
GUS IDOLA
Waktu berlalu, tak terasa puasa ramadhan sudah memasuki hari ke-25. hari-hariku hampir tak pernah terlewatkan bersama gus Abdi meski hanya lewat telpon dan pesan-pesan indah. Kadang kami saling mencuri pandang saat tak sengaja bertemu dengannya di ndalem.
Saat ia datang ke musholla untuk sema'an, maka aku diam-diam menata sandalnya dengan rapi.
Saat aku didapur untuk membantu memasak ibu Nyai, terkadang gus Abdi mondar-mandir di dapur seperti orang linglung. Saat ditanya selalu jawabnya ada sesuatu yang ia cari. Aku tersenyum geli melihat tingkah nyelenehnya itu.
"Setelah semua kitab khatam insyaallah kulo wangsul gus."
Ucapku ditelepon.
Sejenak ia terdiam. Sebenarnya hatiku berat mengutarakan hal ini, andai waktu bisa ditarik mundur, aku masih ingin lebih lama tinggal di pesantren ini.
"Kapan?"
"Insyaallah kemungkinan dua hari lagi semua kitab khatam, ngaose jenengan juga besok sudah khatam kan?"
"Kenapa gak nunggu sampai malam takbir?"
"Mbak-mbak pulangnya setelah khataman gus, kalau saya disini sampai malam takbir berarti sendirian dong."
Hening. kali ini ia tidak banyak bicara. Entah, mungkin karena aku mengatakan kalau aku akan pulang dua hari lagi.
"Dek."
"Dalem?"
"Mboten usah wangsul nggeh. Teng mriki mawon."
(Gak usah pulang ya, disini saja)
"Mana bisa gus, mosok kulo suruh jadi penunggu pondok?"
"Dek.."
"Daaleeeeemmm."
"Kulo sayang kalih sampean, Ampun wangsul nggeh."
(Aku sayang sama kamu, jangan pulang ya.)
Deg-deg.. Deg-deg.. Deg-deg..
Suara jantungku sudah terdengar seperti genderang yang bertabuh. Tak dapat kulukiskan ekspresi wajahku sekarang, yang pasti aku terkejut bukan main. Tak kusangka kata-kata itu terlontar juga dari lisannya.
Kurasa pipiku sekarang sudah merona, untung aku hanya duduk sendirian disini, ditempat biasa aku telfunan dengan gus Abdi yaitu di teras musholla.
Mbak-mbak santri mengantakan bahwa tempat ini adalah tempatku bersemedi setiap malam, tak akan ada yang akan menempatinya saat jam-jam aku telfunan dengan gus Abdi. Mereka mengira aku menelpon kekasihku, padahal orang yang mereka kira itu adalah gus Abdi. Aku tak bisa membayangkan bagaimana ekspresi mereka jika yang setiap hari menelponku adalah gus idola mereka.
"Dek?"
"Dalem sayy.. Eh, gus!" Aku menepuk mulutku sendiri. Hampir saja aku salah bicara.
"Kok malah diam?"
"Jenengan tadi bilang apa gus? Agak kurang jelas." Sengaja agar aku dapat mendengar kalimat itu kembali.
"A..aku cinta kamu, Hilya."
Lagi, jantungku betabuh lagi. Rasanya tubuhku seperti sedang melambung diatas awan. Ingin rasanya aku berteriak sekencang mungkin, memberitahu keseluruh dunia bahwa gus Abdi menyatakan cintanya untukku.
Sejurus kemudian aku menjadi membisu, antara bingung dan tak tau harus mengatakan apa.
Apakah aku harus mengatakan bahwa aku juga mencintainya? Tapi aku sangat malu untuk mengatakannya.
"Ehm.. gus. Sudah dulu ya, dipanggil indri. Sepertinya ada yang penting." Kilahku berusaha mengakhiri telepon.
"Assalamu'alaikum." Cepat-cepat ku ucap salam dan mengakhiri percakapan kami.
Aku segera berlari mencari indri, kupeluk dia erat-erat setelah kutemukan dirinya sedang menonton tv bersama mbak-mbak lainnya.
Indri nampak bingung dengan tingkahku yang aneh, aku hanya tersenyum kegirangan menjawab pertanyaannya.
***
Setelah semua kitab khatam kami semua mengadakan syukuran yaitu dengan berbuka puasa bersama dengan menyembelih ayam kampung lalu akan dimasak di dapur ndalem.
Hari ini kami masak besar, ada enam santri putri yang membantu memasak di dapur diantaranya mbak Qonita, mbak Rana, mbak Shima, mbak Bilqis, mbak Kayla dan aku. Dibantu oleh dua orang ibu-ibu yang notabene tetangga pondok ini, mereka yang meracik bumbu serta memasak, sedangkan kami bertugas untuk membantu, misalnya mengupas bawang, memarut kelapa, mengupas sayuran dan lain-lain.
Ada juga beberapa kang pondok yang ikut membantu juga karena seluruh santri putra dan putri hari ini akan melakukan syukuran secara bersamaan. Jika dihitung jumlah keseluruhan santri putra dan putri ada sekitar 400 orang.
Tenaga kang pondok akan dibutuhkan untuk meringankan pekerjaan kami agar cepat selesai pada waktunya, diantaranya mereka akan membantu menyembelih ayam, memecah kelapa, menanak nasi, dan mencuci peralatan memasak. Sedangkan kami para wanita memasak berbagai macam menu yang akan dihidangkan nantinya.
Hari ini aku tidak melihat gus Abdi, mungkin karena suasana ndalem sedang ramai. Mendadak aku merindukannya.
Sejak ia menyatakan cintanya malam itu entah mengapa dia belum meneleponku lagi. Apa mungkin dia marah karena aku tidak meresponnya, malah langsung menutup telepon?.
Hari ini adalah hari terahir aku berada di pesantren ini, besok aku akan pulang bersama dengan indri dan juga santri putri lainnya. Kami akan dijemput oleh orangtua masing-masing. Rasanya aku sudah rindu dengan rumah, ingin merasakan buka puasa dan sahur bersama keluarga. Aku juga rindu dengan Ubed, adik laki-lakiku yang suka aku jahilin. Sedangkan mas Azam kakak laki-lakiku biasanya ia akan pulang dari pesantren saat malam takbir.
Tikar digelar membentang memenuhi halaman pondok, daun-daun pisang telah ditata rapi memanjang mengelililingi luasnya tikar, sebagian dijejer ditengah-tengahnya. Diatas daun-daun pisang itu nantinya akan diisi nasi berserta lauk pauk yang komplit. Ditambah dengan es campur yang sudah dituang kedalam gelas-gelas plastik. Kami juga menyediakan tempat di teras musholla jika dihalaman tidak memadai untuk tempat duduk semua santri. Kami hanya berharap semoga saja tidak hujan.
Moment makan bersama inilah yang paling aku sukai saat dipesantren. Kami memang sudah terbiasa makan bersama dalam satu wadah. Sama halnya dipesantren asalku, biasanya aku dan teman-teman satu gendokan (masakan) akan makan bersama dalam satu lengser. Terkadang kami membuat es marimas dalam wadah ember plastik atau toples plastik bekas kue kering karena kami tidak punya teko. Air minumpun kami langsung mengambilnya dari sumur atau kran tanpa merebusnya. Lebih segar menurutku. Namun anehnya saat aku mencoba meminum air mentah dirumah rasanya mau muntah.
***
__ADS_1
Menjelang siang hampir semua santri sudah dijemput oleh orangtua masing-masing. Tinggal beberapa saja yang masih tinggal. Kukemasi semua barang-barangku memastikan tidak ada yang tertinggal. Orangtuaku akan menjemput nanti sore karena kalau siang mereka repot mengurus toko baju kami yang mana menjelang lebaran seperti ini akan sangat ramai pembeli. Sedangkan indri juga sudah dijemput sejak pagi tadi.
Satu bulan berada di pesantren Al-Kautsar ini cukup meninggalkan kesan manis dalam benakku. Dimana aku bertemu dengan lelaki yang kukenal dengan baik lewat jejaring sosial yang ternyata adalah putra tunggal dari Kyai pengasuh pondok pesantren ini. Sungguh fakta yang tak pernah kusangka-sangka.
Dan parahnya aku t'lah jatuh cinta padanya.
Ku cek kembali ponselku, berharap ada sebuah pesan dari gus Abdillah, namun nyatanya hanya ada kekecewaan. Sampai sekarang dia belum menghubungiku lagi. Apakah mungkin dia tidak serius padaku? Sehingga saat dia tau aku akan pulang dia mendadak menjauhiku?.
Aku menghembuskan napas kasar, memberi sedikit ruang udara dalam dadaku yang mendadak menjadi sesak. Mataku menghangat, perlahan bulir bening jatuh dari sudut mata. Seharusnya aku tidak terlalu berharap lebih padanya.
Ya, sudahlah, memang aku tak pantas untuknya.
Aku duduk termenung diteras musholla, tempat dimana aku biasanya bercengkrama dengannya lewat udara. Kupandangi jendela yang biasanya ia berdiri disana. Sepi, tak ada siapapun disana.
***
"Matursuwun bu, sudah menjaga Hilya selama disini. Maaf kalau sudah merepotkan". Ucap ibu saat kami duduk diruang tamu ndalem.
"Mboten repot mbak Rum, malah kulo sing ngerepotne anaknya sampean. Tiap hari dia bantu-bantu kulo masak disini."
Ibu Nyai menoleh padaku sembari tersenyum ramah.
"Sudah sewajarnya bu, mosok to enak-enak tinggal makan tapi gak mau rekoso. Keenakan Hilyane bu, lhawong salah satu tujuan dipondokne biar belajar mandiri kok."
"Oh, ya. Mbak Rum waktu itu nduk Hilya tak tanyain sudah siap nikah apa belum, katanya belum ada calonnya. Apa mau tak carikan?". Ibu Nyai melirik padaku disusul dengan tatapan ibuku. Mendadak aku menjadi gugup. Ibu menyenggol lenganku dengan sikutnya.
Aku hanya membalas dengan tatapan isyarat "apa sih buk".
"Anak zaman sekarang jarang ada mau dijodoh-jodohkan bu, maunya nyari sendiri." Ujar ibuku. Aku tetap diam menunduk namun hatiku terseyum lega.
"Abdi yo ngono mbak, dijodohkan sana-sini gak ada yang cocok. Banyak yang datang kesini membawa lamaran untuk putri mereka tapi gak ada satupun yang dilirik sama Abdi." Ibu Nyai menghela napas.
Sekilas aku merasa ibu Nyai sedang melirik ke arahku, begitu pun dengan ibuku. Aku merasa ada yang aneh disini, entah apa itu.
Selesai berpamitan aku dan ibu melangkah menuju mobil kami yang terparkir diluar gerbang masuk, tepatnya dipinggir jalan. Saat hendak masuk ternyata pintu mobil masih terkunci, dan Abahku tidak ada. Mungkin beliau masih berada di ndalem putra.
Saat ditelpon ternyata ponsel Abah ada didalam mobil, akhirnya ibu kembali lagi ke ndalem untuk mencari Abah.
Sesaat kemudian muncul seseorang dari balik gerbang dengan ekspresi wajah yang terlihat panik.
"Gus?" Gumamku.
"Untung sampean belum pulang dek," ucapnya sembari melangkah mendekat.
Ia menyodorkan sebuah bungkusan berbentuk persegi yang ukurannya tidak terlalu besar namun juga tidak kecil.
"Tolong diterima dek, anggap saja sebagai kenang-kenangan."
Aku sempat ragu untuk menerimanya, namun saat kutatap matanya yang terlihat tulus, akupun menerima bungkusan tersebut.
"Maaf karena dua hari ini gak bisa nelpon sampean. HP kulo masih di servis, habis nyemplung ke kolam pas ngasih makan ikan."
Aku sedikit tercengang mendengar ucapannya. Ternyata dugaanku salah, aku sudah su'udzon padanya.
Seketika hatiku menjadi lega, kuulas senyum disudut bibirku.
"Mboten nopo-nopo gus."
"Nggeh sampun, hati-hati dijalan." Ucapnya sembari menyungingkan senyuman manisnya. Ia pun berlalu pergi meninggalkanku yang masih berdiri disamping mobil.
Agak lama aku menunggu ibu, "sebenarnya Abah kemana sih, kenapa lama sekali," gerutuku dengan bibir yang sudah maju dua centi. Kujatuhkan tas besarku ketanah lalu kuhempaskan pantatku diatasnya.
Kupandangi bungkusan kotak pemberian gus Abdi, "kira-kira apa ya isinya?" Gumamku dalam hati.
"Dapat kado dari siapa nduk?"
Suara ibu mengagetkanku. Akhirnya kedua orangtuaku muncul juga.
"Dari teman bu." Jawabku asal.
"Teman spesial?" Tanya Abah.
"Memangnya nasi goreng? Spesial?!". Merekapun terkekeh.
***
Setibanya dirumah aku langsung masuk kedalam kamarku, tak sabar rasanya segera ingin membuka bungkusan itu.
Dengan hati yang berdebar-debar sembari mengucap bismillah kurobek kertas kado motif bunga yang membalutnya, dan nampaklah sebuah kotak berwarna putih. Saat kubuka ternyata isinya adalah sebuah Al-qur'an tafsir. Sekilas tidak yang spesial, namun saat kupandangi setiap sudutnya mataku tertuju pada bagian bawah Al-qur'an yang terlihat seperti ada satu halaman berongga. Sepertinya ada sesuatu yang mengganjalnya.
Saat kubuka halaman tersebut mataku terbelalak, telapak tanganku menutup mulutku yang spontan terbuka karena ketakjuban pada benda yang kulihat sekarang. Sungguh tak bisa kupercaya, sebuah emas berbentuk lingkaran kecil mengikat pada tali pembatas halaman Al-qur'an. Dan juga sebuah kertas kecil terselip diantara halaman tersebut, nampak sebuah tulisan tergores diatasnya. Kuambil kertas tersebut dengan tangan yang gemetar lalu kubaca,
"Maukah engkau membantuku menyempurnakan sebagian imanku?"
Abdillah.
Tak kuasa lagi aku membendung air mata kebahagiaan yang jatuh berderai. Sebuah kebahagiaan yang kunanti-natikan selama ini, yang hampir saja aku membuangnya jauh-jauh karena takut akan kekecewaan.
Kalimat syukur tak henti-hentinya aku lafadzkan kepada Sang Maha Cinta, Allah swt.
Alhamdulillah.. Alhamdulillah.. Alhamdulillah..
Kupeluk erat cincin serta Al-Qur'an pemberian darinya serta kuciumi sampulnya yang berwarna keemasan.
Uhibbuka fillah gus.
__ADS_1
Jika saja ponselnya tidak rusak, maka sekarang juga aku akan langsung meneleponnya dan menjawab "nggeh kulo purun gus." (Iya, saya mau gus.)
"Hil?" Suara ibu mengagetkanku, kepalanya sudah menyembul dari balik pintu kamarku.
"Baru datang langsung masuk kamar saja, gak kangen sama adekmu? Dicariin itu lho."
"Nggeh buk, rehat sebentar." Kilahku.
"Kui to, kadone?"(Itu ya, kadonya.) Tanya ibu kepo sambil senyum-senyum. Matanya tertuju kearah Al-Qur'an tafsir yang kupeluk. Sementara cincinya kusembunyinkan dalam genggaman tanganku.
Aku mengangguk.
"Ya, wes. Gek bantu ibu siap-siap. Sebentar lagi buka puasa." Titah ibu.
"Nggeh, buk."
Tiba-tiba aku teringat pada indri, ingin rasanya aku membagi kebahagiaan ini bersamanya. Tapi biarlah nanti saja kalau aku bertemu dengannya saat hari raya, akan langsung kutunjukkan cincin ini padanya agar dia terkejut.
***
"Kok tumben masak banyak banget buk?" Tanyaku heran karena melihat bahan-bahan masakan didapur yang begitu banyak tidak seperti biasanya. Ada daging ayam, daging sapi, lele, buah-buahan, serta bahan-bahan lainnya.
"Nanti malam kan, malam takbir, besok lebaran. Masa kamu gak mau makan enak besok?" Jawab ibu yang tengah sibuk membersihkan ikan lele.
"Kan, masih besok buk?"
"Dimasak sekarang kan, juga gak apa-apa. Besok tinggal angetin aja."
Aku membulatkan mulutku.
"Ndang diewangi ibuke, biar cepet selesai." Titah ibu.
Tanpa menjawab aku langsung mengambil pisau dan duduk di lantai lalu mulai mengupas bawang.
"Assalamu'alaikum." Sayup-sayup terdengar suara salam dari depan rumah.
"Wa'alaikumsalam. Coba lihat Hil, siapa yang datang."
Baru saja akan berdiri tiba-tiba sudah ada kakakku yang berdiri diambang gawang pintu dapur.
"Mas Azam? Kok tumben wes pulang. Biasanya nanti malam." Tanganku menyambut tangan mas Azam lalu mencium punggung tangannya.
"Alhamdulillah, sehat le?" Ibu segera mencuci tanggan lalu menyambut mas Azam.
"Kata ibu-"
"Wes gek ndang salin disek Zam, leren-leren kono. Mari perjalan adoh kok" Kata ibu memotong pembicaraan mas Azam.
(Cepet ganti baju dulu Zam, istirahat sana. Habis perjalanan jauh kok.)
"Nggeh buk." Mas Azam melangkah meninggalkan dapur.
"Nduk, tolong belikan tusuk sate. Tadi ibu lupa beli." Titah ibu.
"Mau bikin sate buk?"
"Iya, itu ayamnya sebagian dibikin sate nanti. Sebagiannya dibikin ayam pedas." Ujar ibu sambil menyodorkan uang dua puluh ribu an.
"Satu ikat yo." Imbuhnya lagi.
Aku mengangguk lalu mencuci tanganku dan bergegas pergi.
Adzan ashar berkumandang, hampir 80 % masakan kami selesai. Tinggal menyiapkan es campur, membuat trancam, dan menunggu nasi matang. Sambal sate pun tinggal diseduh karena ibu sudah membuatnya dari kemaren agar pekerjaan hari ini cepat selesai karena sifat sambal sate kan, tahan lama tidak mudah basi seperti sambal pecel.
Menu buka puasa hari ini benar-benar spesial membuatku tidak sabar menunggu waktu berbuka.
Selsesai sholat ashar aku pergi ke dapur lagi melanjutkan pekerjaan yang belum selesai.
Ibu terlihat bolak balik melihat ke arah jam dinding.
"Masih lama kok buk, magribnya." Kataku yang sedang memotong nanas menjadi kecil-kecil untuk campuran es buah. Nanas itu sudah aku kupas sejak tadi sebelum ashar.
"Gek ndang dimarekne nduk, selak magrib ngko." (Cepet diselesaikan nduk, keburu magrib nanti).
"Ubed..! Karpete wes dibeber urung?" Panggil ibu pada adikku.
"Sampun buk..!" Terdengar suara sahutan dari dalam rumah.
"Tengnopo kok ndadak mbeber karpet buk?" Tanyaku heran.
(Kenapa kok pakai gelar karpet segala?)
"Nanti buka puasanya lesehan aja biar longgar."
"Owh.." mulutku membulat sempurna.
20 menit menjelang waktu berbuka aneka buah yang kupotongi pun sudah selesai tinggal membuat kuahnya saja. Ibu menyuruh mas Azam untuk memecah es batu menjadi kecil-kecil. Lauk paukpun sudah ibu tata dengan rapi dalam wadah yang sudah disiapkan serta nasi yang ditaruh dalam beberapa wadah.
"Katanya sebagian buat besok, kenapa disajikan semua buk? Ini kebanyakan kalau cuma empat orang aja." Tanyaku heran melihat sajian makanan yang begitu banyak dan bermacam-macam.
"Nanti ketambahan tiga orang, teman ibuk mau buka puasa bersama disini." Jawab ibu sambil senyum-senyum aneh.
"Buk, tamunya datang." Panggil Ubed yang langkahnya semakin mendekat ke dapur.
To be continued
__ADS_1