GUS IDOLA

GUS IDOLA
Kabar mengejutkan


__ADS_3

"Aku juga mencintaimu Kang."


Kata-kata itu masih terngiang di telinga Azam, hanya saja sekarang terdengar begitu menyakitkan, tidak seperti dulu yang terdengar bagai nyanyian sebelum tidur, menenangkan.


Azam merutuki dirinya sendiri, salahnya karena terlalu lama menggantung status antara dirinya dan Indri. Bukan tanpa alasan, melainkan Azam sendiri tengah memantabkan hatinya sebelum melanjutkan ke jenjang yang lebih serius. Bagi Azam, pernikahan harusnya sekali dalam seumur hidup.


Bulan lalu, Azam sudah berniat untuk mengikat hubungan mereka. Namun ia sedikit terlambat, baru saja akan mengutarakan maksudnya Indri sudah memberi kabar bahwa ia telah dilamar anak seorang Kyai, tapi bukan dari pesantrennya, melainkan putra Kyai dari pesantren Al-Falah, tempat dimana Azam menimba ilmu selama kurang lebih sepuluh tahun lamanya.


Indri pun tak bisa menolak karena kedua orangtuanya pun sudah mengatakan "Iya" tanpa bertanya dulu padanya.


Egois memang, namun Indri tak kuasa menolak karena ia takut pada Ayahnya.


Ayah Indri adalah seorang lelaki yang keras dan tipe orangtua yang tidak mau dibantah, semua harus menuruti keinginannya. Termasuk tinggal di pesantren, itu juga merupakan paksaan dari Ayah Indri.


"Salah sampean Kang, kenapa ndak dari dulu ngelamar! Kalau sudah seperti gimana? Aku tidak bisa menolak, aku juga tidak mencintai Gus itu."


Sambil menangis, Indri meluapkan kekesalannya ketika mereka berdua berbicara lewat telepon.


"Maaf, karena aku datang terlambat, tapi apakah perjodohan ini tidak bisa dinegosiasi lagi? Kamu juga berhak menolaknya kan, karena yang bakal menjalani kehidupan rumah tangga nantinya itu kamu, bukan orangtuamu."


Azam masih bersikukuh membujuk Indri agar mundur dalam perjodohannya.


"Tidak bisa. Karena jika aku menolak, Ayahku mengancam bahwa dia tidak akan mau lagi mencampuri kehidupanku setelah ini."


Azam tak bisa berbuat apa-apa lagi, apa lagi lelaki yang 'merebut' kekasihnya itu adalah putra dari Kyainya. Jika ia takdzim dengan gurunya, maka ia juga harus takdzim dengan dzurriyah gurunya itu.


Penyesalan tinggallah penyesalan, semua sudah berjalan sebagaimana mestinya. Bukankah Allah adalah sebaik-baiknya pembuat rencana? Lalu apakah sebagai manusia kita akan protes jika mendapat takdir yang tak sesuai harapan kita? Padahal Allah lah yang Maha mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk.


Baik dimata manusia belum tentu baik di mata Allah, begitupun juga sebaliknya.


Setidaknya hal itulah yang membuat Azam mencoba berdamai dengan keadaan.


"Bismillah Ikhlas." Azam mencoba menguatkan hatinya.


*


Gus Fanani yang merupakan keponakan dari Kyai Yahya, yang tak lain adalah Kyainya Indri. Saat itu ketika Gus Fanani dan keluarga sedang berkunjung di ndalem pesantren Roudlotul Jannah, pesantren Kyai Yahya, Gus Fanani yang saat itu masuk ke dapur untuk mengambil gelas melihat seorang santri disana, pasti santri itu adalah abdi ndalem, pikir Gus Fanani.

__ADS_1


"Mbak, tolong ambilkan gelas." Panggil Gus Fanani dari ambang pintu dapur.


Santri yang tak lain itu adalah Indri, menoleh sekilas kearah sumber suara, lalu ia berjalan mendekati rak untuk mengambil gelas sesuai yang diminta Gus Fanani dan langsung memberikannya kepada lelaki yang berdiri di ambang pintu itu.


Ujung jari Gus Fanani yang tak sengaja menyentuh jemari Indri, reflek membuat Indri segera melepas gelas yang ia pegang. Beruntung gelas itu sudah ada di dalam genggamannya Gus Fanani jadi tidak sampai terjatuh, hanya hampir merosot.


Hal tersebut membuat Gus Fanani tersentak, dan seketika menatap gadis yang hampir menjatuhkan gelas itu di depannya. Ia terkesima akan ketaatan gadis itu, terlihat dari reaksinya yang tak sengaja tangan mereka bersentuhan, kelihatan sekali jika Indri adalah gadis yang benar-benar menjaga marwahnya.


Gus Fanani jatuh hati pada pandangan pertama.


***


"Nduk, tadi ada yang ngantar undangan katanya buat kamu." Ibu Nyai Maryam menyodorkan sebuah kertas undangan berwarna biru muda kombinasi putih. Hilya menerimanya dengan kedua tangannya.


"Terimakasih Bu."


Hilya memutar kertas tersebut demi membaca nama yang tertera. Betapa Hilya terkejutnya saat mendapati nama Indriana Citra Saraswati dan nama mempelai lelakinya terlihat asing bagi Hilya.


"Apa itu Indri yang dulu sempat ngaji disini sama kamu Nduk?"


"Njeh," jawab Hilya dengan mimik muka yang masih shock.


"Alhamdulillah. Tapi kenapa ekspresi kamu seperti orang kaget campur bingung begitu Nduk?" Ucap Ibu Nyai keheranan, bukannya bahagia Hilya malah seperti orang bingung mendapat surat undangan pernikahan dari sahabatnya.


"Ah, ndak apa-apa kok Bu, kaget aja soalnya Indri sendiri ndak pernah cerita kalau sudah punya calon, eh..tiba-tiba ngirim surat undangan."


"Barangkali mau kasih kejutan," timpal Ibu Nyai sebelum berlalu meninggalkan Hilya yang masih berdiri mematung memandangi kertas undangan di tangannya, ia masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Mas Azam," gumamnya lirih.


Hilya segera beranjak menuju kamarnya, ia teringat akan ponselnya, buru-buru ia segera ingin menghubungi seseorang.


"Aku harus memastikannya lebih dulu, siapa tau ada kesalahan," batin Hilya gusar.


Terdengar ada sambung panggilan ke nomor yang dituju Hilya, harap-harap cemas ia menanti teleponnya diangkat.


"Assalamu'alaikum." suara seorang wanita dari seberang telepon.

__ADS_1


"Wa'alaikumsallam! Indri..!! Apa ini..!! Bener yang ngirim undangan ini kamu?!" Cecar Hilya pada Indri dari seberang telepon.


"Iya," jawab Indri lirih.


"Kok kamu ndak pernah cerita sih kalau nau nikah? Kirain kamu sama Mas Azam..." ucapan Hilya menggantung, ia sendiri ragu untuk melanjutkannya.


Tak lama setelah itu terdengar suara isakan dari seberang telepon.


"Indri? Kamu nangis?" Tanya Hilya agak cemas.


"Aku dijodohin Hil, aku gak bisa nolak," ucap Indri di sela-sela isakan tangisnya.


"Dijodohin?"


"Iya, dan parahnya lagi lelaki yang akan nikah sama aku itu adalah Gus-nya Mas Azam, Gus dari pesantren Al-Falah."


"Ha?!" Hilya terkejut dengan apa yang didengarnya. Buru-buru ia membaca ulang kertas undangan yang sedari tadi masih berada dalam genggamannya. Hilya baru menyadari bahwa mempelai pria adalah putra dari Kyai Hambali, pengasuh pesantren Al-Falah tempat dimana kakaknya mondok.


"Kok bisa?" Kata Hilya lagi masih tidak menyangka. Bagaimana bisa dunia sesempit ini. Dari banyak lelaki di dunia ini kenapa harus Gus Fanani yang menjadi jodoh Indri, lelaki yang mempunyai hubungan dekat dengan kakaknya, Azam. Yang Hilya tau selama ini Azam lumayan dekat dengan Gus Fanani lantaran Azam sendiri sudah dianggap sebagai anak oleh Ayahanda dari Gus Fanani, Kyai Hambali.


"Aku nggak tau Hil, tiba-tiba dijodohin gitu aja." Tangis Indri semakin menjadi.


"Apa Mas Azam sudah tau kabar ini?" Tanya Hilya hati-hati.


"Sudah..! Aku sengaja kirim dia undangan. Biar saja, salah dia sendiri kenapa nggak lamar aku dari dulu. Giliran aku sudah dilamar orang dianya mau ngelamar!" Ucap Indri agak kesal. Diusapnya kasar linangan air mata yang membasahi pipinya.


Hilya mendengkus, mendengar penuturan Indri, Hilya ikut merasa kecewa dengan kakaknya sendiri. Sudah berkali-kali Hilya mengingatkan Azam untuk segera melamar Indri, namun jawaban Azam hanya nanti-nanti. Dan sekarang, Indri sudah terlanjur menjadi milik orang lain. Dia tidak bisa melakukan apa-apa lagi untuk menyatukan antara kakak dan sahabatnya itu. Menyesal sudah pasti, namun semua itu sudah tiada berguna lagi.


"Maafin Masku ya," ucap Hilya dengan raut kesedihan.


"Hil, apa mungkin nanti saat aku sudah jadi menantu di pesantre Al-Falah bakal sering ketemu sama Mas Azam? Kalau iya, aku gak bakalan sanggup kayaknya Hil." Tangis Indri pecah lagi membayangkan hal yang diucapkannya tadi. Bagaimana mungkin ia akan sanggup jika nanti akan sering bertemu dengan orang yang ia cintai sedangkan statusnya sendiri sudah menjadi istri oranglain. Apakah sanggup Indri menahan perasaanya nanti?


"Ya mana aku tau Ndri, tapi sepertinya kemungkinan itu ada," ucap Hilya menimpali, membuat Indri semakin merasa sedih.


Indri terhenyak ketika mendengar ketukan pintu dari luar kamarnya, segera ia berpamitan pada Hilya dan memutuskan sambungan telepon.


Diusapnya wajahnya agar jejak air matanya ta terlihat lagi. Ayah Indri tidak akan suka jika melihat ia menangis karena perjodohan ini.

__ADS_1


__ADS_2