini ujian." Ibu Nyai Maryam berusaha menguatkan saudarinya itu.
Hilya mendekat menghampiri Ning Wafiq dan duduk disampingnya, ia sendiri juga sangat prihatin dengan keadaan gadis yang dulu sempat menjadi rivalnya itu. Hilya pun tak bisa membayangkan jika ia berada di posisi Ning Wafiq.
"Mau kemana Gus?" Tanya Kyai Hanafi kepada putranya ketika melihat Gus Khalid meraih kunci mobil yang digantung dekat meja TV.
"Ke kampusnya Wafiq Bi, barangkali ada petunjuk disana. Rencananya saya mau ngecek cctvnya." Gus Khalid meraih tangan Abinya lalu menciumnya takzim.
"Ajak saja Gus Abdi, barangkali dia bisa bantu. Dia sedang ada di kamarnya Wafiq bersama yang lainnya."
"Ndak perlu Bi, Khalid sendiri saja, assalamu'alaikum." Gus Khalid tak mengindahkan saran dari Abinya lantas langsung pergi dengan tergesa-gesa.
*
Mobil putih yang dikendarai Gus Khalid perlahan berjalan memasuki gerbang yang diatasnya terdapat tugu bertuliskan UNIVERSITAS ISLAM DIPONEGORO.
Setelah memarkirkan mobilnya diantara deretan parikiran khusus mobil, Gus Khalid berjalan menuju POS Satpam.
"Assalamu'alaikum pak," sapa Gus Khalid kepada lelaki berseragam hitam yang tengah duduk santai sambil membaca koran di depan POS.
"Wa'alaikumsalam." Satpam itu menurunkan korannya dan mengangguk ramah kepada Gus Khalid.
"Maaf, apakah saya bisa meminta bantuan bapak?"
"Ada apa ya, Mas?" Tanya satpam itu serius.
"Memangnya ada apa Mas?"
"Adik saya semalam dirampok orang pak."
"Oh, baiklah kalau begitu, mari saya antar." Mendengar alasan Gus Khalid, satpam itu langsung berdiri dan membimbing Gus Khalid agar mengikuti langkahnya.
Sesampainya disebuah ruangan di lantai paling atas, satpam itu memberitahu seorang pria yang bertugas menjadi operator bahwa pria yang sedang bersamanya ingin melihat rekaman cctv. Setelah mendapat izin akhirnya Gus Khalid dipersilahkan untuk melihat rekamannya.
"Rekaman tanggal berapa Mas?" Tanya pria yang sepertinya seumuran dengan Gus Khalid.
"Tadi malam Mas, sekitar jam depalanan."
Pria itu pun terlihat mengutak-atik komputernya.
"Ini Mas," ujar operator itu setelah memutar video yang diinginkan Gus Khalid.
Dengan seksama Gus Khalid memperhatikan video tersebut, barang sedetikpun takΒ terliwatkan dari pengawasan mata Gus Khalid
Mata Gus Khalid membulat kala ia melihat seorang gadis yang tengah berdiri di depan gerbang kampus yang tak lain adalah Ning Wafiq, dilihat dari bajunya yang sama dengan yang dipakai adiknya itu semalam.
Menit selanjutnya datanglah sebuah mobil silver yang berhenti tepat didepan Ning Wafiq berdiri, lalu setelah itu Ning Wafiq terlihat masuk ke dalam mobil tersebut.
Ia tak bisa melihat wajah si sopir taxi, tapi setidaknya plat nomor mobilnya terekam jelas disana.
"Bisa dikirim ke Hp saya pak?" Tanya Gus Khalid.
"Bisa Mas."
Setidaknya sudah ada secercah harapan bagi Gus Khalid untuk memperjuangkan sang adik saat ini.
π·π·π·
__ADS_1
Suara Adzan menggema di seluruh penjuru Pondok Pesantren Al-Falah seiring cahaya sang surya yang mulai condong dari arah barat. Setiap santri baik putra maupun putri yang mulanya sibuk berkutat dengan kegiatan masing-masing kini berbondong-bondong menuju kamar mandi untuk bersiap-siap melaksanakan ibadah wajibnya.
Namun, sore itu ada yang berbeda dari hari yang biasanya. Entah mengapa kang santri yang biasanya ajeg menjadi muadzin tiap waktu ashar tiba, kali ini sepertinya digantikan oleh orang lain.
Kang santri itu nampaknya hari ini suasana hatinya sedang gundah, ia meringkuk di pojokan kamarnya yang gelap lantaran jendela dan pintunya ia tutup rapat-rapat.
Ditangannya terdapat sebuah surat undangan berwarna biru muda berkombinasi putih yang mana diatasnya tercantum dua buah nama,
Indriana Citra Saraswati
Binti Bahri Hadiwijaya
dengan
Muhammad Irham Fanani
Bin KH. Hambali Abdul Karim
Sebuah undangan yang seketika membuat hatinya retak. Perih bagai tersayat belati.
Indriana, gadis yang kurang lebih selama setahun ini mengisi relung hatinya yang t'lah lama kosong, tiba-tiba mengirimkan sebuah undangan yang seharusnya ada nama dirinya disana tapi malah nama pria yang yang ada.
Dan satu hal lagi kenyataan yang membuat Ia semakin tersiksa yaitu, pria yang akan menikah dengan Indri adalah Gus Fanani, putra Kyai dimana ia sedang nyantri saat ini.
Bagaimana mereka bisa berjodoh? Sedangkan mereka berada di pesantren yang berbeda.
"Kang Azam?"
Seorang santri tiba-tiba masuk kedalam kamar Azam. Melihat Azam yang berdiam diri di sudut kamar, santri itu menghampirinya.
"Masih betah saja dari siang tadi duduk sendirian di pojokan, nanti dirasukin jin lho!" Goda santri itu.
"Terimakasih ya, sudah gantiin adzan." Azam berujar dengan datar. Ia mendongak sebentar lalu tertunduk lagi.
"Sudahlah, masih banyak mbak-mbak pondok yang ada disini, jangan khawatir!" Santri yang bernama Kang Faiz itu pun berjongkok dan menepuk-nepuk bahu Azam pelan.
"Gampang kalau cuma ngomong, kamu mungkin ndak pernah merasakan gimana rasanya ditinggal pas lagi sayang-sayangnya."
"Memang rasanya gimana? Asem, kecut, apa pahit?" Canda Kang Faiz yang sama sekali tidak terdengar lucu di telinga Azam.
Azam hanya melirik dengan tatapan sinis.
Kang Faiz berdehem, salah tingkah karena mendapat tatapan tajam dari Azam.
"Eh, Kang. Kalau nanti mereka sudah menikah berarti pacar Kang Azam itu nanti bakal tinggal disini dong?"
"Itu yang jadi masalahnya Kang, apa aku boyong saja ya, dari sini."
"Boyong? Bukannya kamu pernah bilang kalau Abah Kyai tidak akan mengizinkan kamu boyong kecuali dengan alasan mau nikah?"
Mendengar ucapan temannya itu, raut wajah Azam kembali lesu. Memang benar apa yang dikatakan Kang Faiz. Dulu Azam sempat berpamitan kepada Kyainya untuk boyong, namun dicegah dengan alasan pesantren masih membutuhkannya untuk menjadi tenaga pengajar. Azam boleh boyong jika nanti sudah mendapatkan jodoh.
"Salah kamu sendiri, kalau memang cinta itu mbok ya langsung dilamar."
"Bulan kemaren memang sudah mau aku lamar Kang, tapi dia bilang dia sudah mau dijodohkan dan dia tidak bisa menolaknya," ucap Azam melemah. Matanya kembali berembun.
"Ya, aku sadar status antara aku dan Gus Fanani memang berbeda jauh, bagai langit dan bumi. Tentu saja Indri lebih memilih dia." Azam melempar kertas undangan di tangannya dengan asal.
Kang Faiz ikut terdiam, diusapnya bahu Azam. Ia faham apa yang tengah dirasakan oleh temannya itu.
Azam teringat kembali akan pertama kali saat ia bertemu dengan Indri.
Waktu itu di acara pernikahan Hilya, adik Azam. Azam yang kala itu nyelonong masuk kedalam kamar adiknya tak tau jika ada orang lain di dalam sana, dan saat itu Indri sedang sendirian tengah meyisir rambut hitamnya yang terurai panjang, membuat Azam terkejut sekaligus terpesona.
Hilya yang mengetahui gelagat kakaknya itu ahirnya berusaha mendekatkan keduanya.
Namun karena keduanya masih sama-sama hidup di pesantren, kesempatan mereka untuk saling menyapa lewat dunia maya pun terbatasi karena keterbatasan kesempatan memegang ponsel. Hanya pada hari jum'at saja mereka bisa saling bertukar kabar, itupun kalau Azam tidak sedang sibuk.
"Sudah, sholat saja dulu sana. Jangan sampai hanya karena patah hati membuat kamu jadi kafir," ucap Kang Faiz mengingatkan.
Kang Faiz berdiri lalu berjalan menuju lokernya, mengambil sebuah kitab besar nan tebal.
__ADS_1
"Ya sudah, tak tinggal dulu ya. Sudah waktunya ngaji Ihya'," ucap Kang Faiz lagi sebelum akhirnya ia keluar dari kamar.
Azam menatap kembali kertas undangan yang ia lempar tadi, ia mengusap wajahnya kasar lalu segera bangkit dari duduknya dan beranjak keluar dari kamarnya untuk menunaikan kewajibannya sebagai muslim. Ia memutuskan untuk bolos kegiatan ngaji dulu hari ini, kesedihannya benar-benar membuat ia malas untuk melakukan apapun.