
Hari ini hati ku benar benar hancur mendengar ayah yang sudah melakukan hal yang sangat memalukan seperti itu kepada ibu.
Aku benar benar membenci ayah, ak sangat sedih melihat perasaan ibu yang sangat hancur dan ia pendam sendirian bertahun tahun.
Tapi aku dan nenek merasa lega karena sudah mendengar langsung dari mulut ibu dan juga nenek sangat hacur mendengar anak nya bisa melakukan perbuatan yang keji seperti itu, padahal ibu ku sudah susah payah melahirkan aku tetapi ia di khianati.
Aku benar benar tidak bisa menerima perbuatan ayah dan aku tidak ingin melihat ibu terus bersedih seperti itu.
Aku menyuruh ibu beristirahat dan kebetulan besok adalah hari minggu jadi ibu bisa menginap disini.
Aku sangat senang bisa tidur bersama ibu, sepanjang malam aku terus memeluk ibu dengan sangat erat dan tidak ingin kehilangan dirinya.
Ke esokan harinya, ketika aku bangun, ibu dan nenek sudah menyiapkan sarapan dan kami makan pagi bersama dengan ditemani tes manis yang hangat.
" Sudah lama aku tidak sarapan seperti ini buk " ucap ibu kepada nenek.
" Iya, mangkanya kalau libur kamu menginap disini sekaligus liat diana " ucap nenek.
" Iya bu, kalau libur ibu kesini yah temani aku tidur " ucap ku memohon kepada ibu.
" Iya iya jika tidak sibuk ibu akan menginap disini " ucap ibu sambil tersenyum ke arah ku.
Suasana seperti ini saja sudah membuat ku sangat bahagia, karena aku bisa melihat senyuman orang orang yang aku sayangi.
Setelah sarapan, ibu langsung membereskan meja makan dan mencuci piring, sedangkan aku langsung menyapu setelah itu mengepel.
Habis mencuci piring ibu langsung mencuci baju, sedangkan tugas nenek adalah memasak karena masakan nenek sangat lah enak hehe.
Seperti biasa aku menunggu bapak sayur lewat dan setelah itu memanggil nenek.
" Menu hari ini, sambal telur + kentang dan sayur asanm yah " ucap nenek.
" Apa saja sih yang penting nenek yang masak " ucap ibu sambil melirik ke arah ku.
Kemudian kami berdua pun tertawa dan nenek sibuk memilih telur ayam dan di bantu oleh ibu juga.
Dan tugas ku sebagai ijah adalah membawa sayuran ke dalam yang sudah nenek beli sebelumnya.
Setelah selesai berbelanja, aku langsunh sigap membawa nya masuk, ibu dan nenek langsung memasak sedangkan aku menonton Tv hehe, karena ibu menyuruh ku untuk bersantai.
Sambil menonton aku memainkan handphone, membuka whatsapp, Instagram dll. ku lihat ada pesan masuk dari anton.
" Minggu sore ada waktu gak na? " tanya anton lewat whatsapp.
" Gak ada ton, emang kenapa? " balas ku.
" Jalan yuk, ada film bagus di bioskop " balas anton dengan cepat.
" Gak bisa ton soalnya ada ibuku disini hehe maaf yah lain kali aja yah " balas ku, sebenarnya aku paling malas pergi seperti itu.
Aku lebih suka orang datang kerumah dan kami bercerita bahkan makan bersama sampai sore atau malam.
Dan juga aku bisa mengawasi neneo jika dirumah, meskipun nenek masih kuat berjalan tapi penyakit diabetes dan darah tinggi nenek suka kambuh dan aku tidak ingin itu terjadi jika aku sedang di luar.
Ibu pulang sekitar pukul 4 sore karena jika kesorean Bus akan sepi dan akan bahaya, aku mengingatkan ibu untuk datang jika weekend.
.
.
.
Tidak terasa weekend sudah berakhir dan aku harus kembali masuk kuliah di hari senin, sebenarnya tinggal dirumah dan bersantai itu sangat enak hehe.
Di dalam bus aku berharap ada roy yang sedang duduk di taman itu hehe tapi ternyata ketika aku sampai di depan kampus dan melihat ke arah taman ternyata roy tidak ada disana.
__ADS_1
Aku sedikit kecewa karena tidak bisa melihatnya tetapi aku berfikir bahwa iya juga sedang kuliah, dan kuliah nya bukan disini.
Semoga nanti aku bisa ketemu lagi sama dia hehe, sungguh genit sekali aku ini hmmm tapi tidak apa apa lah.
Hari ini kebetulan hanya 2 mata kuliah dan kami pulang pukul 11 siang tapi berhubung ada kelompok belajar jadi kami harus berkumpul terlebih dahulu untuk membahas materi.
Aku sengaja tidak makan di kantin karena aku ingin makan dirumah, makan masakan nenek yang sangat lezat hitung hitung hemat kan yah hehe.
Hari sudah menunjukan pukul 2 siang dan alhamdulillah tugas kelompok kami sudah selesai.
" Eh na, fin, ran aku duluan yah hehe sudah di jemput " ucap ria sambil tertawa dengan malu.
" Iya iya hati hati, dengan yang baru kah? " tanya ku pada ria.
" Masih deket aja sih hehe, ya sudah yah aku duluan muaach " ucap ria sambil meninggalkan mereka ber tiga.
" Ria lagi deket sama siapa? " tanya fina.
" Gak tau juga sih, besok aja kita tanya ke dia " ucap rani.
" Na kamu mau pulang? " tanya rani.
" Iya nih, laper mau pulang " ucap ku sambil memegang perut.
" Ya sudah, aku mau nunggu ayah ku jemput dulu, kalian hati hati yah " ucap rani.
Aku dan fina pun pulang tapi dengan Bus yang berbeda karena rumah kami berlawanan arah.
Ketika aku sedang menunggu bus ada seseorang yang berjalan di belakang ku kemudian dia berhenti.
Aku sontak menoleh dan terkejut hingga terdiam beberapa detik.
" Roy? " tanya ku kepada roy.
" Iya sih, aku kira siapa diem diem berjalan di belakang ku terus berhenti, sudah mulai panit loh tadi " ucap ku sambil sedikit tertawa.
" Maaf yah sudah mengejutkan kamu " ucap roy dengan tulus.
" Iya lah gak papa hehe, kamu dari mana? " tanya ku pada roy.
" Abis dari kampus, dan berjalan kesini karena kerja kelompok di taman depan sekalian liat kamu hehe " ucap roy sambil tertawa.
Jantung ku berdetak sangat kuat aku takut jika roy mendengar suara jantung ku hehe lebay sekali yah aku, tapi emang bener loh aku bener bener malu sekaligus seneng hehe.
" Oh gitu hehe " jawab ku dengan singkat karena aku sangat gemetar dan tidak tau harus menjawab nya seperti apa.
Setelah itu aku dan roy tertawa bersama, kami seperti menujukkan hubungan teman yang sudah cukup dekat.
Dan banyak anak anak kampus ku lewat didepan ku sambil melihati ku karena aku terus tertawa dengan roy.
Kemudian roy menunjuk kepada sekelompok anak di taman.
" Itu teman teman ku sudah datang, aku kesana dulu yah diana hehe, kamu pulang nya hati hati " ucap roy dengan penuh perhatian.
" Iya iya, itu bus nya sudah datang aku pulang yah " ucap ku kepada Roy sambil menahan kebahagiaan.
Roy kemudian tersenyum ke arah ku di seberang jalan sambil berdiri dan terus menatap ku hingga aku masuk ke dalam bus.
Bus pun berangkat dan aku terus tertawa di balik masker karena aku takut orang berpikiran bahwa aku gila karena tertawa sendiri padahal mereka tidak tau jika aku sedang bahagia.
Dan sontak aku terkejut! lagi lagi aku lupa meminta nomor handphone nya hmmm, dasar aku!
" Kayak nya aku benar benar bodoh! masak sih lupa lagi minta nomor handphone dia, padahal sudah ketemu berapa kali loh, ya ampun emang dasar tolol yah aku ini " ucap ku terus menyalahkan diri sendiri.
" Pokoknya kalau ketemu lagi, gak boleh lupa! harus minta nomor handphone! " ucap ku di dalam hati.
__ADS_1
.
.
.
Karena macet yang cukup panjang akhirnya aku tertidur sebentar sambil menahan perut yang sudah mulai lapar.
Mungkin sekitar 20 menit aku tertidur dan akhirnya pak kondektur membangunkan ku dan menanyakan di manakah aku akan berhenti, aku pun mengatan kepada si bapak dimana aku akan turun, sambil melihat ke arah jalan aku pun sadar akan tempat itu.
" Pak ini lampu merah rumah sakit umum yah? " tanya ku kepada kondektur.
" Iya nak, kamu mau turun dimana? " kondektur itu balik bertanya kepada aku.
" Astaga pak, rumah ku kelewatan ini ya ampun " ucap ku dengan panik.
" Hehe sih embak ke enakan tidur nih pasti " pak kondektur meledek ku.
" Iya nih pak ke asikan tidur jadi kelewatan, berhenti di depan saja yah pak " ucap ku.
" Iya mbak " ucap bapak kondektur.
" Makasih yah pak hehe " ucap ku sambil berjalan turun dari bus.
" Hati hati yah mbak, jangan tidur lagi kalau naik bus nanti " pasan si bapak kepada ku.
Aku hanya tertawa dengan menyimpan rasa malu dan aku harus menyebrang jalan dan mencari bus yang ke arah rumah nenek.
Setelah menunggu 15 menit, datang lah bus itu dan aku masuk kedalam dan mencari tempat duduk yang tidak terlalu jauh dari pintu dan aku tidak ingin tidur lagi.
Tidak lama hanya sekitar 15 menit aku pun sampai di rumah nenek, dengan kondisi perut yang sangat lapar.
Aku langsung membuka gerbang rumah dan bergegas membuka sepatu, dan belum berganti baju, aku langsung mengambik piring untuk makan.
" Ayo ayo cepat cepat " ucap nenek yang meledek ku.
" Eh sih nenek " ucap ku sambil mengambil lauk dan langaung menyantap makanan itu.
" Haha sabar dong sayang pelan pelan, kayak gak makan sebulan " ucap nenek lagi.
" Ya ampun nek aku laper banget, mana tadi di bus ketiduran alhasil lewatan, bus udah sampe lampu merah rumah sakit umum " ucap ku sambil makan.
" Lah kok bisa haha, kamu ke enakan tidur sih ya ampun nak untung masih siang dan kamu cepat terbangun " ucap nenek dengan sangat cemas.
" Iya nek mangkanya, untung saja tidak terlalu jauh kan " ucap ku.
" Lain kali naik bus jangan tidur, nanti kamu kenapa kenapa, di bus kan suka rawan copet atau pelecehan dll " perintah nenek.
" Siap tuan putri " ucap ku yang terus makan dengan lahap.
" Jangan siap siap, awas yah kalau nenek denger cerita kamu kayak gini lagi " ucap nenek.
" Iya nek janji kok " ucap ku sambil tersenyum kepada nenek.
Nenek sangat menyayangi ku, dia takut jika aku akan mengalami kejadian yang tidak baik, ketika mendegar cerita ku tadi nenek sangat cemas dan terus mengingatkan ku untuk berhati hati.
Sebenarnya nenek menyuruh ku membawa kendaraan sendiri tapi aku tidak mau karena aku masih trauma dengan kejadian kakek dulu dan sampai sekarang aku masih teringat dengan kejadian itu.
Padahal ayah ingin membelikan ku mobil tapi aku menolaknya dengan berkata bahwa aku lebih menyukai angkutan umum dan aku akan membawa mobil sendiri dengan hasil kerja keras ku bukan karena uang orang tua.
Aku tidak suka menyombongkan segala sesuatu apa lagi harta orang tua, jika melihat dari ekonomi aku termasuk keluarga yang berada karena aku anak tunggal, ayah dan ibu ku bekerja mereka akan memberi ku uang dan juga nenek dan kakek juga punya pensiunan.
Tapi aku tidak suka menghamburkan uang dengan membeli sesuatu yang tidak terlalu penting karena dari kakek dan nenek ku juga mengajarkan untuk hidup sederhana dan rendah hati.
Karena hidup bukan soal uang melainkan kebahagiaan.....
__ADS_1