Hanya Simpanan

Hanya Simpanan
Tebing penghalang


__ADS_3

Tebing kita terlalu tinggi, apa kamu bakal nyerah? -Ane.


***


Setelah bangun dari tidurnya, Ararka mencari keberadaan Ane, namun wanita itu tidak ada di kamarnya, dia melihat Ane berada di luar kontrakannya. Ararka memeluk Ane dari belakang, akan tetapi tangannya di jauh oleh Ane.


"Gak usah peluk-peluk!"


"Kenapa?"


Ane cemberut pada Ararka dan melipat tangannya. "Kamu gak inget apa gak tau?"


"Kenapa Sayang?" Ararka merangkul tubuh Ane.


"Hari ulang tahun ku."


"Aku lupa," senyumnya kecil.


Ane masih terlihat marah pada Ararka. Namun seorang kurir pengantar paket datang membawa sebuah paket kotak.


"Atas nama Mbak Riane?"


"Iya? Ini COD? perasaan saya gak belanja online deh."


Ararka menerima paket itu. "Sudah dibayar ya."


"Sudah Pak."


Ane melirik Ararka. "Apa itu?"


"Hadiah."

__ADS_1


Mata Ane berbinar, gadis itu meraih hadiahnya. "Ini beneran?"


"Kita buka di dalam."


Ararka dan Ane masuk ke dalam kontrakan lagi, namun Ararka berhenti ketika mendapat sebuah telepon.


"Hallo?"


"Iya, aku ke kantor sekarang."


Ararka mencium kening Ane. "Aku ke kantor dulu sayang. Nanti malem aku ke sini lagi."


"Aku mau masakin masakan buat kamu, nanti kita tiup lilin sama-sama ya."


"Iya, aku ke sini jam 8 malam ya."


***


Ararka meninggalkan Ane sendiri. Ane juga sudah risen dari kerjaannya karena perintah Ararka, dia tidak mau Ane melayani para tamu di club malam lagi. Ane melihat hand-phone-nya karena lagi-lagi ada notif transfer 50 juta dari Ararka.


Ane memberikan sebuah pesan pada Ararka.


Ane : Katanya kamu mau ngenalin aku ke keluarga kamu, benarkan, kamu mau nikahin aku?


***


Ararka melihat keberadaan Gavin dan Petro beserta Arka di ruang keluarga. Mereka memanggil Ararka, dan pria itu pun menghampirinya.


"Lo masih berhubungan sama cewek murahan itu?" tanya Petro.


Ararka meraih kerah kemeja Petro. "JAGA UCAPAN LO!"

__ADS_1


Petro pun tidak bersuara lagi, hingga Arka mendorong tubuh Ararka. "SADAR! LO UDAH ADA CALON, JADI JAUHIN WANITA ITU!"


"GAK MAU! KALO GUE BILANG GAK MAU, YA GAK MAU! GUE CINTA SAMA ANE!"


Arka memegang kedua bahu Ararka. "Lo bisa diusir dari sini! Lo mau jadi gelandangan! Inget, lo susah payah kembangin bisnis lo sampai sekarang, terus lo ancurin gitu aja karena wanita itu!"


"Gue gak peduli!"


Ararka meninggalkan mereka t


dengan amarahnya namun dia terdiam mendengar satu kalimat ini.


"Atau lo mau liat jasad wanita itu?"


Ararka meneguk salivanya.


"Lo gak kenal bokap lo?"


Ararka masuk ke kamarnya, benar dugaan Arka, adiknya itu mengamuk dan mengacak kamarnya. Siapapun yang masuk pasti bakal kena hajar Ararka.


Wijaya Kusuma, pebisnis kaya ini terkenal sangat keji. Siapa pun yang melanggar aturannya, dia akan mendapat hukuman. Dibalik sikapnya yang dingin ini, dia sangat menyayangi anak-anaknya. Menurutnya, menikah dengan wanita pilihannya akan membuat anak-anaknya bahagia. Anak-anak Wijaya di didik keras, bahkan mereka bersaing dalam hal apapun sampai timbul rasa iri di hati mereka satu sama lain.


Petro memegang bahu Gavin. "Apa ini salah gue?"


Gavin menepis tangan Petro. "Iya salah lo segala bikin taruhan!"


"Tapi lo suka kan, sama Si Ane?"


"Ya masa gue khianatin Si Ararka. Lo tau kan ngamuknya dia gimana?"


"Ini demi kebaikannya sama keselamatan Si Ane. Lo gak mau kan cewek itu diincer bokapnya Si Ararka?"

__ADS_1


***


Vote dan komen.


__ADS_2