
GUS IDOLA
Part 19
Pagi ini gus Abdi mengajakku untuk pulang ke rumahnya dengan alasan dia tidak membawa baju ganti semalam. Selain itu ia juga ingin mengajakku menginap disana dengan status baruku sebagai menantu bagi Kyai Dzulqurnain dan juga Ibu Nyai Maryam.
Sebelum berangkat aku menyiapkan beberapa baju ganti dan kutata dalam ransel.
Setelah sarapan kami berangkat diantar oleh mas Azam dengan mengendarai mobil.
Sekitar satu jam perjalanan tibalah mobil kami dipelataran pesantren putra. Setelah memarkir mobil, kami bertiga turun dan berjalan menuju ndalem.
Suasana pesantren terlihat lengang karena masih dalam suasana liburan hari raya. Hampir keseluruhan santri pulang ke kampung halaman masing-masing. Hanya ada beberapa saja yang tinggal karena rumah mereka ada di luar pulau jawa.
Nampak ada beberapa motor yang terparkir di halaman pesantren, sepertinya milik para tamu yang bersilaturahmi ke ndalem.
Aku mengajak gus Abdi untuk lewat ndalem putri saja sedangkan mas Azam memilih untuk langsung masuk lewat ndalem putra.
Setibanya di ruang tamu putri kami mengucap salam, disana sudah ada tiga orang ibu muda dan anak-anak kecil. Aku turut menyalami mereka setelah menyalami Ibu Nyai Maryam.
"Mantu kulo niki," ucap ibu Nyai yang memperkenalkanku kepada para tamu. Aku menebar senyum kepada mereka.
"Kok mboten mireng lak gadah damel bu?" Ucap salah seorang dari mereka.
(Kok tidak ada kabar kalau ngunduh mantu bu?)
"Resepsinya masih dua minggu lagi mbak. Tadi malam acara lamarannya, gus Abdi minta diijabkan siri sekalian." Ibu Nyai melirik kami dengan senyumnya.
Para tamu itu manggut-manggut sembari tersenyum menanggapinya.
Gus Abdi pun mengajakku ke kamarnya setelah pamit undur diri kepada para tamu.
Aku terpesona melihat kamar gus Abdi, wangi dan sangat rapi bahkan lebih rapi dari kamarku. Dinding bercat warna hijau muda dengan beberapa hiasan kaligrafi dan juga jam dinding. Ada sebuah meja yang letaknya tepat dibawa jendela, diatas meja tersebut dipenuhi buku-buku tebal yang tertata rapi. Sedangkan disisi jendela terdapat sebuah rak berisi berbagai macam kitab.
"Kulo nemuin tamu di ndalem putra dulu nggih. Sampean istirahat saja disini."
Ujar gus Abdi yang masih berdiri diambang pintu.
"Nggeh."
Ia pun keluar dan menutup pintu.
Aku meletakkan ranselku diatas kasur lalu duduk. Kukeluarkan ponselku dari dalam saku dan mengaktifkannya. Baru saja kuaktifkan ada dua buah pesan WA masuk dari mas Reza.
"Untuk apa dia menghubungiku lagi? Tak puaskah dia menyakitiku waktu itu." Gerutuku dalam hati memandang penuh kebencian pada tulisan namanya yang tercantum dilayar ponsel.
Aku lantas membuka dan membaca isi pesannya.
[Aku dengar kamu sudah melakukan ijab qobul dengan anak Kyai itu. Selamat ya!]
[Meskipun kamu sudah menjadi istri orang lain, aku tetap mencintaimu Hilya. Cintaku tumbuh sudah bertahun-tahun lamanya dan tidak akan mudah untuk menghilangkannya begitu saja.]
Dadaku bergemuruh setelah membaca isi pesan dari pria tak berakhlaq itu. Bukannya meminta maaf dia malah mengatakan hal yang tidak sepantasnya ia katakan pada wanita yang sudah bersuami.
Aku benar-benar membencinya saat ini. Ku blokir saja nomornya agar tidak menimbulkan masalah antara aku dan suamiku nantinya.
Aku menghembuskan napas kasar lalu beranjak ke kamar mandi yang letaknya juga ada didalam kamar ini. Aku mengambil air wudlu untuk melaksanakan sholat dhuha agar segera reda hawa panas yang ada didalam dadaku ini.
____________________________
"Mbak Rana, Ika?"
Kedua gadis itu menoleh saat aku menyebut namanya.
"Mbak Hilya..!" Ika menghambur memelukku dengan manja meninggalkan cucian piringnya di wastafel.
Dia memang gadis remaja yang 'endel'.
"Ciyeee.. yang udah jadi mantunya ibu Nyai." Mbak Rana turut menghampiriku dan menyalamiku serta cipika cipiki.
"Kok dah pada tau sih, mbak?" Tanyaku heran.
"Ya, iya dong mbak Hil. Berita sebesar ini pasti bakal cepet nyebar. Mbak Shima yang heboh di grub WA. Kemaren mbak Shima dan mbak Rahma kan, yang jaga piket ndalem. Ikut bantuin juga persiapan lamarannya gus Abdi." Celoteh Ika dengan antusias.
"Tau nggak sih, mbak. Kemaren itu jadi hari patah hati nasional se-ponpes Al-Kautsar loh." Timpal mbak Rana sambil meremas jemariku dengan gemasnya.
"Ya Allah mbak..kita semua sampai heran loh. Kok bisa sih, sampean bisa sampai dilamar guse? Padahal kan sampean pendatang di pesatren ini." Ujar mbak Rana lagi.
"Ceritanya panjang mbak, sebenarnya aku dan guse sudah saling kenal sebelum aku datang kesini." Jawabku agak malu-malu. Mereka nampak terkejut mendengarnya.
Aku menggiring mereka berdua untuk duduk di kursi dapur belakang. Mumpung ibu Nyai sedang ada tamu, aku akan mengobrol dengan mbak Rana dan Ika sebentar dan menceritakan bagaimana perkenalanku dengan gus Abdi hingga pria tampan bermata talup itu datang melamarku, agar rasa penasaran mereka segera terbayarkan. Meski aku tau akan ada rasa iri dalam hati mereka mengingat bagaimana tingkah mereka dulu saat melihat gus Abdi datang ke pondok putri.
__ADS_1
"Beruntung banget ya, sampean mbak. Coba aja aku yang jadi sampean. Haha."
"Berarti gus Abdi jatuh cinta pada pandangan pertama itu mbak. Padahal yang aku denger nih, ya. Gus Abdi itu dah banyak yang mengkhitbah tapi gak ada satu pun yang diterima sama guse. Sedangkan sampean malah dilamar sendiri sama guse. Beruntungnya.." ucap mbak Rana dengan sorot mata yang berbinar.
"Alhamdulillah, namanya juga jodoh mbak." Jawabku tersipu malu.
"Gimana rasanya mbak?" Tanya Ika dengan alisnya yang naik turun.
"Apa?"
"Katanya kan, sampean sudah nikah siri sama guse, berarti semalam pasti sudah satu kamar kan, sama guse. Hihihi." Ucap Ika sembari cekikikan.
"Hush..!! Anak kecil ojok tanya macem-macem!." Mbak Rana menyikut lengan Ika dengan mata yang melotot. Aku menutup mulutku menahan tawa.
Tak lama kemudian terdengar suara dari dapur depan, kami bertiga gelagapan segera menghambur ke dapur depan. Benar saja, ada ibu Nyai sedang masuk dapur membawa nampan berisi gelas-gelas kosong. Mbak Rana segera mendekat dan mengambil alih nampan tersebut dari tangan ibu Nyai. Sedangkan Ika melanjutkan tugas mencuci piringnya yang sempat terbengkalai gara-gara aku tadi.
"Nduk Hilya, tadi dicariin Abdi." Ujar ibu Nyai.
"Njih bu." Aku pun beranjak dari dapur masuk kedalam rumah.
Kujumpai gus Abdi didalam kamar, ternyata ia sedang sholat dhuha.
Aku duduk dibangku kayu yang ada didepan meja tempat buku-buku itu untuk menunggunya sampai selesai sholat.
Tak lama kemudian ia pun selesai.
"Dek." Ucapnya setelah menoleh ke arahku.
"Tirose ibuk jenengan wau madosi kulo?"
(kata ibuk kamu tadi mencari saya).
"Iya. Kirain kemana kok gak ada di kamar." Gus Abdi melipat sajadahnya dan meletakkannya diatas rak kecil samping tempat tidur.
"Tadi di dapur ngobrol sama mbak-mbak."
"Owh.. oh, ya. Tadi mas Azam sudah pulang, dia titip salam untuk sampean 'assalamu'alaikum'."
"Wa'alaikumsalam." Jawabku.
Gus Abdi melepas kopiahnya lalu duduk di bibir ranjang sembari menyunggar rambut bagian depannya.
Sebuah pemandangan yang jarang terlihat. Ia nampak masih seperti pria remaja saat tak memakai kopiahnya. Rambut depannya menyembul menutupi sebagian keningnya menaikkan derajat ketampanannya. Namun tetap saja, aku lebih menyukai saat ia memakai kopiah. Layaknya seorang raja yang memakai mahkota, ia lebih berwibawa dengan memakai kopiahnya.
Spontan aku mengalihkan pandangan dan mengulum senyum tanpa menjawab pertanyaannya. Malu kepergok menatapnya karena terpesona.
"Emm.. jenengan ternyata hobi baca to." Kataku sambil mengambil salah satu buku diatas meja samping tempat aku duduk. Tapi yang sebenarnya aku sedang mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Sekedar buat ngisi waktu luang saja atau pas lagi bosan."
"Sampean suka baca apa ndak?" Tanyanya.
"Suka, tapi lebih suka baca novel." Jawabku sambil menyunggingkan senyum.
"Ndak apa-apa. Novel kadang juga mengandung hikmah didalamnya."
"Emm, gus. Hari ini acaranya ngapain?" Aku meletakkan kembali buku yang kupengang.
"Di kamar aja. Berduaan kalih sampean."
"Ha?" Aku tersentak.
"Haha.. guyon dek. Gitu ae wes grogi. Kalau sampean mau jalan-jalan ayo! Seharianpun aku mau asalkan berdua terus."
Aku tersipu mendengar ucapannya.
"Tapi dihari raya seperti ini mau jalan-jalan kemana gus?"
Sejenak gus Abdi terdiam. Nampak memikirkan sesuatu.
"Gak jauh dari sini ada taman yang dibangun di pinggir kanal, bagus tempatnya. Mau kesana?"
"Nggeh pun. Sekarang?" Aku berdiri. Ia pun mengangguk.
Sekitar sepuluh menitan kami sampai di tempat yang di tuju. Baru saja keluar dari mobil aku sudah disuguhkan pemandangan yang asri dan udara yang sejuk. Di pinggiran kanal berjejer pohon-pohon palem yang batangnya di cat dengan warna warni. Gemuruh suara arus kanal menambah kesan kedamaian saat berada ditempat ini.
Ada beberapa anak remaja yang sedang berswafoto dengan teman-temannya, ada juga anak kecil yang duduk diayunan diayunkan oleh ayahnya sedangkan si ibu duduk memandang di bangku yang tak jauh sembari tersenyum bahagia. Ada juga sepasang muda mudi yang duduk berdua dibangku taman dengan mesranya.
Aku baru ingat dulu sewaktu masih SMP sempat main kesini bersama teman-temanku naik sepeda. Dulu belum sebagus ini kondisinya, masih asli tanpa sentuhan tangan manusia. Kendati demikian, saat itu sudah menjadi hiburan tersendiri bagi kami. Naik sepeda ramai-ramai bersama sahabat meskipun jauh dan melelahkan, sesampainya disini kami berfoto dengan menggunakan ponsel jadul yang masih ngetren pada zamannya. Sesimple itu kebahagiaan kami dulu.
Melihat ayunan besi yang kosong, aku segera melangkah menuju ayunan tersebut dan mendudukinya. Gus Abdi berpamitan untuk membeli camilan di mini market sebrang jalan.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian suamiku itu sudah kembali dengan membawa sekantong kresek camilan dan juga dua buah ice cream cone serta satu botol air mineral.
Ia duduk disampingku lalu membukakan bungkus ice cream dan memberikannya untukku.
"Gus."
"Hm?" Ia menoleh dengan masih menikmati ice creamnya.
"Dulu jenengan pernah pacaran tidak?"
Dia terseyum dan menggeleng.
"Sejak lulus SD sudah dikurung didalam penjara suci, mana bisa pacaran seperti sekarang ini." Jawab gus Abdi.
Ada rasa bangga dalam diriku, berarti aku adalah kekasih pertamanya.
"Bisa saja kan gus, pas liburan kenalan sama cewek terus pacaran."
"Mboten, dari dulu aku ndak pernah tertarik untuk pacaran. Buang-buang waktu, mending langsung nikah." Jawabnya melirikku sembari mengulas senyum.
"Hemm.. tapi pasti pernah kan, ada rasa suka sama seseorang?"
"Pernah."
"Siapa?" Tanyaku penasaran. Ada sedikit rasa kecewa dalam hati.
"Sampean." Lagi-lagi dia mengulas senyum manisnya.
"Sebelumnya?" Tanyaku lagi.
Dia menggeser posisi tubuhnya agar berhadapan langsung denganku.
"Kulo ndak pernah jatuh cinta sampai akhirnya ketemu sampean dek," ucapnya dengan sorot mata yang tajam seakan mengunci gerakanku. Aku terpaku dengan tatapan bola mata hitamnya yang indah.
Akhirnya ia pun membuang muka dan segera menunduk, dari samping dapat kulihat seulas senyum tertahan di bibirnya.
"Ehem..berarti kulo cinta pertamanya jenengan gus?" Tanyaku mengintip wajahnya yang masih tertunduk.
Ia menoleh dan menyunggingkan senyum manisnya pertanda 'ya'.
"Kalau sampean bagaimana? Kulo termasuk urutan ke berapa?"
"Hem?"
Kenapa dia malah menanyakan hal itu?
"Aah.. mboten penting," ucapku sembari mengibaskan tangan.
"Niku cuma masalalu. Ndak perlu dibahas kan, gus."
"Siapa? Tetangga yang melamar waktu itu?"
"Kok mas Reza sih. Bukan gus. Ya.. dulu sewaktu masih sekolah MA pernah naksir dan ditaksir kakak kelas."
"Hmm.."
"Tapi mboten pacaran kok gus. Cuma sms an, telfonan juga kadang sembunyi- sembunyi karena dari dulu kulo selalu di wanti-wanti kalih ibuk ndak boleh pacaran sebelum waktunya nikah." Ucapku menjelaskan, khawatir kalau suamiku merasa cemburu.
Gus Abdi mendekatkan wajahnya ke wajahku dan berkata,
"Berarti kulo pacar pertamanya sampean?"
Aku mengangguk pelan, dapat kurasakan hembusan nafasnya menyentuh wajahku. Seketika jantungku berdegub kencang.
"Gus."
"Hem?"
"Malu dilihat orang."
Ia tersenyum dan menundurkan wajahnya. Seketika aku menghembuskan napas lega.
"Bermesraan dengan pacar halal nggak melanggar norma agama kan, kenapa harus malu." Ujarnya sambil mengunyah es krimnya yang hampir meleleh seperti hatiku saat ini.
"Tapi kan, gak harus di tempat umum juga." Protesku.
"Berarti kalau ditempat sepi yang tidak ada orang lain boleh kan?" Ucapnya dengan ekspresi jahil.
"Eh, gus itu lihat ada ikan." Aku menunjuk ke arah kanal dan beranjak dari ayunan mendekati pinggiran kanal.
Sebenarnya ini hanyalah sebuah isu pengalihan, mana mungkin ikan terlihat dari atas sini. Aku benar-benar sudah bertindak konyol saking groginya.
__ADS_1
Benar saja, gus Abdi tetap berada di tempatnya. Pasti dia kini sedang menertawakan kekonyolanku.
💘💘💘