
"Yang harus lo lakuin yaitu, nikahin si Ane sebelum lo nikah sama Veronika."
Ararka duduk di samping Gavin dan melipat tangannya. "Gue masih bingung, gimana kalau Papa tau?"
Gavin memegang bahu kiri Ararka. "Ada gue, rahasia lo aman. Gue bakal jadi tangan kanan lo."
"Lo punya ide?"
"Besok lo nikah siri sama si Ane, lo ajak dia ke tempat yang gue sediain."
Ararka mengusap wajahnya dengan gusar. "Lo udah gila?!"
"Lo mau kehilangan si Ane? Kalo lo gak mau biar gue aja yang nikahin si Ane."
Ararka meraih kerah kemeja Gavin. "Lo mau mati, euh?!"
Gavin menangkis tangan Ararka. "Lakuin atau nyerah."
"Ide bagus."
***
Ane memang memiliki uang pemberian dari Ararka, namun dia jenuh juga jika tidak bekerja. Ada sebuah lowongan pekerjaan menjadi pelayan di sebuah bar. Ane tidak mungkin bekerja di sebuah bar lagi, Ararka akan sangat marah padanya.
Ane masih melihat sebuah artikel, dan informasi lowongan kerja.
__ADS_1
"Asisten rumah tangga? Apa aku melamar saja di sana."
Ane bangkit dari duduknya saat mendengar suara mobil Ararka yang terparkir di depan rumahnya.
Pria tampan itu memeluk tubuh kekasihnya. "Sebentar lagi kita bakal sama-sama."
Mata Ane berkaca-kaca. "Apa maksudmu?"
Ararka membawa Ane duduk di sofa. "Kita akan menikah besok."
Mata Ane berbinar lalu memegang tangan Ararka. "Kamu serius?!"
"Aku serius."
"Walaupun mereka tidak mengizinkan, kita akan nikah siri."
Tatapan Ane melemah, pegangan tangannya turun. "Maksudmu?"
"Intinya besok kita menikah diam-diam."
"Bagaimana dengan perjodohanmu?"
"Aku tidak bisa lari dari perjodohan itu, tenang saja, aku menikahi Veronika bukan berarti aku akan benar-benar menjadi suaminya, aku akan pulang padamu, walaupun pernikahan kita rahasia."
Ane memegang pipi kekasihnya. "Apa kamu janji, gak bakal Cinta sama istri kedua mu?"
__ADS_1
Ararka menggeleng. "Aku hanya Cinta sama kamu, selamanya An. Aku gak mau kamu dimiliki orang lain, kalau itu terjadi, aku gak tau sehancur apa aku tanpa kamu."
"Apa ending dari tindakan kamu ini?"
"Aku tidak bisa memastikan endingnya, yang jelas kita jalani saja."
Ararka membuka sebuah kotak yang dia bawa, lalu membukanya. "Gaun untuk besok, aku juga telah memberitahu keluargamu dan kita akan berangkat jam 3 malam."
Ane masih bingung dengan tindakan Ararka, dia terlihat tidak ingin melepaskan Ane bersama lelaki lain.
"Aku hanya takut kamu dalam bahaya kalau menikahiku."
Ararka mencium kening Ane lalu memegang kedua bahunya. "Aku gak bisa kehilangan kamu An, emangnya kamu mau aku bikin siapapun yang deketin kamu bonyok?"
Ane memeluk tubuh Ararka. "Aku juga gak mau kehilangan kamu."
"An, aku harus menyiapkan dokumen, kamu tunggu di sini ya jangan kemana-mana, tutup jendela rapat-rapat."
Ane mengangguk, dia sangat kaget dengan keputusan Ararka, bahkan Sang Ibu juga masih dalam perawatan di rumah sakit, mungkin hanya adiknya yang melihat pernikahan Ane.
Ane tidak menduga, jalan hidupnya jadi seperti ini, dia tidak berpikir akan menikah muda apalagi di madu, namun mau bagaimana lagi, dia sudah terlanjur mencintai pria itu. Ane ingin sekali pergi dari kehidupan Ararka dan membiarkannya bahagia, namun lagi-lagi Ararka seakan menguncinya dan selalu menemuinya. Bahkan Ararka bilang akan mencelakai siapapun yang mendekati Ane, dia memang sangat posesif tapi dia juga tidak bisa dimiliki seutuhnya.
***
Vote dan komen ya
__ADS_1