
...Setelah aku bertahan, kenyataannya aku hanya menghiburmu bukan untuk memilikimu - Fabio Asher...
***
Ararka melihat kedatangan Papanya beserta dua body guard-nya. Ararka membuka jasnya lalu melihat hand-phone-nya.
"Besok kamu harus bersiap, karena besok pernikahan mu dengan Veronika, Papa udah mempersiapkan gedung dan lain-lain."
Ararka melemparkan jasnya ke kasur lalu menghampiri Papanya.
"Bagaimana kalau Ararka punya istri dua, tidak masalah kan?"
Wijaya masih dengan ekspresinya yang datar. "Di keluarga kita, tidak ada istilah poligami, kalau kamu belum melupakan pacar mu itu, maka Papa yang akan bertindak."
"Terserah!"
"Ini demi kebaikan mu dan juga untuk keutuhan tahta kita."
Ararka pergi begitu saja karena cukup penat dengan omongan Papanya yang kolot.
***
Ane melihat kedatangan Galang, pria yang dia selamatkan, karena hampir saja dia overdosis. Pria itu duduk di sampingnya.
"Gue ada hadiah buat lo."
Ane tersenyum pada Galang. "Apa ini?"
"Tanda terimakasih karena lo udah nyelametin gue. Kalo lagi mabuk, gue suka hilang kendali, gue sering overdosis tapi untung lo hentiin gue mabuk."
Ketika hendak membuka kado itu, tiba-tiba seseorang merebut kado tersebut. Ane dan Galang tengadah heran pada lelaki itu, kemudian Galang bangkit dari duduknya di susul Ane.
"Hadiah? Hadiah apa, uh?" tanya Ararka pada Ane.
Ane segera merebut kado itu. "Bukan urusan kamu!"
__ADS_1
Ane menarik tangan Galang untuk membawanya pergi menjauh dari Ararka. Namun Ararka menahannya dan menarik kerah kemeja Galang, Ararka menonjok pipi Galang dengan membabi buta. Mereka berkelahi membuat suasana jadi ramai.
'Bugh'
"JAUHIN CEWEK GUE BANGSAT! LO MAU MATI DEKETIN CEWEK GUE!"
"GUE SUKA SAMA CEWEK LO! APA MASALAH NYA!"
Galang juga tidak mau kalah, dia menonjok Ararka dengan kencang, hingga Petro dan Gavin datang untuk melerai.
"AR UDAH! LANG UDAH!"
Mereka berhasil menahan Ararka dan Galang.
"GUE LAPORIN SAMA ORANG TUA KALIAN!" teriak Petro.
Ararka mengerutkan keningnya. "Lo kenal sama bajingan ini?"
"Sama calon adik ipar aja lo gak kenal."
Galang dan Ararka melotot tidak percaya, dan Galang juga baru pertama kali melihat Ararka yang akan dijodohkan dengan kakaknya bernama Veronika.
"Udah Lang, biarin Ararka sendiri, kita obrolin ini."
Petro dan Gavin membawa Galang menjauh karena kalau di dekatkan dengan Ararka, bisa gawat urusannya.
Ane dan Ararka saling tatap dengan mata yang berkaca-kaca.
"Aku capek," ucap Ane.
"Sayang!" Ararka menahan tangan Ane.
"APA LAGI! MENDING KAMU PULANG!"
Ararka menggendong Ane ala bridal style menuju kamarnya di lantai atas, walaupun Ane memberontak, Ararka tidak bisa dilawan.
__ADS_1
Setelah masuk ke kamar sewanya, Ararka mengunci kamarnya. Ane sudah tidak habis pikir dengan kelakuan Ararka yang semakin hari semakin keras kepala dan penuh ego.
"Jangan deketi Galang lagi!"
"Siapa yang deketin dia! Dia itu tamu di sini, aku sebagai pelayan melayani dia aja!"
"Melayani?" gigi Ararka bergemeletuk, dia menonjok kaca lemari hingga tangannya berdarah, dia terlihat frustasi apalagi besok hari pernikahannya dengan Veronika.
"Ane..! Jangan deketin cowok lain!"
Ararka mengacak kamar hotel ini dan menonjok dua kaca lemari. Ane segera memeluknya dan menenangkannya.
BUGH!
PRAY!
BUGH BUGH..
"Ar berhenti! Ararka aku mohon berhenti!"
Ararka terduduk dipeluk Ane, dia merengek menelusup di dadanya Ane, wanita itu mengusap-usap kepala Ararka.
"Aku tau kamu belum lupain aku, aku tau kamu Cinta sama aku, tapi aku tau kalo kamu gak bisa lawan perintah Ayah kamu."
"Aku gak mau kamu sama cowok lain An, hiks.. hiks.. " tangisnya terdengar menyakitkan. "An, aku gak bisa hidup tanpa kamu."
"Ararka, ini takdir kita, kamu relain aku ya?"
Ararka menggeleng. "Aku gak bisa relain kamu."
Ararka membuka kancing kemejanya. "Aku gak mau kamu jadi milik orang lain Ane! Kamu milik aku."
Ane menahan tubuh Ararka yang ingin menyetubuhinya lagi. "Aku gak bisa lakuin dosa ini lagi."
Ararka mengangguk. "Kamu janji kan, gak bakal ninggalin aku walaupun aku udah jadi suami orang?"
__ADS_1
"Kamu akan jadi suami orang aku gak mau ngerusak rumah tangga mu."
***