
GUS IDOLA
Part 24
Ba'da subuh ponselku berdering, saat kulihat ternyata ibuku yang menelpon. Katanya aku disuruh pulang hari ini, nanti siang aku akan diajak pergi ke pesantrenku untuk berpamitan pada Kyai dan Ibu Nyaiku sekaligus meminta do'a restu untuk pernikahanku.
Gus Abdi yang mendengarnya langsung saat aku menelpon langsung menganggukkan kepala ketika aku menatapnya, pertanda kalau ia setuju-setuju saja.
"Kulo diajak apa ndak ke pondoknya sampean?"
"Boleh. Tapi nanti jenengan mawon yang bilang ke ibuk nggeh." Pintaku kepada gus Abdi agar ia yang memintakan izin kepada Ibu mertuaku.
"Gampang, asalkan ada upahnya." Gus Abdi menyodorkan pipinya. Aku menangkisnya dan segera keluar dari kamar dengan cekikikan.
*
Aku menjerang air untuk menyeduh teh dan juga untuk menanak nasi di magicom. Sambil menunggu kusiapkan empat buah cangkir lalu kumasukkan gula masing-masing satu sendok teh.
Lalu aku mengambil beras dalam wadah dan mencucinya. Bersamaan itu Ibu mertuaku datang.
"Sampean pengen masak apa hari ini nduk?" Tanya Ibu Nyai.
"Nopo-nopo kerso buk." Jawabku yang masih sibuk mencuci beras sambil membacakan do'a dalam hati.
"Seadanya yang ada di kulkas saja ya, nunggu tukang sayur juga masih agak siangan."
"Njeh."
Ibu Nyai pun membuka pintu kulkas dan mengeluarkan beberapa sayuran yang ada didalamnya.
Air yang kurebus pun sudah mendidih, kumatikan kompornya dan menuangkannya terlebih dahulu ke dalam cangkir-cangkir dan sisanya untuk menanak nasi di magicom.
Sengaja menggunakan air panas agar nasi lebih cepat matang.
Selesai menekan tombol "cook" aku beranjak menghampiri Ibu Nyai yang duduk di atas dipan dan membantunya menyiangi sayuran.
"Abdi katanya sudah cerita sama kamu soal Wafiq to?"
"Nggeh buk."
"Maaf yo, ibuk ndak terus terang sejak kemaren. Lha ibuk khawatirnya kamu cemburu atau gimana gitu kalau tau Wafiq itu seneng ndek Abdi."
"Mboten nopo-nopo kok buk, tidak perlu meminta maaf, kulo sampun faham."
"Anggitku sampean ndak perlu tau siapa Wafiq sebenarnya. Eh, malah Abahmu ngundang mereka mampir kesini." Ujar Ibu Nyai diakhiri tawa renyah.
"Kulo nggih sampun curiga buk. sikapnya Ning Wafiq itu sejak pertama ketemu sudah menunjukkan kalau dia ndak suka kalih kulo."y
"Hm, iya Ibuk juga melihatnya kemaren. Maklum saja dia pasti kecewa dengan penolakan Abdi, sedangkan dia sudah terlanjur suka sama Abdi. Sampai-sampai dia boyong dari sini saking kecewanya."
"Orang tuanya saat itu juga sangat kecewa dengan kami, terutama dengan Abdi. Ya, mau bagaimana lagi. Abdi itu orangnya keras kepala." Sambung Ibu Nyai lagi.
Aku yang mendengarnya hanya manggut-manggut.
"Sudah banyak keluarga yang datang kesini melamarkan anak gadis mereka untuk Abdi tapi tak satupun yang di 'iya'kan olehnya. Sampai Ibuk itu bingung sakjane wanita seperti apa to yang diidamkan sama Abdi kok semuanya ditolak begitu saja. Maka dari itu begitu tau kalau Abdi suka sama sampean langsung saja tak tembungne neng ibumu. Ibuk sudah pengen Abdi segera menikah biar ada yang membantu Ibuk ngurus santri putri." Jelas Ibu Nyai.
"Kami dan kedua orangtuamu menjodohkan kalian tanpa sepengatahuan sampean nduk. Kata Abdi biar kalian kenalan dulu, dia nggak mau kalau sampean merasa terpaksa dijodohkan. Biar sama-sama suka gitu katanya. Makanya Ibuk menyarankan Ibumu agar nyuruh sampean ngaji disini pas bulan puasa kemaren. Biar aku bisa mengatur pertemuan kalian." Terangnya lagi.
Aku tersenyum mendengar penuturan ibu mertuaku itu.
Ingatanku langsung kembali pada saat aku dan gus Abdi bertemu di dapur ini. Aku menahan tawa karena tingkah gus Abdi dulu yang selalu menghindar saat melihatku, grogi katanya.
Rupanya pemalu juga suamiku itu. Tapi sekarang semenjak menikah dia malah menjadi begitu agresif, malah aku yang sering deg-deg an saat berada didekatnya.
"Ini nanti dibuat sop ya nduk, dikulkas ada ayam nanti dicampurkan." Ujar Ibu Nyai setelah sayuran yang kami potong sudah selesai.
"Nggih." Aku membawa sayuran ke washtafel lalu mengambil ayam dikulkas dan membersihkannya.
Terdengar suara langkah kaki masuk ke dapur, saat ku tengok ternyata gus Abdi. Ia menyesap teh panas yang kubuat tadi.
"Antarkan teh buat Abahmu gus." Titah Ibu Nyai yang sedang mengupas bawang.
"Nggih." Jawab gus Abdi lantas pergi dengan membawa secangkir teh untuk diantarkan ke Abahnya.
Tak lama kemudian dia kembali lagi ke dapur. Ia menghanpiriku dan berdiri disebelahku.
"Ada yang bisa dibantu?"
"Mboten, bisa sendiri kok. Sudah duduk manis sana. Ini tugas wanita." Kataku yang sedang menampung air kran kedalam panci, lalu ku jerang diatas kompor. Aku beralih mengambil ayam yang sudah kubersihkan tadi dan mulai memotongnya.
"Mas, jangan lupa bilang ke ibuk kalau nanti kita mau pulang kerumah orangtuaku." Imbuhku lagi dengan setengah berbisik.
"Lhawong tadi belum dikasih upah kok." Godanya.
"Yo ndang, sini!" Ucapku sambil menyodorkan potongan kepala ayam tepat didepan wajahnya. Gus Abdi pun melipir mundur dari hadapanku.
"Jahat!" Ucapnya yang melangkah menjauh. Aku pun terkekeh.
"Buk, mangke kulo kalih dek Hilya wangsul ke Patihan nggih."
(buk, nanti saya dan dek Hilya pulang ke Patihan ya.)
"Lha apa disuruh pulang?" Tanya Ibu Nyai.
"Nggih, ajenge ke pesantrennya dek Hilya buk, mau pamitan boyong."
"Kalau gitu bawa jeruk ya, kemaren ada yang kesini bawa jeruk satu kardus. Itu disamping kulkas."
__ADS_1
"Nggih." Sahut gus Abdi.
Ayam yang ku potongi kecil-kecil sudah selesai, bersamaan dengan itu air yang kurebus sudah mendidih. Kumasukkan potongan ayam tadi kedalam panci. Ibu Nyai mengantarkan bumbu yang sudah disiapkannya, aku mengambil cobek dan mulai mengulek bumbu.
Ibu Nyai mengambil tempe dari dalam kulkas lalu memotonginya untuk digoreng. Pagi ini kami memasak sop ayam dan tempe goreng, tak tertinggal juga sambalnya sebagai pelengkap.
Pukul enam pagi semua masakan pun sudah matang. Tugas terahir yaitu tinggal mencuci piring.
Gus Abdi sejak tadi tak beranjak dari dapur, ia duduk menikmati teh nya sambil memainkan ponsel.
Aku tersentak saat tiba-tiba gus Abdi memelukku dari belakang.
"Mas, malu dilihatin ibuk!" Protesku dengan sedikit meronta.
"Ibuk sudah pergi dek," ucapnya yang makin mengeratkan pelukannya.
"Nanti kalau kesini lagi gimana." Ucapku yang masih sibuk mencuci piring.
"Mboten..mboten."
Akupun membiarkannya memelukku.
"Dek."
"Hmm."
"I Love you". Bisiknya.
"Gombal mukiyo!" Celetukku.
"Ganteng ngene kok dipadakne gombal mukiyo to dek." Protesnya.
Aku lantas mengolesi pipinya dengan air yang berbusa.
"Deek..!" pekiknya. Akupun tertawa lepas.
*
Pukul delapan pagi aku dan gus Abdi berangkat ke rumahku dengan mengendarai mobil. Sebenarnya kami enggan membawa mobil pribadi keluarga agar Abah mertua tetap bisa memakainya saat bepergian. Akan tetapi Abah Kyai tetap memaksa kata beliau masih ada mobil pondok yang bisa dipakai sewaktu-waktu.
Setibanya dirumah aku melihat ibuku sudah berdandan rapi, juga Abah. Belum sempat bertemu Mas Azam dan juga Ubed, Ibu sudah mengajak kami langsung berangkat ke pesantrenku agar sore sudah tiba dirumah karena nanti ba'da magrib ibu ada acara pengajian rutinan dilingkungan kami.
Dua jam perjalanan tibalah kami di gapura bertuliskan YPP. Roudlotul Jannah. Pesantren tempatku menimba ilmu sejak aku menempuh jenjang pendidikan Aliyah. Ditempat ini, bukanlah pertama kalinya aku berada dilingkungan pesantren karena sebelumnya aku sudah pernah mengaji di pesantren yang tak jauh dari rumahku, tapi saat itu aku tidak mondok menetap, melainkan 'nduduk' yaitu berangkat sore pulang pagi.
Aku dan ibuku berjalan memasuki area santri putri sedangkan Abahku dan gus Abdi pergi menuju ndalem putra. Kami membawa bingkisan berisi sembako dan juga uang dalam amplop.
Setelah mengucap salam kami disambut oleh Umi Dewi Hasanah, pengasuh pondok pesantren putri.
Setelah ibu mengutarakan niat kami, Ibu Nyai mengatakan sesuatu yang membuatku terkesiap.
"Bulan puasa kemarin juga ada yang datang kesini untuk 'nembung' sampean mbak."
"Sinten Umi?" Tanyaku penasaran.
"Alumni sini juga, namanya gus Khalid. Putra Kyai Hanafi. Dia meminta Abi untuk langsung melamarkannya ke sampeyan mbak."
Sejenak aku tercenung mendengar penuturan Umi Dewi, tidak menyangka kalau gus Khalid akan mencariku kembali. Bahkan langsung ingin dilamarkan oleh Kyaiku.
Namun semua sudah terlambat, kini aku sudah menjadi milik gus Abdi.
"Karena sampean bulan puasa nggak disini, rencananya setelah lebaran saat semua santri kembali ke pondok, sampean mau tak panggil kesini untuk saya tanyakan langsung, mau tidak jika dijodohkan dengan gus Khalid. Tapi ternyata sampean kesini sudah membawa suami." Terang Umi Dewi.
Terbesit sedikit rasa penyesalan dalam diri ini, mengapa gus Khalid datang disaat aku sudah dimiliki pria lain. Jauh dalam lubuk hatiku berkata andai saja dari dulu gus Khalid datang sebelum hadirnya gus Abdi dalam kehidupanku, sebelum aku jatuh cinta pada suamiku sekarang ini. Namun semua sudah terlanjur, mungkin sudah menjadi suratan takdir-Nya bahwa jodohku bukanlah gus Khalid. Pria yang pernah namanya terukir indah dalam hati ini.
Ada rasa iba dalam diri ini terhadap lelaki itu. Mengingat pertemuan kami kemarin, pertemuan pertama setelah perpisahan panjang, dan itupun saat aku berada dirumah suamiku. Tak bisa kubayangkan betapa hancur hatinya kemarin saat bertemu wanita yang ingin dikhitbahnya sudah bertstatus menjadi istri orang lain. Harapannya pasti hancur seketika saat itu juga.
Hingga kurasakan mataku mulai menghangat, tenggorokanku tercekat. Namun kutahan sebisa mungkin agar air mataku tak jatuh, khawatir kalau Umi dan Ibuku melihatnya.
"Astaghfirullah, seharusnya aku tidak menyesalinya saat aku sudah memiliki suami sempurna seperti gus Abdi. Harusnya aku juga memikirkan perasaan suamiku saat ini. Bukankah menikah dengannya adalah impianku juga." rutukku dalam hati.
"Mungkin memang kalian tidak berjodoh nggeh. Kulo hanya bisa mendo'akan semoga keluarga sampean dijadikan keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah. Pesen kulo, sampean jika menjadi istri tunduk dan patuhlah pada suamimu, karena setelah menikah surganya istri ada pada suami. Rasulullah pernah bersabda 'seandainya aku memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada selain Allah, maka aku akan memerintahkan seorang istri untuk bersujud kepada suaminya'." Tutur Umi Dewi yang membuatku tunduk dan meresapinya.
"Nggeh." Jawabku dengan suara lemut.
Setelah cukup berbincang-bincang, kamipun pamit undur diri dari ndalem.
*
"Lihaten jam berapa Hil." Titah ibu. Aku pun lantas melihat jam yang tertera pada ponselku.
"Jam 12 buk." Kataku.
"Sebentar lagi adzan dzuhur, sekalian sholat disini saja yo."
"Nggeh pun."
"Sms-en Abahmu kita pulang setelah sholat dzuhur sekalian."
Aku mengangguk lalu segera kuketik sms pada Abahku.
Aku dan ibu menunggu waktu dzuhur dengan duduk-duduk di emperan musholla.
Suasana pondok sangatlah sepi, memang biasanya saat menjelang lebaran semua santri pulang dan akan kembali setelah hari ke-7, dan sekarang masih hari ke-6.
"Sampean kenal dengan laki-laki yang di maksud Umi Dewi tadi? Yang melamarmu kesini?" Tanya ibu yang membuatku menelan ludah.
"Kenal buk, dulu kakak kelas kulo juga di sekolah."
__ADS_1
"Apa memang dari dulu dia naksir sampean to?"
Aku mengangguk.
"Pacaran sampean?"
"Mboten buk, ya cuma sms an saja. Kata ibuk dulu Hilya ndak boleh pacaran."
"Lha piye, sampean getun opo ra rabi karo gus Abdi?"
(terus gimana, kamu nyesel apa nggak nikah sama gus Abdi)
Aku menggeleng pelan, mulutku tak sanggup untuk langsung menjawabnya. Terggorokanku tercekat lagi, tak dapat kutahan lagi air mataku jatuh berlinang.
Ibu yang melihatku menangis langsung memelukku dari samping dan mengusap bahuku.
"Mantabkan hatimu nduk, mumpung kalian masih ijab siri. Ibu inginnya kamu bahagia dengan pernikahanmu nanti. Jangan sampai ada penyesalan setelahnya."
"Mboten kok buk, insyaallah kulo mpun yakin kalih gus Abdi." Aku menyeka air mataku.
"Wes gak usah nangis." Ibu mengusap pipiku.
"Kita gak bawa mukena Hil, didalam musholla sana apa ada?" Ucap ibu lagi.
"Ndak ada buk, sebentar tak ngambil ke gota'anku dulu sekalian beres-beres."
(Gota'an \= kamar).
Aku pun pergi kamarku untuk mengambil mukenaku yang masih tertinggal disana agar bisa kami pakai untuk sholat nanti dan juga sekalian membereskan barang-barangku yang masih tertinggal disana. Kukemasi baju-bajuku yang tersisa didalam tas yang kubawa dari rumah. Kuambil kardus yang ada diatas lemari untuk menampung barang-barang lainnya.
Sesaat kemudian adzan dzuhur telah dikumandangkan, aku dan ibu melaksanakan sholat dzuh6ur secara bergantian karena mukenanya pun hanya ada satu. Sebenarnya ada mukena di kamar mbak-mbak yang ditinggal disini namun aku tak berani untuk mengghosobnya.
Selesai sholat aku menelpon gus Abdi namun tak diangkatnya, lalu kutelpon Abah dan mengatakan bahwa aku dan ibu sudah menunggu di mobil.
Tak lama kemudian Abah dan gus Abdi pun datang menghampiri kami.
"Biar Abah yang nyetir saja gus," pinta Abah seraya meminta kunci mobil. Gus Abdi pun menyerahkan kuncinya.
Gus Abdi yang duduk di depan tak sedikitpun menoleh padaku, bahkan hanya sekedar untuk satu senyuman saja. Pikiranku menjadi gusar, apakah tadi saat ia di ndalem putra Kyai ku juga mengatakan kalau gus Khalid pernah datang kesana untuk melamarku. Kalau benar, berarti saat ini ia tengah cemburu.
Kupandangi gus Abdi dari belakang tempat aku duduk. Aku masih dapat melihat wajahnya karena aku duduk tepat di belakang kursi kemudi.
Ada rasa sesak dalam dada ini ketika aku melihat suamiku tengah mengacuhkanku saat ini. Namun apa salahku hingga ia berlaku seperti ini padaku, aku juga tak menginginkan hal ini terjadi. Apakah ia masih meragukanku saat ini? Lalu apa yang harus aku lakukan agar ia tidak terus saja dikuasai perasaan cemburu.
Baru saja reda dari gangguan mas Reza, sekarang datang lagi masalah gus Khalid. Dan suamiku itu, Ah.. dia sangat pecemburu.
***
"Abah!" Aku menghampiri Abahku di kamarnya, ada ibu juga disana, nampak mereka sedang berbicara serius, mungkin mereka sedang membahas perihal gus Khalid tadi.
Aku segera menemui Abahku untuk menanyakan perihal gus Khalid mumpung suamiku sedang mandi.
"Tadi pas di ndalem Abi Yahya bicara apa saja?" Tanyaku .
Abah melirik ke arah ibu lalu kembali lagi menatapku.
"Tadi beliau mengatakan kalau ada laki-laki yang ingin melamarmu." Kata Abah.
Seketika tubuhku terasa lemas, berarti benar dugaanku.
"Awalnya Kyai Yahya tidak tau kalau yang datang bersama Abah itu adalah suamimu, setelah beliau mengatakan segalanya barulah beliau tanya siapa gus Abdi. Abah juga merasa tidak enak sama suamimu. Dia diam saja saat disana tadi. Makanya pas pulang Abah minta kunci mobilnya, takutnya dia ngelamun saat nyetir." Terang Abah membuat dadaku semakin sesak.
Aku segera kembali lagi ke kamarku, ingin segera berbicara pada suamiku dan meredakan perasaan cemburunya itu.
Saat aku masuk ke kamar, gus Abdi masih berada di dalam kamar mandi. Aku menunggunya dengan duduk di tepian tempat tidur.
Menit kemudian, pria tampan itu pun membuka pintu dan keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk dan kaos dalam warna putih. Ia menyunggar rambutnya yang basah, tercium bau wangi shampoo dan sabun menguar dari tubuhnya.
"Mas!" Panggilku.
Ia melirikku lalu berjalan ke arah lemari pakaian. Ia mengambil sarung dan kaos oblong lalu memakainya.
"Jenengan kok cuek kenapa to mas?" Tanyaku padanya.
"Mboten." Jawabnya datar.
"Jangan cemburuan gitu to mas." Ucapku tanpa basa basi lagi.
Ia sibuk menyisir rambutnya tanpa menjawabku.
Aku bangkit dan melangkah mendekatinya, kupeluk tubuh tingginya dari belakang.
"Batal lo dek. Wis wudlu kok." Ucapnya ketus.
"Biarin. Nanti wudlu lagi, ashar juga masih sejam lagi kok." Ucapku yang tak peduli dengan penolakannya.
Aku tak melepas pelukanku meski ia berjalan kesana-kesini, aku tetap mbuntut nempel dibelakangnya.
Gus Abdi membalikkan badannya dan mendudukkanku di tepi ranjang.
"Sampean pasti sudah dengar kan, kalau Khalid datang ke Kyaimu untuk melamar sampean?" Ucapnya dengan sorot mata yang tajam.
Aku mengangguk.
"Kemarin saat ia datang kerumah aku berbicara banyak hal dengannya sewaktu aku mengantarkannya ke masjid. Terutama yang ia bicarakan adalah tentang sampean. Dia berbicara seolah-olah dia yang paling mengenal sampean, dia juga mengatakan bahwa dulu kalian sangat saling mencintai ." Gus Abdi berbicara dengan nada penekanan yang membuat jantungku berdebar karena ketakutan.
"Dia juga membujukku untuk menikahi adiknya karena dia tidak tahan melihat adiknya selalu menutup diri menolak pinangan setiap lelaki yang datang melamarnya. Namun setelah hari ini, aku tau bahwa niatnya itu bukan hanya demi adiknya saja, tapi juga demi dirinya sendiri. Dia pasti ingin merebutmu dariku. Karena jika sampean tidak mau dimadu pasti sampean minta pisah, dan itu menjadi kesempatan untuknya." Ujarnya dengan terus menatap mataku dengan tajam.
__ADS_1
Mata gus Abdi terlihat memerah, ia seperti menahan gejolak amarah didalam dirinya. Sedangkan aku, aku tak kuasa lagi menahan air mataku yang jatuh berderai. Dadaku terasa sesak, tenggorokannku tercekat tak bisa mengatakan apapun karena tangisku saat ini. Ini adalah pertama kalinya aku melihatnya menangis.
💘💘💘