Hanya Simpanan

Hanya Simpanan
RIANE? PERAWAT BARU OMAH?


__ADS_3

Setelah pernikahan Ararka, pria itu masuk ke kamarnya untuk mengambil bajunya, dia bahkan menyewa kamar lain malam ini. Veronika menahan tubuh Ararka dan menyentuh dada bidang Ararka.


"Sayang, kamu mau kemana?"


Ararka menjauhkan tangan Veronika. "Diam!"


"Sayang, ini kan malem pertama kita, kita harus bikin bayi sayang!"


Ararka mengemasi beberapa bajunya di lemari.


"Sayang kamu tega sama aku! Jangan kaluar kamar Sayang!"


Ararka tidak perduli dengan perkataan Veronika, gadis itu memegang sebuah pisau dan menempelkannya ke pergelangan tangan. "Aku bakal bunuh diri!" ancamnya saat Ararka di depan pintu. Ararka berhenti lalu memutar tubuhnya. "JANGAN GILA VERONIKA!"


Ararka memegang pisau, namun pisau tajam itu mengenai pipi Ararka, pria itu mendesis kesakitan, Veronika menyentuh pipi Ararka panik. "Maafin aku Ar."


Lagi-lagi Ararka menepis tangan Veronika. "Menyusahkan saja! Sudah sana tidur!"


Veronika memeluk tangan Ararka dengan manja. "Aku pengennya bobo sama kamu."


"Aku banyak kerjaan! Sudah tidur sana!"


Veronika cemberut. "Kamu mau aku-"


Ararka berjalan menuju ranjang tempat tidur lalu mereka berbaring bersama, setelah melihat Veronika tidur, dia melihat poto Ane fi layar hand-pone, dia sangat merindukan Ane.


'Sabar An, aku bakal pulang cepat, rasanya aku sangat hancur karena melukaimu, kita seperti Palu dan paku, aku menyakitimu karena beban di atas kepalaku,' batin Ararka.


***


Malam ini, Ane berbaring dengan memutar sebuah lagu dari Ghea Indrawari berjudul kau anggap apa, katanya lagu ini cukup mendeskripsikan perasaannya ini.


Dari tadi dia menelpon Ararka, lelaki itu sama sekali tidak mengangkatnya, malah dia mematikannya, Ararka hanya membalas sebuah pesan WA.


Ararka : Aku merindukanmu, istriku. Aku sudah transfer uang, besok belanja yang banyak ya istriku.

__ADS_1


Ane : Aku mau video call sebentar saja. Plis, angkat sebentar, aku kangen.


Ane memanggil Ararka dengan video call, suaminya pun mengangkat dan hanya menampilkan wajahnya.


"Aku tau kamu sedang tidur dengan siapa," ucap Ane dengan lirih, tangannya gemetar hebat, matanya tiba-tiba merah, nafasnya tiba-tiba sakit, hatinya juga sangat hancur, Ane langsung mengakhiri video call ini. Ane mencoba mengatur nafasnya tapi ini terlalu sakit.


"AAARRGHH! KAMU JAHAT ARARKA! KAMU JAHAT!"


Ane melemparkan poto Ararka ke dinding kamarnya, saat sakit melihat Ararka tidur dengan istri barunya.


"Apa aku akan nyerah?"


"Aku gak sanggup Ararka!"


Ane melihat sebuah email berisi.


To Riane


Besok kamu diundang untuk training sebagai perawat dan asisten rumah tangga Nyonya besar Wijaya.


"Yang terpenting, aku bisa melihatmu, itu sangat membuatku bahagia, aku akan menahan sakit kala kamu bersamanya, tapi aku tidak bisa jika lama tak melihatmu."


***


Pagi ini, Ararka bersama Veronika pulang ke rumah megah keluarga Wijaya, disambut Omah, Ayah Wijaya, Mami Wijaya, Arkan dan Ghani, Arka, dan Aksara.


"Selamat datang pengantin baru, mari kita makan bersama."


Semua kumpul di meja makan bersama.


"Akhirnya kita bisa kumpul, Mami udah gak sabar pengen gendong cucu, mungkin Ghania udah gak bisa hamil."


Menantunya itu menggulum bibir, dia selalu sakit hati setiap mertuanya membahas tentang anak karena sudah hampir delapan tahun menikah belum dikaruniai seorang anak.


"Cucu pertama, akan Papa kasih saham tujuh puluh persen!"

__ADS_1


Semua orang tampak menatap Sang Ayah tidak percaya.


"Ayah gak adil, aku kan belum menikah!" tembal Arka.


"Mangkannya, cepat menikah, nanti Ayah carikan jodohnya."


"Tenang aja Om, Veronika sebentar lagi juga hamil," ucapnya.


Omah Neni tersedak, lalu Ayah Wijaya segera memberikan minum untuk Ibunya itu.


"Mamah, besok Wijaya datengin dokter dari luar lagi untuk mamah."


"Mamah sudah gak apa-apa jangan berlebihan kamu Wijaya! Mamah gak setuju kamu ban di ngebandingin menantu! Biarin belum diberi anak juga! Jaga perasaan menantu kamu Fio! uhukk.. uhukk.."


"Iya mamah maaf," ucap Mami Fio.


Siapapun tidak bisa menentang Omah Neni, dia sayang di sayangi Wijaya, Ayah Ararka memang ditakuti siapa saja dan berani pada siapapun kecuali pada ibunya.


Ibu Ratih salah satu asisten rumah tangga di sini menghampiri Omah Neni. "Permisi Nyonya besar, perawat Nyonya yang baru sudah datang."


"Suruh ke sini, Omah mau ke kamar mandi."


Seorang pria cantik berseragam pink itu menghampiri Omah, membuat merek melihatnya tidak percaya, asisten kali ini masih muda dan sangat cantik.


"Kamu masih muda, tulus merawat saya?" ucap Omah.


"Saya akan merawat Omah semampu saya, dan saya tulus."


"Siapa namamu anak cantik?"


"Riane, panggil aja Ane, Omah, "Ane menunduk.


***


vote dan komennya ya

__ADS_1


__ADS_2