Hanya Simpanan

Hanya Simpanan
Only Love


__ADS_3

"Saya bukan milik Anda Tuan! Saya memiliki suami, saya pertegas kalau saya bukan milik Anda!"


Raka semakin memegang kasar pergelangan Ane. "Kamu Delima! KAMU TETAP DELIMA!"


"BUKAN! TUAN TIDAK TAU SAYA! SAYA RIANE!"


Raka melihat kedatangan Ararka lalu menghempaskan tangan Ane dengan kencang membuat Ane memegang tangannya dengan hati-hati. Ini mungkin sangat sakit ya An?


Ararka menatap wajah kakaknya itu. "Sudah cukup, Ane memiliki suami, suaminya Ane adalah rekan bisnis ku."


Raka menggeserkan rahangnya lalu melipat tangannya. "Gue gak bakal percaya, ini cuma akal bulus Lo doang kan!"


"Dia Ane, Delima udah meninggal, Lo tuh cuma depresi doang!"


"DIEM LO!'


Raka meraih kerah kemeja Ararka. "Kalo Lo bukan adik gue, gue habisin Lo!"


Raka mendorong tubuh Ararka lalu dia pergi begitu saja.


Ararka melihat Ane lalu melihat sekelilingnya. "Aku menunggu di kamarmu, nanti kamu menyusul."


"Tapi kan?"


"Gak usah tapi-tapi."


Ane masih berpikir, bagaimana mungkin dia berada berdua di kamar bersama suaminya itu, bagaimana kalau ada yang melihatnya.


Riane tidak masuk kamar, dia lebih memilih menemani Omah di ruang TV. Ane tertawa bersama Omah saat menonton film komedi kemudian Ane melihat Ararka yang hanya menghembuskan nafasnya pelan.


***

__ADS_1


Ghania memeluk tubuh Raka dari belakang, pria itu tampak tidak suka dengan perlakuan Ghania.


"LEPASIN GUE! LO BUKAN DELIMA!"


Mata Ghania berlinang, lalu dia meramas roknya dan mendekat pada Raka. "Apa aku lebih jelek dari Delima? aku bahkan udah operasi buat kamu, supaya aku mirip Delima?! Tapi kamu sama sekali gak ngehargain itu! Sadar Raka! Delima udah mati! Pembantu itu bukan Delima!"


"Stop! Dari awal aku gak pernah nganggap kamu ada! kita cuma dijodohin, dan dalam waktu dekat, aku mau menceraikan kamu dan menikahi Delima!"


Raka pergi begitu saja, Ghania terduduk lesu dan dia membuka laci di dekat kasurnya, di tangannya sudah ada beberapa obat. Entah obat apa, yang jelas Ghania sudah terlihat frustasi, namun dia kembali mengingat masa lalunya saat dia sekolah dasar dan mengingat Raka yang dulu. Raka kecil yang penuh kelembutan dan ketenangan. Namun setelah dewasa Raka berubah jadi sosok yang keras dan kasar, hanya karena seorang wanita.


"Walaupun sudah begini, aku tetap suka sama kamu Raka, kenapa aku seegois itu sama kamu, kenapa aku semakin ingin buat kamu jatuh cinta sama aku, walaupun aku selalu gagal, aku gak menyerah Raka."


***


Ane keluar dari kamar Omah setelah memberi Omah obat, dia melihat Ararka yang menunggunya di luar.


"Nanti kalau Renata liat gimana?"


"Aku gak peduli An, aku cuma mau kamu, aku ingin semuanya selesai, An dengerin aku, besok kamu berhenti kerja ya."


"Omah baik-baik aja."


Ararka menarik tangan Ane lalu membawa Ane ke kamarnya. Mereka berbincang di kamar, Ararka berani karena Renata sedang ada di luar.


"Ar, aku juga bingung."


Mata Ane berkaca-kaca.


"Aku yang bakal bilang ke Papa dan ke Omah."


Ararka memegang kedua bahu Ane. "Kita bakal lewati ini bersama An, walaupun aku jauh dari kamu, aku bakal selalu pulang ke kamu."

__ADS_1


"Tapi kalo di sini, aku bisa setiap saat liat kamu."


Ararka mencium bibir ranum Ane. "Semua bakal indah pada waktunya, sabar ya Sayang."


Ane hanya mengangguk, dia juga kurang nyaman dengan perlakuan Raka padanya.


Ararka mencium Ane dan membuat Ane terduduk di ranjangnya. Ane menahan tubuh Ararka dan pergerakan tangannya.


"Ar, ini masih siang, kalau ada yang manggil aku gimana?"


Ararka meneguk salivanya dengan kuat. "Nanti malam saja."


Ane memegang dada suaminya itu. "Tolong jawab dengan jujur Ar, aku akan ikhlas mendengar jawabmu."


"Iya, apa?"


"Berapa kali berhubungan intim dengan Renata, ya walaupun dia sama seperti ku, istrimu, aku rela kalau kamu berbagi, karena itu tanggung jawabmu sebagai seorang suami yang harus berlaku adil."


Ararka memegang kedua pipi Ane. "Aku belum pernah melakukannya, aku jujur padamu, aku hanya menginginkan tubuhmu."


"Tapi Ar, itu tanggung jawabmu, kamu harus adil."


"Aku bertanggung jawab memenuhi kebutuhannya tanpa bersetubuh."


Ane mengeluarkan air mata dari pipinya. "Kamu setulus itu sama aku, kamu seserian itu padaku Ar? Aku sudah menerimanya Ar, lakukanlah tugasmu."


Ararka menghela nafasnya pelan. "Baiklah, akan ku coba, toh sekarang juga kamu menolak keinginanku kan?"


Ane terdiam lalu dia menghalangi Ararka saat akan membuka pintu, dia mengunci kamarnya. lalu membuka kancing kemejanya.


"Aku akan melayani mu walaupun sebentar."

__ADS_1


Tetap saja, walaupun memerintah, Ane masih terlihat kurang ikhlas saat Ararka mengatakan akan bersetubuh dengan Renata.


***


__ADS_2