GUS IDOLA

GUS IDOLA
Rindu yang terbayar


__ADS_3

GUS IDOLA


#PoV Hilya


Hampir setiap sore saat aku akan selesai membantu Ibu Nyai memasak, gus Abdi selalu mencegatku. Ia akan bersiaga duduk dikursi dekat pintu belakang dapur. Awalnya aku tak melihatnya karena posisiku memasak berada didapur depan, sedangkan ia berada di dapur belakang. Dapur ndalem dibagi menjadi dua bagian, yang depan jadi satu dengan ruang makan sedangkan yang belakang terdapat tungku kayu bakar yang mana hanya digunakan saat ada acara masak besar. Kedua ruangan itu terpisah dan terhubungkan oleh satu pintu.


Saat melihatnya, aku selalu berpura-pura tidak mengenalnya. Sakit sebenarnya, tapi apa boleh buat. Aku hanya merasa tidak pantas untuknya.


"Dek." Panggilan itu selalu ingin menarikku untuk kembali berhadapan dengannya, namun aku tetap melongos pergi secepat mungkin meninggalkan dapur. Aku sempat berfikir sampai kapan aku harus seperti ini, selalu menghindar darinya.


"Kalau aku jadi kamu Hil, tidak akan kusia-siakan kesempatan ini. Udah ganteng, pinter, Hafidz pula. Wanita mana yang akan menolak pria sesempurna itu. Kurasa cuma kamu satu-satunya wanita didunia ini yang gak mau." Indri berceramah panjang lebar tiada henti. Bukannya menghibur dia malah semakin membuatku bimbang.


Seperti biasa, kami selalu duduk berdua menantikan waktu magrib tiba di serambi musholla sebelah utara selepas kegiatan sema'an Alqur'an ba'da ashar yang diisi oleh gus Abdi.


"Aku cuma takut aja ndri."


"Takut sama siapa?"


"Ibu Nyai dan abah Kyai lah."


"Kamu itu hanya takut pada bayang-bayangmu saja Hil." Indri memegang kedua pundakku.


Indri memang benar, aku hanya mengkhawatirkan sesuatu yang belum pasti.


Tapi disisi lain pikiranku selalu terbayang-bayang akan gus Abdi yang masih bersikeras menemuiku dan aku selalu menghindarinya.


"Kasihan gus Abdi Hil, tega banget kamu." Wajah indri memelas.


"Aku kudu piye?" Aku memeluk kedua lututku dan menunduk membenamkan wajahku.


"Kamu harus berani melangkah maju dong, mau sampai kapan kamu akan lari dari kenyataan."


Aku terdiam memikirkan perkataan indri. Mungkin indri memang benar, aku harus siap menghadapinya.


Suasana menjadi hening, tak ada suara indri lagi. Aku mengangkat kepalaku yang semula kubenamkan sembari memeluk lutut. Sungguh aku sangat terkejut melihat sosok pria yang sekarang berdiri dihadapanku.


Kuedarkan mataku mencari sahabatku indri yang tiba-tiba menghilang dari sisiku.


"Indri!" Pekikku kesal dalam hati.


Gus Abdi, kini pria itu mengambil posisi duduk disebelahku dengan berjarak sekitar dua meter. Kami sama-sama duduk dengan menyandarkan badan ke tembok dan menghadap utara.


Entah mengapa kali ini aku memutuskan untuk tetap ditempatku. Tanganku mendadak dingin, sedingin es. pipiku terasa memanas, jantungku berdegub kencang seakan mau lepas.


Kenapa tiba-tiba dia ada disini?.


"Dek." Sepertinya dia menoleh kearahku. Aku dapat melihatnya dari ekor mataku.


"Syukurlah sampean ndak kabur."


Aku tidak berani memandangnya, khawatir kalau dia melihat pipiku yang memerah.


"Ada apa? Kenapa sampean selalu menghindar dek? Padahal aku sudah menunggu lama ingin bertemu langsung dan berbicara denganmu."


"Em.. nganu gus, hm," ucapku grogi. Aku bingung harus berkata apa.


"Maaf kalau aku ndak terus terang sejak awal." Matanya menatap lurus kedepan. Aku menoleh padanya.


"Apakah sampean kecewa dengaku?" Dia menoleh lagi kearahku. Aku masih menghindari tatapannya.


"Mboten." Aku menggeleng pelan.


"Lalu kenapa sampean tidak mau menemuiku?" Tanyanya lagi. Aku terdiam, sedikit ragu untuk menjawab pertanyaannya.


"Dek?"


"Kulo ajrih kalian Ibu Nyai dan Abah Kyai gus." (Saya takut pada Ibu Nyai dan Abah Kyai gus).


Jawabku lirih sambil menundukkan kepala.


Gus Abdi terkekeh mendengar jawabanku.


Kini ia megubah posisinya dan menghadap kebarat, lurus kearahku.


"Madepo mriki dek." (Lihatlah kesisi dek).


Masyaallah, jantungku serasa mau copot mendengar perintahnya. Kenapa dia menyuruhku menghadap padanya.


"Mboten mboten lak tak brakot." (Gak akan saya gigit kok). Imbuhnya lagi melihatku yang masih mengabaikan permintaanya.

__ADS_1


Kini aku mengubah posisiku menghadap ke timur, lebih tepatnya menghadap gus Abdi. Kepalaku masih saja menunduk, tidak berani menatap langsung matanya.


"Deekk.." panggilnya sedikit manja.


"Ya Allah, gus. Sampean ini gak tau apa kalau dari tadi jantungku hampir loncat dari tempatnya." Gumamku dalam hati.


"Madepo mriki to, kulo ki pengen semerep senyume sampean kok." Pintanya memelas.


(Lihatlah kesini, aku ingin meihat senyumanmu).


Aku tersenyum tersipu malu mendengar tutur katanya.


"Lha, lek didelekne eseme." Gerutunya. Sungguh, dia sangat imut.


(Nah, kan disembunyikan senyumnya)


Aku mengangkat kepalaku, menatap lurus ke wajahnya. Seketika suasana menjadi hening, seolah angin sedang berhenti bertiup. Kini yang terdengar hanyalah suara detak jantungku sendiri.


Dengan berjarak dua meter, mata kami saling beradu. Kutelusuri sorot matanya dalam-dalam membuatku hanyut kedalamnya. Sejenak kami saling diam dan memandang satu sama lain. Senyumnya terukir indah menghiasi wajah tampannya yang bersih tanpa kumis maupun jenggot.


Kelopak matanya berkedip pelan menambah pesonanya. Sungguh indah ciptaanmu ini ya Allah.


"Astaghfirullahal 'adzim." Dia bergumam lirih lalu menundukkan pandangannya. Aku pun demikian.


Suara tarhim menggema memecah keheningan senja ini. Pertanda waktu magrib akan segera tiba.


Gus Abdi berdiri lalu beranjak masuk kedalam musholla, lalu tak lama kemudian dia keluar kembali dengan memegang ponsel miliknya.


Aku berfikir mungkin tadi dia kesini karena hendak mengambil ponselnya yang tertinggal.


Lalu indri, awas saja nanti dia. Dia sudah membuatku terjebak dalam situasi seperti tadi disini bersama gus Abdi. Untung saja tidak ada mbak pondok yang lalu lalang melihat kami, karena jam-jam segini pasti semua santri sedang sibuk membuat persiapan untuk berbuka puasa.


"Insyaallah nanti malam kulo telpon. Tolong diangkat nggeh."


Aku mengangguk pelan, diapun berlalu pergi.


Entah sihir apa yang dibuatnya, yang semula aku selalu menghindar kini aku tak bisa berkutik dihadapannya. Tatapannya yang begitu dalam membuatku hanyut kedalam lautan asmara.


Aku merasa seperti sedang bermimpi, mimpi yang sangat indah. Aku masih membayangkan dirinya duduk ditempatnya tadi, memandangku penuh arti. Seketika aku lupa akan rasa lapar dan dahagaku.


Aku beranjak dari tempatku, aku terus berjalan sambil senyum-senyum sendiri.


Aku menyapa setiap mbak pondok yang berpapasan denganku dengan senyum yang penuh kebahagiaan. Mereka terlihat heran melihat tingkahku yang tidak biasanya.


Baiklah akan kucari anak itu nanti saja, sebentar lagi waktu berbuka, aku harus segera ke dapur ndalem.


***


Saat dikamar mandi aku seperti melihat indri, saat aku mendekatinya dia malah menyembunyikan diri dibalik segerumbulan mbak-mbak yang sedang mengantri sambil bergosip.


"Mau kemana, ha?" Aku menarik kerudung indri dari belakang karena seperti berusaha sembunyi dariku.


"Hehee.." dia malah cengengesan tanpa dosa.


"Kenapa ninggalin aku tadi?" Tanyaku kesal.


"Sstt..! Ngomongnya jangan disini, nanti banyak yang denger." Indri berbisik ditelingaku.


Benar juga, bisa-bisa nanti aku jadi bahan perghibahan dipesantren putri ini.


"Oke, nanti setelah tarawih kita bicara empat mata!" Aku menujuk kedua jariku tepat didepan kedua matanya.


"Mbak Hilya!" Aku menoleh kearah suara yang memanggilku. Mbak Rana, kini ia sudah berada dihadapanku.


"Sampean yang mimpin sholat tarawih ya." Ujar mbak Rana.


"Loh, memangnya ibu Nyai kemana?"


"Ada urusan mendadak, beliau pergi dengan guse tadi."


"Kan, ada mbak-mbak lainnya. Aku kan masih baru disini mbak."


"Mbak Qonita sakit. Aku, mbk Shima, mbak Nurma, mbak Hanum, semuanya halangan."


"Halangan kok bisa janjian gitu." Aku mengeryitkan dahi.


"Mbak-mbak lain kan masih banyak." Kataku lagi.


"Gak ada yang mau mbak. Sampean saja ya, tadi ibu Nyai juga ngasih saran buat nyuruh sampean saja."

__ADS_1


Aku terdiam berpikir sejenak.


"Ayolah mbak, daripada gak ada yang jadi imam. Dosa lho sampean."


"Kok malah aku yang dosa sih mbak. Hm, ya wes. Aku siap."


"Nah, gitu dong." Mbak Rana mengerlingkan sebelah matanya, lalu pergi begitu saja.


Setelah selesai berwudlu, aku dan indri bersiap-siap dan pergi bersama ke musholla.


Dari luar terdengar suara puji-pujian meski tanpa speaker sebelum dilaksanakannya sholat isya' dan berlanjut sholat tarawih.


Dengan serempak para santri putri yang telah hadir melantunkan kalimat-kalimat pujian.


Setelah melaksanakan sholat sunnah rowatib qobliyah isya', aku dan indri bergabung bersama santri lainnya melantunkan pujian-pujian sambil menunggu iqomah.


"Muhammadun sayyidul,


Qownayniwa tsaqolay,


Niwalfari qownimin 'urbi wa min 'ajami,


Nabiyyunal amirun nahi fala ahadu,


Abarrofi qowlila minhu wala na'ami".


Sepenggal lirik pujian favoritku, yang biasanya dilantunkan sebelum sholat isya'. Sama persis seperti di pesantren asalku, Ponpes Roudlotul jannah.


Iqomah dikumandangkan, aku pun mengambil posisi di tempat imam.


Kurang lebih satu jam berlalu, sholat tarawih yang diakhiri sholat witir pun berahir. Biasanya setelah sholat usai, kami melakukan ritual saling bersalaman sambil melantunkan sholawat nabi.


Saat aku berbalik arah hendak mundur dari tempat imam, aku terkesiap melihat mbak-mbak yang sedang mengantri bersalaman dengan ibu Nyai Maryam.


"Berarti tadi saat aku jadi imam, ibu Nyai ikut serta jadi makmum dong?" Gumamku dalam hati.


Aku sangat deg-degan, takut kalau-kalau tadi sholatku kurang baik saat jadi imam, dan dikoreksi oleh ibu Nyai. Malu-maluin abah ibuku dong.


Akupun mengikuti mbak-mbak lainnya mengantri bersalaman dengan ibu Nyai. Sampailah pada giliranku, kucium tangan kanan ibu Nyai dengan hormat. Namun yang membuat aku sedikit tertegun ialah ketika tangan sebelah kiri ibu Nyai membelai lembut kepalaku.


Aku berpikir mungkin memang seperti itulah sikap beliau terhadap santri-santrinya, penuh kasih sayang.


Indri menyikut lenganku sembari senyam senyum tak jelas. Aku hanya menatapnya heran.


"Kayaknya udah ada lampu hijau nih," ucap indri sambil merangkul leherku. Kami berjalan menuju asrama.


"Lampu hijau? Maksudnya?" Aku tidak faham dengan perkataan indri.


"Ish..! kamu itu kurang peka banget sih, Hil. Kemaren-kemaren juga gitu soal gus abdi kamu juga gak peka sama sekali." Ujar indri kesal.


"Jangan keras-keras ngomongnya!" Aku membungkam mulut indri.


"Bisa-bisa nanti ada kecemburuan sosial kalau mbak-mbak disini tau tentang aku dan gus abdi." Aku berbicara setengah berbisik.


Kami berdua terkekeh.


Aku menarik lengan indri, mengajaknya duduk ditaman, diatas batu besar yang memang biasa digunakan untuk duduk disini.


"Tadi sore kenapa kamu ninggalin aku ha? Kamu sengaja menjebakku tadi?" Selidikku pada indri.


"Salah sendiri kenapa tadi kapalamu kamu tutupi, jadi gak lihat kan ada gus abdi datang." Indri tertawa mengejekku.


"Seharusnya kamu bilang dong ndri. Malu-maluin tau!" Ucapku kesal.


"Gus abdi kok yang nyuruh."


"Apa?" ucapku tak percaya.


"Iya, tadi guse ngasih kode kayak nyuruh aku pergi gitu. Pikirku guse pasti mau bicara berdua sama kamu." Jelas indri.


"Tapi kamu seneng kan?" Indri memainkan kedua alisnya pertanda dia sedang menggodaku.


"Opo sih." Aku berdiri lalu beranjak pergi meninggalkan indri. Tak bisa dipungkiri, aku memang sangat senang saat tadi sore, bersamanya.


Adakah seberkas sinar harapan untukku saat ini?


Harapan untuk dapat bersanding dengannya.


To be continued 💚

__ADS_1


------


Mohon krisannya ya. Masih tahap belajar.


__ADS_2