GUS IDOLA

GUS IDOLA
Siapa pemerkosa Ning Wafiq?


__ADS_3

"Kalau kalian ingin pulang, pulanglah. Ini sudah malam nanti dicariin," ujar Kyai Hanafi memberitahu Gus Abdi dan Hilya.


Gus Abdi dan Hilya saling menatap, setujukah jika mereka pulang sekarang juga. Gus Abdi mengangguk pertanda ia mengajak istrinya untuk pulang saja. Lagipula disini Ning Wafiq sudah ada keluarganya yang menunggunya.


"Kalau begitu kami pamit dulu ya, paman bibi, insyaallah besok kami akan kesini lagi." Pamit Gus Abdi.


"Iya, terimakasih banyak ya Gus, sudah menolong Wafiq tadi. Semoga Allah membalas kebaikan kalian." Kali ini Umi Salma yang berbicara dengan mata yang sembab.


"Aamiin, tidak perlu sungkan kita kan, masih ada hubungan saudara sudah selayaknya kita saling membantu."


"Ya, sudah kami pulang dulu. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam wr.wb."


Gus Abdi melangkah keluar ruangan pasien dengan menggandeng tangan Hilya yang berjalan di belakangnya. Sementara Khalid menatap punggung wanita yang pernah ia cintai dulu sampai bayangannya menghilang dari balik tembok bilik. Bahkan sampai saat ini pun perasaan itu masih sama.


____________


Sesampainya di rumah suasana sudah tampak begitu sepi, lampu-lampu pun sudah dimatikan hanya tersisa lampu yang menerangi teras saja yang masih menyala.


"Kuncinya dek," ucap Gus Abdi meminta kunci cadangan. Hilya merogoh tas slempangnya lalu mengeluarkan sebuah kunci dan memberikannya kepada suaminya.


"Mas."


"Hmm?" Gus Abdi menoleh sambil tangannya sibuk membuka kunci pintu.


"Apa yang akan terjadi setelah ini pada Ning Wafiq?" Hilya berbicara dengan tatapan kosong.


"Berdo'a saja semoga semuanya baik-baik saja."


Gus Abdi membuka pintu dan melangkah masuk, begitupun dengan Hilya.


Hilya mengamini ucapan suaminya dalam hati. Semoga semuanya baik-baik saja. Pasalnya Hilya sangat khawatir dengan keadaan Ning Wafiq yang tampak shock tadi, seperti orang linglung. Ia bahkan tak mengenali dirinya dan Gus Abdi tadi.


Sesampainya di kamar Hilya langsung menuju kamar mandi untuk mencuci tangan dan wajah sekalian berganti baju.


Baru saja akan menggosok gigi, pintu kamar mandi didorong dari luar.


"Aku kan, belum selesai Mas. Sabar sedikit kenapa?"


"Dipakai berdua kan, lebih cepet dek. Udah gak tahan gerah banget, badan seperti lengket semua," ujar Gus Abdi sambil melepas kemejanya.


"Mas mau mandi?" Pekik Hilya yang melihat suaminya melepas baju.


"Memangnya sampean gak mandi?" Gus Abdi berkata sambil menyipratkan air ke wajah sang istri.


"Mas..!!"


Gus Abdi malah tertawa sambil mengguyurkan air ketubuhnya sehingga menyipratkan air ke badan Hilya yang sudah berganti pakaian.


"Guussss...!!!" Pekik Hilya geram karena baju yang baru saja ia ganti telah basah karena ulah Gus Abdi.


____________


"Pulang jam berapa tadi malam Le?" Tanya Ibu Nyai Maryam ketika melihat putranya yang baru pulang sholat berjamaah di masjid pesantren. Beliau baru saja selesai bertadarus di ruang tamu.


"Sekitar jam 1 Buk." Gus Abdi mengambil posisi duduk disamping ibundanya.


"Emm, Buk. Ada yang ingin saya ceritakan."


"Ya?" Bu Nyai Maryam memandang putranya serius.


"Semalam Abdi sama Hilya tidak sengaja bertemu dengan Wafiq, hampir saja dia terserempet mobil kami."


"Terus bagaimana? Ndak apa-apa kan? Kok bisa kamu sampai mau nyerempet begitu?"


"Mungkin karena Wafiq jalannya seperti orang linglung Buk, nyebrang ndak lihat-lihat."


"Linglung?" Ibu Nyai Maryam bertambah bingung.


"Nganu.. jadi..begini Buk. Tapi sebelumnya Ibuk dan Abah nanti harus berjanji kalau hal ini jangan sampai ada oranglain yang tau. Cukup keluarga kita saja, karena ini menyangkut nama baik pesantren Nurul Islam dan nama baik Paman Kyai Hanafi."


"Maksudmu apa sih, Le. Jangan bikin Ibuk deg-degan." Ibu Nyai Maryam mulai tampak cemas, nampaknya ada sesuatu hal genting yang hendak disampaikan putra semata wayangnya itu, apalagi ini menyangkut Kyai Hanafi dan keluarganya. Meski mereka tergolong saudara agak jauh tapi selama ini hubungan mereka sangat dekat bagai saudara kandung.


"Jadi begini, semalam Abdi dan Hilya menemukan Wafiq dalam keadaan memprihatinkan Buk."

__ADS_1


Gus Abdi menghela nafas ditengah-tengah ucapannya.


"Bajunya sobek dengan rambutnya yang acak-acakan dan juga dia terlihat sangat shock. Lalu kami membawanya ke rumah sakit."


"Ya Allah.. apa yang terjadi dengan Wafiq?"


Ibu Nyai Maryam mulai terkejut mendengar penjelasan dari putranya, belum lagi kalau beliau mendengat hal yang paling pahit setelah ini.


"Dokter bilang.. kalau Wafiq.. habis di per-ko-sa Buk." Ucap Gus Abdi hati-hati, khawatir jika ibundanya langsung shock.


"Gusti Allah.. astaghfirullahal 'adzim, kamu tidak sedang mengada-ngada kan Gus?!" Mata Ibu Nyai Maryam membulat sempurna, betapa kagetnya ia mendangar kabar buruk yang disampaikan putranya itu.


"Wallahi Abdi serius Buk."


"Bagaimana bisa?! Siapa pelakunya?!"


"Kami juga belum tau Buk, Wafiq pun juga belum bisa ditanyain."


"Kalau begitu sekarang ayo kita ke rumah sakit." Ibu Nyai Maryam bangkit sambil menarik lengan putranya, seketika beliau menjadi sangat panik.


"Mas." Hilya yang tiba-tiba muncul dengan berjalan sedikit tergopoh-gopoh sambil memegang ponsel ditangannya.


"Ning Wafiq pagi ini akan dibawa pulang, katanta kalau kita mau jenguk lebih baik langsung ke ndalemnya saja." Kata Hilya yang masih memakai mukena.


"Siapa yang menelpon?" Tanya Gus Abdi.


"Gus Khalid. Telponnya tadi di Hp nya Mas, tadi Mas Abdi gak ada jadi aku yang angkat." Seketika Hilya memberi penjelasan tanpa ditanya macam-macam. Ia hanya khawatir kalau suaminya itu masih cemburu dengan Gus Khalid dan mengira kalau Gus Khalid menelpon nomor Hilya.


Gus Abdi mengangguk pelan.


"Bagaimana katanya nduk keadaannya Ning Wafiq? Apakah sudah membaik." Tanya Ibu Nyai.


"Tidak tau Buk, tadi yang telpon Gus Khalid jadi saya tidak tanya banyak. Yang saya tau Ning Wafiq sudah siuman.


"Baiklah kalau begitu kita siap-siap kesana ya. Abahmu kenapa juga lama sekali belum balik dari masjid." Gerutu Ibu Nyai Maryam gelisah.


"Abahkan setiap habis jama'ah subuh ngaji dulu Buk sama kang-kang."


"Astaghfirullah, Ibuk sampai lupa saking cemasnya. Baiklah kalau begitu kita tunggu Abahmu dulu."


"Lho Mas, Kang Riswan apa ndak lagi di masjid ikut pengajiannya Abah?" Ucap Hilya mengingatkan, seketika langkah Gus Abdi terhenti sambil menepuk jidatnya.


"Nanti saja kalau begitu." Urung keluar dari pintu, Gus Abdi kembali masuk ke dalam rumah dan menghempaskan tubuhnya diatas sofa.


Sedangkan Ibu Nyai mengambil Al-qur'annya diatas meja lalu membawanya masuk ke dalam kamar.


"Dek," panggi Gus Abdi sambil ia melambaikan tangannya mengisyaratkan agar Hilya mendekat.


Hilya pun berjalan mendekat sesuai intruksi sang suami lalu duduk disampingnya.


Setelah berada disampingnya, Gus Abdi meraih pucuk kepala Hilya lalu mengecup ubun-ubun Hilya yang masih terbungkus mukena. Merasa mendapat perlakuan manis dari sang suami, Hilyapun tersenyum tersipu.


"Terimakasih nggih, sudah mau menjaga perasaan suamimu ini," Dipandinginya wajah Hilya yang pipinya terlihat bersemu.


"Maksudnya?" Hilya mengerutkan dahinya.


"Itu.. yang tadi."


Paham dengan maksud sang suami, Hilya pun terkekeh.


"Oh.. itu. Ya iyalah, suamiku ini kan cemburuan jadi istrinya ini harus sigap menghadapi situasi semacam tadi, sebelum suamiku yang ganteng ini ndak sampai salah faham dan berpikiran buruk tentang istrinya ini."


Hilya berkata sambil menarik hidung bangir milik suaminya dengan gemasnya.


"Wajar dong cemburu, suamimu yang amat sangat tampan ini kan, sangat mencintaimu dan tidak ingin kehilanganmu sayangku cintaku." Gus Abdi merangkul tubuh istrinya dengan erat tak kalah gemasnya.


"Duh, mas. Jangan gitu lah, nanti kalau dilihat Ibuk atau Abah yang tiba-tiba datang gimana?"


"Ya, ndak apa-apa to dek. Mereka kan juga pernah muda."


"Iih.. lepasin!!" Hilya merenggangkan tubuhnya dari dekapan Gus Abdi lalu segera berlari ke kamarnya.


"Loh, Dek..!"


Gus Abdi pun bangkit lalu mengejar sang istri.

__ADS_1


----------------


Di Rumah sakit.


"Nduk, bicaralah. Jangan diam saja. Siapa yang tega berbuat jahat sama kamu? Katakan nduk?" Umi Salma membelai lembut kepala putri kesayangannya, sejak Ning Wafiq sadar tadi keluarga memberondongi Ning Wafiq dengan berbagai pertanyaan, namun respon dari Ning Wafiq hanya diam dengan tatapannya yang kosong.


Umi Salma menghela nafas kasar, rasanya dia lelah mengulang pertanyaan yang sama namun yang ditanyai hanya diam saja.


"Mungkin Wafiq masih shock Umi, biarkan keadaannya membaik terlebih dahulu." Kyai Hanafi mengusap bahu istrinya lembut.


"Tapi sampai kapan Bi? Kita harus segera mencari pelakunya." Kata Gus Khalid menyela.


"Bagaimana caranya Gus, sedangkan Wafiq saja keadaannya masih seperti ini."


Sejenak Gus Khalid terdiam memikirkan sesuatu.


"Saya akan telfon teman-temannya, mungkin salah satu dari mereka ada yang tau sesuatu," ucap Gus Khalid tiba-tiba.


"Hapenya Wafiq dimana?" Tanya Gus Khalid.


"Sejak semalam Umi gak ada lihat hapenya Wafiq."


"Coba tanya saja sama Abdi," usul Kyai Hanafi.


Tanpa pikir panjang Gus Khalid pun menelpon Gus Abdi.


"Assalamu'alaikum, Mas Gus," ucap Gus Khalid setelah telepon tersambung.


"Wa'alaikumsalam. Ya, bagaimana?"


"Ini mau tanya, semalam Mas lihat Wafiq bawa hape ndak?"


"Hape?" Gus Abdi sejenak terdiam, nampak sedang mengingat-mengingat kejadian semalam.


"Seingatku tadi malam Wafiq tidak bawa apa-apa Gus. Atau mungkin ada di saku bajunya gitu?"


"Umi, coba lihat di bajunya Wafiq ada apa nggak?" Tanya Gus Khalid setelah mendengar ucapan Gus Abdi.


Umi Salma pun segera mengecek baju gamis yang dikenakan Wafiq.


"Nggak ada saku di bajunya," ujar Umi Salma setelah memeriksa.


"Tidak ada juga Mas, y sudah kalau begitu, Assalamu'alaikum." Gus Khalid menutup sambungan teleponnya. Nampak raut kekecewaan terukir diwajahnya.


"Mungkin hapenya ditaruh di dalam tas. kemarin Wafiq pergi sambil bawa tas, orang pamitnya kuliah kok." Celetuk Umi Salma.


"Terus tasnya dimana?"


"Jangan-jangan ketinggalan di tempat kejadian," ucap Kyai Hanafi menerka-nerka.


Gus Khalid berdecak kesal lalu mengangkat songkoknya dan menyunggar rambutnya dengan kasar.


"Coba telpon hape nya Wafiq Gus. Barangkali ada yang menemukan."


Tanpa menjawab, Gus Khalid langsung menggeser layar ponsel dan menghubungi nomor Wafiq.


"Tersambung!" Celetuk Gus Khalid dengan mata berbinar.


Namun setelah itu sambungan telponnya tiba-tiba terputus.


"Ck. Dimatikan. Arggh!!" Ucap Gus Khalid kesal.


"Pasti ada orang yang nemuin hapenya Wafiq." Kata Gus Khalid lagi.


"Umi punya nomor hape nya Zakia, teman dekatnya Wafiq. Coba hubungi saja dia." Umi Salma segera mengeluarkan ponselnya dari dalam tas dan menyerahkannya kepada Gus Khalid.


"Semoga saja ada petunjuk," kata Umi Salma penuh harap. Digenggamnya tangan putrinya lalu mengecupnya.


Gus Khalid menggeser-geser layar benda pipih dalam genggamannya, mencari daftar kontak bernama 'Zakia'. Setelah ketemu ia langsung menekan tombol dial panggilan.


Tuuttt...tuuutt...


Lama menunggu telpon diangkat akhirnya dijawab juga.


"Assalamu'alaikum, Zakia?"

__ADS_1


__ADS_2