
"Apa kamu marah sama aku?"
Ane memeluk guling dan menghapus air matanya, tidak mempedulikan Ararka yang naik ke kasur dan memeluknya dari belakang.
"Aku dibakar cemburu, sangat cemburu, Si Raka udah cari mati sama aku."
"Dia cuma keinget mantan pacarnya yang kebetulan mirip sama aku, dan kamu harus tau kalau kakak kamu itu lagi mabuk, jangan berlebihan."
Ararka mencium bahu Ane. "Apa kita kabur aja dari rumah ini?"
Ane berbalik menatap mata suaminya itu. "Kamu jangan gegabah Ar!"
Mata Ararka berlinang dan kemudian dia meneguk salivanya dengan kuat. "Aku sudah tidak kuat, aku tertekan dengan pernikahan ku sama Veronika! Tingkahnya semakin hari semakin menjadi! Ditambah Raka yang hampir memperkosanya kamu An! Aku mau bawa kamu pergi jauh dari sini!"
Riane memegang pipi kiri Ararka. "Kita akan baik-baik saja di sini, aku yakin aku bisa bikin Ayah kamu restuin kita dengan caraku, tanpa kamu bahayain diri kamu sendiri."
Ararka menghembuskan nafasnya pelan. "Sulit An!"
"Hanya karena cemburu, kamu mau gegah kayak gini?"
"Aku gak mau kamu cinta sama Kak Raka."
Ane hanya tersenyum tipis. "Aku gak mungkin suka sama kakak ipar apalagi Kak Raka sudah beristri, aku gak mungkin punya pemikiran kotor kayak gitu!"
Ararka masih terlihat berpikir. "Cara satu-satunya kamu pulang ke rumah dan mengundurkan diri dari kerjaan ini, aku suamimu, kamu harus nurut sama aku!"
Riane bangkit dari tidurnya lalu berjalan ke kamar mandi. "Udah malem kamu balik ke kamar kamu."
Ane menutup pintu kamar mandi, dia menangis di sana, dia tidak mau memperlihatkan kesedihannya di sini, takut Ararka akan membawanya pulang.
__ADS_1
"Sama kamu emang sakit kalau gak sama kamu, aku lebih sakit Ar."
***
Pagi ini, Ane telah memasak sarapan untuk Omah dan membawa Omah ke taman, namun Ghania menghampirinya dan memberinya sebuah cake.
"Aku membuatnya lebih."
Riane memperhatikan Ghania lalu menerima cake buatan Ghania. "Te-terimakasih Nyonya."
"Ada waktu, buat mengobrol?"
Riane melihat Omah, nenek itu mengusap tangan Ane. "Tidak apa-apa kalau kalian mau mengobrol, Omah di sini saja."
Ane dan Ghania duduk di kursi taman, gadis itu hanya tertunduk memegangi roknya. Dia takut Ghania akan memarahinya namun Ghania mengusap punggungnya.
"Kamu gak perlu takut, aku gak marah kok, semua salah Mas Raka."
"Kamu korban An, semoga kamu bisa jaga diri ya."
Ghania memegang tangan Ane. "Raka sangat obsesi kepada mantan pacarnya yang meninggal, dan dia sangat mirip dengan mu."
"Tuan Raka hanya mabuk Nyonya."
"Bukan An, dia pernah bilang kalau dia ingin memiliki seorang istri yang mirip dengan delima, meskipun dia akan memadunya denganku."
Riane hanya menggeleng mendengar hal konyol itu. "Tidak mungkin Nyonya."
"Dia hampir gila saat dia kehilangan Delima, dan kamu malah datang sedangkan wajahmu sangat mirip dengan Delima, Raka akan terus mengincarmu."
__ADS_1
"Aku harus apa Kak?!" ucap Ane panik.
"Kamu harus meninggalkan rumah ini."
Ane menggeleng. "Ane harus sembuhin Omah, bahkan Omah bilang kalau Ane gak di sini, Omah lebih baik mati, Ane bingung."
Ghania hanya tertawa kecil. "Enggak kok, walaupun kamu berhenti kerja di sini, Omah akan baik-baik aja, kan ada aku, jadi, kamu sekarang berhenti kerja ya."
Riane melihat Omah dengan kursi rodanya, dia menghampiri Ane, tanpa mengindahkan perintah Ghania, Ane menghampiri Omah.
Ghania hanya terdiam lalu menarik sudut bibir kirinya. Ane mendorong kursi roda Omah menuju kamar namun sebuah tangan memegang tangannya.
"Biar aku aja," ucap Ararka.
Ararka membawa Omah menuju kamar, sedangkan Ane sudah memegang lap dan membersihkan meja makan. Alangkah kagetnya Ane melihat Raka duduk di kursi dengan meja makan.
"Hey, Delima? Kamu cantik sekali."
Ane langsung pergi dari hadapan Raka namun pria itu mengikutinya.
"Delima, kamu milikku!"
Ane membersihkan wastafel namun Raka menghentikan pergerakan tangannya.
"Tuan lepaskan!"
"Tidak! Kamu milikku Delima!"
***
__ADS_1
Vote dan komennya ya..