Hanya Simpanan

Hanya Simpanan
Ar? Sakit..


__ADS_3

Ararka tersedak lalu minum air dengan banyak.


"Sayang kamu kenapa?" tanya Veronika.


Ane pergi mendorong kursi roda Omah dan membawa wanita tua itu. Ararka masih tidak percaya kalau Ane senekat itu, kepalanya hampir saja akan meledak. Baiklah Ararka, kamu harus tenang walaupun istri kamu melakukan kesalahan fatal.


'Kenapa Ane nekat seperti ini, bagaimana kalau Ayah tau aku sudah menikahinya, aku tidak mau Ayah mencelakainya,' batin Ararka.


***


Ane membawa Omah Neni ke kamarnya karena katanya nenek itu ingin berbaring, setelah membaringkan Omah, Ane duduk di samping Omah.


"Cepet sembuh ya Omah."


Nenek itu tersenyum pada Ane. "Kamu sangat cantik dan baik, Omah harap salah satu cucu Omah bisa menikahimu."


Ane tersenyum hangat pada wanita itu. "Omah, Ane hanya gadis biasa, Ane tidak kaya, Tuan sama Nyonya gak bakal terima Ane."


"Ya namanya juga berusaha, sikap orang bisa berubah."


Ane menutup tubuh Omah dengan selimut. "Omah tidur siang dulu ya, nanti kalau udah bangun Ane masakin buat Omah."


Ane berjalan keluar kamar Omah dan menutup pintu, namun sebuah tangan menarik tangannya dengan hati-hati ke sebuah tempat. Setelah matanya berkeliling dan tidak ada siapa-siapa di area dekat dapur, Ararka dengan aman menegur Riane.


"Sayang, kenapa kamu ngelamar kerja di sini! Aku gak mau tau, besok kamu harus berhenti!" tegas Ararka, dengan mata


"Aku pengen deket terus sama kamu."


Ararka mengacak rambutnya frustasi lalu berkata dengan pelan. "Tempat ini gak aman buat kamu."


"Aku tetap gak mau berhenti, aku mau ngerawat Omah, dia kan nenek kamu, berarti nenek aku juga kan."

__ADS_1


Ararka mendecak kesal. "Ini bukan tugas kamu An! Tugas kamu nurut sama aku, aku suamimu, kamu bahkan gak tanya dulu ke aku kalo kamu mau kerja di sini, it's problem!"


Ane melihat kedua mata Ararka dengan lirih. "Kamu bahkan mengabariku saat sempat aja kan, kamu bahkan seperti menikmati pernikahanmu," ucap Ane dengan mata berkaca-kaca.


Ararka bingung, dia memegang kedua bahu Ane. Ararka pikir dengan mengirim Ane banyak uang bisa cukup untuknya, dia juga butuh Ararka.


"Aku sama sekali tidak menyukai pernikahan ini An."


Ane melepaskan kedua tangan Ararka di bahunya. "Aku masih sibuk."


Ararka menghembuskan nafasnya pelan melihat sikap Ane yang terlihat jutek padanya, Ararka paham bahwa ini memang sulit dan membuat Ane sakit hati.


***


Ane menyangga tubuhnya di wastafel lalu dia menangis dengan rasa yang sangat pedih melihat Ararka dengan istri barunya. Ane memegangi dadanya yang sangat hancur.


"Aku harus tahan."


"ASISTEN!" teriak seorang wanita.


Wanita berambut gelombang itu menghampiri Ane. "Kamu perawat Omah kan?"


Ane mengangguk, dia harus menahan rasa terbakarnya sang hati karena berhadapan dengan istri muda suaminya.


"I-iya Nyonya."


"Mulai sekarang kamu juga akan menjadi asisten saya."


"Mohon maaf Non tapi saya hanya akan merawat Omah."


Veronika mendecak. "Lo gak mau uang tambahan?"

__ADS_1


Ane hanya dia menggulum bibir.


"Sekarang beresin kamar gue karena gue mau pergi."


***


Veronika menghampiri suaminya di ruang kerja sore ini karena dia akan menemui sahabatnya di sebuah mall.


"Sayang, aku mau keluar dulu ya."


Veronika mencium pipi Ararka dengan singkat dan Ararka sama sekali tidak menyahutnya. Ararka menghentikan pergerakan tangannya saat membuka sebuah map.


'Bagus jika Veronika pergi, aku bisa berduaan dengan istriku,' batin Ararka.


Ararka pergi ke dapur untuk menemui Ane, setelah mendengar kepergian mobil Veronika. Di dapur hanya ada Ghania saja, Ararka pergi ke kamar Omah, di sana juga tidak ada. Ararka meraba sakunya untuk menelpon Ane, namun I-phone-nya tertinggal di kamarnya. Ararka berjalan menuju kamar dan melihat pintu kamar terbuka, dia mengerutkan keningnya dengan tegas, dia terlihat sangat marah melihat Ane membersihkan kamarnya.


Ararka menutup pintu kamar lalu mencengkal pergelangan tangan Ane, wanita itu menatap penuh mata suaminya.


"Kenapa kamu yang membersihkannya! Masih ada Mbok Karsi, kamu bisa capek An, aku gak suka liat kamu kecapean kayak gini!"


Air mata Ane mengalir begitu saja. "Status kita udah beda Ar, kamu juga sudah punya istri baru."


"An, aku sama sekali tidak menganggapnya istriku."


Ane tersenyum sengit. "Tapi kamu menikmatinya Ar!" Ane meramas depan dada Ararka lalu menggebuknya. "Kamu puas kan! Kamu suka kan! Kamu menidurinya kan Ar!"


"A-aku?"


***


Vote dan komennya ya supaya cerita pendek ini cepet tamat

__ADS_1


__ADS_2