Hanya Simpanan

Hanya Simpanan
Tetangga Julid


__ADS_3

Ararka mengantarkan Ane tepat di depan rumahnya. Ane melihat jam tangan Ararka yang tiba-tiba terjatuh, wanita itu memungutnya dan memakaikannya.


"Jam mahal kok bisa jatuh, jangan-jangan KW," cerca Ane.


Ararka menyangkal. "Masa jam 7 milyar KW, tadi gue buru-buru pasangnya, jadi lepas lagi."


Ararka melihat Ane yang tersenyum padanya, tidak ada angin tidak ada hujan, yang jelas Ararka merasa aneh melihat Ane tersenyum karena Ane selalu merasa kesal pada Ararka sebelumnya.


Ararka mengusap rambut Ane. "Yaudah, gue pulang ya."


Ane mengangguk terlihat seperti seekor kelinci menggemaskan.


Ararka membuka knop pintu mobil, dia segera melajukan mobilnya. Sepanjang jalan menuju rumahnya, Ararka terlihat senang sekali karena tadi waktu di dalam mobil, Ane terlihat senang mengobrol dan bercanda dengan Ararka. Entah perasaan apa ini, yang jelas pria berumur 23 tahun itu merasa bahagia sekali.


***


Pagi ini Ane keluar dari kontrakan dan melihat di depan kontrakannya begitu banyak sampah, dia menegor Bu Karlina yang dengan sengaja membuang sampah depan kontrakannya.


"BU! INI KONTRAKAN BU! KENAPA IBU BUANG SAMPAH DI SINI!" teriak Ane marah.


Ibu itu malah melotot. "KAMU TUH PELACUR! EMANG PANTES BUANG SAMPAH DEPAN KONTRAKAN KAMU! PERGI SANA!"


Ane mendekati Ibu Karlina tetangganya itu. "BU! SAYA SELAMA INI SABAR LOH DI OMONGIN IBU! DIFITNAH IBU-IBU DI SINI! SAYA UDAH GAK BISA SABAR LAGI BU! INI UDAH KETERLALUAN!"


Seketika ibu-ibu keluar rumahnya masing-masing mendengarkan keributan ini.


"HEH ANE! GAK ADA SOPAN SANTUNNYA SAMA ORANG TUA!"

__ADS_1


Mata Ane sudah memerah, dia menyeka air matanya. "Saya sudah sabar selama ini Bu, saya sabar sama sikap Ibu yang selalu ganggu saya, hina saya, mentang-mentang saya orang miskin!"


Ibu Karlina hanya diam dengan rasa kesalnya, karena tiba-tiba tidak ada yang membelanya lagi.


Ane menangis terisak-isak lalu melemparkan sapunya kegundukan sampah. "Saya gak bisa balas, biar Tuhan yang balas!" ucapnya sambil melenggang pergi.


Ane berjalan dengan cepat menuju halte bus, setengah perjalanan, sebuah mobil berhenti di depannya membuat Ane berhenti. Dilihatnya, Gavin berjalan ke arahnya.


"Mau ke sekolah?" tanya Gavin. "Ayok aku antar."


"Tapi Kak? Bentar lagi nyampe halte kok."


Gavin menghembuskan nafasnya pelan. "Hemat bekal juga kan?"


Ane akhirnya berjalan ke sisi kiri mobil Gavin. Setelah mereka di dalam mobil, Gavin mulai memperhatikan raut wajah Ane yang tampaknya dia sedang bersedih.


"Aku cuma heran aja, kenapa tetangga aku benci sama aku, apa salah aku? hiks.. hiks.. "ucapnya terdengar menyedihkan.


"Mungkin karena iri padamu."


Ane mengambil cermin di tasnya lalu melihat wajahnya yang merah karena tadi dia sempat marah.


"Mereka pikir aku bakal ngegoda suami mereka. Siapa yang sudi coba, menggoda bapak-bapak," Ane dengan keluh kesahnya.


Gavin tersenyum lalu melihat Ane. "Biarkan mereka membencimu, dan buatlah mereka menyesal."


"Caranya?"

__ADS_1


"Kamu harus membuat mereka meminta maaf dengan caramu."


Ana menghentakkan tangan ke pahanya. "Setiap hari aku senyum ke mereka, aku juga berusaha merayu mereka, kadang kalau aku bikin kue kering, aku bagi-bagi sama mereka."


Gavin melirik Ane kembali. "Mereka nerima?"


Ane mangangguk. "Bahkan mereka keliatan suka, bilangnya aja gak enak, tapi kuenya abis."


"Tetanggamu munafik, jangan mau berbaik hati kepada mereka, karena orang seperti itu tidak akan sadar diri ingin selalu jadi langit."


Ane menghembuskan nafasnya pelan. "Ya beginin lah, aku cuma bisa sabarin aja."


Setelah sampai di gerbang sekolah, Ane membuka sabuk pengamannya namun terasa keras. Akhirnya Gavin memutar badannya, dan melepaskan sabuk pengaman yang dipakai Ane.


"Aamu boleh minta aku buat jemput."


Ane menggeleng. "Gak usah Kak Gavin."


***


Vote dan komennya ya...


okk..


Riane.. (Ane)


__ADS_1


__ADS_2