
Dalam kesunyian kumelangkah dengan pasti,
Memunguti puing-puing kerinduan dalam sepi,
Menjamah rindu yang kubendung sendiri,
Kubelah tirai-tirai yang menutup tabir
Mencari sosok pria yang menjerat jiwaku saat ini,
Mengurungnya dalam ruang rindu yang sunyi, sepi.
Baiklah, aku akan mengikuti skenario yang dirancang oleh Rabb-ku. Jika memang sudah saatnya, pasti aku akan dipertemukan dengannya. Mungki Allah sedang menyiapkan saat-saat terindah untuk pertemuan kami.
Disetiap sepertiga malamku, aku menengadahkan telapak tanganku, aku bertanya apakah memang Dia dihadirkan untukku?
dan makin hari perasaan yang kurasakan kian pasti.
***
["Tadi ibu kulo datang, jadi mboten sempat lihat njenengan masuk pondok putri"]
["Iya ndak apa-apa. Lain kali mawon"]
"Iya ndak apa-apa tapi aku kecewa kang.. seharusnya hari ini rasa penasaranku terbayarkan". Aku mengomel sendiri.
[Angsal minta nomor telponnya sampean dek?"] Dia mengirim pesan lagi.
[Angsal,] aku mengetik deretan angka nomor telponku. Aku tersenyum riang, akhirnya dia meminta nomor telponku juga.
"Ish..!!!"
Aku mengibas-ngibaskan tanganku disekitar telingaku, suara nyamuk mendengung sangatlah mengganggu.
Tidak biasanya hari ini banyak sekali nyamuk berkeliaran, mungkin karena habis hujan. Memang apa hubungannya hujan dan nyamuk? Entahlah, mungkin seperti hubunganku dengan kang Kawulo gusti. Tidak jelas.
["Sudah larut belum mau tidur?"] Dia mengirim balasan lagi.
["Gimana mau tidur kang, dari tadi diserang nyamuk. Nggak biasanya banyak nyamuk"]
["Pakai lotion anti nyamuk aja dek, kasian nanti sampean kehabisan darah loh,"] Aku tertawa membaca pesannya.
["Jangan khawatir, ini cuma nyamuk kok bukan vampire"] kutambahkan emoticon tertawa.
["Bisa ngelawak juga ya,"] balasnya lagi.
Aku terkejut karena tiba-tiba kakiku terasa seperti disentuh makhluk berbulu. Ternyata saat kutengok ada seeokor kucing belang telon sedang menggosok-gosokkan kepalanya di telapak kakiku, terdengar suara dengkuran halus dari kucing tersebut.
Aku meraihnya lalu meletakkannya dipangkuanku. Saat kubelai badannya suara dengkurannya semakin keras. Aku sangat menyukai suara dengkuran kucing.
Aku mengaktifkan kamera ponselku dan menyalakan lampu flashnya.
Cekreekk...cekreekk.. cekreekk...
Kupilih foto terbaik dan mengunggahnya di aplikasi warna biru dengan caption yang mewakili perasaanku saat ini.
"Al-hubb fii shomti"
Kucing itu terlelap di pangkuanku, suara dengkurannya seperti simfoni yang menenangkan suasana hatiku saat ini.
"Mbak, nyari apa?" Tanyaku pada mbak Rana dan mbak Nisa yang terlihat seperti mencari sesuatu dibalik rimbunan tanaman bunga lidah mertua depan Asrama sebelah.
"Nyari kucingnya Guse mbak, dicariin sama ibuk". Mbk Nisa mendongak ke arahku.
__ADS_1
"Kucing? yang ini?" Tanganku menunjuk kearah kucing yang kupangku. Mereka berdua menghampiriku.
"Hem...dicariin sampek nyungsep-nyungsep ternyata disini dia" mbk Rana berkacak pinggang seperti seorang ibu yang memarahi anaknya.
"Guse gak bisa tidur kalo nggak ngelonin kucing ini". Ujar mbk Nisa sembari menutup sebagian mulutnya yang hendak tertawa.
mereka pun membawa kucing tersebut ke ndalem. Aku memeriksa ponselku, satu pesan belum dibaca.
["sampean ke gerbang putri dek, ada sesuatu disana. Ambillah"]
Dahiku mengeryit, "apa maksudnya?" batinku.
Aku mencari sendalku dan memakainya berjalan menuju gerbang. Sesampainya digerbang ada sebuah kresek yg tergantung di sela-sela jeruji gerbang. Aku mengambilnya dan memeriksanya, isinya satu tube lotion anti nyamuk dan beberapa camilan.
Aku senyum-senyum sendiri, segitu perhatiannya dia padaku. Tapi kenapa tidak memberikannya secara langsung, malah dicantolke di gerbang. Huft.. mungkin dia belum siap bertemu denganku sekarang.
***
Hari ini kami kedatangan tamu beberapa siswi MTs dari yayasan Ummul Quro, yayasan yang lokasinya didekat pesantren ini.
Mereka akan melaksanakan kegiatan pondok romadlon selama tiga hari disini. Ada sekitar 20 orang siswi yang akan tinggal. Sementara siswa-siswi lainnya disebar ke beberapa pesantren di daerah ini.
Dikarenakan kamar yang tidak mencukupi, maka para siswi itu akan ditempatkan menjadi satu dimusholla. Hal ini juga bertujuan agar mudah bagi guru untuk mengawasi murid-muridnya.
Pantas saja Kang itu kemaren-kemaren datang ke kantor putri, pasti para pengurus memusyawarahkan tentang kegiatan ini.
Dengan adanya kegiatan pondok romadlon ini, selama tiga hari kegiatan mengaji untuk santri putri diliburkan. Tapi tidak untuk sema'an Qur'an ba'da ashar. Semua santri dan siswi sekolah tersebut akan mengikuti kegiatan ini.
Aku, mbak Qonita dan mbk Shima membantu ibu Nyai memasak untuk berbuka puasa dan sahur untuk para siswi itu. Mereka akan diundang ke dapur ndalem saat berbuka dan sahur.
Kenapa aku ikut bantu masak di ndalem, padahal aku masih baru disini? Ya karena kemaren aku memang sudah menawarkan diri pada Ibu Nyai agar aku setiap hari bisa membantu beliau memasak. Dan kebetulan hari pertamaku dimulai dengan ditemani mbak Qonita dan mbak Rana, tapi mereka berdua hanya akan membantu selama ndalem menjamin makanan bagi para siswi itu saja.
***
"Hil...!!!" Indri datang tergopoh-gopoh memanggilku yang sedang merebahkan diri diatas kasur.
"Aku mau ngomong tapi jangan disini." indri menarik lenganku, akupun bangun dan mengikuti langkahnya ke belakang kamar. Ada raut kecemesan diwajahnya.
"Lihat ini." Indri menyodorkan selembar kertas padaku, sebuah kertas undangan pernikahan.
Aku terpaku setelah membaca nama yang tertulis diatas kertas undangan tersebut.
"Tadi aku nggak sengaja lihat undangan ini dikamar sebelah" ucap indri menjelaskan.
"Muhammad Haikal Ar-rafi dan Qonita Humaira"
Dua nama yang terukir indah diatas kertas berwarna keemasan tersebut.
Ya, ternyata mereka adalah sepasang kekasih yang akan segera menikah bulan depan, tepatnya setelah hari raya idul fitri.
"Apa ini ya Allah.. ternyata dia sudah punya calon istri. Lalu kenapa dia mendekatiku?" Aku meratap dalam hati hingga tanpa kusadari bulir bening menetes dipelupuk mataku.
Pantas saja waktu itu saat aku tanya perihal Kang Haikal pada mbak Qonita raut wajahnya seperti tidak suka.
"Jangan sedih Hilya, bisa saja lelaki itu bukan kang Haikal" ujar indri berusaha menenangkanku, kini ia memelukku.
Aku menatap indri, sorot mataku tajam menatap matanya.
"Lalu siapa? mana mungkin Gus Abdi. Dia itu seorang Gus ndri, mana mau dekat dengan gadis biasa sepertiku."
"Seorang Gus juga manusia biasa Hilya, derajat tidak akan membatasi perasaan manusia" indri memegang wajahku, memandangnya dengan serius.
"Orang tua kalian kan, bersahabat. Bisa saja mereka setuju dengan hubungan kalian." Imbuh indri.
__ADS_1
"Hubungan apa sih, ndri. Kita kan belum tau kejelasannya. Aku nggak mau berharap lebih. Apalagi pada seorang Gus." Tukasku.
"Kalau begitu cari tau sekarang Hil," titah indri.
"Embuh wes. Dipikir nanti aja. Mumet aku," aku masuk lagi kedalam kamar meninggalkan indri.
"Undangannya balikin Hil, itu punya mbak Fikri, ntar kamu sobek lagi." Indri berkata sambil membuntutiku. Aku menyerahkan undangan itu padanya, lalu indri keluar kamar.
Tring !!!
Sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Saat kubaca ternyata itu adalah pesan dari kang itu. Aku baru ingat semalam dia meminta nomor telponku. Mengingat surat undangan tadi, aku lebih memilih untuk tidak membalas pesannya. Ada rasa sesak dalam dada. Kecewa, salahku sendiri karena terlalu berharap lebih padanya.
"Dasar pria PHP..!!!" Aku mengutuk dirinya dalam hati, kutarik selimut menutupi seluruh badanku.
***
Dua hari aku mengabaikan pesan darinya, puluhan pesan bertumpuk tidak kubuka, baik itu sms maupun messenger.
Saat aku bertemu dengan mbak Qonita, aku lebih memilih banyak diam. Hanya bicara saat ditanya saja.
Aku sering melihat kang Haikal datang menemui mbak Qonita sambil membawa bungkusan diwaktu sore menjelang magrib, pikirku mungkin isinya makanan. Ada rasa getir dalam hatiku saat melihat pemandangan tersebut. Untung saja aku tidak satu kamar dengan mbak Qonita.
aat aku membuka aplikasi warna biru, aku membuka satu per-satu notifkasi berandaku. Ada yang berkomentar pada postingan fotoku dengan kucing belang telon itu yang kuunggah beberapa hari yang lalu.
Ada beberapa teman FB yang memberi komentar, aku membalasnya satu per-satu. Aku tertegun melihat nama sebuah akun yang berada di urutan paling bawah, Kawulo Gusti.
"Kucing kesayangan." Kata yang ia tuliskan dalam kolom komentar.
Tiba-tiba mataku terfokuskan pada foto profilnya. Foto profil yang belum pernah ia ganti semenjak aku mengenalnya.
"Klik" aku menekan foto profilnya agar bisa melihatnya lebih jelas lagi.
"Ini.. kucing yang sama." Gumamku.
"Kenapa aku baru sadar ya,"
"Jadi ini kucing kesayangannya."
Aku terus mengamati gambar tersebut, aku bertambah yakin kalau itu kucing yang sama karena kalungnyapun juga sama.
"Tapi bukankah katanya dia baru pindah ke pesantren ini baru dua bulan lalu? Lalu kenapa dia bisa lebih dulu punya foto kucing ini?"
Berbagai pertanyaan muncul dalam benakku yang membuatku semakin bingung.
Aku membuka pesan-pesan darinya. Pesan yang bertumpuk-tumpuk karena dua hari tidak kubuka.
["Marah ta dek?"]
["Ada apa kok inboxku gak pernah dibales?"]
["Sepuntene lak kulo gadah salah dek,"]
["Dek, Hilya"]
["Dek,"]
["Dek,"]
Entah berapa kata "Dek," yang ia kirimkan, aku tak menghitungnya saking banyaknya.
Mungkin dia risau karena pesannya tak kunjung terbalas.
["jenengan sampun punya tunangan, lebih baik jenengan fokus ke calon istri saja."] Aku mengirim balasan, berharap dia mengerti kenapa aku tak membalas pesan darinya.
__ADS_1
Telpon berdering, sebuah panggilan masuk dari nomor yang belum kusimpan namanya namun aku hafal nomor siapa itu.
To be continued