
GUS IDOLA
Part 21
Gus Abdi meletakkan kantong belanjaan diatas tempat tidur, lalu duduk.
"Duduk mriki dek, dan segera ceritakan apa yang terjadi antara sampean dan laki-laki itu." Titah gus Abdi yang memberi isyarat padaku untuk duduk disampingnya.
Ekpresi wajahnya masih datar, tak ada guratan senyum dibibirnya.
Aku melangkah mendekat dan duduk disampingnya.
"Sinten niku wau?"
(Siapa itu tadi?)
"Mas Reza gus." Jawabku lirih, kutundukkan kepalaku.
"Tetangga yang melamar waktu itu?"
Aku mengangguk.
"Kenapa dia bilang 'khilaf'? Memangnya apa yang dilakukannya ke sampean?" Cecar gus Abdi.
"Emm.. begini..gus.." lidahku terasa berat untuk berkata.
"Hem?"
"Nganu..waktu itu..sehari sebelum kita nikah siri dia.." kata-kataku menggantung diudara.
"Kenapa?!" Tanyanya dengan nada penekanan. Jantungku berdetak semakin tak karuan, takut kalau-kalau nanti suamiku tidak akan terima.
"Jawab dek?!"
"Dia menciumku dengan paksa gus!." Jawabku dengan nada cepat. Lalu tak dapat kutahan lagi air mata yang membendung di pelupuk mata, kubiarkan ia jatuh berderai membasi pipi.
"Kalian berciuman? Bagaimana bisa? Kalian berdua ketemuan?"
Aku mengangguk.
"Kenapa Hilya? Kenapa sampean mau menemuinya dan hanya berdua saja?! Apa sebenarnya sampean juga ada perasaan dengannya?"
"Bukan begitu gus!" Aku semakin terisak.
"Waktu itu dia memintaku menemuinya di jembatan. Kukira dia akan bunuh diri. Kucari mas Azam untuk menemaniku tapi dia tidak ada dirumah. Sedangkan aku saat itu sangat khawatir gus."
"Lalu?"
"Dia menarik tanganku hingga kami berciuman gus. Mungkin dia memang sengaja, tapi billahi kulo mboten sengaja gus." Ucapku masih terisak dengan kepala yang masih menunduk.
"Kulo minta maaf gus, karena ndak jujur dari awal. Kulo takut kalau jenengan marah dan kecewa."
Gus Abdi mendekapku dari samping, diusapnya kepalaku dengan lembut.
"Sudah, ndak apa-apa. Aku kira kalian melakukan hubungan terlarang. Pikiranku tadi sudah kemana-mana dek. Alhamdulillah ternyata tidak sejauh yang kupikirkan."
Tangisku seketika reda dengan sikap lembutnya, aku menjadi lega karena gus Abdi ternyata tidak semarah yang kubayangkan.
"Meski sebenarnya ada sedikit rasa kecewa, tapi mau bagaimana lagi, sampean juga tidak sengaja kan. Seharusnya sampean lebih hati-hati dek, menjaga jarak dengan lelaki yang bukan muhrimmu. Apalagi lelaki itu punya perasaan istimewa padamu."
"Maaf gus."
"Iya. Wes jangan nangis."
Aku mengelap pipiku yang basah. Ternyata berada dalam dekapannya membuatku merasa nyaman.
"Kalau begitu kenapa sampean gak mau tak cium?" Ucapnya seraya melepaskan pelukannya.
"Dia saja yang bukan suamimu sudah menciummu lebih dulu!" Sambungnya lagi.
Baru saja dia terlihat lembut dan pemaaf, tapi kenapa sekarang tiba-tiba menjadi galak?.
"Emh..itu-"
Belum sempat kuselesaikan kata-kataku, bibirku sudah disumpal oleh bibirnya. Mataku membuka lebar karena terkejut dengan perbuatannya yang tak terduga. Jantungku berdetak dengan hebatnya, ada desiran aneh yang menjalar dalam dada.
Dia melepas ciuman kami dan melenggang pergi begitu saja masuk kedalam kamar mandi.
Aku hanya melongo dengan tingkah anehnya. Kenapa dia?
Kupegangi bibirku dan tersenyum tersipu dengan sentuhannya yang barusan terjadi. Ciuman pertama dengan kekasih halalku.
Beberapa saat gus Abdi berada dikamar mandi tanpa suara. Ada apa dengannya? Kenapa tadi dia tiba-tiba melepas ciuman lalu pergi begitu saja ke kamar mandi. Apa dia malu setelah melakukannya? Aku tertawa kecil membayangkannya.
Tak lama kemudian terdengar suara gemericik air dan gus Abdi pun keluar dari kamar mandi dengan wajah yang basah serta lengan baju yang menyingsing.
"Dzuhuran yuk, dek." Ucapnya yang menghindari pandanganku.
Tanpa menjawab, akupun langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil air wudlu.
Kami menunaikan shalat dzuhur didalam kamar, karena waktu berjama'ah di masjid sudah lewat sejak tadi.
Sejak adegan ciuman tadi, suasana serasa menjadi canggung. Mendadak kami menjadi pendiam namun saling melempar senyum yang terlihat malu-malu.
__ADS_1
Saat aku mematut diri didepan cermin merapikan kerudung, gus Abdi melangkah mendekatiku. Dapat kulihat dari pantulan cermin, kini ia berdiri tepat dibelakangku.
Kepalanya didekatkan di sisi kepalaku. Spontan jantungku kembali berdebar kencang.
"Dek," bisiknya ditelingaku.
"Aku luwe." (Aku lapar).
Sontak aku tertawa mendengarnya.
"Kok malah ketawa. Tadi kita kan, gak jadi makan di mall. Sekarang aku kelaparan." Ucapnya sembari menggandeng tanganku dan menggiringku menuju dapur.
Di dapur sudah ada ibu Nyai yang sedang menata piring di meja.
"Lho, sudah pulang? Sejak kapan kok ibuk ndak lihat?" Tanya ibu mertuaku yang melihat kami tiba di dapur.
"Mungkin tadi jenengan pas lagi sholat buk." Jawab gus Abdi yang sudah mengambil posisi tempat duduknya.
"Tolong panggilkan abahmu dulu gus. Biar kita makan siang bareng."
"Nggeh buk." Gus Abdi pun bangkit lagi dari tempat duduknya dan beranjak dari dapur.
"Nduk, besok ikut ke acara walimatul 'usry di rumahnya mbak Qonita nggeh."
"Jam pinten buk?" Tanyaku.
"Insyaallah jam 8 pagi kita berangkat."
"Nggeh."
Kyai Dzul datang dengan disusul gus Abdi dibelakangnya. Kami berempat makan siang bersama dalam satu meja.
__________________________
"Panggil 'mas' saja dek, jangan 'gus'. Aku kan sudah jadi suamimu. Tetanggamu itu saja kamu panggil dengan sebutan 'mas'." Protes gus Abdi saat aku baru saja menyebutnya dengan panggilan 'gus'.
Entah kenapa kali ini ia protes, padahal sebelumnya dia cuek saja ketika kupanggil 'gus'. Dan lagi, ia menyangkut pautkan hal ini dengan mas Reza.
"Sungkan gus, ndak terbiasa." Jawabku sembari masuk ke dalam kamar mandi hendak mencuci muka dan gosok gigi, sekalian ganti baju berbahan kain kaos agar lebih nyaman saat kugunakan untuk tidur malam ini.
"Maka dari itu biasakan biar terbiasa dek."
Aku masih bisa mendengar gus Abdi berbicara dari dalam kamar mandi.
"Kalau didepan orang lain apa ya harus tetap panggil 'mas'?"
Jawabku yang sedang mengganti baju di dalam kamar mandi.
"Iya to. Biar keliatan kalau kita ini suami istri. Masa suami sendiri dipanggil 'gus'?"
"Khusus untuk istri harus panggil 'mas' dek!."
"Nggeh pun. Biar hati jenengan senang, mulai sekarang tak panggil 'mas' wes."
"Nah, kan lebih bagus dek, kalau jadi istri yang penurut."
"Nggeh..nggeh.. gus.. eh, mas!"
"Kenapa kok tiba-tiba minta dipanggil 'mas'?" Tanyaku yang baru saja keluar dari kamar mandi. Kuhampiri suamiku yang sedang duduk di sisi tempat tidur.
"Lhawong si Reza itu saja kamu panggil 'mas'. Masa suami sendiri ndak dipanggil 'mas'?"
Gus Abdi berkata dengan memanyunkan bibirnya. Sungguh ia terlihat sangat lucu sekali.
"Jadi ini ceritanya karena cemburu lagi?" Kataku diiringi tawa kecil.
"Kalau yang sampean lakukan siang tadi apakah juga karena
cemburu?" Tanyaku lagi.
"Yang mana?" Jawabnya yang terlihat pura-pura lupa.
"Gayane lali jenengan ki." Kataku menepuk lengannya manja.
(pura-pura lupa kamu ini).
Sejurus kemudian ia berdiri mengimbangiku yang juga sedang berdiri didepannya.
"Aku kok lupa dek. Bagaimana kalau kita ulangi lagi biar aku ingat." Ucapnya seraya memegang kedua bahuku. Perlahan ia dekatkan wajahnya ke wajahku. Jantungku berdegup kencang lagi.
Tanpa menunggu jawabanku, ia sudah mendaratkan sentuhan bibirnya di bibirku.
Kupejamkan kedua mataku menerima sentuhan dari suamiku itu.
"Dek," ucapnya lirih. Aku harap dia tidak mengatakan kalau dia lapar lagi seperti siang tadi.
"Sudah malam." Bisiknya lagi.
"Hmm." Gumamku lirih menatap lekat matanya.
Perlahan gus Abdi melepas kerudungku, dirapikannya beberapa helai rambutku yang berantakan di sekitar daun telinga. Dikecupnya keningku dengan lembut. Mata kami saling beradu, disentuhkannya hidungnya yang bangir ke hidungku. Dapat kurasakan hembusan nafasnya menyapu lembut wajahku, membuatku hanyut dalam buaian cintanya.
Sekarang sudah tak ada jarak lagi diantara kami berdua.
__ADS_1
"Bismillahirrahmaanirrahim. Allahumma jannibnas-syaithaana wa jannibis-syaithaana maa razaqtanaa."
***
"Istriku sudah cantik, dan wangi." Ucap gus Abdi yang memelukku dari belakang. Diletakkannya dagunya diatas bahuku.
"Jenengan dereng siap-siap mas, sebentar lagi kita berangkat ke walimahan mbak Qonita dan kang Haikal kan," ucapku yang sedang menyisir rambut di depan cermin.
"Tinggal ganti baju tok, mandi juga sudah subuh tadi."
Entah kenapa aku tersenyum mendengar ucapannya barusan, mungkin karena semalam.
"Nopo sampun dhuha to mas, kok ndempel-ndempel mawon. Wudlune batal lo."
(Apa sudah dhuha to mas, kok nempel-nempel aja. Wudlunya batal lo).
"Belum, tadi habis shubuh buang hajat belum wudlu lagi. Sampean apa sudah dhuha dek?"
"Sampun to. Barusan, pas jenengan di luar tadi."
"Ooh..! Alhamdulillah rajin juga istriku. Tambah sayang deh." Dikecupnya pipiku dari belakang.
"Sudah sana ganti baju mas, ditunggu abah kalih ibuk lo nanti."
Bukannya melepas pelukannya, gus Abdi malah mempererat lingkaran tangannya di pinggangku.
"Sek to, sayang."(Sebentar sayang).
Dikecupnya lagi pipiku dengan mesranya.
Aku mencubit perutnya, ia pun meringis kesakitan.
"Masih pagi, jangan nakal gus!" Kumajukan tanganku mencubitinya bertubi-tubi.
"Ampun..!" Ia pun lari diiringi tawanya dan masuk ke kamar mandi.
Detik selanjutnya terdengar suara gemericik air. Aku sengaja menunggunya di luar pintu kamar mandi untuk menjahilinya.
Tak lama kemudian gus Abdi pun keluar, ia tersentak karena aku sengaja mengagetkannya.
"Hayooo...!" Kumajukan jari telunjukku hendak menyentuh kulit tanganya.
"Batal lo dek." Ucapnya sembari menghindarkan tangannya dari sentuhan jariku. Tak habis akal aku beralih mendekatkan jariku ke wajahnya.
"Deek," ucapnya panik, ia berusaha memundur-mundurkan wajahnya.
Aku pun tertawa melihat tingkahnya itu.
"Kalau sampean gak mundur sekarang juga, nanti bisa-bisa kita mandi jinabat lagi loh. Mau?!" Ancamnya.
Seketika aku pun mundur, kusambar kerudungku di gantungan baju lalu bergegas keluar dari kamar.
***
Rumah mbak Qonita tidaklah jauh dari pesantren, hanya butuh waktu sekitar lima belas menit untuk sampai kesana. Kami berangkat naik mobil dengan diantar oleh kang Badrun.
Aku membawa bingkisan kado dan juga sejumlah uang dalam amplop.
Gus Abdi bilang kang Haikal merupakan salah satu kang pondok yang dekat dengannya saat ia berada di rumah ketika pulang liburan dari pondok.
Di perjalanan ingatanku kembali pada cerita gus Abdi semalam tentang perjuangan cinta kang Haikal untuk mendapatkan mbak Qanita. Dimulai dari kurangnya restu dari orang tua mbak Qanita hingga banyaknya saingan baik dari kang pondok maupun dari orang luar yang juga ingin mengkhitbah mbak Qanita saat itu.
Wajar saja jika mbak Qanita banyak yang menyukai, dia wanita yang sangat cantik dan juga pintar.
"Jenengan juga pernah naksir mbak Qanita mas?" Godaku.
"Mboten sayang. Kulo cuma naksir satu wanita. Yaitu sampean." Ucapnya dengan mencubit pelan hidungku
Aku tersipu mendengarnya. Hatiku berbunga mendengar penuturan suamiku itu.
"Memangnya kenapa orang tua mbak Qanita kurang setuju?"
Gus Abdi menggedikkan bahu, "mungkin karena latar belakang ekonomi."
"Secara mbak Qonita itu kan cantik dan pintar, mungkin orangtuanya ingin mencarikan jodoh yang lebih baik dari kang Haikal. Sedang kang Haikal ia hanya seorang anak petani biasa. Kendati demikian kang Haikal itu orangnya sangat rajin ibadah, tawadlu' dan ta'dzim kepada abah dan ibuk. Mungkin karena itulah abah dan ibuk mendukung seratus persen hubungan mereka hingga akhirnya kedua orangtua mbak Qoanita luluh dan merestui pernikahan mereka."
"Padahal soal ekonomi bisa dicari sama-sama nggeh. Harta orangtua tidak menentukan sukses tidaknya seorang anak saat sudah membiduk kehidupan rumah tangga." Ucapku menimpali.
"Rezeki sudah ada yang menjamin dek. Selama masih diberi nafas oleh Yang Maha Kuasa maka jangan khawatirkan soal rezeki."
"Nggeh."
"Rasulullah saja bersedia menerima sayyidina Ali bin Abi Tbalib ra. sebagai menantunya walau sayyidina Ali adalah seorang yang miskin. Saat ditanya soal mahar sayyidina Ali mengatakan tidak punya apa-apa selain baju besi pemberian Rasulullah saw. Lalu Rasulullah saw. memerintahkan sayyidina Ali untuk menjadikan baju besi tersebut sebagai maharnya."
"Masyaallah.. Nggeh, kulo pernah baca kisahnya. Padahal waktu itu ada beberapa sahabat yang lebih berharta yang juga ingin meminang putri Rasul. Akan tetapi Rasulullah menjatuhkan pilihannya kepada sayyidina Ali."
"Iya, karena Rasulullah sudah mengetahui bahwa diam-diam sayyidina Ali mencintai putrinya. Begitupun dengan sayyidatina Fatimah Azzahra, ia juga diam-diam mencintai sayyidina Ali bin Abi Thalib."
"Andai saja ya mas, semua orangtua seperti Rasulullah."
"Sampean juga harus berkaca pada perangai sayyidatina Fatimah dek, beliau tetap sabar dan berbakti pada suaminya meski nyatanya kehidupan rumah tangga mereka jauh dari kata mewah."
"Nggeh mas. Insyaallah."
__ADS_1
Sayup-sayup terdengar suara soundsystem yang semakin mendekat membuyarkan lamunanku. Mobil kami berbelok pada sebuah gang yang di pojokan jalannya berdiri sebuah janur kuning yang diikatkan pada tiang listrik.
💘💘💘