
"Ada banyak yang aku sukai tentangmu," ucap Gavin, pria itu fokus menyetir."
Ane menutupi pahanya dengan sebuah kain. "Apa yang kamu ketahui tentangku?"
"Katanya kamu tidak suka di tempat itu."
"Memang tidak suka, apalagi semenjak temanmu memaksaku berhubungan intim, dia sangat gila."
Gavin tertawa kecil. "Kita bersahabat dari kecil, dia suka bertarung dengan ku, jika masalah belum selesai kita selesaikan di ring setelah itu kita benar-benar akur."
"Aku kira kalian adik kakak."
"Kita bersahabat, karena Wijaya, Pratama, dan Biantara bersahabat."
"Ayah kalian?"
"Ya, Ayah kita. Tapi kejadian naas menimpaku saat aku masih masih kecil, Papa dan Mamaku kecelakaan hingga pada akhirnya meninggal dunia."
"Lalu kamu? Bersama siapa?"
"Aku bersama Kakek dan Nenek ku, aku bersyukur mereka masih hidup sampai sekarang."
Ane mengusap bahu Gavin. "Semua sudah berlalu, Papa dan Mama mu tersenyum di sana karena kamu sekarang orang hebat."
Gavin setengah tersenyum. "Aku selalu merasa kesepian setiap hari, bahkan aku tidak berkenan dekat dengan wanita yang mencoba menggodaku."
Ane menghembuskan nafasnya. "Cinta akan datang karena terbiasa Gav, kamu bahkan rela tersakiti karena cinta."
Gavin tiba-tiba membulatkan matanya pada Ane. "Kamu punya pacar?!" tanyanya panik.
__ADS_1
Ane menghembuskan nafas pelan. "Bisa dibilang seperti itu, tapi aku tidak diprioritaskan."
"Wanita cantik seperti mu diacuhkan? pacarmu akan menyesal."
Gavin tiba-tiba mendengar rintihan dan isak tangis. "Bahkan terakhir kali aku melihatnya dengan sahabat perempuannya di kamar hotel, dan aku masih saja memaafkannya.. hiks.. hiks..."
Gavin meraih selembar tisu. "Sedikit melepas rasa sedihmu." Baru kali ini dia melihat seorang gadis menangis dan hatinya ikut bersedih. "Kenapa kamu tidak putuskan saja pria seperti itu."
"Aku sangat mencintainya, aku yakin dia akan berubah."
"Tapi sikapnya akan susah untuk dirubah."
Setelah obrolan mereka, akhirnya sampai juga di kontrakan Ane, walaupun sudah menawarinya masuk, Gavin menolaknya karena memang dia juga harus meeting bersama Ararka.
"Makasih ya," ucap Ane dengan ramah.
"Aku mau jelasin semuanya An!"
"Jelasin apalagi Dew! AKU UDAH CAPEK SAMA SIKAP KAMU DEWA! KALAU KAMU SUKA SAMA CLARA KAMU UNGKAPIN KE DIA DEW, PUTUSIN AKU!"
"STOP AN!"
Dewa memeluk pacarnya itu. "Aku gak mau kehilangan kamu An, aku sama Clara cuma sebatas sahabat An, keluarganya udah banyak bantu keluarga aku."
Ane menggebuk-gebuk dada Dewa. "Lepasin Dew," ucap Ane dengan rasa kesalnya. "DEWA LEPASIN!" teriak Ane membuat pacarnya melepaskan pelukannya.
Mulut Ane berkedut, dia sebenarnya sakit mengungkapkan semuanya dan sakit melihat kejadian itu. "Clara ngirim banyak bukti ke aku kalau kamu sama Clara sudah berbuat mesum di hotel," tangan Ane bergetar memperlihatkan poto-poto Dewa dengan Clara. "INI APA DEW! MASIH KURANG JELAS!"
Dewa berlutut di depan Ane. "Aku juga tidak mau menemani Clara An, tapi keluarga aku memaksa karena punya utang ke keluarga Clara."
__ADS_1
Ane meramas lembaran poto itu. "Kita air dan minyak Dew, gak akan bersatu."
"Kita bisa An, aku bakalan kerja keras buat lamar kamu."
Ane tersenyum hambar. "Aku masih SMA aku juga mau ngejar cita-cita aku dulu. Aku cuma pengen kamu gak deket-deket Clara lagi!"
"Aku janji An."
Ana menyeka air matanya. "Aku udah muak sama janji-janji kamu Dew, aku capek."
Dewa bangkit dan perkataannya membuat Ane berhenti. "KAMU JUAL DIRI KAN AN! PLIS AN! JANGAN KERJA SEPERTI ITU!"
Ane menghampiri Dewa kembali lalu menampar pipinya. Dia menggebuk-gebuk dada Dewa. "GAK CUKUP KAMU CACI AKU, BILANG AKU ******, KUPU-KUPU MALAM! BAHKAN KAMU BILANG KE CLARA DAN JELEK-JELEKIN AKU! GAK PUNYA HATI KAMU DEW! MULAI SEKARANG, MULAI DETIK INI, KITA PUTUS!"
"Kita menjalin hubungan, kata putus berlaku jiga pasangan itu saling setuju, dan aku gak setuju An, kamu tetap pacarku"
"TERSERAH!"
***
Vote dan komennya ya.
Sadewa
Ane
__ADS_1