
Ararka menghampiri Omah lalu mencium pipi neneknya itu.
"Cucu Omah, abis darimana."
"Abis nganterin aku shooping Nek," jawab Veronika yang langsung masuk kamar.
Tatapan Omah berubah sinis. "Dasar anak itu, gak ada sopan santunnya."
Ararka melihat Ane yang terlihat cuek padanya, padahal dari tadi yang ada dipikiran Ararka hanya Ane, namun Ane tampak suka dengan pekerjaannya.
"Cucu Omah udah makan?"
"Udah Omah, Omah udah minum obat? Jangan sampai telat minum obat."
Omah memeluk cucunya itu. "Cucuku ganteng, Omah sekarang udah sehat lagi."
Ararka melihat Omah tak percaya. "Beneran Omah?"
Omah adalah wanita yang paling disayangi Ararka, karena waktu kecil Ararka diasuh oleh Omah. Dan pada saat Ibunya meninggal, Ararka hanya memiliki Omah yang sangat menyayanginya seperti seorang ibu.
"Tuan boleh minta tolong jagain Omah dulu, Ane mau cuci piring dulu."
Ararka tidak menjawab perkataan Ane, lagi-lagi hati Ararka bisu, dia tidak bisa menahan sakit saat melihat Ane bekerja seperti pembantu. Ararka juga kecewa karena Ane tidak ingin menurutinya untuk tinggal di rumahnya saja, dia bisa shooping, jalan-jalan. Pikirnya, itu yang membuat Ane bahagia, tapi tidak, Ane hanya ingin melihat suaminya walaupun dari jauh.
Ane melihat sebuah pesan yang dikirim Ararka.
Suami : An, aku mohon, turuti aku kali ini An! Plis An, ini bahaya, kalau kamu nekat di rumah ini bisa bikin kamu bahaya!
Ane : Aku gak bisa Ar, takut Omah sakit lagi. Kalau Omah bener-bener sembuh aku bakal berhenti kok, kamu tenang aja ya.
Suami : An, aku kasih kamu waktu satu minggu buat risen.
Ane : Aku lihat situasinya dulu.
Ane kaget saat kemunculan Arka, pria itu mendekati Ane.
__ADS_1
"Lo tipe gue banget, gue suka sama cara lo masak, lo keliatan kalem, imut."
"Maaf Tuan, saya harus kembali ke Omah."
Arka masih memegang pergelangan Ane. "Lo mau gak tidur sama gue nanti lo dapet duit banyak, gue udah suka banget sama body lo."
"E-enggak Tuan, Tuan lepasin sakit."
Arka terlihat marah atas penolakan Ane. "Lo nolak gue! Cuma pembantu aja nolak gue!"
"Tuan lepasin! Tuan!"
Arka melepaskan tangan Ane karena takut dia akan berteriak, wanita itu berlari ketakutan menghampiri Omah.
Ararka mengerutkan keningnya melihat Ane yang tampak ketakutan.
"Kamu kenapa?" tanya Ararka
Ane menggeleng cepat dengan wajah cemas. "E-enggak ada apa-apa," Ane meneguk salivanya dengan kuat.
"Kasih cucu Omah saja."
Ararka meraih gelas pemberian Ane namun matanya menatap mata Ane dan tangannya malah memegang tangan Ane, segeralah Ane menjauhkan tangannya.
"Ane ini, sangat cekatan, cerdas, bahkan dia tepat waktu ngasih obat ke Omah, andai aja Arka atau Aksara berjodoh dengan Ane, Omah bakal senang."
Uhukk..
Uhukkk...
Ararka tersedak lalu menaruh gelasnya. Dia menatap Omah dengan panik.
"Gak bisa dong Omah!" protes Ararka.
Omah mengerutkan keningnya. "Kenapa jadi kamu yang gak setuju kan kalau kamu kemarin udah nikah tinggal berdua itu."
__ADS_1
"Pokoknya di sini gak boleh ada jodoh-jodohan."
Ane hanya membersihkan meja makan dengan tisu, mendengar perkataan Ararka dengan Omah.
"Gak bisa dong, kalau mereka saling mencintai."
Ararka semakin membulatkan kedua matanya. "Tidak boleh Omah, Ararka akan mencarikan Arka dan Aksara jodoh segera."
"Loh, Omah mau jodohkan kok."
Ararka duduk di samping Omah. "Papa gak bakal restuin Omah."
Ane hanya menggulum bibirnya begitu sakit mendengar Ararka berbicara seperti itu.
"Papa bakal restuin kalau Omah yang minta restu."
"Ane sudah punya suami."
Omah kaget membulatkan kedua matanya. "Benarkah itu? Mana suamimu Ane?"
Ane mengangguk. "Bekerja di luar kota Omah."
"Kesian, gadis secantik kamu disia-sia in suami kamu, mending kamu menikah lagi aja sama cucu Omah ya Ane."
Ararka mengacak rambutnya frustasi. "Tidak bisa begitu Omah, jangan memaksakan kehendak."
Omah hanya terkekeh melihat Ararka. "Omah cuma bercanda, kenapa kamu yang repot, Ane saja setuju, iya kan An?"
Ane tersenyum kecil lalu mengangguk. Ararka melotot tak percaya.
"Sayang," panggil Veronika, dia menghampiri Ararka di meja makan.
***
Vote dan komennya ya..
__ADS_1