Hanya Simpanan

Hanya Simpanan
Perjuangan Ararka


__ADS_3

Mewarnai hari dengan sikap bawelmu, membuatku mengerti arti kenyamanan.


***


Ane dan Rere berada di kerumunan, karena tiba-tiba di lapangan, geger dengan sosok lelaki tinggi berjas dan berkaca mata hitam.


Ane hanya geleng-geleng kepala, namun Rere menyenggolnya. "Mau ngapain gebetan lo."


Ane mengangkat bahunya. "Gak tau, eh bukan gebetan aku ya, dia cuma om-om club malem sama anak orang kaya yang manja."


Mereka bersorak seperti kedatangan tamu spesial di sekolahnya, namun Ararka dan pengawalnya berjalan menuju ruang kepala sekolah.


***


Ararka disambut guru-guru di sana lalu dipersilahkan untuk.


"Mohon maaf Pak Ararka, tapi bulan lalu Anda sudah berdonasi di sekolah ini."


Ararka menaikan kaki kanannya. "Saya cuma ingin mencari seorang murid."


"Dengan nama siapa, Pak?"


"Ane namanya."


Kepala sekolah mencari murid dengan nama Ane menggunakan absen sekolah, namun sangat banyak. Entah mau apa Ararka, padahal sepulang sekolah dia bisa menunggu Ane di gerbang.


"Mungkin bapak bisa menunggunya di depan, karena di sini banyak yang bernama Ane."


Ararka melipat tangannya. "Karena saya tidak mau dia dijemput mantan kekasihnya," ungkap Ararka, pria itu bangkit dari duduknya. "Baiklah, saya akan menunggu di depan karena rumit jika menemui seluruh Ane."


Ararka berjalan menuju mobilnya, namun dia melihat gadis itu sedang mengajarkan pelajaran di balkon sekolah, segeralah dia menghampirinya, namun Ane malah berlari dengan kencang.


"ANE!" panggil Ararka.

__ADS_1


Ararka berlari untuk mendapatkan Ane di sepanjang lorong, hingga gadis itu menyerah. "Mau ngapain sih Om!" Ane mengatur nafasnya.


Ararka sudah menggenggam tangan Ane, jika semua murid tau pengusaha besar ini mengencaninya, bisa jadi berita besar.


"Lapasin ih!"


Ararka masih memaksa Ane mengikutinya sampai mobilnya yang terparkir di depan sekolah.


"Cepet masuk!"


Ane menatapnya kesal. "Iya ih bawel!"


Lagi-lagi Ararka membawanya secara paksa. Raut wajah kesal Ane, melihat wajah tampan Ararka dengan tajam.


"Bisa gak sih, gak ganggu aku sehari aja!"


"Gak bisa!" jawabnya spontan. "Ngapain coba deket-deket sama cowok di sekolah! Apa gue harus bikin papan peringatan?"


Ararka menarik sudut bibir kirinya. "Lo gak boleh deket-deket cowok lain! Titik!"


Ane cemberut melipat tangannya. "Jangan bikin ulah lagi di sekolah."


Ararka melihat memar di tangan Ane, dia memberhentikan mobilnya. Matanya membulat, lalu membolak-balik tangan Ane.


"Siapa yang berani bikin tangan lo lecet!"


Ane mendecak. "Gak papa ih," Ane menarik tangannya cepat. "Kamu tuh kenapa sih Om?"


Ararka menjalankan mobilnya lagi. "Gue juga aneh sama sikap gue sendiri."


Ane terkekeh kecil. "Masa ada orang yang ngerasa aneh sama diri sendiri."


"Lo cantik tau kalo gak marah-marah kayak gini, senyum, ketawa gitu."

__ADS_1


Ane melihat wajah Ararka. "Kamu nganggepnya aku cuma cewek galak kan?"


"Enggak ko, lo istimewa."


Ane mendorong tangan Ararka. "Emang nasi goreng apa."


"Nasi cantik sih, lebih tepatnya."


Ane mendecak. "Ck, tetep aja ya, walaupun kamu baik kayak gini, aku tetep gak mau jual diri."


"Kenapa? Lo bisa kaya."


"Kamu sama Kak Gavin sama aja cuma pengen nidurin aku kan, tapi tetep aj-"


Ararka melotot lalu memberhentikan mobilnya lagi, sungguh kebiasaan, kapan coba sampainya jiga setengah perjalanan dia terus berhenti.


"JANGAN GAVIN! GAK BOLEH! LO JUAL DIRINYA KE GUE!"


Ane membuka snacknya, lalu memakannya. "Ya gak papa lah, kan aku bisa kaya."


Ararka menghentakan stir mobilnya, lalu menarik pipi Ane. "GAK BOLEH! Awal aja kalo jual diri ke Gavin! gue bakal..." Ararka menggantungkan ucapannya lalu berpikir. "Bakal bikin perhitungan sama Gavin."


Ane mengambil snacknya kembali lalu memakannya. "Aneh sih orang ini, kamu tuh datang-datang maksa aku, cium aku, kamu kenapa, hey?"


Ararka menjalankan mobilnya kembali. "Ya karena sebuah keinginan untuk menang."


Ane mengerutkan keningnya. "Menang apaan?"


"Kamu gak bakal ngerti."


***


Vite dan komennya ya..

__ADS_1


__ADS_2