Hanya Simpanan

Hanya Simpanan
Merelakan


__ADS_3

Di rumah Ararka sudah banyak keluarga besarnya malam ini, bahkan keluarganya yang di luar kota pun ada. Ararka melihat Sang Ayah yang sibuk dengan para tamu dan Veronika yang sedang sibuk dengan teman-teman arisannya. Ararka berjalan pelan ke loby, dia membawa mobilnya keluar rumah. Dia sudah janji akan menemui istrinya, dan tidak dipungkiri bahwa dia sangat merindukan istrinya.


Setelah memberhentikan mobilnya di depan rumah sederhana namun di dalamnya mewah rumah ini sudah di dekor dan peralatan rumah pun mewah. Rumah yang tidak begitu luas namun sederhana dan mewah.


Ararka membuka pintu dengan kunci yang dia pegang, dia memanggil Ane.


"Riane! Sayang?! kamu ada dimana?"


Ararka membuka pintu kamarnya, dia melihat ke ranjang tempat tidur, dan mengira bahwa Ane sudah tidur. Namun Ararka masuk ke dalam selimut dan memeluk tubuh istrinya. Ane menghindar dan mengalihkan badannya. Ada apa dengan sikap istrinya itu?


"Kenapa?"


Ane tidak menjawab.


"Kamu sakit Yang?"


Ane mengusap pipinya lalu menghadap Ararka. "Kamu ngapain di sini! hiks.. hiks.. Besok kamu mau nikah!"

__ADS_1


Ane duduk di ranjang dan menyeka air matanya lagi.


"Aku gak bisa jauh dari kamu, tadi aja aku mikirin kamu terus."


"An, jangan nangis kayak gitu!"


"Aku juga gak suka perjodohan ini!"


Ane menatap Ararka dengan lirih. "Kamu gak suka? Buktinya kamu seantusias itu kan?!"


Ararka mengerutkan keningnya. "Seantusian gimana maksud kamu?"


Ararka memeluk Ane dan menenangkannya. "Sayang dengerin aku, aku menikah hanya karena perintah Ayah, walaupun aku menikahinya, aku gak bakal suka sama dia, kalau aku gak nurut, Ayah bakal usir aku, nanti kamu gak bisa belanja, gak bisa makan enak."


"Aku juga bakal kerja."


Ararka mengusap rambut Ane. "Realistis aja Sayang, aku bahagia bisa liat kamu bahagia punya uang, dan aku bakal bahagiain kamu terus dan uangku."

__ADS_1


Riane mengeratkan pelukannya. "Aku bahagianya kalau aku bisa liat kamu tiap hari."


"Aku gak mau liat kamu menderita lagi karena gak punya uang."


Riane mencoba tenang. "Kamu menikahinya hanya karena mempertahankan aset dari Papa kamu kan?"


"Tentu Sayang, aku bakal sering pulang ke kamu."


Ararka melihat layar handphone-nya yang bersuara dari tadi dan melihat nama Ayahnya yang menelponnya lewat WA.


"Sayang, aku urusan, aku pulang dulu ya."


"Sa-"


Ararka berlari dengan cepat meninggalkan Ane, wanita itu terpatung dan memegangi dadanya. "Cinta membuatku sebuta dan sesakit ini!"


Ane berjalan keluar kamarnya dan setelah mendengar suara mobil Ararka yang kencang, Ane melihat tas laptop Ararka yang tertinggal. Apa mungkin tadi dia lupa. Ane membuka tas itu dan mendapat sebuah surat undangan pernikahan suaminya yang diadakan besok di sebuah hotel. Ane hanya tersenyum kecil.

__ADS_1


"Dia menikahiku sangat rahasia dan di sebuah rumah terpencil agar semua orang tidak tahu, sedangkan menikahi perempuan ini secara terang-terangan, sangat megah dan mewah. Aku harus sadar diri, coba saja orang tua ku kaya seperti gadis ini, aku tidak harus merelakan suamiku untuknya."


***


__ADS_2