
Ane menunggu kedatangan Ararka di kontrakannya, karena dia akan merayakan hari ulang tahunnya malam ini. Dia melihat jam dinding yang sudah menunjukan jam 12 malam, namun pria itu tidak kunjung datang. Beberapa kali pun dia menghubunginya. Ane menyeka air matanya lalu meniup lilin yang berada di atas kue ulang tahun. Ane juga sengaja mendekor rumahnya untuk kedatangan Ararka.
"Apa dia lagi meeting?"
***
Pagi ini, Ane menyiram tanaman di halaman kontrakannya yang baru saja dibeli Ararka untuknya. Sekarang kontrakan ini sepenuhnya milik Ane. Ararka juga sudah minta maaf lewat video call karena malam itu ada meeting mendadak. Dia tidak bisa menemui Ane sekarang karena masih ada pekerjaan.
Ane memutar keran airnya, karena melihat seorang wanita cantik turun dari mobil mewah. Wanita itu menemui Ane dengan senyumnya.
"Kamu Riane? Boleh saya bicara sama kamu?" langsung pada intinya, membuat mata Ane menelisik.
"Iya Tante, boleh."
Ane berjalan masuk ke rumahnya dan duduk di sofa baru yang dibelikan Ararka, peralatan rumahnya juga terlihat baru dan bagus, katanya untuk besok, Ararka juga akan memerintahkan beberapa tukang untuk merenovasi kontrakan yang sekarang menjadi rumah Ane.
Wanita cantik itu duduk di depan Ane.
"Saya Lauren, Mamanya Ararka."
Alangkah kagetnya Ane, dia tidak menyangka kalau tamu ini adalah Ibu dari kekasihnya.
"Mamah Lauren? Ararka belum kasih tau Ane, kalau Mamah mau kesini. Jadi, Ane belum siapin apa-apa."
Wanita itu tersenyum ramah. "Gak perlu repot-repot Sayang."
__ADS_1
Mata Ane mulai berbinar karena ucapan lembut Ibunya Ararka. "Kalau mamah ngabarin dulu, mungkin Ane bisa masak dulu.'
"Tidak apa-apa, kok."
Ibu Lauren menaruh tasnya di sebelahnya. "Pantas saja Ararka cinta banget sama kamu, ternyata kamu anaknya cantik, dan mandiri ya."
"Ararka juga bilang kalau Mamah Lauren itu ibu yang paling baik, dan juga kekuatannya saat ini. "
Wanita berumur 45 tahun itu menggenang air matanya. "A-Ararka bilang begitu?"
Ane mengangguk. "Ane gak bohong, dia emang bilang begitu."
"Saya ngerasa, kalau saya sudah nyakitin hati anak saya, karena perceraian ini."
"Tapi bagaimana pun, Mamah udah ngerawat Ararka sampai besar."
"Tapi masih bekerja di rumah Ararka?"
"Iya, Ararka sayang banget sama Ibu Minah, saya tidak manyangka kalau Ararka juga bangga pada saya."
Ane berjalan lalu duduk di sebelah Ibu Lauren dan merangkul bahunya. "Gak ada anak yang gak sayang sama ibunya."
Mamah Lauren memegang tangan kanan Ane. "Ararka mau dijodohkan."
Tatapan Ane melemah, tangannya juga tiba-tiba lemas.
__ADS_1
"Di-dijodohkan?" Ane menggeleng pelan.
"Gagalkan perjodohan itu, saya mohon," pintanya.
"Tapi? Apa bisa?"
Mamah Lauren mengangguk. "Bisa."
"Ararka pernah cerita ke Ane, kalau Papanya sudah merencanakan sesuatu untuk anaknya dan jika anaknya membantah, maka akan dikenakan hukuman.'
Lauren menghembuskan nafasnya pelan. "Itu yang saya tidak suka dari didikan Papanya. Kita selalu bertengkar karena ketidak cocokan itu, dan Wijaya tidak pernah berpikir dewasa, dia selalu berpikir kalau saya menemui mantan kekasih saya dahulu, sebelum saya dijodohkan dengannya."
"Bukannya cemburu tanda Cinta?"
Lauren hanya tersenyum kecil. "Dia tidak mencintai saya, bahkan dia pergi untuk meniduri wanita muda di club malam. Saya selalu menahan rasa sakit saya. Sampai sekarang, saya memutuskan untuk menggugat cerai."
Ane memegang tangan kiri Lauren. "Semua jalan terbaik dari Tuhan, bagaimana pun akhirnya, kita harus berlapang dada?"
"Walaupun Ararka menikah dengan orang lain dan tidak bahagia?" Lauren menyeka air mata di pelipisnya. "Saya tidak mau dia merasakan apa yang saya rasakan."
***
Berharap bertahan di dalam harapan. -Riane
***
__ADS_1