Hanya Simpanan

Hanya Simpanan
Raka dingin


__ADS_3

"Aku mau cari pengganti buat ngerawat Omah."


Ayah meminum airnya dan membersihkan mulutnya dengan tisu. "Kenapa, gadis itu tidak bisa merawat Omah?"


Sikap Ararka membuat semua yang ada di meja makan melihatnya dengan heran termasuk Nyonya Wijaya bernama Tria.


"Mamah juga punya kandidat perawat yang jago ngerawat Omah, Mamah juga gak suka sama gadis itu dia terlalu muda."


Aksara menaruh sendoknya tampak tidak setuju. "Dia baru beberapa hari kerja loh, kenapa kalian gak suka," protesnya.


Wijaya memperhatikan sikap bungsunya yang tiba-tiba membela gadis itu. "Kenapa kamu membelanya Aksara, kamu menyukainya? Jangan macam-macam Aksara, Papa udah jodohin kamu."


Aksara tersenyum kecut. "Perjodohan terus, emang zaman ya?" Aksara mencondongkan badannya. "Emang perjodohan bikin bahagia, contohnya Kak Raka sama Kak Ghani yang beranem terus, Kak Ararka sama Kak Veronika yang satu sama lain saling cuek."


Ane membawa sebuah mangkuk berisi buah-buahan lalu pergi dengan permisi.


Veronika hanya tertawa. "Ararka cuek di sini aja, kalo di kamar dia romantis banget."


Ane berjalan menuju dapur dengan hati yang agak terbakar mendengar ucapan Veronika, dia masuk ke sebuah kamar tamu. Ane menutup pintu kamar dan menangis di badan pintu.


"Aku bahkan tidak disukai saat jadi pembantu di sini, apalagi aku jadi menantu, hiks.. hiks.. "


"Aku memang tidak pantas, aku harus sadar diri, Ararka juga terlalu munafik dan suka berbohong, di hadapanku bilang kalau dia sama sekali tidak menyukai Veronika tapi di belakang, kamu jahat!" gumamnya dengan tangis yang sangat menyakitkan.


Ane menyeka air matanya, dia harus menyiram tanaman sore ini juga. Tanaman kesayangan Omah, kebetulan Omah sedang terapi di rumah sakit dan akan pulang besok karena di rumah sakit sudah ada suster yang menjaganya.


***


Ane mulai membuka keran dan mengairi tanaman cantik itu, dia melihat Raka, suami Ghania yang mengamatinya, segeralah Ane memalingkan pandangannya.

__ADS_1


Raka yang sedang duduk di taman itu menghampiri Ane. "Ini tanamanku, jangan sampai layu, kamu harus menyiram setiap dua kali sehari."


"Baik Tuan."


"Ada banyak punyaku, kamu harus hati-hati."


Ane memegang bunga Mawar merah namun tangannya tidak sengaja mengenai batang berduri itu.


"St awww.."


Raka yang terlingat dingin itu hanya mencerca. "Dasar ceroboh."


Raka kembali duduk di kursi taman dan melihat gadget-nya.


Ane memindahkan beberapa pot dengan cepat dan rapih karena Ane rasa penempatan pot kurang bagus. Raka memperhatikannya lalu menghampiri Ane kembali.


"Kenapa semua dipindahkan!" bentaknya.


"Tau apa kamu soal tanaman! Susun kembali seperti tadi!" galaknya.


"Ambilkan aku kopi!"


Ane segera menyusun kembali seperti semula. Kemudian dia memberikan sebuah kopi pada Raka, dia memberikannya karena tadi Raka meminta.


Setelah memberikannya kopi, Ane berjalan menuju dapur namun Ghania menghadangnya.


"Ane, kalau Tuan Raka mau kopi, kamu bisa panggil aku ya, biar aku yang buatin."


"Iya Nyonya."

__ADS_1


Ghania tersenyum lalu mengusap bahu kiri Ane. "Umurmu agak lebih jauh dariku, kamu udah aku anggap kayak adik aku, panggil kakak ya."


"Emang boleh Nyonya?"


Ghania mengusap rambut Ane. "Kamu begitu cantik dan kamu mirip seseorang di masa lalu suamiku."


"Kak, Ane pemit ke dapur ya."


***


Malam ini, Ane telah membereskan kamarnya, semua pekerjaannya hari itu sangat melelahkan, Ane berjalan ke arah dapur untuk menghangatkan bakpau yang dia beli dipasar. Jam 9 malam ini terlihat sepi karena semua pergi ke pesta pernikahan saudara Wijaya, dan hanya ada Raka dan Aksara. Ghania pun ikut.


Ane melihat Raka yang baru pulang dari kantor, dia mengambil sebuah bir dari kulkas. Ane melihat Aksara menghampirinya membawa sebuah cake.


Aksara menaruhnya di dekat Ane. "Suka cheese cake? Aku sengaja membelikannya buat kamu."


"Makasih Tuan."


"Kamu malam ini cantik banget."


Ane hanya tersenyum. "Tuan, Ane permisi."


Aksara menahan tangan Ane. "Aku masih penasaran sama status kamu, bisa gak kamu jawab jujur, kamu udah punya suami atau belum?"


Ane melepaskan pegangan tangan Aksara. "Maaf Tuan, Ane punya suami."


Aksara pergi menuju kamarnya lalu menutup pintu, Ane berniat menaruh cheese cake-nya namun sebuah tangan menutup mulutnya dan membawanya ke suatu tempat. Siapakah dia?


***

__ADS_1


Vote dan koemnnya ya...


__ADS_2