
"Maafkan aku Riane, aku sungguh tidak bisa mengendalikan diriku. Aku menyetubuhinya karena aku harus adil dengannya juga, karena dia juga istriku An."
Ane menyeka air mata yang sangat membasahi pipinya. "Tadi kamu bilang enggak! kamu bohong Ar!"
Ararka memegang kedua bahu Ane dan menatap kedua matanya dengan lekat. "Kamu maksa aku buat jujur kan! Tadi aku berbohong karena takut menyakitimu An!"
"Tapi ini lebih sakit, kamu berbohong lalu kamu jujur!"
Ararka meraih tubuh Ane, namun wanita itu menghindar. "Cukup Ar, aku sudah gak kuat!"
Ararka mendekap tubuh Ane ke pelukannya. "Tenang An, aku menyetubuhinya bukan dengan cinta, aku hanya melakukan tugasku saja."
Ane memegang dada Ararka. "Apa kamu janji gak bakal jatuh cinta sama dia?"
Ararka mengangguk. "Tidak Sayang, aku hanya mencintaimu."
Ane menghapus air matanya, lalu duduk di sisi ranjang dan mengikat rambut panjangnya. "Dari awal aku sudah tau konsekuensi menikah dengan mu, aku harus menahannya walaupun sakit. Ini sangat sakit tapi kamu juga harus melaksanakan kewajibanmu sebagai seorang suami yang poligami. "
Ararka memeluk tubuh istrinya itu lalu tangannya membuka kancing kemeja Ane, tapi wanita itu menahannya. "Nanti ada orang yang masuk."
"Kamarku jauh dari kamar yang lain."
"Kalau Nyonya Veronika masuk?"
"Sttt..." Ararka menempatkan telunjuknya di bibir Ane. "Jangan memanggilnya Nyonya, kamu seorang Ratu tidak pantas menyebutnya seperti itu."
Setelah memberikan nafkah batin, Ararka segera mengancingkan bajunya dan membuka pintu kamar kebetulan sekarang sudah jam makan Omah. Ane segera keluar kamar menuju dapur, namun aksinya keluar kamar Ararka terlihat oleh Ghania.
"Kamu? kesini dulu."
Ane menghampiri Ghania, dia sangat takut kalau Ghania tau Ane dan Ararka sudah bersetubuh di kamar.
"I-iya Nyonya."
"Kamu ngapain masuk ke kamar Tuan? Tugas kamu ngerawat Omah."
__ADS_1
"Ma-maaf Nyonya, tapi Nyonya Veronika menyuruh saya."
Ghania memegang bahu kanan Ane. "Kamu nanti kecapean, sudah jangan turuti Veronika, kamu urus aja Omah, kalau Vero menyuruhmu lagi, kamu bisa bilang ke aku."
"Iya Nyonya."
Ane pergi dari hadapan Ghania.
"Kasian, masih muda, cantik, harus jadi asisten rumah tangga."
***
Ane berjalan menuju dapur dia mengeluarkan sayuran dari dalam kulkas dan mulai memotongnya. Ane melirik sisi kanan.
"Akhirnya kita ketemu lagi, gadis menangis."
"Kamu? Ja-jadi kamu?"
"Aku kan udah bilang, aku adik Ararka."
"Katanya udah punya suami, tapi di data kamu gak tercantum tuh," ucapnya.
"Aku memang udah ada suami, tapi suami aku pergi."
Aksara menaruh sayuran itu ke dekat Ane. "Pergi menikah lagi?"
Ane diam tak berkutik memang itu hampir mirip dengan ceritanya tapi masih agak berbeda.
"Sudah ku duga."
Aksara melihat wajah Ane dengan dekat. "Serius, umur kamu 19 tahun?"
Ane memalingkan wajahnya. "Enggak kok."
"Jujur aja Dek, kamu masih muda banget sama aku aja beda dua tahun."
__ADS_1
Ane mengambil sayuran yang akan dipotong oleh Aksara. "Tuan, ini tugas saya, mending Tuan tunggu di meja makan kalo mau makan."
Aksara mengambil kembali wortel di tangan Ane. "Aku suka bantuin masak bibi, sekarang kamu yang masak, jadi aku bantuin ya."
"Gak usah Tuan!" Ane sedikit membentak, Aksara cemberut lalu menggulum bibir.
"Jangan manggil Tuan, panggil Kakak aja."
Ane mendecak melihat Aksara yang mencuci wortel di wastafel. "Gak bisa, Tuan, aku bisa dimarahi."
"Semua perintah ku, gak bakal ada yang marahi kok."
Sungguh capek berbicara dengan Aksara, karena mengoceh terus, jari Ane tergores sedikit oleh pisau sampai berdarah, Aksara segera memegang tangan Ane namum segeralah Ane menjauhkannya.
"Aku obatin!"
"Enggak us-"
Aksara mengeluarkan sebuah kapas dan obat cair, dia mengobati tangan Ane yang tergores pisau.
"Ekhm," deheman itu membuat Ane dan Aksara melihat kedatangan seorang pria.
***
Vote dan komennya ya...
Riane
Aksara
Ararka
__ADS_1