
Dave menuju ke sebuah tempat yang tidak jauh dari Villa, tempat paralayang. Dave seolah ingin terbang bebas diudara. Dengan begitu dia akan bisa melepaskan semua masalah yang ada dalam hatinya.
"Dave.. Ngapain kita kesini?? " Tanya Beny dan Jony jadi pendiam setelah tahu bahwa nantinya akan sulit menemui Dave
"Dave ingin terbang.. Dan merasakan udara pagi ini " Dave dengan melihat atas
"Dave.. Emang kamu bisa?? Itu bahaya kalau belum terbiasa" Seru Sasya
"Dave sudah terbiasa" Dave dengan datar
"Kak Dave... Steve juga mau.. Udah lama ingin melayang diudara" Steve menyela didepan Dave
"Aku juga, sepertinya menyenangkan!!
kapan lagi bisa terbang bareng Dave" Ujar Alex
"Sayang.. Kamu yakin?? " Kan bahaya.. " Jesica meradang
"Udah... Tenang aja..Jon..ayo ikut !! " Dave mengajak Jony yang dari tadi mendadak diam tanpa kata
"Kamu aja.. " Kata Jony
Mereka lepas landas dan menikmati sensasi terbang diudara. Dan yang lain hanya melihat dari kejauhan. Edo memanfaatkan untuk merekam mereka.
"Jon... Diam aja dari tadi..??" Tanya Beny karena Beny tahu kalau Jony nantinya harus jauh dari sahabatnya
"Kamu pasti ngertilah. Aku sering ke mana-mana bareng Dave. Nantinya kita nggak bisa lagi kaya dulu" Jawabnya Jony
"Bukan kamu aja yang sedih.. Aku juga Jon" Sahut Sasya disebelahnya
"Kalian liat disana dari tadi Arneta menangis. Mungkin dia lebih dari kamu Jony" Beny sambil menatap Arneta
__ADS_1
"Edo minta videonya yang ada Alex .. Oya kenapa Arneta masih nangis aja ??" Ucap Jesica
"Iya kak..ini aku kirim.. Owh.. Arneta... Dia nyesel selama di kampus dia nggak mau nemenin Flower di kantin. Terus sekarang nomor handphone Flower dah nggak aktif. Group chat juga dah di blokir" Ujar Edo
"Emang segitunya Do,, berarti Dave nanti gitu?? " Tanya Beny dan Jony hanya mendengarkan
"Kalau itu sih Edo nggak tahu kak,, makanya dulu Flower sering kasih jadwal kita pertemuan dihari sabtu. Flower paling dekat sama Arneta, hampir setiap hari Flower jemput Arneta berangkat ke Kampus. Setiap hari mereka bertemu, kadang Arneta sering nginep di rumahnya. Kalau Natasya jarang ketemunya tapi Natasya lebih dewasa dari pada kita semua. " Ucap Edo
"Iya sepertinya begitu, perempuan lebih sensitif. Jon udah.. Kamu juga jangan diam saja.. Mumpung kita masih bisa jalan sama Dave. Kita manfaatkan waktu kita dengan Dave" Jesica berusaha meredakan kesedihan Jony
"Itu mereka sudah datang" Edo melihat ke arah Dave, Alex dan Steve
"Kak Dave... Bantuin Arneta ketemu sama Flower.. Ayo kak... Arneta nggak bisa telfon Flower, group chat juga udah di blokir.. Ayo kak Dave.. Arneta mohon" Arneta sambil menangis menarik tangan Dave
"Kak Dave nggak bisa bantu kalian.. Kalian datang saja ke C.T.O minta tolong Kak Stella, atau minta tolong Yuken," Dave sambil menatap ke Arneta
"Memang Kak Dave nggak mau pulang?? Ketemu Flower?? " Tanya Arneta dengan menghela nafas
"Arneta.. Udah..Kita besok ke L. O. Ketemu Kak Yuken, yaa.. Kamu tenang dunk.. Aku juga sedih.. Flower masih butuh waktu buat dirinya dan Kak Dave juga biar hatinya tenang. Kita lebih baik pulang dulu ya.. Steve kita pulang duluan saja anter Arneta pulang.. Biar Edo disini dulu nemenin Kak Dave.. " Natasya dengan sabar
"Kak Dave.. Steve pulang duluan anterin mereka.. Kak Dave juga yang tenang.. " Steve beranjak pergi
Kemudian mereka ke saung yang ada di sana dan Edo membelikan mereka minuman kemudian duduk dengan disebelah Jony dan Beny berusaha meredam hatinya Dave
"Dave.. Kamu yang tenang.. Aku jarang liat kamu emosi gitu.. Aku tahu apa yang dirasakan Arneta, ini minum dulu. " Beny duduk disebelahnya
"Iya Dave.. Kita tahu perasaan kamu masih belum tenang. Kenapa kita nggak pulang aja.. Liat Jony dari tadi dia diam saja.. Kasih kesempatan ke Jony, kalian pulang ke Avilla" Bujuk Jesica ke Dave
Setelah dari Paralayang mereka kembali ke Villa setelah makan siang mereka pulang secara terpisah. Edo mengantarkan Dave dan Jony pulang ke Avilla Permai
Flower di Baverlly seharian tidak keluar kamar, makanan yang disiapan di kamar tidak disentuhnya.
__ADS_1
"Sayang.. Kamu makan ya?? Nanti kalau papa kamu tahu.. Kamu begini seharian gimana??" Ucap Stella yang baru datang membawakan makan baru
"Flower nggak apa-apa kak.. Tadi pagi udah minum susu, Flower cuma nggak nafsu makan" Dengan muka yang terlihat pucat dan bibir mengering
"Kalau kamu kaya gini.. Nanti bisa sakit. Apalagi nanti keluarga datang, kak Stella harus gimana?? Di depan ada Hanz dan Kenzo kamu mau ketemu mereka?? " Stella sambil mengelus rambutnya
"Nggak kak. Flower belum pengen ketemu sama semuanya, termasuk papa sama mama, kalau mereka datang bilang Flower bobo" Flower dengan berkaca-kaca
"Ya udah kalau gitu.. Yang penting kamu nggak nangis lagi.. Kata Ellena..Semalaman kamu menangis terus. Kakak jadi Khwatir"
Lalu Stella keluar dari kamar Flower,
"Kak gimana Flower?? " Tanya Kenzo
"Dia masih pengen sendiri, biarkan saja. Kita semua tahu sifat dia gimana. Beri waktu untuk Dia. Kita memantau saja dari luar. " Ucap Stella
"Terus keadaannya gimana? Apa mau makan? " Hanz sambil memegang tangan Stella
"Belum sayang, dia nggak mau makan dari tadi hanya minum susu itupun cuma sedikit" Ucap Stella
"Kalau gitu aku masuk ya kak, aku bisa bujuk dia biar makan" Ucap Kenzo
"Maaf Kenzo.. Flower sekarang dia di Baverlly, tidak sembarangan orang bisa masuk ke kamar dia tanpa ijin. Lagian dia nggak mau ketemu semuanya bahkan orangtuanya. Biarkan saja, kalau ada apa-apa sama Flower, Ellena pasti memberi tahu kita. Ayo kita ke ruang keluarga" Stella sambil mengajak Hanz dan Kenzo ke ruang keluarga
"Lalu Dave gimana, apa dia mau pulang? " Tanya Kenzo
"Ntahlah.. Semalam aku pergi, keadaan dia juga terpuruk, bagaimanapun dia juga adikku. Nggak tega liat dia nangis, tanggannya juga luka semalaman ngedobrak pintu sendirian. Tapi ada teman-temannya dan juga sahabatnya Flower"
Stella lanjut menceritakannya semuanya
Dan Kenzo juga merasa sakit. Merasakan sakit hati gadis yang dia sayangi.
__ADS_1
Bersambung......