
Di rumah cuma ada Ane, Raka dan Ghania. Yang lain sibuk dengan pekerjaan, Ghania sebagai seorang istri, merawat suaminya yang pingsan karena minuman keras.
Ane tampak khawatir dengan Ghania dan Raka, dia merasa jadi penyebab rumah tangga mereka ancur. Apalagi Raka sampai ingin menceraikan Ghania. Ane menyalahkan dirinya atas semua ini andai saja dia tidak nekat bekerja di sini, mungkin semua ini tidak akan terjadi.
Ane yang sedang menyapu itu dihampiri Ghania.
"Boleh aku minta tolong?"
"Bisa banget Nyonya, mau diberesin kamarnya Nyonya?"
Ghania memegang tangan Riane. "An, aku minta tolong, rawat Raka."
"Ma-maaf Nyonya, Ane gak bisa."
"An, aku mohon sekali ini aja, aku gak bisa liat Raka sedih kayak gitu."
"Tapi Nyonya."
"An, aku mau pergi sekarang, jagain Raka, aku jamin dia gak bakal macam-macam sama kamu."
"Jangan pergi Non!"
__ADS_1
Ghania sudah berjalan ke pintu keluar, Ane mengabaikan perintaj Ghania lalu terdengar Raka memanggil-manggil Delima dengan kencang. Karena tak tega, Ane berjalan ke kamar Raka melihat Raka yang muntah sangat banyak. Ane takut karena tiba-tiba Raka berjalan ke arahnya namun Raka memeluk tubuh Ane.
"Delima maafin aku, aku janji bakal nurut sama kamu Delima, aku gak bakal minum lagi Delima asal kamu di sini."
Ane membawa Raka ke tempat tidurnya lalu menidurkan pria itu di ranjang. Ane duduk di sisinya lalu menyelimuti tubuh Raka yang menggigil.
"Delima aku mohon, jangan pergi," ucapnya memegang tangan Raka.
"Harusnya kamu bilang gini ke Ghani, dia pergi ninggalin kamu."
"Aku gak peduli, aku cuma mau kamu Delima."
Ane menunggu Raka tidur, setelah pria itu tertidur, Ane segera keluar dari kamar Raka. Ane membersihkan meja ruang, menunggu Omah bangun dari tidur.
"Ghania mana?"
"Kamu udah sadar?"
"Mana Ghani?"
"Dia pergi."
__ADS_1
"Biarin aja, itu yang aku mau, sekarang aku sudah sama Delima."
Raka duduk di kursi, lalu Ane pergi meninggalkan Raka. Tiba-tiba tatapannya asing, biasanya Ghania yang selalu menghampirinya kalau dia sedang sendiri kini terasa sepi.
"Masa gue mikirin si Ghania, gue suka gini, tenang, dan gue bakal nikah sama Delima."
Raka menghampiri Ane lalu memeluknya dari belakang, Ane berusaha melepaskan pelukan Raka.
"Tuan! Aku lagi sibuk, jangan mengganggu!"
Raka tiba-tiba mengingat Ghania yang sering memeluknya dari belakang dan dia tidak suka dengan hal itu. Tapi Raka malah membalas pelukan pada orang lain.
Raka memeluk Ane dengan kuat, Ane hanya diam pasrah hingga Ararka melihatnya. Pulang kerja bukannya di siapkan makanan malah diberi pemandangan seperti ini, apalagi Ane hanya diam saja. Ararka pergi begitu saja, Ane mengejarnya namun Ararka mencium dahi Veronika, sangat sakit, begitu sakit. Ane berjalan ke dapur lalu menyeka air matanya.
Raka hanya menarik sudut bibirnya, curiga akan semua ini lalu berbicara pada Ane. "Kamu ada hubungan spesial dengan Ararka, Delima?"
"Ane hanya diam dan menyeka air matanya."
"Aku dapat menyimpulkan kalau kamu berpacaran dengan Ararka, sudah lupain dia! Kamu milikku sekarang!"
Raka memeluk tubuh Ane me megang kedua pipinya lalu mencium bibirnya singkat. Ane mendorong tubuh Raka lalu pergi menuju kamarnya.
__ADS_1
Setelah menutup pintu, Ane menangis di bawah pintu. Selalu sakit dan cemburu melihat Ararka dengan istri kedua.
***