Hanya Simpanan

Hanya Simpanan
Ibu Tiri


__ADS_3

Malam ini semua keluarga Wijaya berkumpul untuk makan malam, namun Ararka tetap memakan makanannya dengan santai sampai ada saatnya dia berbicara masalah Ane yang akan berhenti bekerja. Omah tampak bahagia malam ini terlukis dari senyumannya.


"Wijaya, Mamah seneng banget ditemenin Ane pas nonton film, Omah udah ngangkat Ane sebagai cucu angkat."


uhuk.. uhuk..


Ararka meminum airnya dengan cepat.


"Wijaya akan senang kalau mamah senang, kebahagiaan Mamah adalah kebahagiaan terbesar Wijaya, apapun yang mamah minta Wijaya akan turuti, kalau mamah mau nyawa Wijaya akan kasih."


Omah hanya mendelik. "Kamu tuh ya, kebiasaan."


"Wijaya akan menganggap Ane sebagai anak Wijaya juga kalau mamah senang."


Omah tersenyum sangat bahagia. "Panggil Ane ya, Omah pengen dia makan bareng sama kita."


"ANE!" panggil Omah.


Segeralah Ane berdiri di dekat Omah. "Iya, Omah?"


"Duduk di sebelah Omah ya, Ararka geser ke sana."


"Ta.. Tapi Omah?"


"Sudah kamu duduk saja," ucap Tuan Wijaya.


Ane duduk di sebelah Omah, kemudian ada Ararka di sebelahnya dengan Renata, sedangkan di depannya ada Raka dan Ghania. Sungguh sulit di posisi Ane.


"Ane, saya akan berikan kamu bonus karena telah membuat Ibu saya senang," ucap Wijaya.

__ADS_1


"Sudah tugas saya Tuan, Omah sudah seperti nenek saya sendiri."


"Ane Sayang, makan gih, kayaknya kamu belum makan," ucap Omah.


Omah sangat senang melihat Ane makan di sampingnya, begitu juga Wijaya yang sangat senang melihat Ibunya tersenyum kembali setelah bertahun-tahun dalam kesedihan ditinggalkan Sang Ayah.


"Alangkah bahagianya Omah kalau Ane menikah dengan salah satu cucu Omah."


uhuk.. uhuk..


Ararka lagi-lagi tersedak, dia semakin bungkam dengan semua ini.


"Bagaimana dengan Arka."


Aksara melihat ke arah Arka yang hanya tersenyum, apa-apaan dia, seharusnya dia menolak.


"Ane sudah punya suami," balas Ararka. "Suaminya rekan kerjaku."


Wijaya melihat kelakuan Raka lalu bangkit memegang kerah kemeja Raka. "Apa-apaan kamu!"


"Raka gak bahagia Pah! Raka cuma cinta sama Delima, dan Raka udah ketemu lagi sama Delima!"


Sang Ayah melepaskan tautan tangannya pada kerah kemeja Raka, karena tahu sang anak sangat bau alkohol, bicaranya pun melantur.


Raka tumbang begitu saja di hadapan Sang Ayah.


"Raka habis lima botol Pah, dia frustasi dengan perjodohan ini, dia tergila-gila pada Ane karena mirip dengan Delima."


"Bawa Raka, rawat dia, jangan biarkan dia minum lagi."

__ADS_1


Wijaya pergi dengan Sang Istri ke kamarnya.


***


Setelah di kamarnya, Wijaya terdiam sejenak. "Apa aku egois pada anak-anakku?"


Renata menghampiri suaminya itu. "Kamu gak egois Sayang, menjodohkan mereka untuk kebahagiaan mereka."


"Tapi Raka frustasi."


Renata akan mempengaruhi Wijaya dalam hal apapun, dan tujuan dia adalah menguasai harta Wijaya.


"Oh iya, aku ke bawah dulu ya Sayang."


Renata yang sebaya dengan Raka memang masih sangat muda. Pernikahan Renata dengan Sang Ayah ditentang oleh anak-anaknya namun Sang Ayah dibutakan oleh Renata yang hanya menginginkan harta Wijaya.


Renata berjalan ke dapur namun dia berpapasan dengan Arka. "Kamu mau kemana?"


"Kemana aja! bukan urusanmu."


Renata meraba dada bidang Arka, dan spontan di tepis oleh anak tirinya itu.


"Dasar cewek matre! Lo cuma mau harta bapak gue kan!"


Renata tersenyum mirip. "Orang tua penyakitan itu memang harus di buang bukan?"


Arka meraih kerah baju Ibu tirinya lalu Sang Ayah melihatnya dan segera mendorong Arka hingga sang anak jatuh dari tangga.


Arka jatuh hingga dasar tangga dan mengeluarkan darah dari sudut bibirnya. Untung fisik sang anak kuat, dia dibangkitkan oleh Ararka dan memegangi kepalanya.

__ADS_1


"JANGAN KURANG AJAR SAMA IBUMU!" teriak Wijaya.


***


__ADS_2