
Ane membuka pintu ruang gantinya kemudian duduk di sebelah laki-laki yang memegangi keningnya.
"Minum air putih," Ane menyodorkan minuman yang dia keluarkan dari dalam tasnya.
Ane melihat jam tangannya. "Kamu banyak banget minumnya, takutnya overdosis, kalo mati ribet urusannya."
Lelaki itu meneguknya sampai habis.
"Gue kayaknya mabuk berat."
"Kamu bisa tidur di sofa ini sampai pagi."
"Lo yang nolongin gue?"
"Iya."
Lelaki itu tertawa kecil. "Gue gak bakal mati, walaupun gue minum banyak."
"Masalahnya kamu minumnya di club ini, kalau minum di luar ya gak papa, mati pun gak ada urusan."
"Lo lucu ya," ujarnya. "Gue Galang, umur gue 23 tahun, gue mahasiswa."
"Kamu mahasiswa ? kalo dosen tau, kamu bakal di DO."
"Orang tua gue kaya, dosen juga gak bakal DO gue."
Ane hanya menghembuskan nafasnya pelan. "Hm, iya deh orang kaya."
Lelaki itu masih memijit kepalanya. "Gue boleh tidur di sini? Kepala gue sakit, gak kuat berdiri."
"Boleh, aku mau pulang duluan."
Ane berjalan keluar pintu.
"Nama lo siapa! Woy cantik!"
__ADS_1
***
Ane melepaskan kunciran rambutnya lalu melihat layar hand-phone-nya. Ararka menelponnya beberapa kali. Untuk apa dia? Padahal dia sendiri yang telah memutuskan hubungannya dengan Ane.
Ararka : Hubungan kamu sama aku emang udah berakhir, tapi bukan berarti kamu bisa kerja di club malam lagi. Biar aku transfer kalo kamu butuh uang asal kamu jangan ngelayanin laki-laki di club itu!
Ane : Aku gak mau nerima uang kamu! Itu urusanku! Urus saja urusan mu sendiri!
Ararka : Kamu jual diri di sana?!
Ane : Itu urusanku!
Ane bahkan tidak menjawab telepon dari Ararka lagi, dia sudah sangat lelah bekerja ditambah Ararka yang selalu mencampuri urusannya, padahal mereka sudah mantan kekasih dan Ararka juga akan menikah. Ane berusaha melupakan pria itu, namun lagi-lagi dia hanya meratapi kenangannya bersama Ararka.
"Setidaknya kita punya kenangan walaupun tidak saling memiliki."
***
Ararka akan berangkat ke kantor sekitar jam 8, dia melihat Veronika yang masuk ke kamarnya. Wanita itu membetulkan dasi milik Ararka.
Ararka menepis tangan Veronika. "Aku gak suka kamu, apalagi kamu bekas sahabat aku sendiri."
"Aku sama Petro cuma temen Ar!"
Ararka menampilkan sudut bibirnya. "Teman di kamar maksud mu?"
"Kamu cemburu?"
Ararka membawa tasnya. "Mana mungkin aku cemburu, suka saja tidak."
Veronika menatap punggung Ararka dengan tajam. "Aku bakal bikin kamu suka sama aku."
***
Ane melihat sebuah mobil di depan rumahnya. Dia segera mengunci pintu rumah, akan tetapi lelaki itu membukanya dari depan. Alangkah terkejutnya dia melihat Ararka masuk ke dalam rumahnya.
__ADS_1
"Mau apa! hubungan kita udah berakhir! Pergi! Aku benci kamu!"
Ararka berjalan maju sedangkan Ane berjalan mundur.
"PERGI!" teriak Ane, wanita itu melemparkan gelas plastik pada Ararka.
Mata lelaki itu berlinang kemudian dia berhenti. "Sebenci itu kamu sama aku?"
Ane menyeka air matanya. "Aku gak bisa ngungkapin sebenci apa aku sama kamu, yang jelas luka yang kamu bikin cukup sakit! Buat apa kamu nemuin aku lagi? Mau bikin aku lebih sakit?"
"Aku cuma gak suka kamu kerja di club malam lagi!"
"Kenapa? Kamu takut aku jual diri sama mereka? Apa urusan mu! Toh mereka bakal bayar aku kaya kamu juga."
"STOP! JANGAN BILANG SEAKAN KAMU MAU JUAL DIRI KAMU!"
Ane tersenyum kecil. "Kamu yang bilang kan? Kalo begitu, fine! Itu bakal jadi profesi aku! Toh aku juga udah gak butuh cinta," ujar Ane. "CINTA BIKIN AKU MATI RASA KAYAK GINI!"
"JANGAN BIKIN GUE KASAR SAMA LO! LO GAK NGERTI APA YANG BIKIN GUE KAYAK GINI! GUE GAK MAU LO DISENTUH ORANG LAIN!"
Ane berjalan ke kamar mandi di dapur, hanya kamar mandi itu yang tidak bisa dibuka Ararka. Namun lelaki itu lebih pintar dan menahan tangan Ane, wanita itu terus menarik pintu kamar mandi.
"LEPASIN!"
Ararka menarik tangan Ane lalu mendudukan tubuh Anu di dekat wastafel. "Jual diri lo ke gue lagi!"
PLAK!
Ane menampar pipi Ararka, berusaha menepis tangan Ararka diantara kedua pahanya.
"BIARIN AKU SAMA ORANG LAIN! BIARIN AKU JATUH CINTA SAMA ORANG LAIN! KEHADIRAN KAMU BIKIN AKU SAKIT ARARKA! HIKS.. HIKS.."
"Ikut gue!"
***
__ADS_1
Vote dan komennya ya