
Arkan melihat kepulangan Ararka, dia masuk ke kamar adiknya itu.
Ararka mendengus kesal kepada Arkan. "Ngapain lo! Keluar!"
Arkan memegang bahu adiknya itu. "Kita adik kakak, santai saja jika kakak mu ada di kamar mu."
Ararka menarik kerah kemeja Arkan. "Lo bukan kakak gue! Gak ada yang namanya kakak, berusaha nyingkirin adiknya sendiri!"
Arkan menggeser rahangnya. "Waktu itu kita masih kecil."
Ararka mendorong kakaknya itu sampai terduduk di lantai. "Gak ada yang namanya kakak, ninggalin adiknya di lorong sampai trauma! Dan lo tau! gue trauma sampai saat ini!"
Arkan bangkit. "Gak ada kakak yang gak sayang sama adiknya."
Ararka hanya tersenyum kecil. "Karena apa? Lo baik-baikin gue supaya naruh saham ke perusahaan yang gak berkembang itu, makanya, lo tuh belajar bisnis! Jangan cuma main ke club!"
Arkan menunduk lalu memperlihatkan bola matanya yang berair. "Kita memang seharusnya bersaing kan?"
"Ya, lo urus perusahaan lo sendiri, gue urus perusahaan gue sendiri!"
"Baik kalo itu mau lo. Kalo lo gak bagi setengah saham perusahaan lo, gue rasa, pacar lo yang manis itu bakal tertarik sama tawaran gue."
Ararka mendekati Arkan dengan matanya yang membulat, dia mendorong bahu kanan kakaknya itu hingga terpental ke lemari. Arkan sudah membuat emosi, Ararka menonjok pipi Arkan beberapa kali, namun kakaknya itu tidak membalasnya. Tak lama Arka, kakak paling tua di keluarga ini melerai mereka dan membawa Arkan pergi.
"BERKELAHI TERUS KALIAN! KAPAN DEWASANYA!"
__ADS_1
Ararka mengunci pintu lalu mulai melakukan video call pada Ane.
"Bukannya tidur, kok malah VC?"
"Sayang, kunci kamar, kunci pintu rumah, besok kamu ikut aku ke apartment!" ucap Ararka dengan panik.
"Kamu aneh deh."
Setelah mematikan teleponnya, Ararka malah tidak bisa tidur, dia melihat jam dindingnya, sekarang sudah jam setengah dua belas. Untuk memastikan kalau Arkan tidak menemui Ane, Ararka mencoba mengecek sendiri keadaan Arkan. Setelah dia membuka kamar kakaknya, dan benar saja firasatnya, dia akan ke kontrakan Ane. Ararka tidak mau Ane dalam bahaya, dia sangat mencemaskan wanita yang dicintainya itu.
***
Ararka menjalankan mobilnya dengan amat kencang, hampir saja dia menabrak kucing yang melintas, untung saja kucing itu berlari sangat kencang. Setelah sampai di depan kontrakan Ane, Ararka mengetuk pintunya dengan kencang membuat wanita di dalam kontrakan itu keluar. Ararka menelusup ke dalam mencari-cari keberadaan Arkan, namun tidak ada. Ane menelisik Ararka, ada apa dengan kekasihnya itu?
Ararka memeluk tubuh Ane dengan kuat. "Aku khawatir sama kamu, sayang."
Ararka memegang kedua pipi Ane. "Aku gak mau ada orang yang celakain kamu."
"Aku baik-baik aja, Ar."
Ararka memeluknya lagi, lalu mengais Ane seperti bridal style masuk ke kamar Ane. Lalu mendudukan Ane di ranjangnya.
"Aku akan menginap." Ararka membuka bajunya lalu duduk di sebelah Ane.
"Bagaimana kalau Papa kamu nyariin kamu?"
__ADS_1
Ane memerhatikan badan athletis milik Ararka. selalu terngiang-ngiang malam pertamanya dengan pria ini.
Ararka berdiri di depan Ane lalu menidurkan wanita itu di ranjang. "Aku sedang ingin."
Ararka memiringkan tali tanktop Ane, namun wanita itu menahannya. "Apa kita akan terus seperti ini? Bagaimana kalo aku hamil?"
"Aku pakai pengaman."
Ane mendorong pelan tubuh Ararka lalu membetulkan tali tangtop nya. "Aku mau kamu nikahin aku dulu, aku gak mau perkataan dari Kak Petro itu bener."
Ararka memegang dagu Ane. "Perkataan apa Sayang?"
"Aku hanya pelayanmu?"
Mata Ararka membulat, rahangnya menegas. "Sialan! Berani-beraninya dia!"
"Jangan nyalahin dia, aku cuma mau kamu nikahin aku."
"Besok aku kenalin kamu sama Mama, Papa, Kakak, karena besok ada pertemuan keluarga."
Ararka terus meyakinkan Ane. "Kamu percaya kan sama aku sayang?"
Ane mengangguk membiarkan Ararka menciumi dan mereka bercumbu malam ini.
***
__ADS_1