Happiness With My Sunshine

Happiness With My Sunshine
Episode 22


__ADS_3

Hari ini kami masuk kuliah pukul 11 siang, karena mata kuliah pertama dosen nya tidak masuk dikarenakan anak nya sakit dan aku bisa bersantai terlebih dahulu.


Ibu mengajak ku pergi kepasar, karena sudah 2 hari ini tukang sayur itu tidak lewat di depan rumah nenek.


Aku dan ibu pergi kepasar jam 8 pagi, kami membeli kebutuhan dapur untuk 1 minggu kedepan, karena takut nya tukang sayur itu tidak lewat lagi besok.


Setelah berbelanja di pasar, kami pulang kerumah pukul 10 pagi, dengan barang belanjaan yang cukup banyak, sampai sampai tangan ku sakit karena memegang kantong plastik itu.


" Nek, aku dak ibu sudah beli sayur dan beberapan keperluan dapur lain nya, jadi besok besok nenek gak perlu belanja di tukang sayur itu yah " ucap ku sambil menyusun sayuran di kulkus.


" Iya iya, kamu belum siap siap apa? sekarang sudah jam berapa ini " ucap nenek.


" Iya nek diana siap siap dulu yah " ucap ku sambil berjalan menuju kamar.


Pukul 10:20 aku pergi dari rumah dan menuju ke kampus, seperti biasa aku pergi menggunakan bus, karena bus kami sangat nyaman.


Di perjalanan aku sambil bermain handphone dan juga mendengarkan musik, aku melihat lihat sosmed ku bahkan aku terhibur dengan lelucon yang ada disana, sehingga tidak terasa aku sudah sampai di depan kampus.


Aku berjalan menuju ruangan, sambil menggunakan headset di telinga ku, aku menunjukan ekpresi yang cukup ceria hari ini. Hingga sari memanggilku dan mengajak ku untuk sedikit berbicara dan meluruskan permasalahan di masa lalu yang dulu kami sempat salah paham.


" Diana..... " panggil sari kepada ku.


" Eh, kamu sari kan namanya? " tanya ku.


" Iya nama ku sari, hehe " ucap sari sambil mengulurkan tangan nya ke arah ku.


" Salam kenal yah, dan maaf banget karena kemarin kemarin aku sudah salah sangka sama kamu yah " ucap ku sambil menjabat tangan sari.


" Iya gak apa apa kok, aku juga paham kalau di posisi kamu hehe " ucap sari.


" Makasih yah sudah mau membantu ku juga, kalau kamu gak bilang bilang sama temen temen aku mungkin sekarang aku masih suka berhalusinasi " ucap ku sambil tersenyum.


" Sama sama kok hehe " ucap sari sambil tertawa.


" Sekarang kita temenan yah " ucap ku lagi.


" Iya, aku seneng banget bisa punya temen baru lagi " ucap sari.


Kami kemudian tertawa dan melupakan kejadian yang tidak baik di masa lalu.


" Oh iya sari, aku mau ke ruangan dulu yah, bentar lagi mata kuliah mau di mulai hehe " ucap ku pada sari.


" Oh iya iya, kapan kapan kita jalan yah, ajak temen temen kamu yang lain juga " ucap sari.


" Oke deh beres, sini aku minta nomor whatsapp kamu, biar gampang kita komunikasi nanti " ucap ku sambil menyerahkan ponsel ku pada sari.


Setelah sari mengetik nomor nya di handpone ku, aku langsung menyimpan nya, kemudian kami berpisah dan pergi menuju kelas masing masing.


.


.


.


.


Tidak lama aku sampai di ruangan, dosen kami pun datang dan pelajaran di mulai, selama pelajaran handphone kami tidak boleh di bunyikan dan aku mengubah nya ke mode sunyi.


Setelah mata kuliah selesai aku melihat ibu sudah 7x menghubungi ku, ketika aku menghubungi ibu balik ibu tidak menjawab nya.


Aku segera turun ke lantai bawah dan menuju gerbang untuk pulang, dan aku melihat ada kak indra di dekat gerbang, aku langsung menghampiri nya.


" Kak indra? ngapain? " tanya ku pada kak indra.


" Nah akhirnya kamu datang, kakak mau jemput kamu diana " ucap kak indra.


" Tumben banget? kok gak ngehubungin aku dulu kak? " tanya ku lagi.


" Gak sempet, ayo masuk mobil dulu diana katena ada hal yang sangat mendesak " ucap kak indra.


" Hmm okeoke " ucap ku sambil membuka pintu dan masuk ke dalam mobil.


Setelah kak indra masuk kedalam mobil, aku masih diam dan belum bertanya pada nya karena aku melihat wajah kak indra sangat serius.


Kemudian kak indra baru mengajak ku berbicara.

__ADS_1


" Diana, kita pergi ke rumah sakit yah " ucap kak indra.


" Kerumah sakit? mau ngapain kak? " tanya ku dengan penasaran.


" Nenek masuk kerumah sakit " ucap kak indra sambil menatap ku.


" Hah? kenapa bisa? nenek sakit apa kak? padahal tadi pagi nenek baik baik aja kok " tanya ku lagi dengan wajah yang sangat bingung.


" Nenek tadi jatuh di kamar mandi, gak lama kamu pergi kuliah, ibu kamu coba menghubungi kamu tapi gak di angkat " ucap kk indra.


" Ya ampun nenek, nenek kenapa sih bisa jatuh " ucap ku sambil menangis.


" Kakak gak tau juga, tiba tiba ibu kamu telfon mama kakak, mangkanya kakak langsung cepat cepat datang kerumah, kebetulan juga gak ada mata kuliah hari ini " ucap kak indra.


" Tapi nenek gak kenapa kenapa kan kak? " tanya ku pada kak indra sambil memegang tangan nya.


" Semoga saja gak yah, tadi begitu kakak antar nenek kerumah sakit, kakak langsung pergi jemput kamu dan gak sempet liat nenek " ucap kak indra.


Aku terus menangis karena aku tidak ingin nenek kenapa kenapa, untung nya jalanan tidak macet, jadi kami bisa sampai ke rumah sakit dengan cepat.


Kak indra langsung mengajak ku keruang UGD dan ibu sudah duduk disana sambil menangis.


" Ibu, kenapa dengan nenek? " tanya ku sambil menangis.


" Tadi nenek kamu jatuh sayang di kamar mandi, waktu ibu lagi masak, ibu panik dan langsung nelfon tante sandra, untung nya indra cepat datang " ucap ibu sambil memeluk ku.


" Terus keadaan nenek sekarang gimana bu? " tanya ku sambil menangis.


" Ibu juga gak tau sayang, ibu belum boleh masuk dari tadi " ucap ibu.


" Gimana sama ayah dan paman paman yang lain bu? apakah ibu sudah memberi tau mereka? " tanya ku pada ibu.


" Sudah nak, ibu tadi menghubungi ayah mu dan dia akan datang secepatnya, ibu bilang untuk memberi tau kepada anak anak nenek yang lain juga " ucap ibu.


Kak indra mencoba menenangkan kami, ia mengajak kami untuk duduk dan berdoa agar nenek baik baik saja.


" Tante, diana, kalian tenang dulu yah, kita berdoa agar nenek baik baik saja " ucap kak indra dengan pelan.


" Iya nak, makasih juga yah kamu sudah mau bantu nenek " ucap ibu sambil memegang tangan kak indra.


Setelah itu, mama dan papa kak indra pun datang, mereka menguatkan kami dan menyarankan kepada kami untuk terus berdoa.


Bahkan anak anak nenek pun belum ada yang datang, aku benar benar ingin marah dengan mereka, bahkan orang lain saja sudah berusaha untuk hadir seperti tante sandra dan suaminya, tetapi mereka nampak nya biasa biasa saja.


.


.


.


.


Setelah kami menunggu sekitar 20 menit, dokter pun keluar dan memanggil kami untuk mengatakan bagaimana kondisi nenek.


" Apakah kalian keluarga pasien? " tanya dokter itu.


" Iya iya dok " jawab aku dan ibu yang langsung mendekati dokter.


" Begini, pasien mengalami benturan yang sangat kuat dan kondisi pasien sekarang kritis " ucap dokter dengan wajah yang sedikit sendu.


" Ya allah ibu, bagaimana ini " ucap ku sambil memeluk ibu.


Ibu dan aku menangis dan keluarga kak indra mencoba menenangkan kami, dan nenek belum boleh dilihat karena kondisi nya benar benar cukup parah.


Kami duduk di kursi, aku dan ibu terus menangis dan meminta kepada Allah agar menyembuhkan nenek, tante sandra mencoba menenangkan ibu sedangkan kak indra memegang tangan ku.


Ketika kami sudah cukup tenang, kemudian dokter masuk lagi kedalam ruangan nenek, dan kami pun bertanya tanya, ada perkembangan apa pada nenek.


Dengan rasa penasaran kami berdiri di depan pintu, menunggu dokter itu keluar dari ruang UGD.


Tidak lama kemudian dokter itu benar benar keluar dan kami langsung menanyakan bagaimana kondisi nenek.


" Bagaimana dokter? " tanya ibu dengan nafas yang terengah engah.


" Maaf saya harus menyampaikan nya pada kalian, pasien mengalami pendarahan yang sangat kuat akibat benturan itu, dan kami tidak bisa menolong nya, kami benar benar meminta maaf pada kalian " ucap dokter sambil memegang tangan ibu.

__ADS_1


Rasanya petir sedang menyambar ku, aku tidak bisa berkata apa apa dan langsung berlari kedalam ruang, dan suster suster itu sedang melepaskan alat alat yang ada di tubuh nenek.


Nenek sudah terbujur kaku di atas tempat tidur dengan wajah yang sangat pucat.


" Nenek...... bangun nenek...... " aku menjerit sambil menggerak gerak kan tubuh nenek.


Dan kak indra serta om akbar (ayah kak indra ) berusaha menguatkan ku, mereka menarik tubuh ku.


Sedangkan ibu menangis terseduh seduh di ujung tempat tidur itu sambil di peluk oleh tante Sandra.


Aku benar benar frustasi, aku tidak tau ini nyata atau hanya mimpi, aku benar benar tidak bisa hidup tanpa nenek.


" Seharusnya aku tidak pergi kuliah hari ini, jika aku menjaga nenek pasti nenek tidak mungkin sampai seperti ini " ucap ku sambil menangis dan memeluk nenek.


" Ibu yang salah nak, semestinya tidak membirkan nenek pergi ke kamar mandi sendirian, ibu yang salah " ucap ibu sambil memukul mukul dada nya.


" Kamu tenang, kamu gak salah, diana juga gak salah, sudah ajal nya nenek seperti itu, kalian jangan menyakiti diri kalian seperti itu yah " ucap tante sandra sambil memeluk ibu.


Aku dan ibu terus saja menangis dan masih menyalakan diri sendiri, kemudian ayah dan juga paman paman yang lain pun datang.


" Ibu kenapa meninggalkan kami begitu cepat " ucap ayah sambil berteriak dan menangis.


" Apa yang terjadi dengan ibu? hah padahal ibu baik baik saja " ucap salah satu paman.


Dan setelah mereka meluapkan emosinya dan menangisi kepergian nenek, salah satu paman ku menyalahkan aku dan ibu.


" Ini semua karena kalian, kalian tidak becus menjaga ibu kami " ucap paman itu.


Sontak membuat ku dan ibu terkejut bahkan keluarga tante sandra pun langsung berdiri mendengar itu.


" Aku tidak tau, tadi pagi ketika aku masak ibu pergi ke kamar mandi dan setelah itu aku melihat ibu sudah jatuh pingsan dan buru buru menghubungi sandra " ucap ibu sambil menangis.


" Kenapa mengubungi orang lain? kenapa tidak memberitahu kami " ucap paman yang lain.


" Aku mencoba menelfon ayah diana tapi ia tidak mengangkat nya " jawab ibu.


" Kalian sangat tidak becus! kalian yang ada di rumah itu tapi tidak tau kenapa ibu bisa terjatuh " ucap paman yang paling bungsu.


Aku benar benar sudah sangat kesal dan akhirnya aku menjawab pertanya an mereka yang menyudut kan aku dan ibu.


" Kenapa kalian datang kesini sambil menangis? kalian masih ingat kalau ibu kalian masih ada? waktu dia hidup apakah kalian datang mengunjungi nya? aku tau nenek sering mengubungi kalian untuk menjenguk dia tapi apa yang kalian ucap kan? kalian bilang sibuk! kalian tidak tau kan kalau nenek sering menangis! kalian tidak tau nenek sering sakit sakitan! kalau bukan nenek yang melahirkan dan membesarkan kalian sampai sukses seperti ini kalian bisa apa? dan sekarang nenek sudah meninggal kalian dengan mudah nya menyalahkan aku dan ibu! kalian tau ibu ku itu siapa? dia hanya seorang MENANTU!!!!.


sedangkan kalian adalah anak anak nya!!! seperti istri istri paman apakah sudah pernah mengunjungi nenek atau merawat nenek? tidak pernah kan! semestinya kalian malu dengan ibu ku! aku benar benar benci kalian seperti nenek yang sudah sangat membenci anak anak nya yang durhaka!!!! " ucap ku dengan sangat lantang.


Ibu dan tante sandra langsung memeluk ku dan menenangkan ku.


Semua yang ada di ruangan itu terdiam termasuk suster suster.


" Kenapa kalian diam? " aku bertanya pada ayah dan juga saudara saudara nya.


Mereka ber 4 hanya terdiam dan menangis sambil meratapi kepergian nenek.


Aku benar benar muak dengan keluarga itu, setelah kepergian nenek aku tidak akan menganggap mereka lagi sebagai keluarga.


.


.


.


.


Setelah suster membereskan alat alat yang ada di sekitar nenek, nenek pun bersiap siap dibawa kerumah untuk disholat kan dan dikuburkan sore hari.


Aku, ibu dan tante sandra duduk di dalam ambulans, dan sebelumnya ibu sudah menelfon paman yang didekat rumah, mereka sudah membersihkan rumah nenek dan menyusun ambal dan juga sudah menata kursi di teras.


Semua tetangg sudah menyiapkan segala keperluan seperti tempat mandi jenazah, kain kafan dan pemakaman.


Karena di tempat nenek masih sangat tradisional dan masih menerapkan gotong royong, selama hidup nya nenek dan kakek dikenal sangat baik dan suka membantu segala kegiatan di wilayah itu sehingga tidak heran banyak orang yang menghormati nenek dan kakek disini dan juga mereka tidak akan melupakan kebaikan yang sudah dilakukan oleh nenek dan kakek.


Pukul 3 siang kami sudah sampai dirumah dan tidak perlu menunggu lama lagi, karena semua anak anak nya sudah berkumpul, dan nenek langsung di mandikan dan di sholat kan sekitar pukul 4 sore.


Kami tidak ingin menunggu besok untuk menguburkan nenek, karena jika jenazah dikuburkan semakin cepat maka akan semakin baik.


Sampai detik ini aku masih tidak menyangka dan masih menganggap ini sebagai mimpi.........

__ADS_1


__ADS_2