
GUS IDOLA
Part 27
(End)
Pov Gus Abdi
"Kulo suwun ampun ngantos Hilya diparingi ngertos nggeh Bah, Buk," pintaku kepada kedua orangtuaku ketika tamu kami sudah pulang.
(Saya minta jangan sampai Hilya diberi tahu ya Bah, Buk)
"Kenapa? Yang penting kan, sampean tidak menerima pinangan Kyai Hanafi gus." Jawab Ibu.
"Khawatirnya nanti Hilya malah berfikiran macam-macam buk," jawabku.
"Kulo juga khawatir kalau hal itu malah nantinya membuat hati Hilya semakin goyah." Imbuhku lagi.
"Mboten..mboten gus. Jangan berpikir yang macam-macam." Kata Abah.
"Begini, sebenarnya Khalid niku juga punya niatan untuk melamar Hilya Buk, Bah, mereka dulu juga pernah dekat jadi kulo khawatir kalau Hilya kembali lagi menyukai gus Khalid." Ucapku yang membuat kedua orangtuaku terkejut.
"Kulo tau mengenai hal ini langsung dari Kyai nya Hilya waktu kemarin mengantarnya sowan. Gus Khalid datang ke Kyainya dan meminta untuk melamarkan Hilya bulan puasa kemarin," jelasku.
"Masyaallah, dadine.." ucap Ibu yang nampak terkejut.
"Untunge sampean ora kedisikan Gus," timpal Abah. (Untung kamu tidak keduluan).
"Lha trus Hilya nya gimana?" Tanya Ibu.
"Kirangan buk, semoga saja dia tidak tergoda. Sampun kulo paringi mahabbah, mugi-mugi Gusti Allah ngijabah," terangku yang diaminkan kedua orangtuaku.
(Entahlah buk, semoga saja dia tidak tergoda. Sudah saya beri mahabbah, semoga Gusti Allah mengijabah).
"Wajar saja Le, ibarat kembang, Hilya itu sedang mekar-mekarnya. Banyak yang menyukai dan ingin memilikinya. Sampean jangan menyerah begitu saja," tutur Abah.
"Nggeh Bah, insyaallah kulo perjuangkan. Makadari itu Hilya tidak perlu tau soal ini agar ia tidak ada pikiran untuk mundur."
"Matursuwun nggih Bah, Buk. Mboten memaksa kulo untuk menikahi Wafiq. Karena kalau tidak Hilya bakal ninggalin kulo." Sambungku lagi.
"Iyo Le. Abah sudah faham akan hal itu. Lagipula sampean itu susah dibujuk, keras kepala, mana bisa Abah maksa-maksa kamu."
Aku merenges sembari mengusap tengkuk mendengar sindiran Abah.
"Nggih sampun, kulo pamit pergi ke rumah Pak Hamdan dulu, sudah telat niki." Kukecup punggung tangan kedua orangtuaku lalu bergegas pergi karena sudah telat satu jam lamanya.
Aku benar-benar tidak habis pikir kalau Wafiq akan senekat ini memaksa orangtuanya untuk datang kerumah dengan membawa lamaran untukku dengan statusku yang sudah menikah. Walau memang berpoligami itu tidak diharamkan namun aku tak pernah sedikitpun memiliki niatan untuk menduakan cinta istriku. Apalagi aku sangat mencintai Hilya. Satu istri saja belum aku urus dengan baik apalagi dua, diawal pernikahan pula.
Aku mengerti akan perasaannya yang begitu dalam, tapi perasaan tidak bisa dipaksakan bukan?
Meski diluaran sana banyak yang menjalankan pernikahan yang terpaksa, namun aku tak ingin mengalami hal itu. Lagipula aku sudah menikahi Hilya, kami juga sudah saling mencintai dan sama-sama ikhlas menyetujui pernikahan ini, sebelum Khalid datang kembali dalam kehidupan kami.
Huft..!! Tidak tau mengapa aku merasa perasaan Hilya menjadi goyah semenjak kehadiran Khalid. Entah benar atau tidak, aku hanya menduga-duganya saja. Bisa saja kan, cinta lama yang belum kelar akhirnya bersemi kembali. Tapi sayangnya aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Bagiku Khalid hanyalah orang ketiga dalam hubungan kami.
______________________________________________
PoV Hilya
[Dek, sudah tidur belum? Bukain pintu nggeh. Sebentar lagi nyampek rumah.]
Sebuah pesan dari Gus Abdi tepat pukul sebelas malam. Mataku yang sudah mulai berat kupaksakan untuk tetap terjaga sampai suamiku pulang. Aku menunggunya sambil menonton film dari ponsel yang kusambungkan ke layar TV agar aku tidak tertidur.
[Dereng mas. Sudah nyampek mana?]
Belum juga mendapat balasan darinya lagi, sudah terdengar suara deru mobil di depan rumah. Aku segera bangkit dan membukakan pintu untuk suamiku, Aku menyambutnya sampai di teras.
Kukecup punggung tangannya dan dibalas olehnya dengan mengecup keningku. Kami pun sama-sama tersenyum.
"Matursuwun nggeh sudah mau nungguin." Ucapnya seraya merangkulku berjalan memasuki rumah.
"Seharusnya kan nginep di pesantren saja Mas, sudah malam begini. Wong tinggal merem aja kok."
"Mana bisa Mas tidur kalau gak disamping sampean."
Ucapnya yang memajukan wajahnya menyentuh pipiku. Aku mencubit lengannya.
Aku mematikan seluruh lampu sebelum kembali ke kamar.
Aku segera merebahkan diri karena mata ini sudah sangat mengantuk. Gus Abdi pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri lalu mengganti pakaiannya. Tak lama kemudian ia berbaring disisiku menarik selimut yang sama dengan yang kupakai.
Menit kemudian aku masih belum tertidur, kulirik wajah suamiku yang matanya terlihat menatap langit-langit kamar. Mataku menelisik air mukanya, nampak ia seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Ada apa Mas?"
"Hmm?" Seketika ia menoleh padaku.
"Gak ada apa-apa, sudah malam ndang babuk," jawabnya kemudian.
Aku beringsut mendekatkan tubuhku dan memeluknya, diangkatnya lengannya dan kusandarkan kepalaku diatasnya, lalu memejamkan mata sampai aku tertidur.
*
Mataku mengerjap-ngerjap kala Gus Abdi membangunkanku untuk qiyamul lail. Ia sudah rapi dengan memakai sarung dan baju kokonya, hanya saja ia belum memakai kopiahnya. Aku mengucek mataku agar membuatnya terbuka lebar dan segera beranjak ke kamar mandi untuk mengambil air wudlu.
Dinginnya air seketika membuat rasa kantukku menghilang.
Aku mendirikan sholat tahajud ketika suamiku sudah bersila memutar tasbihnya.
"Kulo dido'ain nopo mas?" Tanyaku ketika gus Abdi meniup ubun-ubunku.
"Rahasia." Jawabnya dengan senyum jahil. Aku mencebik.
"Mau tau?" Tanyanya. Aku mengangguk.
"Kasih upah dulu." Ucapnya lagi. Seketika jantungku berdesir dibuatnya.
"Dereng nderes lho Mas." Kataku yang berusaha menghindar.
__ADS_1
(Belum tadarus lho Mas)
"Nanti saja habis sholat subuh." Bisiknya lirih hingga nafasnya dapat kurasakan menyentuh hidungku.
Sedetik kemudian kami sama-sama terdiam, hanya tatapan mata kami yang saling beradu melewati keheningan malam ini.
***
"Data-datanya sudah siap semua?" Tanyaku pada Gus Abdi yang tengah mengancingkan baju Hem nya.
"Sampun dek. Itu masih didalam tas."
Aku beralih mengambil tas Laptop yang tergeletak diatas meja, didalamnya ada sebuah map yang berisi Kartu keluarga, ijazah, dan beberapa surat lainnya milik Gus Abdi. Aku mengambil tas itu dan memasukkan berkas milikku ke dalamnya.
Hari ini kami akan pergi ke KUA untuk mendaftarkan pernikahan kami.
Kami pergi dengan ditemani Abah.
Sebenarnya hari ini adalah hari pertama dimulainya kegiatan belajar mengajar di Yayasan tempat Gus Abdi mengajar, namun karena urusan kami juga sangat penting mengingat tanggal pernikahan yang sudah mendekati hari H, jadi Gus Abdi meminta izin untuk bolos untuk hari ini.
Aku sangat bahagia karena saat-saat yang aku tunggu akan segera tiba. Aku juga lega karena Kak Khalid sudah tidak menghubungiku lagi. Akupun telah memblokir nomornya. Subuh tadi ketika aku membuka media sosial, ada sebuah pesan spam karena pengirimnya belum berteman denganku. Saat aku tau akun tersebut adalah milik Kak Khalid tanpa pikir panjang lagi aku langsung memblokirnya saja daripada menambah masalah dalam hubunganku dengan Gus Abdi.
Sesuai saran Indri, aku harus tetap memilih Gus Abdi sebagai pendamping hidupku. Katanya dia lebih suka melihat aku menikah dengan Gus Abdi.
'Kan kuterima ia sebagai jodoh yang dipilihkan Allah untukku. Insyaallah Dia memang terbaik untukku meski hati ini sempat dirundung kebimbangan, namum sekarang aku sudah memantabkan hatiku untuk melangkah bersama Gus Abdi mengaruhi bahtera rumah tangga kami.
Dapat kurasakan Dia sosok yang mampu membimbingku dengan baik, sifatnya yang lembut dan penuh perhatian serta penyayang.
Sedangkan Mas Reza, aku belum bertemu lagi dengannya setelah pertemuan kami di Mall waktu itu. Semoga saja dia juga cepat move on agar tidak menggangguku lagi.
Lagi pula setelah menikah aku akan diboyong ke rumah suamiku, aku sudah 'dijagakne' untuk membantu Ibu Nyai Maryam mengurus pesantren putri. Jadi kecil kemungkinan untukku bertemu dengan Mas Reza lagi.
Keesokan harinya kami kembali pulang ke pesantren, selain karena Gus Abdi harus mulai mengajar, kegiatan pesantren pun juga akan segera dimulai, seluruh santri pun sudah banyak yang berangkat meski ada sebagian kecil yang datang terlambat 1-2 hari setelah waktu yang ditentukan.
Aku akan dipasrahi Ibu Nyai untuk mengawasi setiap kegiatan santri putri, mendisplinkan santri yang bandel dan yang suka bolos kegiatan mengaji.
Kata Ibu Nyai biasanya beliau kalau sempat akan memeriksa setiap sudut pesantren guna mencari apakah ada santri yang bolos dan bersembunyi. Jika ada yang tertangkap maka akan dihukum sesuai peraturan yang berlaku.
Selain itu aku juga akan mengisi sorogan kitab setiap ba'da magrib bersama dengan beberapa ustadzah lainnya. Aku juga mengambil alih pelajaran Tajwid di kelas 2 Ula menggantikan mbak Qonita.
"Ciyee.. ciye..!! Ning Hilya ciye...!!" Suara riuh mbak-mbak santri menggodaku ketika aku mengunjungi asrama tempatku tinggal dulu. Aku tersipu malu menanggapi serangan mereka.
"Eh, mbak Hilya kelihatan tambah cantik aja, iyo kan mbak-mbak?" Seru mbak Hasna teman satu kamar.
"Namanya juga calon pengantin, katanya wanita yang akan menikah itu ditemplokin bidadari makanya kelihatan cantik dan bersinar," timpal mbak Shima yang membuatku makin tersipu.
"Selain itu faktor lainnya yaitu karena si calon pengantin sedang merasakan kebahagian yang tiada tara jadi wajahnya tambah bersinar. Coba deh, sampean-sampean pas lagi sedih pasti sinar wajahnya kelihatan redup gak sedap dipandang." Imbuh mbak Riska.
"Apalagi kalau calon suaminya Gus Abdi pasti bahagianya dobel-dobel bahkan triple lah yaa..!!" Sahut Ika yang disambut dengan tawa mbak-mbak lainnya.
"Wes lah mbak, dari tadi nggudo aku ae mbak-mbak iki," ucapku malu-malu.
"Sampean ini bikin patah hati semua mbak-mbak pondok yang ada disini lho mbak. Hari pernikahan sampean dan Guse nanti bakalan jadi hari patah hati national."
Mereka tak hentinya berceloteh menggodaku, aku hanya bisa menanggapinya dengan senyum sumringah.
*
Ba'da Ashar Gus Abdi mengajakku untuk pergi ke tempat percetakan guna memesan undangan. Tempatnya tidak terlalu jauh, hanya butuh waktu sepuluh menit untuk sampai ke tempat percetakan.
Gus Abdi mengeluarkan motor matic berwarna putih dari garasi, tanpa diminta aku segera naik di jok belakang.
Aku berpegangan pada kain bajunya namun Gus Abdi meraih tanganku dan mengarahkannya untuk merangkul pinggangnya.
"Yo mbok sing mesra dikit," singgungnya. Aku hanya tersenyum menanggapinya.
Motor pun melaju dengan kecepatan sedang, sesekali aku menyenderkan kepalaku pada bahu suamiku. Untuk pertama kalinya aku dibonceng naik motor olehnya, dan ternyata rasanya lebih mengesankan daripada naik mobil.
Sesampainya di tempat percetakan kami langsung bertanya-tanya pada penjaga toko, seorang laki-laki yang seusia dengan gus Abdi. lalu kami ditunjukkan setumpuk sample undangan dengan berbagai motif.
"Ini yang lagi ngetren sekarang Mas," ucap Mas mas penjaga toko, tangannya menunjukkan sebuah undangan yang sampulnya terpampang foto pasangan pengantin, kurang lebih seperti foto preweding. Aku menatap suamiku.
"Isin dek," bisiknya di telingaku.
"Lainnya Mas," ucapku pada penjaga toko.
Aku pun kembali memilah-milah sample lainnya, sampai pilihan kami jatuh pada undangan yang bermodel seperti lembaran kitab kuning.
"Kapan bisa diambil Mas?" Tanya Gus Abdi.
"Insyaallah tiga hari lagi jadi Mas." Ia pun menyerahkan nota bukti pembayaran setelah kami menyerahkan uang DP.
"Pengen mampir apa ndak?" Tanya Gus Abdi padaku.
"Kemana?"
"Ke tempat waktu itu, pinggir kanal. Biasanya kalau sore seperti ini akan ada banyak orang disana."
"Boleh," kataku.
Gus Abdi pun melajukan motornya menuju tempat yang pernah kami kunjungi dulu saat kencan pertama.
Disana sudah ada banyak orang yang menikmati pemandangan sore ini dipinggiran sungai yang jika dilihat dari atas warna airnya kehijauan.
Di pinggiran jalan raya juga berderet para pedagang kaki lima yang menjual aneka makanan dan minuman. Seingatku sewaktu aku kesini tidak ada para penjual ini.
"Mereka buka lapak mulai sore sampai malam dek," terang Gus Abdi saat aku bertanya kenapa kami waktu itu tidak menemui para pedagang itu. Pantas saja, waktu itu kami kesini hampir tengah hari.
Melihat bangku yang kosong, aku menarik tangan Gus Abdi dan segera menduduki bangku tersebut sebelum keduluan orang lain.
Kebanyakan pengunjung disini adalah para remaja dengan sekelompok teman-temannya, ada juga sepasang muda-mudi yang entah berpacaran atau sudah menikah, ada juga sepasang suami istri yang membawa anak-anak yang masih kecil.
"Mau jajan apa?" Kata Gus Abdi yang menawariku.
"Minuman mawon Gus."
Gus Abdi beranjak berjalan menuju lapak-lapak penjual di pinggir jalan itu. Beberapa menit kemudia ia kembali dengan dua gelas plastik minuman kekinian dan sebungkus sosis bakar.
__ADS_1
"Kurang lengkapa kalau gak ada cemilannya." Ujar Gus Abdi.
"Undangan yang ada fotonya tadi sebenarnya bagus lho Mas," ucapku setelah menyeruput minumanku.
"Nanti kalau ada yang naksir sampean trus foto sampean disimpan habis itu dipelet atau disantet bagaimana?" Jawab Gus Abdi asal-asalan.
"Na'udzubillah, jangan sampai lah kita berurusan dengan hal-hal seperti itu."
"Lagian siapa juga yang mau menyantetku Mas," sambungku.
"Ya ndak tau. Makanya ndak perlu sebarin undangan pakai foto segala."
"Hmm, bilang aja kalau jenengan cemburu, ya kan??" Ucapku sembari menowel pipinya dengan ujung jariku.
Gus Abdi tersenyum menandakan bahwa tuduhanku memang benar.
"Mau bilang cemburu saja pakai bawa-bawa santet segala Mas." Gerutuku.
"Aku nggak rela kalau nanti ada yang mandangi foto sampean trus naksir. Lagi pula tidak menutup kemungkinan kan, santet itu memang ada dan nyata."
"Ehm.. enggeh pun. Kulo manut mawon Mas."
"Terus mulai sekarang kulo minta jangan upload foto selfie lagi nggeh dek, Aku hanya ingin kecantikan sampean hanya untuk suamimu ini." Gus Abdi menggenggam tanganku. Aku mengangguk pasrah dan tersenyum padanya.
"Terimakasih nggih dek, sudah mau menjadi istriku." Ucapnya seraya mengecup punggung tanganku.
"Kulo yang beruntung Mas, seharusnya kulo yang berterimakasih."
"Kulo janji bakal setia. Tidak akan ada yang namanya istri kedua bahkan ketiga."
Aku tersenyum bahagia mendengarnya.
***
Tiga hari menjelang hari H, au diantar gus Abdi pulang kerumah orangtuaku karena nanti prosesi ijab qobul akan dilaksanakan disana, untuk sementara kami tidak tinggal satu rumah karena Gus Abdipun masih harus mengajar, H-1 barulah ia mengambil izin cuti.
Dirumahku sudah banyak para tetangga yang berkumpul untuk 'rewang' hajatan. Sesekali aku ikut nimbrung dengan para perewang, ternyata ibunya Mas Reza juga turut hadir juga, aku merasa lega karena beliau tidak 'nyatru' atau memusuhi keluargaku karena penolakanku terhadap pinangannya.
Aku menelpon indri, menagih janjinya untuk datang ke pernikahanku sebelum hari akad berlangsung. Ia mengatakan bahwa besok pagi ia akan berangkat dengan diantar oleh Ayahnya.
Tibalah keesokan harinya.
Aku menyambut indri di teras rumah, Indri berjalan melewati jajaran kursi yang sudah ditata sejak kemarin sore. Ia melambaikan tangan dengan senyum lebar memamerkan deretan gigi putihnya. Kami berpelukan erat seperti sahabat yang bertahun-tahun tidak bertemu, padahal belum genap sebulan kami tidak bertemu.
Aku langsung membawa Indri masuk kedalam kamarku.
"Capek ya? Bentar tak buatin teh dulu. Rebahan dulu aja disitu." Tanpa menunggu jawaban Indri Aku langsung keluar kamar dan kembali lagi dengan membawa dua gelas teh hangat.
Saat Aku baru sampai depan kamar Ibuku terdengar suara teriakan yang ternyata berasal dari kamarku. Aku melihat mas Azam seperti baru saja menutup pintu kamarku dari luar, wajahnya terlihat pias.
"Ada apa?" Tanyaku pada Mas Azam.
"Aku kira yang didalam kamar itu kamu Hil. Dia kaget pas Aku buka pintu."
"Gak diapa-apain kan?"
"Ya nggak lah, ngawur aja kamu," dengkus Mas Azam sambil berlalu pergi. Aku menertawainya.
Aku membuka pintu, kudapati Indri berdiri di depan cermin sambil menyisir rambut panjangnya yang terurai indah.
"Siapa sih, itu tadi Hil, buka pintu tanpa permisi pas aku lagi gak pakek jilbab lagi, ngeselin kan jadinya. Kelihatan deh auratku sama dia."
"Mas Azam," jawabku yang sedang menaruh gelas berisi teh diatas meja.
"Mas Azam kakakmu?"
"Iya lah, siapa lagi."
Dapat kulihat Indri seperti mengulum senyum namun ia tahan. Walaupun tadi ia menunjukkan kekesalannya, namun ia tak dapat menyembunyikan senyumdan yang terukir di sudut bibirnya.
Pasti dia sempat terkesima dengan ke-handsome-an Mas Azam.
***
Hari yang ditunggu telah tiba, hari paling mendebarkan sepanjang hidupku, meski aku dan Gus Abdi sudah menikah secara siri namun tetap saja aku merasa grogi menjelang akad nikah berlangsung.
Hari ini aku memakai gaun pengantin syar'i berwarna ungu muda dengan jilbab yang menjutai menutup dada. Khimarku dibingkai rangkaian bunga melati yang harum khas pengantin baru. Tanganku pun juga dihias dengan mehendi warna putih.
Hari ini aku harap Gus Abdi akan pangling dengan penampilanku ini.
Suara tabuh musik rebana mulai dimainkan disertai lantunan sholawat badar menyambut kedatangan rombongan pengantin putra. Dengan ditemani Indri, aku keluar dari kamarku menuju pelaminan tempat ijab qobul akan dilangsungkan. Disana sudah ada Gus Abdi yang duduk didepan penghulu menungguku untuk duduk disampingnya.
Seakan-akan semua mata tertuju padaku saat ini. Indri menuntunku sampai aku duduk disamping lelaki yang akan menjadi Imam dunia akhiratku.
"Qobiltu nikahaha watazwijaha Hilya Assyafa'ah binti Umar Said bimahrin madzkurin haalaan..!!"
Air mataku menetes, perasaan bercampur aduk antara bahagia dan sedih, sedih karena setelah ini aku akan terpisah dari kedua orangtuaku dan akan tinggal bersama keluarga baruku. Tanggung jawab Abahku kiini telah diambil alih oleh suamiku, Gus Abdi. Kini baktiku akan kupersembahkan untuk suamiku, surgaku kini ada pada dirinya.
THE END.
________________________________________________
Semua wanita sebelum mereka menikah, pasti pernah mengalami yang dinamakan dilema antara memilih calon pendamping hidup. Baik itu wanita yang berparas cantik maupun yang sedang-sedang saja pasti akan ada lebih dari satu pria yang datang melamarnya.
Dan anehnya, ketika ada satu saja pria yang datang melamar, maka dalam waktu yang dekat datang pula beberapa pria lain yang juga mempunyai niatan yang sama, bahkan yang tidak kita kenal sekalipun. Padahal sebelumnya tidak ada satupun yang menampakkan gelagat-gelagat tersebut.
Dalam posisi ini kita sebagai wanita jadi serba salah ya, ketika pilihan kita sudah jatuh pada salah satu diantara mereka, maka pria lain akan tersinggung, nanti kita dikiranya mandang fisik atau mandang dompet. Padahal kita kan memilih yang memang sesuai dengan hati dan satu chemistry kan ya? Seperti kata Gus Abdi, perasaan gak bisa dipaksakan.
(Curhat ya thor?) Maybe yess mayne no. Hehehe..
Sekian sampai disini saja ya cerbung "Gus Idola", kalau panjang-panjang nanti malah jadi kayak sinetron indo yang gak tamat-tamat. Maaf karena part terahir ini uploudnya lama karena ada gangguan teknis.
Terimakasih sudah meluangkan waktu kalian untuk membaca cerbung perdana saya. Maaf jika masih banyak kekurangan dari segi bahasa, penulisan, maupun jalannya alur cerita, maklum masih perdana. Semoga kita berjumpa lagi pada cerbung lainnya.
Jazakumullah khoiron katsir.
By : Nihayatun Ni'mah
__ADS_1